DIA BANGKRUT, DUDUK DI KURSI RODA, DAN DIHINA DI RUANG TAMUNYA SENDIRI.

“Delapan bapak yang kamu maksud itu… bukan manusia, kan?”

Aku menatap Reza selama beberapa detik, lalu tertawa begitu keras sampai Bimo, Bowo, dan Bona ikut menggonggong.

“Ya manusia, Reza! Masa aku punya delapan bapak kambing?”

Reza memejamkan mata sambil mengusap keningnya.

“Sinta, aku baru kehilangan perusahaan, rumah, dan kemampuan berjalan. Tolong jangan membuatku kehilangan kewarasan juga.”

Aku kembali tertawa, tetapi tawaku terhenti ketika melihat kedua tangannya yang gemetar di atas kursi roda.

Laki-laki itu benar-benar telah kehilangan hampir segalanya.

Aku pun menggenggam tangannya.

“Delapan bapak itu bukan bapak kandungku. Mereka delapan lelaki tua yang merawatku sejak kecil. Mereka tinggal di desa yang sama. Dulu, waktu aku ditemukan menangis di depan musala, tidak ada seorang pun yang tahu siapa orang tuaku.”

Reza menatapku dengan ekspresi berubah.

“Kamu anak yang ditemukan?”

Aku mengangguk.

“Pak Harun yang menemukanku. Pak Darto memberiku susu. Pak Samin membuatkan tempat tidur. Lima bapak lainnya bergantian membesarkanku. Mereka tidak punya hubungan darah denganku, tetapi mereka keluargaku.”

“Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya?”

Aku tersenyum pahit.

“Karena selama tiga tahun kamu tidak pernah bertanya dari mana aku berasal.”

Reza terdiam.

Aku segera berdiri dan kembali mendorong kursi rodanya.

Kami tidak bisa berlama-lama di depan vila. Mobil yang biasa kugunakan sudah diambil petugas penyitaan, sedangkan uang tunai di dompetku hanya tersisa tujuh ratus ribu rupiah.

Untunglah Pak Joko, sopir lama Reza yang diberhentikan sebulan sebelumnya, bersedia mengantar kami ke Boyolali menggunakan mobil minibus tuanya.

Ketika melihat Reza duduk di kursi roda, Pak Joko langsung menangis.

“Pak, saya kira Bapak sudah tidak mau bertemu saya lagi.”

Reza menunduk.

“Maaf, Jok. Aku bahkan belum membayar gaji terakhirmu.”

Pak Joko menggeleng.

“Saya datang bukan menagih gaji, Pak. Dulu Bapak yang membiayai sekolah anak saya. Sekarang izinkan saya mengantar Bapak.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Reza menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

Perjalanan menuju Boyolali memakan waktu hampir sepuluh jam karena kami beberapa kali berhenti untuk mengganti posisi duduk Reza.

Sepanjang perjalanan, dia lebih banyak diam.

Namun, ketika kami mulai memasuki jalan desa yang dikelilingi ladang sayur dan perbukitan hijau, Reza akhirnya bertanya.

“Sinta, sebenarnya gunung apa yang kamu beli dengan uang enam miliar itu?”

Aku menggaruk kepala.

“Jangan marah dulu, ya.”

“Aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk marah.”

“Sebenarnya bukan satu gunung utuh. Aku membeli lahan sekitar dua puluh delapan hektare di lereng Merbabu.”

“Untuk apa?”

“Menanam kopi, alpukat, dan tanaman obat. Sebagiannya dipakai untuk peternakan kambing dan sapi.”

Reza menoleh cepat.

“Berapa hektare?”

“Dua puluh delapan.”

“Dan semuanya atas namamu?”

Aku mengangguk.

“Tapi sebagian masih berupa tanah berbatu dan kebun terlantar. Uang pembangunan fasilitasnya belum cukup.”

Reza menatapku lama.

“Sinta, kamu menghabiskan hampir enam miliar rupiah untuk membeli tanah pertanian?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memandang puncak gunung yang tampak samar di balik kabut.

“Karena delapan bapakku dulu hampir kehilangan lahan garapan akibat utang. Aku tidak mau mereka terus bekerja di tanah orang lain sampai meninggal.”

Reza tidak menjawab.

Malam sudah turun ketika mobil kami berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana.

Lampu kuning menggantung di teras. Bau kayu bakar dan sayur lodeh tercium dari dapur.

Delapan lelaki tua bergegas keluar setelah mendengar suara mobil.

“Sintaaa!”

Pak Harun, lelaki berusia tujuh puluh tahun dengan sarung kotak-kotak, langsung memelukku.

Namun, ketika melihat Reza, wajahnya berubah serius.

“Lha, iki sapa, Nduk?”

“Ini Reza, Pak. Temanku dari Jakarta.”

Pak Darto mengamati kursi rodanya.

“Teman kok dibawa pulang sampai bawa koper?”

Aku menelan ludah.

“Dia mau tinggal di sini.”

Kedelapan lelaki itu saling berpandangan.

Pak Samin, yang biasanya paling pendiam, akhirnya bertanya.

“Suamimu?”

“Belum!”

“Calon suami?”

Aku melirik Reza.

Laki-laki itu langsung batuk.

“Belum juga, Pak.”

Pak Harun mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, jangan tidur sekamar. Di rumah ini ada aturan.”

Aku hampir tersedak.

Reza justru tertawa.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mantan pemilik Adiwijaya Group tidur di kamar kecil berdinding papan, menggunakan kasur tipis dan selimut batik.

Tidak ada pendingin ruangan.

Tidak ada televisi besar.

Tidak ada pelayan yang menyiapkan makan malam.

Namun, sebelum tidur, Pak Darto datang membawakan segelas susu jahe hangat.

“Minum, Le. Biar badanmu enakan.”

Reza menerima gelas itu dengan mata berkaca-kaca.

Keesokan paginya, aku menemukan Reza sedang duduk sendirian di teras.

Dia memandang matahari terbit di balik perbukitan.

“Kamu menyesal ikut aku?” tanyaku.

Reza menggeleng.

“Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bangun tanpa takut melihat notifikasi ponsel.”

Aku tersenyum.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Tiga hari kemudian, Pak Harun datang membawa setumpuk dokumen.

Wajahnya pucat.

“Sinta, ada masalah besar.”

Aku segera membaca surat yang dibawanya.

Sebuah perusahaan bernama PT Bumi Sentosa mengklaim memiliki hak atas sebagian akses jalan menuju lahan pertanian kami. Mereka menuntut pembayaran kompensasi dua miliar rupiah dalam waktu tiga puluh hari.

Jika tidak dibayar, akses kendaraan pengangkut hasil panen akan ditutup.

Tanganku langsung dingin.

“Perusahaan apa ini, Pak?”

Pak Harun menggeleng.

“Orangnya datang kemarin. Mereka bilang akan membangun kawasan wisata.”

Reza meminta dokumen itu.

Begitu membaca nama direktur perusahaan, wajahnya mendadak berubah.

“Dimas Pratama?”

Aku menatapnya.

“Kamu kenal?”

Reza tertawa getir.

“Dia orang yang menendang kursi rodaku di vila.”

Darahku mendidih.

Ternyata Dimas tidak puas hanya mempermalukan Reza di Jakarta. Dia bahkan mengikuti jejak kami sampai Boyolali.

Tetapi Reza justru terlihat lebih tenang daripada sebelumnya.

“Sinta, boleh aku meminjam laptop?”

Aku mengangguk.

Sejak hari itu, Reza mulai bekerja dari kursi rodanya.

Dia memeriksa sertifikat tanah, peta bidang, serta dokumen transaksi yang kusimpan dalam lemari kayu.

Dia juga menghubungi seorang pengacara lama bernama Farhan yang masih bersedia membantunya.

Setelah empat hari, Reza menemukan sesuatu.

“Sinta, akses jalan yang mereka klaim ternyata sebagian besar merupakan jalan desa yang sudah tercatat dalam dokumen pemerintah setempat. Klaim mereka tidak otomatis memberi mereka hak untuk menutupnya.”

Aku menatapnya dengan mata berbinar.

“Jadi kita aman?”

“Belum. Kita tetap harus membuktikannya secara resmi.”

Reza kemudian mengajakku menemui kepala desa dan petugas pertanahan untuk memeriksa dokumen yang asli.

Namun, malam sebelum pertemuan itu, seseorang melempar batu ke jendela rumah kami.

Batu tersebut dibungkus secarik kertas.

Di atasnya tertulis pesan singkat.

TINGGALKAN TANAH ITU ATAU KALIAN AKAN MENYESAL.

Pak Harun langsung marah.

“Kurang ajar! Berani-beraninya mengancam anakku!”

Aku buru-buru menenangkannya.

Reza mengambil kertas itu, memotretnya, lalu memintaku menyimpannya sebagai bukti.

“Besok kita laporkan,” katanya.

Aku menatap wajahnya.

“Kamu tidak takut?”

Reza tersenyum tipis.

“Aku pernah kehilangan perusahaan bernilai ratusan miliar karena mempercayai orang yang salah. Kali ini aku tidak akan membiarkan kesalahan yang sama merugikan keluargamu.”

Kata keluargamu membuat dadaku menghangat.

Dua minggu kemudian, Dimas datang ke desa bersama tiga mobil mewah.

Dia turun mengenakan kacamata hitam dan sepatu mahal yang langsung kotor terkena lumpur.

Begitu melihat Reza duduk di halaman rumah, dia tertawa.

“Wah, CEO bangkrut sekarang jadi petani?”

Reza tersenyum tenang.

“Setidaknya petani menghasilkan sesuatu yang nyata.”

Dimas melemparkan map ke meja.

“Bayar dua miliar atau akses jalan kalian kututup.”

Aku hendak membalas, tetapi Reza mengangkat tangannya.

“Dim, kamu yakin perusahaanmu memiliki hak atas jalan itu?”

“Tentu saja!”

“Kalau begitu, kenapa dokumen yang kamu bawa menggunakan nomor bidang milik lahan lain?”

Senyum Dimas menghilang.

Reza mengeluarkan salinan peta bidang hasil pemeriksaan resmi.

“Dan kenapa surat persetujuan yang kamu gunakan mencantumkan tanda tangan seseorang yang sudah meninggal dua tahun sebelum surat itu dibuat?”

Wajah Dimas pucat.

Di belakang kami, Pak Harun berdiri bersama kepala desa dan dua petugas kepolisian yang datang setelah menerima laporan ancaman.

Dimas mencoba merampas dokumen tersebut.

Namun, salah seorang petugas segera menghentikannya.

“Pak Dimas, kami meminta Bapak memberikan keterangan terkait dugaan pemalsuan dokumen dan ancaman yang sudah dilaporkan.”

Dimas menatap Reza penuh kebencian.

“Lo pikir sudah menang?”

Reza menjawab pelan.

“Aku tidak sedang bertanding denganmu. Aku hanya melindungi orang-orang yang menerimaku ketika aku tidak punya apa-apa.”

Penyelidikan terhadap dokumen Dimas berlanjut. Klaimnya atas akses jalan tidak dapat dipertahankan berdasarkan bukti yang diperiksa, dan rencana penutupan jalan pun gagal.

Namun, kemenangan itu bukan akhir dari perjuangan kami.

Sebagian lahan pertanian masih terbengkalai. Kami kekurangan modal, saluran air belum memadai, dan beberapa petani belum memperoleh penghasilan tetap.

Suatu malam, Reza memanggilku ke teras.

“Sinta, boleh aku meminta sesuatu?”

“Apa?”

“Aku ingin membantu mengelola usaha pertanianmu. Bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pekerja.”

Aku tertawa.

“Memangnya mantan CEO mau digaji petani?”

“Berapa gajinya?”

Aku berpikir sebentar.

“Dua juta sebulan. Makan ditanggung.”

Reza berpura-pura mempertimbangkan tawaranku.

“Bagaimana dengan fasilitas transportasi?”

Aku menunjuk kursi rodanya.

“Itu sudah termasuk fasilitas pribadi.”

Dia tertawa begitu keras sampai Pak Darto keluar dari dapur.

Sejak saat itu, Reza benar-benar bekerja.

Dia menyusun anggaran, mencari pembeli hasil panen, dan membantu membentuk koperasi bersama para petani.

Aku mengurus kebun, ternak, serta pemasaran produk melalui media sosial.

Kami memberi nama usaha itu Merbabu Lestari.

Enam bulan kemudian, hasil panen kopi pertama berhasil dijual kepada sebuah jaringan kedai kopi di Semarang dan Yogyakarta.

Keuntungannya belum besar.

Namun, untuk pertama kalinya, delapan bapakku menerima penghasilan tetap dari lahan yang selama ini mereka perjuangkan.

Kondisi Reza juga mulai membaik.

Dengan fisioterapi teratur di rumah sakit dan latihan sesuai petunjuk tenaga medis, dia perlahan mampu berdiri dengan alat bantu, meskipun belum bisa berjalan jauh.

Pada suatu sore, aku sedang memeriksa tanaman alpukat ketika mendengar seseorang memanggil namaku.

“Sinta!”

Aku menoleh.

Reza berdiri beberapa meter dariku dengan bantuan tongkat berkaki empat.

Aku langsung berlari menghampirinya.

“Reza! Kenapa berdiri sendirian? Kalau jatuh bagaimana?”

Dia tersenyum.

“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Dari sakunya, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Aku membeku.

“Jangan bilang itu cincin.”

“Memang cincin.”

Aku menutup mulut.

Reza menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Tiga tahun lalu aku mengira uang bisa membeli segalanya. Aku memberimu rumah, mobil, dan barang mahal, tetapi tidak pernah memberimu kepastian.”

Aku menunduk.

“Reza…”

“Ketika semuanya hilang, kamu justru memberiku sesuatu yang tidak bisa kubeli. Tempat untuk pulang.”

Dia membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat cincin perak sederhana dengan batu kecil berwarna hijau.

“Aku membelinya dari gaji yang kamu berikan. Bukan dari uang perusahaan atau harta keluargaku.”

Air mataku mulai mengalir.

“Sinta, maukah kamu menikah denganku?”

Aku hampir menjawab ketika terdengar teriakan keras dari belakang.

“TUNGGU DULU!”

Pak Harun datang bersama tujuh bapakku yang lain.

Reza langsung terlihat gugup.

Pak Harun berdiri di hadapannya.

“Kamu mau menikahi anak kami?”

Reza mengangguk.

“Iya, Pak.”

“Kalau begitu, ada satu syarat.”

Aku memandang Pak Harun dengan panik.

“Bapak, jangan macam-macam!”

Namun, Pak Harun justru tersenyum.

“Kamu harus berjanji tidak akan pernah menjadikan Sinta perempuan yang disembunyikan lagi.”

Senyum Reza perlahan menghilang.

Dia menatap kedelapan lelaki yang telah membesarkanku.

Kemudian menundukkan kepala.

“Saya berjanji, Pak. Saya akan menghormatinya sebagai istri dan pasangan hidup saya.”

Pak Harun mengangguk.

“Kalau begitu, kami merestui.”

Aku menangis sambil tertawa.

Namun, sebelum Reza sempat memasangkan cincin ke jariku, Pak Samin tiba-tiba mengeluarkan sebuah map tua.

“Sinta, sebenarnya ada sesuatu yang belum pernah kami ceritakan kepadamu.”

Aku terdiam.

Map itu berisi surat tulisan tangan yang sudah menguning dan sebuah foto bayi.

Pak Samin menyerahkannya kepadaku.

“Bayi di foto itu kamu. Suratnya ditinggalkan ibumu ketika menitipkanmu kepada Pak Harun.”

Tanganku gemetar.

Selama ini aku mengira aku ditemukan begitu saja di depan musala.

Ternyata ibuku mengenal Pak Harun.

Dalam surat itu, ibuku meminta agar aku dirawat sementara karena dirinya sedang sakit dan tidak memiliki keluarga yang mampu membantu.

Namun, beberapa bulan kemudian, beliau meninggal dunia.

Pak Harun menyimpan surat itu karena takut aku merasa ditinggalkan.

Aku membaca kalimat terakhir dengan air mata bercucuran.

“Jika kelak Sinta bertanya mengapa aku tidak kembali, katakan kepadanya bahwa aku sangat mencintainya. Aku hanya tidak diberi kesempatan untuk membesarkannya.”

Aku memeluk Pak Harun erat.

“Kenapa Bapak baru memberitahuku sekarang?”

Lelaki tua itu menangis.

“Karena Bapak takut kamu mengira kami menyembunyikan ibumu darimu. Kami ingin menunggu sampai kamu siap.”

Aku menggeleng sambil menangis.

“Kalian tidak pernah membuatku kekurangan keluarga, Pak.”

Reza mendekat dan menggenggam tanganku.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Dulu aku mengira hidupku hanya berisi orang-orang yang datang karena uang, penampilan, atau kepentingan.

Namun, delapan lelaki sederhana telah membesarkanku tanpa meminta imbalan.

Dan seorang laki-laki yang pernah memiliki segalanya kini belajar membangun hidup dari awal bersamaku.

Tiga bulan kemudian, kami menikah sederhana di halaman rumah.

Tidak ada gedung mewah.

Tidak ada mobil pengantin mahal.

Hanya tenda putih, hidangan buatan warga desa, dan delapan bapak yang bergantian menangis ketika Reza mengucapkan ijab kabul.

Ketika penghulu menyatakan pernikahan kami sah, Reza menatapku sambil tersenyum.

“Bu Direktur, sekarang aku resmi menjadi suamimu.”

Aku tertawa.

“Gajimu tetap dua juta, ya.”

Para tamu tertawa mendengarnya.

Reza mengangguk sambil menggenggam tanganku.

“Tidak masalah. Asal kontraknya seumur hidup.”

Aku menatap wajahnya yang kini jauh lebih tenang daripada ketika pertama kali kami meninggalkan vila mewah di Pondok Indah.

Lalu aku teringat karung goni yang kubanting ke lantai pada hari kebangkrutannya.

Karung itu masih kusimpan di gudang.

Bukan karena aku merindukan masa lalu.

Melainkan karena aku tidak ingin melupakan pelajaran terbesar dalam hidupku.

Tiga tahun aku tinggal di rumah seharga puluhan miliar, tetapi tidak pernah benar-benar merasa memiliki keluarga.

Ketika semua kekayaan Reza lenyap, kami justru menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Dan pada malam pertama setelah pernikahan kami, ketika Reza bertanya apakah aku menyesal meninggalkan kehidupan mewah Jakarta, aku hanya tersenyum.

“Aku tidak pernah menyesal membawamu pulang.”

“Kenapa?”

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

“Karena dulu aku cuma perempuan yang kamu tempatkan di rumahmu. Sekarang aku perempuan yang kamu pilih untuk membangun rumah bersama.”

Reza mencium keningku.

Di luar jendela, suara jangkrik memenuhi udara dingin lereng Merbabu.

Untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun dari kami yang takut kehilangan harta.

Sebab kami akhirnya mengerti bahwa bangkrut bukan berarti hidup telah berakhir.

Terkadang, justru ketika segala sesuatu direnggut dari tangan kita, barulah kita bisa melihat siapa yang benar-benar bersedia menggenggam tangan itu sampai akhir.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang