KETIKA KAKAK IPAR PULANG KE KAMPUNG DAN MENCIUM BAU TAK SEDAP DARI TUBUH IBU MERTUA

Ketika aku membuka selimutnya, aku langsung terpaku.

Di bagian punggung bawah dan pinggul ibu mertua tampak luka besar yang menghitam. Kulitnya pecah-pecah, mengeluarkan cairan yang menjadi sumber bau menyengat selama ini.

Tanganku langsung gemetar.

“Ibu… sejak kapan begini?”

Ibu Ratna buru-buru menarik kembali selimutnya.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

“Tapi lukanya sudah parah.”

Beliau hanya tersenyum pahit.

“Kalau Dewi tahu, dia akan menyalahkanmu. Kalau Bima tahu, dia akan panik. Ibu tidak mau merepotkan

kalian.”

Malam itu aku memaksa membawa beliau ke puskesmas.

Dokter menghela napas panjang begitu membuka perban.

“Ini luka tekan. Sudah infeksi. Untung masih sempat dibawa.”

Sejak hari itu hidupku berubah total.

Setiap pagi aku harus membersihkan luka ibu mertua dengan cairan antiseptik.

Siang hari aku memasak makanan lunak sesuai anjuran dokter.

Malam hari aku harus membalik posisi tidurnya setiap dua jam agar luka tidak semakin parah.

Sering kali aku tertidur sambil duduk di samping ranjang.

Tanganku penuh bekas sarung tangan medis.

Bajuku hampir setiap hari terkena cairan luka.

Bau itu bahkan menempel di rambut dan kulitku.

Tetangga mulai berbisik-bisik.

“Kasihan menantunya.”

“Aduh… rumahnya bau sekali.”

“Apa ibunya tidak dibawa ke rumah sakit?”

Mereka tidak tahu.

Biaya rumah sakit terlalu mahal.

Suamiku bekerja sebagai sopir ekspedisi antarkota. Kadang seminggu baru pulang sekali.

Gajinya habis untuk cicilan motor, listrik, obat ibu, dan kebutuhan rumah.

Aku bahkan menjual cincin nikahku diam-diam agar bisa membeli kasur antidekubitus bekas dari seseorang di kota.

Tak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Aku hanya ingin ibu mertua tidak semakin kesakitan.


Enam bulan berlalu.

Luka ibu memang belum sembuh, tetapi mulai membaik.

Bau juga mulai berkurang.

Suatu malam beliau menggenggam tanganku.

“Nak…”

“Iya, Bu.”

“Kalau suatu hari semua orang salah paham sama kamu… jangan membenci mereka.”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa ibu bicara begitu?”

Beliau menatap langit-langit.

“Karena orang hanya melihat hasil. Tidak pernah melihat siapa yang berjaga setiap malam.”

Entah mengapa kata-kata itu membuat dadaku sesak.


Seminggu kemudian datanglah hari yang mengubah semuanya.

Kakak iparku, Dewi, pulang mendadak dari Jakarta.

Ia datang membawa suami dan dua anaknya.

Belum lima menit masuk rumah, ia langsung menutup hidung.

“Astaga… bau apa ini?”

Ia berjalan cepat menuju kamar ibunya.

Begitu pintu dibuka, wajahnya langsung berubah.

“Apa-apaan ini?”

Ia melihat ibunya terbaring kurus.

Masih ada aroma obat bercampur bau luka yang belum hilang sepenuhnya.

Tanpa bertanya apa pun, ia berbalik menatapku.

Tatapannya penuh kemarahan.

“Kamu merawat ibu seperti ini?”

Aku mencoba menjelaskan.

“Mbak, ibu memang sedang menjalani—”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Suara itu membuat seluruh rumah mendadak sunyi.

“KALAU KAMU TAK BISA MERAWAT IBUNYA KELUARGA KAMI, PERGI SAJA DARI SINI!”

Suamiku yang baru pulang dari luar ikut terkejut.

Namun sebelum aku sempat bicara, Dewi sudah terus menyerang.

“Lihat ibuku!”

“Bajunya lusuh!”

“Kamarnya bau!”

“Tubuhnya kurus begini!”

“Kamu selama ini ngapain di rumah?”

Aku menatap suamiku.

Berharap ia mau mengatakan satu kalimat saja.

Bahwa selama enam bulan akulah yang memandikan ibunya.

Akulah yang membersihkan luka itu setiap hari.

Akulah yang tidak pernah tidur nyenyak.

Tetapi ia hanya menundukkan kepala.

Lalu berkata lirih…

“Sudahlah… kamu minta maaf saja.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Dewi.

Aku tersenyum pelan.

Air mataku justru berhenti mengalir.

Aku masuk ke kamar.

Mengambil sebuah map biru yang selama ini kusimpan di lemari.

Di dalamnya ada semua bukti.

Resep dokter.

Hasil pemeriksaan.

Foto perkembangan luka dari minggu ke minggu.

Kwitansi obat.

Bahkan catatan jam-jam ketika ibu harus dibalik posisi tidurnya.

Aku meletakkan map itu di atas meja.

Tak seorang pun membukanya.

Mereka masih sibuk memarahiku.

Aku menarik napas panjang.

Lalu mengeluarkan satu lembar kertas lain dari tas.

Surat gugatan cerai.

Sebenarnya surat itu sudah kusiapkan sebulan sebelumnya.

Bukan karena aku tidak mencintai suamiku.

Tetapi karena aku mulai sadar…

Menjadi istri yang berkorban tidak ada artinya jika suamimu sendiri tidak pernah mau berdiri di sisimu.

Aku mengambil pena.

Menandatangani surat itu tanpa ragu.

Lalu meletakkan cincin nikah di samping map.

“Aku pergi.”

Suamiku akhirnya mengangkat kepala.

“Kamu serius?”

Aku mengangguk.

“Tadi kalian bilang kalau aku tidak bisa merawat ibu, aku harus pergi.”

“Baik.”

“Aku pergi.”

Aku menoleh kepada ibu mertua.

Beliau menangis.

Tangannya gemetar ingin meraihku.

Namun Dewi menghalangi.

“Ibu tidak usah membela dia lagi.”

Aku hanya menunduk memberi salam.

Lalu melangkah keluar rumah.

Tak ada yang mengejarku.

Tak ada yang menahanku.

Yang mereka dengar hanyalah suara pintu kayu tua yang tertutup perlahan.

Mereka mengira telah membuang seorang menantu yang tidak berguna.

Padahal…

Mereka baru saja kehilangan satu-satunya orang yang selama ini mengetahui setiap jadwal obat, setiap cara membersihkan luka, setiap makanan yang masih bisa ditelan Ibu Ratna, dan satu rahasia besar yang belum pernah sempat kuungkap.

Tiga hari kemudian…

Ponselku mulai bergetar.

Satu panggilan.

Lima panggilan.

Dua puluh panggilan.

Lalu terus bertambah.

Hingga melewati seratus panggilan tak terjawab.

Nama yang muncul bergantian di layar membuatku hanya menatap tanpa mengangkatnya.

Dewi.

Bima.

Tetangga rumah.

Kepala RT.

Dan akhirnya…

Rumah sakit tempat ibu mertua dirawat ikut menghubungiku.

Pesan suara terakhir yang masuk membuat napasku seketika terhenti.

“Nak… tolong datang… hanya kamu yang tahu… apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu Ratna…”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang