MALAM ITU AKU MENEMUKAN CINCIN MISTERIUS DI LACI SUAMIKU, PADAHAL

“RUMAH YANG KITA TINGGALI SELAMA LIMA TAHUN INI BUKAN SEPENUHNYA MILIKKU, NAD. DAN CINCIN YANG KAMU TEMUKAN ITU ADALAH KUNCI UNTUK MENGETAHUI SIAPA PEMILIK SEBENARNYA.”

Aku menatap suamiku dengan tubuh gemetar.

Semalam, aku menemukan cincin emas putih di laci meja kerjanya. Di bagian dalam cincin itu terukir dua huruf, L dan S, yang sama sekali tidak berkaitan dengan namaku ataupun nama Raka.

Awalnya, aku mengira cincin tersebut milik perempuan lain.

Apalagi enam bulan lalu, aku pernah menemukan pesan mencurigakan dari perempuan bernama Selma di ponsel suamiku.

Namun pagi ini, seorang pria bernama Dimas datang membawa dokumen lama tentang rumah kami. Dan sesuatu yang dikatakannya membuat seluruh kecurigaanku berubah menjadi ketakutan.

“Pak Raka, perempuan yang namanya tercatat dalam dokumen lama ini kemungkinan masih hidup.”

Raka langsung membeku.

Aku menatapnya.

“Perempuan siapa, Mas?”

Suamiku tidak menjawab.

Dimas membuka map cokelat yang dibawanya, lalu mengeluarkan salinan dokumen jual beli rumah bertanggal dua belas tahun lalu.

“Bu Nadya, rumah ini dulunya dimiliki bersama oleh dua orang,” jelasnya. “Salah satunya adalah almarhum Pak Haris, paman Pak Raka.”

“Satunya lagi?”

Dimas melirik Raka sebelum menjawab.

“Seorang perempuan bernama Larasati Suryani.”

Jantungku seketika berdegup keras.

Larasati Suryani.

Aku pernah mendengar nama itu.

Bertahun-tahun lalu, ketika masih tinggal bersama orang tuaku di Bandung, Ibu pernah bercerita tentang seorang perempuan bernama Larasati yang menghilang setelah mengalami kecelakaan.

Menurut cerita Ibu, perempuan itu adalah sahabat lamanya.

“Ibu saya kenal seseorang bernama Larasati,” kataku pelan.

Raka langsung mengangkat wajah.

“Apa?”

Aku menatapnya.

“Kenapa Mas enggak pernah bilang rumah ini ada hubungannya dengan perempuan itu?”

Raka duduk perlahan di sofa.

“Karena aku sendiri baru tahu ada persoalan kepemilikan yang belum selesai setelah pamanku meninggal.”

Dimas meletakkan dokumen tersebut di meja.

“Dalam catatan lama, Pak Haris dan Bu Larasati masing-masing memiliki setengah bagian hak atas rumah ini. Ketika Bu Larasati dikabarkan meninggal, keluarga Pak Haris mengurus pengalihan bagian kepemilikannya menggunakan dokumen yang sekarang sedang kami periksa.”

Aku mengerutkan kening.

“Jadi rumah ini kemudian menjadi milik paman Raka?”

“Begitulah yang selama ini dipercaya keluarga,” jawab Dimas. “Setelah Pak Haris meninggal, rumah tersebut diwariskan kepada Pak Raka.”

Aku menatap suamiku.

“Dan Mas enggak pernah tahu ada masalah?”

Raka menggeleng.

“Waktu menerima rumah ini, dokumennya sudah atas nama pamanku. Aku enggak punya alasan untuk curiga.”

“Lalu kenapa sekarang baru diselidiki?”

Raka mengeluarkan cincin dari kotak beludru hitam.

“Karena tiga bulan lalu, aku menemukan ini di antara barang peninggalan Paman Haris.”

Aku memperhatikan cincin tersebut.

“Lalu apa hubungannya dengan rumah?”

Dimas menjawab.

“Cincin itu dibuat khusus untuk Bu Larasati. Huruf L dan S merupakan inisial namanya. Di bagian dalam, tepat di bawah ukiran tersebut, ada nomor seri kecil yang cocok dengan nomor pada surat keterangan barang berharga yang disimpan bersama perjanjian kepemilikan rumah.”

Aku mendekatkan cincin ke arah cahaya.

Benar saja.

Di bawah dua huruf tersebut terdapat deretan angka yang sangat kecil.

Selama ini aku tidak menyadarinya.

“Nomor seri itu membuktikan apa?”

“Bukan membuktikan siapa pemilik rumah sekarang,” jelas Dimas. “Tapi membantu kami memastikan bahwa surat lama, cincin, dan dokumen kepemilikan tersebut berasal dari rangkaian transaksi yang sama.”

Aku mulai memahami maksudnya.

Cincin itu bukan sekadar perhiasan peninggalan seorang perempuan.

Benda tersebut merupakan petunjuk yang menghubungkan nama Larasati dengan sejarah rumah kami.

Raka mengambil sebuah foto lama dari map.

Di dalamnya terlihat seorang perempuan muda mengenakan gaun putih sederhana. Di jari manisnya melingkar cincin yang sama.

Di belakang foto tertulis tanggal dan sebuah kalimat.

Untuk Larasati, sebagai tanda bahwa rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

“Siapa yang menulisnya?”

“Paman Haris,” jawab Raka.

Aku menatap suamiku.

“Jadi mereka pasangan suami istri?”

Raka menggeleng.

“Bukan. Mereka pernah bertunangan, tetapi tidak sampai menikah. Rumah itu dibeli bersama ketika mereka berencana membangun keluarga.”

Aku terdiam.

Selama lima tahun tinggal di rumah tersebut, aku tidak pernah membayangkan bahwa dinding, halaman, dan kamar-kamar yang begitu akrab bagiku dulunya menyimpan impian dua orang yang tidak pernah berhasil menikah.

“Lalu kenapa Larasati menghilang?”

Raka menarik napas panjang.

“Menurut keluarga, dia meninggal dalam kecelakaan mobil. Tetapi dokumen kematiannya tidak pernah kami temukan dalam arsip yang seharusnya menyimpan berkas tersebut.”

Dimas menyambung, “Beberapa minggu lalu, kami memperoleh petunjuk bahwa seorang perempuan dengan nama dan tanggal lahir yang sama pernah mendapatkan layanan kesehatan di Bandung setelah tanggal kematian yang tercantum dalam dokumen lama.”

Aku langsung menegang.

“Jadi dia masih hidup?”

“Kami belum bisa memastikan sampai identitasnya diverifikasi,” jawab Dimas.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Mas, Selma itu siapa sebenarnya?”

Raka menatapku.

“Dia anak perempuan Pak Haris dari pernikahannya setelah berpisah dengan Larasati.”

Aku membeku.

“Jadi Selma sepupumu?”

Raka mengangguk.

“Sepupu angkat dari pihak keluarga paman. Dia yang pertama kali menemukan cincin itu dan menghubungiku untuk memeriksa dokumen rumah.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kenapa Mas justru menyembunyikan semuanya?”

Raka menunduk.

“Selma khawatir kalau ternyata pengalihan rumah dulu bermasalah, keluarganya akan dituduh melakukan sesuatu yang tidak benar. Dia memintaku memberi waktu sampai dokumennya diperiksa. Aku setuju, tapi kemudian terus menunda menjelaskan kepadamu.”

Aku terdiam cukup lama.

“Mas seharusnya jujur dari awal.”

“Aku tahu. Aku salah.”

Untuk pertama kalinya, Raka tidak berusaha menghentikan pertanyaanku.

Dia justru menyerahkan seluruh dokumen yang dibawanya kepada Dimas dan memintanya menjelaskan satu per satu.

Namun ketika Dimas membuka halaman berikutnya, aku melihat sebuah nama yang membuat tanganku berhenti bergerak.

Sulastri Wibowo.

Nama ibuku.

Aku langsung menunjuk dokumen itu.

“Kenapa nama Ibu saya ada di sini?”

Dimas memperhatikan halaman tersebut.

“Bu Sulastri tercatat sebagai saksi dalam surat pernyataan yang dibuat Larasati beberapa bulan sebelum kecelakaannya.”

Aku merasa napasku tertahan.

“Ibu saya saksi?”

“Iya. Dalam surat itu, Larasati menyatakan bahwa dirinya belum pernah menjual ataupun menghibahkan bagian kepemilikannya kepada Pak Haris.”

Raka langsung menatapku.

“Kamu yakin itu ibumu?”

Aku mengangguk.

“Nama lengkap dan tanda tangannya sama.”

Tanpa menunggu lebih lama, aku menelepon Ibu.

Panggilan tersambung setelah beberapa dering.

“Nadya? Tumben telepon pagi-pagi. Ada apa, Nak?”

Aku mencoba menenangkan suara.

“Bu, Ibu kenal Larasati Suryani?”

Di seberang telepon mendadak sunyi.

Aku menunggu.

“Ibu?”

Akhirnya terdengar suara Ibu.

“Kamu dapat nama itu dari mana?”

Aku menatap Raka.

“Rumah yang kutinggali sekarang dulunya milik Larasati dan seorang pria bernama Haris.”

Terdengar suara benda jatuh dari seberang telepon.

“Ibu? Ibu enggak apa-apa?”

Namun jawaban Ibu justru membuatku semakin takut.

“Nadya, dengarkan Ibu baik-baik. Jangan tanda tangan dokumen rumah apa pun sebelum Ibu datang.”

Aku membeku.

“Kenapa, Bu?”

“Karena Larasati belum meninggal.”

Aku langsung berdiri.

“Jadi benar dia masih hidup?”

“Iya.”

“Lalu sekarang dia di mana?”

Ibu terdiam beberapa saat.

Kemudian menjawab dengan suara bergetar.

“Dia tinggal tidak jauh dari rumah Ibu.”

Aku menatap Raka dan Dimas bergantian.

“Bu, kenapa Ibu enggak pernah cerita?”

“Karena Larasati memohon agar keberadaannya dirahasiakan. Dulu dia mengalami masalah besar dengan keluarga Haris. Setelah kecelakaan, dia memilih menjauh dan memulai hidup baru.”

“Tapi bagian rumahnya diambil tanpa persetujuannya!”

“Ibu tahu, Nak. Dulu kami mencoba meminta bantuan hukum, tetapi Larasati sedang sakit dan tidak sanggup menghadapi perselisihan itu. Setelah kondisinya membaik, dia justru takut kembali berurusan dengan keluarga tersebut.”

Aku menarik napas panjang.

“Sekarang rumah itu ditempati aku dan Raka, Bu.”

“Ibu tahu.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

“Ibu tahu?”

“Iya, Nadya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kamu pertama kali mengirim foto rumah itu sebelum menikah.”

Aku merasa dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Jadi selama lima tahun Ibu tahu aku tinggal di rumah milik sahabat Ibu?”

Ibu mulai menangis.

“Ibu tahu rumah itu pernah menjadi milik Larasati. Tapi Ibu enggak tahu bagaimana status hukumnya setelah semua yang terjadi. Ibu pernah membicarakannya dengan Larasati, tetapi dia meminta Ibu tidak mengusik kehidupan rumah tanggamu.”

Aku menutup mata.

Ada begitu banyak keputusan yang dibuat orang lain atas nama melindungiku.

Raka menyembunyikan dokumen.

Selma menyembunyikan persoalan keluarganya.

Dan Ibu menyembunyikan kenyataan bahwa perempuan yang pernah memiliki rumahku ternyata masih hidup.

Namun saat itulah Ibu mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

“Nadya, kamu masih ingat perempuan yang datang ke rumah Ibu waktu Lebaran tahun lalu?”

Aku mengerutkan kening.

“Bu Lala?”

“Iya.”

Aku membeku.

Bu Lala adalah perempuan paruh baya yang pernah makan bersama kami ketika aku dan Raka pulang ke Bandung.

Dia berbicara sangat sedikit, tetapi begitu ramah kepadaku.

Aku bahkan masih ingat bagaimana dia memegang tanganku sebelum kami pulang.

Dia berkata bahwa rumah yang nyaman bukan hanya dibangun dari batu bata, tetapi juga dari kejujuran orang-orang di dalamnya.

Waktu itu aku menganggapnya sekadar nasihat orang tua.

Sekarang aku mulai memahami maknanya.

“Bu Lala itu Larasati?”

“Iya, Nak.”

Aku terduduk kembali.

Perempuan yang selama ini kami cari ternyata pernah duduk semeja denganku.

Dia pernah bertanya apakah aku bahagia tinggal di rumah baru.

Bahkan dia pernah memuji tanaman melati yang kutanam di halaman.

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Ya Tuhan…”

Raka mendekat.

“Ada apa, Nad?”

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Larasati pernah datang menemui kita.”

Wajah Raka langsung pucat.

“Kapan?”

“Lebaran tahun lalu. Di rumah Ibu.”

Dimas segera membuka catatannya.

“Kalau begitu, identitas beliau bisa kita verifikasi langsung. Kita juga bisa meminta keterangan tentang dokumen lama tersebut.”

Namun aku justru menggeleng.

“Jangan memperlakukannya hanya sebagai sumber bukti, Pak Dimas. Dia orang yang sudah kehilangan rumah dan sebagian hidupnya karena persoalan ini.”

Dimas terdiam.

Lalu mengangguk.

“Maaf, Bu. Ibu benar.”

Sore itu, aku dan Raka pergi ke Bandung.

Di sepanjang perjalanan, kami hampir tidak berbicara.

Aku memandang jalanan dari balik jendela sambil memikirkan cincin yang kini tersimpan di tasku.

Benda kecil yang semula kukira menjadi bukti pengkhianatan suamiku ternyata membawa kami kepada persoalan yang jauh lebih rumit.

Ketika tiba di rumah Ibu, seorang perempuan sudah menunggu di ruang tamu.

Bu Lala.

Atau Larasati Suryani.

Dia berdiri begitu melihat kami datang.

“Nadya…”

Aku menghampirinya perlahan.

“Bu, kenapa enggak pernah bilang kalau rumah itu dulunya milik Ibu?”

Larasati tersenyum sedih.

“Karena waktu pertama kali melihat fotomu di rumah itu, Ibu tahu kamu tidak bersalah atas apa pun yang terjadi dulu.”

Aku mengeluarkan kotak cincin dari tas.

Begitu melihatnya, mata Larasati langsung berkaca-kaca.

“Cincin ini masih ada?”

Aku mengangguk.

“Raka menemukannya di antara barang peninggalan Pak Haris.”

Larasati mengambil cincin itu dengan tangan gemetar.

Dia memutar bagian dalamnya ke arah cahaya.

Kemudian menangis.

“Dulu Haris memberikannya ketika kami membeli rumah itu bersama. Kami bahkan berencana menanam dua pohon mangga di halaman.”

Aku terdiam.

Di halaman rumah kami memang ada dua pohon mangga besar.

Selama lima tahun, aku tidak pernah mengetahui siapa yang menanamnya.

Larasati mengusap air matanya.

“Setelah hubungan kami berakhir, aku meminta pembagian hak atas rumah itu diselesaikan. Tapi sebelum semuanya beres, aku mengalami kecelakaan.”

Raka duduk di hadapannya.

“Bu Larasati, saya minta maaf. Saya benar-benar tidak tahu.”

Larasati menatapnya lama.

“Kamu tidak perlu meminta maaf atas perbuatan yang tidak kamu lakukan. Tapi sekarang kamu sudah tahu. Itu artinya kamu punya tanggung jawab untuk membantu menyelesaikannya.”

Raka mengangguk.

“Saya akan melakukannya.”

Beberapa minggu kemudian, kami mulai memeriksa seluruh dokumen bersama penasihat hukum masing-masing.

Pemeriksaan itu menemukan bahwa pengalihan bagian kepemilikan Larasati dulu menggunakan surat keterangan kematian yang keabsahannya bermasalah.

Namun persoalan tersebut tidak serta-merta membuat seluruh rumah langsung berpindah tangan.

Hak masing-masing pihak harus diperiksa kembali melalui proses hukum yang berlaku.

Raka bersedia bekerja sama dan menyerahkan dokumen peninggalan pamannya.

Larasati akhirnya mendapatkan kesempatan memperjuangkan kembali hak yang selama ini hilang.

Sementara aku membuat satu keputusan.

Aku tidak ingin terus tinggal di rumah itu tanpa kepastian.

Aku dan Raka menyewa rumah kecil sementara waktu, sampai status kepemilikannya jelas.

Awalnya Raka merasa bersalah.

Namun aku menggenggam tangannya.

“Mas, aku enggak butuh rumah besar yang penuh rahasia. Aku cuma ingin kita membangun hidup yang enggak perlu disembunyikan dari siapa pun.”

Raka menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Aku janji mulai sekarang enggak ada lagi yang kusembunyikan.”

Aku tersenyum kecil.

“Jangan cuma janji. Buktikan.”

Setahun kemudian, setelah melalui proses hukum dan perundingan, hak kepemilikan Larasati diakui dan penyelesaian atas bagian rumah yang menjadi haknya berhasil disepakati.

Raka memperoleh bagian yang memang sah berasal dari peninggalan pamannya, sedangkan Larasati menerima penyelesaian atas haknya.

Namun ketika semua urusan hampir selesai, Larasati membuat keputusan yang tidak pernah kami duga.

Dia meminta agar dua pohon mangga di halaman rumah itu tidak ditebang, siapa pun yang nantinya tinggal di sana.

“Kenapa, Bu?” tanyaku.

Larasati tersenyum.

“Karena dua pohon itu ditanam ketika aku masih percaya bahwa rumah ini akan menjadi tempatku membangun keluarga.”

Dia menatapku.

“Impian itu memang tidak terwujud untukku. Tapi bukan berarti kenangannya harus dihancurkan.”

Beberapa bulan kemudian, aku dan Raka akhirnya membeli rumah lain menggunakan tabungan kami sendiri.

Rumahnya lebih kecil.

Halamannya tidak luas.

Namun untuk pertama kalinya, setiap sudut rumah terasa benar-benar menjadi bagian dari kehidupan yang kami pilih bersama.

Pada hari pertama menempatinya, Raka mengajakku ke halaman belakang.

Di sana sudah tersedia dua bibit pohon mangga.

Aku menatapnya dengan heran.

“Buat apa, Mas?”

Raka tersenyum.

“Aku pernah dengar sebuah rumah bisa menyimpan banyak rahasia. Tapi aku ingin rumah kita menyimpan kenangan yang baik.”

Aku tertawa kecil.

Kami menanam kedua bibit itu bersama.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar tenang.

Aku tidak lagi memikirkan cincin misterius sebagai tanda pengkhianatan.

Aku justru mengingatnya sebagai benda yang membuka jalan menuju sebuah kebenaran yang terlalu lama disembunyikan.

Namun ada satu hal yang paling membekas dalam ingatanku.

Ketika semua dokumen akhirnya selesai, Larasati tidak meminta cincin tersebut disimpan di rumah lamanya.

Dia membawanya pulang.

Bukan untuk mengenang Haris.

Melainkan untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia pernah kehilangan hampir segalanya, tetapi akhirnya memiliki keberanian untuk mengambil kembali hak atas hidupnya.

Dan aku pun belajar sesuatu.

Terkadang, yang paling menyakitkan dalam sebuah pernikahan bukanlah kenyataan pahit yang akhirnya kita ketahui.

Melainkan ketika orang yang kita cintai memilih membiarkan kita hidup dalam kebohongan karena mengira kejujuran akan menghancurkan segalanya.

Padahal sebuah rumah tidak akan benar-benar menjadi tempat pulang hanya karena nama kita tertulis di sertifikatnya.

Rumah baru menjadi tempat pulang ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi takut mengatakan kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang