Pesan balasan Neny muncul sebelum Aini sempat meletakkan ponsel Adam.
“Kenapa harus ketemu lagi, Pa? Dokter bilang hasilnya baru keluar Jumat. Mama sudah tahu?”
Aini membaca kalimat itu berkali-kali. Di sebelahnya, Adam tetap tertidur pulas.

Ia memotret percakapan tersebut menggunakan ponselnya sendiri, lalu mengembalikan ponsel Adam ke meja. Malam terasa panjang. Setiap kali memejamkan mata, ia teringat cara Neny menghindari tatapannya.
Pukul setengah sembilan keesokan harinya, Aini sudah duduk di sudut Kafe Bintang Permai. Semalam ia menghapus pesan undangan yang dikirimnya dari ponsel Adam agar suaminya tidak datang tanpa diduga.
Neny tiba dengan wajah pucat. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu berhenti di ambang pintu ketika melihat ibunya.
“Duduk,” kata Aini.
“Papa mana?”
“Mama yang mengirim pesan.”
Neny perlahan menarik kursi. Jemarinya mencengkeram tali tas.
“Mama ingin dengar yang sebenarnya. Kenapa kamu ke rumah sakit bersama Papa Adam?”
Neny menunduk.
“Jangan bilang sakit kepala. Papa Adam bilang kamu pingsan di kampus.”
“Mama sudah tanya Papa?”
“Sudah. Cerita kalian berbeda.”
Pelayan datang membawa daftar menu, tetapi Aini menggeleng. Setelah lelaki itu menjauh, ia meletakkan foto percakapan semalam di depan Neny.
“Hasil pemeriksaan apa yang kalian tunggu?”
Neny menatap layar, lalu menutup wajahnya.
“Tes DNA, Ma.”
Suara mesin kopi berdengung dari belakang meja kasir. Aini mendengarnya begitu jelas, sementara tubuhnya terasa kehilangan tenaga.
“DNA siapa?”
“Neny dan Papa Adam.”
Aini tidak langsung menjawab.
Dua belas tahun lalu, ketika ia menikah dengan Adam, Neny masih duduk di bangku sekolah dasar. Aini mengenalnya sebagai lelaki sabar yang menerima seorang janda beserta anaknya. Tidak pernah sekali pun Adam membedakan Neny dengan Frans, putra kandungnya.
“Kenapa kalian melakukan tes itu?”
Neny mengeluarkan amplop dari tas.
“Bulan lalu Neny mencari akta lahir untuk berkas pertukaran mahasiswa. Nenek menyuruh ambil sendiri di lemari. Di sana ada surat ini.”
Aini mengenali tulisan tangan pada amplop yang mulai menguning itu.
Tulisan almarhum suaminya, Bagas.
Tangannya gemetar ketika membuka lipatan kertas.
“Aini, kalau suatu hari kamu membaca ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menganggap Neny sebagai kesalahan. Aku hanya menyesal tidak berani menentang ibumu sejak awal.”
Aini berhenti membaca.
Ia pernah melihat surat itu. Dua puluh dua tahun lalu, ibunya datang membawa amplop yang sama dan mengatakan Bagas membatalkan pernikahan karena mengetahui Aini pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain.
Saat itu Aini sedang hamil, ketakutan, dan baru kehilangan kabar dari Adam, kekasih yang bekerja di Kalimantan.
Menurut ibunya, surat tersebut berisi penghinaan. Aini terlalu hancur untuk membacanya.
Namun Bagas justru datang beberapa hari kemudian. Ia menikahi Aini, mendampingi persalinannya, dan membesarkan Neny sampai meninggal akibat kecelakaan sembilan tahun setelahnya.
“Mama?” panggil Neny lirih.
Aini membaca bagian terakhir.
“Adam datang mencarimu. Ibumu mengatakan kamu sudah memilihku dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku mengetahui semuanya setelah kita menikah. Aku ingin bicara, tetapi ibumu memohon agar aku diam. Katanya, membuka kebenaran hanya akan menghancurkanmu.”
Air mata Aini jatuh ke kertas.
Neny menggeser kursinya mendekat.
“Neny tidak berani langsung bertanya ke Mama. Jadi Neny menemui Papa Adam. Waktu membaca surat itu, Papa juga terkejut.”
“Kenapa rumah sakit?”
“Kami mengambil sampel untuk tes. Neny bilang sakit kepala karena panik waktu Mama bertanya. Papa rupanya membuat alasan sendiri.”
Aini menutup mata. Kecurigaan yang dibangunnya semalaman runtuh, digantikan kenangan yang jauh lebih menyakitkan.
Adam pernah berjanji akan pulang untuk melamarnya. Lalu ibunya mengatakan lelaki itu sudah menikah dengan perempuan lain.
Ketika mereka bertemu kembali setelah Bagas meninggal, keduanya sama-sama mengira telah ditinggalkan. Mereka terlalu takut merusak kesempatan kedua sehingga memilih tidak membicarakan luka lama secara rinci.
Ponsel Neny berdering. Nama Adam muncul.
“Angkat,” kata Aini. “Minta Papa datang.”
Adam tiba dua puluh menit kemudian. Begitu melihat surat di meja, ia mengembuskan napas panjang.
“Maafkan aku, Ni. Aku ingin menunggu hasilnya supaya kita bicara dengan kepastian.”
“Kamu pernah datang mencariku?”
Adam mengangguk.
“Ibumu memperlihatkan foto pertunanganmu dengan Bagas. Dia bilang kamu malu mengakui hubungan kita.”
“Aku sedang mengandung anakmu.”
Wajah Adam menegang. Meskipun sudah menduganya, mendengar pengakuan itu membuat matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu.”
Siang itu mereka bertiga mendatangi rumah Nini.
Perempuan tua tersebut sedang menyuapi Frans di teras. Aini meminta ayahnya membawa bocah itu ke taman belakang, lalu meletakkan surat Bagas di meja.
“Ibu mau menjelaskan?”
Nini membaca beberapa baris sebelum tangannya terkulai.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Kenapa Ibu menyimpannya?”
Nini terdiam lama.
“Bagas menitipkannya sebelum berangkat kerja. Dia ingin memberikannya sendiri setelah pulang. Lalu kecelakaan itu terjadi.”
“Dan Ibu menyembunyikannya lagi?”
“Ibu takut kehilangan kamu.”
Aini menahan napas.
Nini akhirnya mengakui semuanya. Dahulu ia menganggap Adam tidak punya masa depan. Bagas sudah bekerja tetap dan berasal dari keluarga yang dikenalnya. Ia menyampaikan kebohongan berbeda kepada kedua orang itu, lalu mendesak Bagas menikahi Aini.
“Waktu Adam datang lagi setelah kamu menjanda, Ibu pikir semuanya sudah selesai. Kalian akhirnya bersama.”
“Tidak selesai, Bu,” ujar Aini. “Aku bertahun-tahun merasa dibuang. Adam mengira aku mengkhianatinya. Neny tumbuh tanpa mengetahui asal-usulnya.”
Nini menangis, tetapi Aini belum sanggup memeluknya.
Jumat sore, hasil pemeriksaan mengonfirmasi hubungan biologis Adam dan Neny.
Adam membaca laporan itu dalam diam, lalu memeluk Neny.
“Papa kehilangan banyak tahun,” bisiknya.
Neny menggeleng di dadanya.
“Papa sudah ada sejak Neny kecil. Sekarang kita cuma tahu lebih banyak.”
Beberapa minggu kemudian, Aini mengajak Neny dan Adam berziarah ke makam Bagas. Mereka membersihkan rumput, mengganti bunga, lalu duduk cukup lama tanpa bicara.
Neny mengeluarkan foto kecil dari dompetnya. Foto Bagas sedang menggendongnya saat masih balita.
“Aku tetap anak Papa,” katanya lirih di depan nisan.
Dalam perjalanan pulang, Aini menerima pesan dari Nini yang meminta izin berkunjung. Kali ini ia membalas, meski singkat. Ia belum memaafkan semuanya, tetapi bersedia mulai berbicara.
Di kursi belakang, Neny menyandarkan kepala ke jendela sambil memegang foto Bagas. Adam meliriknya melalui kaca spion, kemudian menggenggam tangan Aini.
Barulah Aini memahami bagian paling menyedihkan dari rahasia ibunya.
Lelaki yang dahulu dianggap tidak cukup baik ternyata ayah kandung Neny. Sementara lelaki yang dipilih untuk menggantikannya justru menghabiskan hidup menjaga anak yang sejak awal ia tahu bukan darah dagingnya.
