Saat Semua Warga Diminta Mengungsi, Ayah Menahanku demi Menyelamatkan Pikap

Ponsel itu hampir terlepas dari tanganku ketika bus melewati jalan berlubang.

Aku membaca pesan Sinta sekali lagi, berharap ada kata yang keliru kupahami. Namun, layar tetap menampilkan kalimat yang sama.

Mereka membawa uang simpananku.

“Duduk dulu, Mbak,” kata Pak Rudi. “Kami sudah menghubungi tim perahu. Orang tuamu diminta bertahan di rumah Pak Hadi yang lantainya lebih tinggi.”

“Ayah masih di mobil.”

“Tim tahu lokasinya.”

Aku duduk, tetapi mataku terus mencari halaman rumah di balik tirai hujan. Rumah itu akhirnya menghilang setelah bus melewati tikungan.

Aku ingin marah kepada Dimas. Namun, ketakutan bahwa Ibu tidak sempat mencapai tempat aman membuat seluruh kemarahanku tertahan di tenggorokan.

Di gedung sekolah yang menjadi tempat pengungsian, petugas mencatat nama kami. Aku menyerahkan ponsel Dimas kepada Pak Rudi setelah memotret pesan yang muncul di layarnya.

“Ini milik adik saya. Mungkin dia sempat naik bus.”

Pak Rudi mengangguk.

“Tadi dia naik dari gang sebelah, lalu turun dekat pertigaan. Katanya mau menjemput orang dengan kendaraan lain. Pasti jatuh waktu dia buru-buru.”

Dimas sudah menemukan jalan pergi. Ia hanya tidak memberitahukan jalan itu kepada kami.

Aku meminjam telepon petugas untuk menghubungi nomornya yang lain. Tidak aktif. Nomor Sinta tersambung, tetapi panggilanku ditolak.

Lima menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselku.

“Mbak, jangan salah paham. Uangnya dipinjam dulu. Kami butuh tempat tinggal sampai banjir surut.”

Aku menatap tulisan itu dengan jemari dingin.

“Kalian di mana?”

Tidak dijawab.

“Kirim kembali uangku.”

Balasannya datang lebih cepat.

“Sekarang masih sibuk menyelamatkan diri. Masa Mbak memikirkan uang?”

Aku mematikan layar.

Kalimat itu terasa menjijikkan setelah apa yang kulihat dari jendela bus.

Hampir dua jam kemudian, kabar tentang orang tuaku datang. Ibu berhasil dievakuasi dari teras rumah Pak Hadi. Ayah ditemukan berpegangan pada tiang dekat gudang, dengan luka di betis setelah terbentur sesuatu.

Keduanya dibawa ke puskesmas.

Aku langsung ikut kendaraan relawan yang mengantar obat dan selimut.

Ibu sedang duduk di ranjang ketika aku masuk. Rambutnya basah, tubuhnya dibungkus selimut tipis. Begitu melihatku, ia menangis.

“Laras.”

Aku memeluknya. Untuk beberapa saat, aku hanya mendengar napasnya di dekat telingaku.

Di ranjang sebelah, Ayah berbaring dengan kaki diperban. Ia memandangku sebentar, lalu menoleh ke dinding.

“Pikapnya hanyut,” katanya.

Aku melepaskan pelukan Ibu perlahan.

“Dimas juga sudah pergi.”

Ayah langsung menoleh.

“Dia mengantar Sinta.”

“Ke terminal. Membawa uangku.”

Ibu membeku.

Aku membuka pesan di ponsel dan menyerahkannya kepada beliau. Wajahnya berubah sebelum ia selesai membaca.

“Uangnya di mana, Bu?”

Bibir Ibu bergetar.

“Ibu berikan kepada Dimas supaya disimpan dalam tas kedap air. Ibu takut lemari terendam.”

“Kenapa tidak diberikan kepadaku? Aku ada di rumah.”

Ibu tidak menjawab.

Ayah mencoba bangkit.

“Jangan menuduh adikmu macam-macam. Mungkin dia mengamankan uang itu.”

Aku memandang perban di kakinya.

“Kalau begitu, kenapa dia tidak menghubungi Ibu? Kenapa dia tidak menanyakan kalian selamat atau tidak?”

Ruangan menjadi sunyi.

Kali ini, Ayah tidak punya jawaban.

Malamnya Dimas menelepon dari nomor Sinta. Aku menyalakan pengeras suara setelah meminta izin Ibu.

“Mbak, ponselku katanya ada sama Pak Rudi?”

“Ada. Uangku?”

“Aman.”

“Kirim ke rekeningku.”

“Aku belum bisa.”

“Kenapa?”

Ia terdiam lama sebelum mengaku telah memakai sebagian uang itu untuk membayar sewa rumah dan tunggakan cicilan motor.

Di belakangnya terdengar suara Sinta menyuruhnya tidak menjelaskan terlalu banyak.

Aku memejamkan mata.

“Berapa yang tersisa?”

“Sekitar lima juta.”

Dari dua puluh dua juta rupiah yang kukumpulkan selama bertahun-tahun.

Ibu mulai menangis. Ayah duduk kaku di ranjang.

“Kamu tahu uang itu untuk apa, Dim?”

“Aku akan ganti setelah dapat kerja.”

“Kamu sudah bilang begitu waktu meminjam uang muka pikap.”

“Jangan ungkit semuanya sekarang!”

Ayah tiba-tiba meraih teleponku.

“Dimas.”

Suara beliau pelan, tetapi adikku langsung berhenti bicara.

“Besok kirim yang masih ada. Sisanya kamu jelaskan kepada kakakmu secara tertulis.”

“Yah, kok Ayah malah—”

“Ayah hampir mati menjaga mobilmu.”

Sambungan di seberang sunyi.

“Ayah kira kamu sedang mencari jalan untuk Sinta. Ternyata kamu meninggalkan kami.”

Untuk pertama kalinya, aku mendengar Ayah menyebut pengkhianatan tanpa mencari alasan untuk menutupinya.

Lima juta itu masuk ke rekeningku keesokan pagi.

Sisanya tidak langsung kembali. Bersama seorang kerabat yang dipercaya keluarga, kami mencatat jumlah uang yang dipakai Dimas dan pembayaran yang sanggup ia lakukan. Aku menyimpan seluruh pesan serta bukti transfer.

Aku tidak mau lagi mengandalkan janji setelah panen, setelah bekerja, atau setelah hidupnya mapan.

Seminggu setelah air surut, kami kembali melihat rumah.

Lumpur menutupi lantai. Lemari miring. Meja tempat Ibu menaikkan beras sudah terbalik. Di pagar tetangga, tersangkut potongan terpal hitam dari bak pikap.

Ayah berdiri lama di halaman.

“Kalau kamu tetap tinggal waktu itu…” katanya, lalu berhenti.

Aku menunggu.

“Mungkin kamu juga terjebak.”

“Iya, Yah.”

Beliau mengangguk, seakan jawaban sederhana itu lebih sulit diterima daripada pertengkaran.

Sekolah tempatku diterima bekerja memberi kelonggaran waktu kedatangan. Mereka juga menawarkan kamar sementara di rumah guru, sehingga aku tidak perlu segera membayar kos.

Aku berangkat dua minggu kemudian.

Ibu memasukkan nasi bungkus ke tasku. Ayah mengantarku sampai tempat penjemputan tanpa menyuruhku menunda keberangkatan demi membersihkan rumah.

Saat bus datang, beliau menyerahkan amplop kecil.

“Tidak banyak. Hasil menjual mesin pompa yang masih bisa dipakai. Ini bagian uangmu.”

Aku menerimanya, lalu memeluk beliau.

Tiga bulan setelah kepindahanku, paket dari Ibu tiba di sekolah. Di dalamnya ada beberapa buku lamaku yang berhasil dikeringkan.

Salah satunya buku catatan pengeluaran yang pernah membuatku menangis.

Pada halaman terakhir, ada tulisan baru dengan huruf besar-besar milik Ayah.

Uang Laras adalah hak Laras. Bukan persediaan keluarga.

Di bawahnya tercatat tanggal, jumlah, dan pembayaran pertama dari Dimas.

Aku menyentuh kertas yang masih bergelombang bekas air itu.

Banjir tidak mengubah keluargaku dalam semalam. Masih ada percakapan yang menyakitkan dan batas yang harus kuulangi.

Namun, pagi berikutnya, ketika berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri sebagai Bu Laras, aku tidak lagi merasa sedang menunggu hidupku dimulai.

Aku sudah sampai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang