HAMIL DAN DIUSIR DI TENGAH HUJAN, IA BERTEDUH DI RUMAH TERBENGKALAI DI PEGUNUNGAN—NAMUN SAAT MEMBUKA PINTU, SEORANG YANG SUDAH LAMA MENINGGAL TELAH MENUNGGUNYA DI DALAM

“Hamil tujuh bulan, diusir di tengah hujan, dan kini berdiri di depan rumah kosong yang bahkan tampak tak layak dihuni. Apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini?”

Amara mengusap air hujan yang mengalir di wajahnya, lalu kembali mengetuk pintu kayu rumah tua itu.

“Apakah ada orang di dalam?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan menghantam atap seng dan desir angin di antara pepohonan.

Perut Amara tiba-tiba mengencang.

Ia meringis dan menempelkan satu tangan ke dinding.

“Tenang, Nak… jangan sekarang.”

Dengan sisa tenaga, ia mendorong pintu.

Kreeek.

Pintu terbuka perlahan.

Ruangan di dalam gelap dan berbau lembap. Perabotan tertutup debu, sarang laba-laba menggantung di sudut langit-langit, dan dedaunan kering berserakan di lantai.

Namun ada sesuatu yang membuat Amara membeku.

Di atas meja kayu tepat di tengah ruangan, sebuah lampu minyak menyala.

Amara menahan napas.

Rumah ini seharusnya kosong.

“Siapa di sana?”

Terdengar langkah kaki dari lantai atas.

Pelan.

Berat.

Satu demi satu menuruni tangga.

Amara mundur ke pintu.

Sesosok laki-laki muncul dari kegelapan.

Rambutnya panjang tak terurus. Janggut menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang Amara ingat.

Namun mata itu…

Amara tidak mungkin melupakannya.

Tas kecil di tangannya jatuh ke lantai.

“Daniel?”

Laki-laki itu berhenti.

Wajahnya pucat seolah baru melihat hantu.

“Amara?”

Lutut Amara langsung lemas.

Daniel berlari dan menangkap tubuh istrinya sebelum terjatuh.

Amara memukul dadanya berkali-kali sambil menangis.

“Kamu hidup! Kamu hidup! Kenapa kamu tidak pulang? Kenapa kamu membiarkan semua orang mengira kamu mati?”

Daniel memeluknya erat.

“Aku mencoba pulang.”

“Bohong!”

“Aku tidak bohong.”

Daniel menarik napas berat.

“Tiga bulan lalu, kecelakaan itu memang terjadi. Mobilku jatuh ke jurang. Tapi aku berhasil keluar sebelum mobil terseret lebih jauh. Kakiku patah. Seorang lelaki tua yang tinggal di desa sebelah menemukanku.”

“Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku?”

“Aku melakukannya.”

Amara terdiam.

Daniel berjalan tertatih menuju sebuah lemari, mengambil ponsel lama dengan layar retak, kemudian menyerahkannya.

“Aku menelepon rumah Ibu begitu bisa berdiri lagi.”

Amara menatapnya.

“Apa kata mereka?”

Rahang Daniel mengeras.

“Ibu bilang kamu meninggalkanku setelah mendengar kabar kecelakaan. Katanya kamu membawa semua tabungan kita dan pergi bersama laki-laki lain.”

Amara merasa darahnya berhenti mengalir.

“Apa?”

“Dia juga bilang bayi yang kamu kandung bukan anakku.”

Air mata Amara kembali jatuh.

“Daniel, aku menunggumu setiap hari.”

Daniel menutup mata.

“Aku tahu sekarang.”

Ia menggenggam kedua tangan Amara.

“Aku bodoh karena mempercayai mereka.”

Ternyata selama berminggu-minggu Daniel dirawat secara sederhana oleh warga setempat. Setelah kondisinya membaik, ia datang ke rumah tua itu karena bangunan tersebut merupakan bagian dari tanah warisan yang sedang ia urus sebelum kecelakaan.

Daniel berencana kembali ke Jakarta setelah mengumpulkan dokumen-dokumen yang tersimpan di sana.

Namun dua hari sebelumnya, seseorang merusak sepeda motor yang dipinjamnya.

Dan sore tadi, kabel telepon rumah diputus.

“Ada orang yang tidak ingin aku kembali,” katanya.

Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil dari luar.

Daniel langsung memadamkan lampu.

“Jangan bersuara.”

Cahaya lampu mobil menembus jendela.

Dua laki-laki turun.

Amara mengenali salah satunya.

“Pak Surya?”

Surya adalah adik mendiang ayah Daniel. Selama bertahun-tahun ia mengelola sebagian besar aset keluarga.

Daniel menarik Amara ke balik lemari.

Pintu rumah didobrak.

“Cari semua dokumennya!” teriak Surya. “Kalau Daniel memang masih hidup, dia pasti kembali ke sini.”

Amara menutup mulut menahan napas.

Salah seorang pria mulai mengacak-acak ruangan.

Surya membuka laci demi laci.

“Tanpa sertifikat asli dan surat wasiat itu, tanah ini tetap bisa kita jual.”

Daniel menatap Amara.

Sekarang semuanya masuk akal.

Kecelakaan itu bukan kecelakaan.

Surya telah mengetahui bahwa Daniel menemukan ketidaksesuaian dalam pengelolaan aset keluarga. Puluhan hektare tanah di kawasan pegunungan diam-diam hendak dijual kepada perusahaan pengembang.

Padahal berdasarkan surat wasiat kakek Daniel, tanah tersebut tidak boleh dijual tanpa persetujuan seluruh ahli waris.

Daniel adalah satu-satunya yang menolak.

Amara tiba-tiba merasakan nyeri hebat.

Ia menggigit bibir agar tidak berteriak.

Namun sebuah vas kecil tersenggol kakinya.

Prang!

“Siapa di sana?”

Surya berbalik.

Daniel keluar dari persembunyian.

“Orang yang seharusnya sudah mati?”

Wajah Surya langsung berubah.

“Kamu…”

Daniel mengangkat ponselnya.

“Semua yang Paman katakan barusan sudah direkam.”

Surya tertawa dingin.

“Kamu pikir bisa keluar dari gunung ini?”

Pria di sampingnya maju.

Namun sebelum sempat menyentuh Daniel, suara sirene terdengar dari kejauhan.

Surya panik.

Daniel tersenyum tipis.

“Tadi sore aku berhasil mengirim pesan kepada kepala desa lewat radio warga. Mereka tahu ada orang mencurigakan berkeliaran di sekitar sini.”

Surya berlari menuju pintu.

Beberapa warga bersama polisi sudah tiba.

Dalam hitungan menit, ia dan rekannya diamankan.

Namun Daniel tidak sempat merasa lega.

Amara menjerit.

Air ketubannya pecah.

“Daniel…”

Daniel berbalik dan wajahnya langsung pucat.

“Bayinya.”

Hujan membuat jalan menuju kota tertutup longsor.

Tidak ada ambulans yang bisa mencapai rumah itu.

Seorang bidan desa bernama Bu Ratna akhirnya datang bersama beberapa warga.

Malam yang seharusnya menjadi malam paling mengerikan dalam hidup Amara justru berubah menjadi malam ketika ia melahirkan.

Di rumah tua.

Di tengah badai.

Dengan Daniel menggenggam tangannya sepanjang proses persalinan.

Menjelang fajar, tangisan seorang bayi laki-laki memenuhi ruangan.

Daniel menangis ketika pertama kali menggendong putranya.

Amara yang kelelahan tersenyum.

“Namanya Arka.”

Daniel mencium keningnya.

“Kenapa Arka?”

“Karena dia menjadi cahaya ketika kita hampir kehilangan jalan pulang.”

Beberapa hari kemudian, setelah jalan kembali terbuka, Daniel dan Amara pulang ke Jakarta.

Kabar bahwa Daniel masih hidup membuat keluarga besar gempar.

Namun kejutan terbesar belum terjadi.

Daniel meminta seluruh keluarganya berkumpul.

Doña Celeste datang paling terakhir.

Begitu melihat putranya berdiri di ruang keluarga, wajah perempuan itu langsung pucat.

“Daniel…”

Daniel tidak memeluknya.

Ia hanya meletakkan ponsel lama di meja.

“Aku mau bertanya satu hal, Bu. Kenapa Ibu berbohong kepadaku tentang Amara?”

Celeste mulai menangis.

“Ibu hanya takut kehilanganmu.”

“Karena Amara?”

“Sejak kamu menikah, kamu berubah. Kamu lebih mempercayai istrimu daripada keluarga sendiri.”

Daniel menggeleng.

“Itu bukan alasan untuk mengusir perempuan hamil tujuh bulan.”

Celeste menatap Amara.

Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya menghilang.

“Aku… aku hanya ingin melindungi keluarga.”

Amara menjawab pelan, “Keluarga seperti apa yang dilindungi dengan menghancurkan anggota keluarga lain?”

Ruangan sunyi.

Penyelidikan polisi kemudian mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan.

Surya ternyata telah menggelapkan uang keluarga selama bertahun-tahun. Ia memalsukan dokumen dan berencana menjual tanah pegunungan dengan nilai puluhan miliar rupiah.

Tetapi ada satu fakta lain.

Celeste mengetahuinya.

Ia tidak terlibat langsung dalam percobaan mencelakai Daniel, tetapi ia mengetahui rencana penjualan ilegal itu dan memilih diam karena Surya menjanjikan bagian keuntungan kepadanya.

Ketika Daniel menghilang, Celeste melihat kesempatan untuk menguasai warisan.

Kehamilan Amara menjadi ancaman karena bayi tersebut otomatis menjadi ahli waris Daniel.

Itulah alasan sebenarnya ia mengusir Amara.

Daniel tidak berkata apa pun ketika polisi membawa ibunya untuk dimintai keterangan.

Ia hanya berdiri sambil menggendong Arka.

Enam bulan kemudian, Daniel mengambil keputusan yang mengejutkan keluarga besarnya.

Ia tidak menjual tanah pegunungan tersebut.

Rumah tua tempat mereka bertemu kembali direnovasi.

Bukan menjadi vila mewah.

Bukan pula hotel.

Daniel dan Amara mengubahnya menjadi rumah singgah gratis bagi perempuan hamil dan ibu dengan anak kecil yang mengalami kekerasan atau kehilangan tempat tinggal.

Mereka menamakannya Rumah Arka.

Pada hari peresmian, Amara berdiri di teras sambil menggendong putranya.

Seorang perempuan muda datang bersama anak kecil, hanya membawa sebuah tas plastik berisi pakaian.

Wajahnya penuh ketakutan.

“Maaf,” katanya lirih. “Saya diberi tahu bahwa saya boleh tinggal di sini sementara.”

Amara menatap perempuan itu.

Sekilas, ia seperti melihat dirinya sendiri pada malam hujan enam bulan sebelumnya.

Basah.

Ketakutan.

Tidak tahu harus pergi ke mana.

Amara membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah.”

Perempuan itu mulai menangis.

“Benarkah saya boleh tinggal?”

Amara tersenyum.

“Tidak ada perempuan yang seharusnya berdiri sendirian di tengah hujan hanya karena seseorang mengatakan dia tidak punya tempat di dunia ini.”

Daniel berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil menggendong Arka.

Saat itulah Amara akhirnya memahami sesuatu.

Malam ketika ia diusir memang telah merenggut rumah yang selama ini ia kenal.

Namun malam itu juga membawanya menuju rumah lain.

Rumah yang mempertemukannya kembali dengan suaminya.

Rumah yang menyelamatkan anaknya.

Dan kelak, rumah yang akan menyelamatkan banyak perempuan lain.

Amara menatap langit pegunungan.

Hujan tipis mulai turun.

Kali ini ia tidak takut.

Sebab ia akhirnya mengerti bahwa rumah bukanlah bangunan tempat seseorang diizinkan tinggal.

Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu memohon agar dianggap berharga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang