
Aku tidak berani menggerakkan boneka Doraemon itu lagi. Benda kecil yang terasa keras di balik punggungnya membuat jantungku berdebar tak karuan. Bu Maryam berdiri di hadapanku dengan wajah kebingungan.
“Bu Rere, sebenarnya ada apa dengan boneka itu?”
“Aku belum tahu, Bu. Tapi jahitannya terlihat berbeda. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja dimasukkan ke dalamnya.”
Bu Maryam langsung mundur selangkah.
“Jangan-jangan ada sesuatu yang berbahaya?”
Aku menggeleng. “Kita jangan menebak-nebak. Lebih baik polisi yang memeriksanya.”
Aku segera menghubungi Pak Dimas, penyidik yang menangani kematian Salia. Setelah mendengar penjelasanku, beliau meminta kami tidak menyentuh bagian jahitan tersebut dan berjanji segera datang.
Dua puluh menit kemudian, Pak Dimas tiba bersama seorang petugas perempuan. Mereka memotret boneka itu, lalu memasukkannya ke dalam kantong barang bukti.
“Apakah boneka milik Salia masih ada, Bu Rere?” tanya Pak Dimas.
Aku mengangguk.
“Masih di kamarnya, Pak.”
“Besok pagi kami akan mengambilnya. Untuk sementara, jangan biarkan siapa pun masuk ke kamar itu.”
Aku menyetujui permintaannya. Namun, sebelum pergi, Pak Dimas mengajukan pertanyaan yang membuatku terdiam.
“Bu Rere, apakah mantan suami Ibu bernama Angga Pratama?”
“Iya, Pak. Memangnya kenapa?”
“Apakah Ibu masih menyimpan foto terbarunya?”
“Tidak. Kami sudah lama tidak berhubungan.”
Pak Dimas saling berpandangan dengan rekannya.
“Ada sesuatu yang sedang kami periksa. Nanti kami kabari setelah informasinya pasti.”
Aku ingin mendesaknya, tetapi beliau sudah berpamitan.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku terus tertuju pada Mas Angga. Selama bertahun-tahun aku membencinya karena meninggalkan kami. Namun, aku tidak pernah membayangkan dia mungkin terlibat dalam kematian anaknya sendiri.
Ketika sampai di rumah, Bude Nias sedang duduk di ruang tamu.
“Dari mana saja kamu, Re? Bude mencarimu sejak tadi.”
“Dari rumah Bu Maryam.”
Wajah Bude langsung berubah.
“Ngapain ke sana?”
“Membicarakan Salia dan Anela.”
Bude Nias terdiam beberapa detik.
“Kamu jangan terlalu memikirkan macam-macam. Serahkan saja semuanya kepada polisi.”
Aku memperhatikan wajahnya.
“Bude, aku mau tanya sesuatu.”
“Tanya apa?”
“Apakah Bude pernah melihat seorang pria datang menemui Salia?”
Tangannya yang sedang memegang gelas mendadak berhenti bergerak.
“Pria siapa?”
“Katanya dia ayah Salia.”
Gelas itu terlepas dari tangan Bude dan pecah di lantai.
Aku tersentak.
“Bude!”
“Maaf, Re. Tangan Bude licin.”
Namun, aku melihat jelas wajahnya memucat.
“Bude kenal pria itu?”
“Nggak. Bude nggak tahu apa-apa.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku tidak melanjutkan pertanyaan. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mengunci pintu kamarku dari dalam.
Sekitar pukul dua dini hari, suara langkah kaki membangunkanku.
Langkah itu berhenti tepat di depan kamar Salia.
Aku bangkit perlahan dan mengintip melalui celah pintu.
Bude Nias berdiri di lorong sambil membawa senter kecil. Beliau mencoba membuka pintu kamar putriku.
Ketika menyadari pintunya terkunci, beliau mengeluarkan sesuatu dari saku dasternya.
Sebuah anak kunci.
Aku hampir berteriak.
Ternyata Bude memiliki kunci cadangan kamar Salia.
Pintu terbuka perlahan. Beliau masuk, lalu menutupnya kembali.
Aku segera mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Pak Dimas.
Pak, Bude Nias masuk diam-diam ke kamar Salia. Saya takut beliau mengambil sesuatu.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Jangan hadapi beliau sendirian. Kami segera ke sana.
Aku menunggu dengan tubuh gemetar.
Dari dalam kamar Salia terdengar suara laci dibuka, kemudian sesuatu jatuh ke lantai.
Beberapa saat kemudian, Bude keluar membawa tas kain berwarna cokelat.
Aku tidak sanggup menahan diri lagi.
“Bude!”
Beliau tersentak begitu melihatku.
“Rere? Kamu belum tidur?”
“Apa yang Bude ambil dari kamar anakku?”
“Nggak ada. Bude cuma mau merapikan barang-barangnya.”
“Jam dua pagi?”
Bude menunduk.
Aku menunjuk tas di tangannya.
“Buka tas itu, Bude.”
“Rere, jangan begini.”
“Buka!”
Dengan tangan gemetar, beliau akhirnya membuka tas tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah album foto lama, beberapa lembar surat, dan boneka Doraemon milik Salia.
Dadaku langsung sesak.
“Kenapa Bude mengambil boneka itu?”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Bude cuma ingin menyelamatkan kamu.”
“Menyelamatkanku dari siapa?”
Beliau belum sempat menjawab ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Pak Dimas datang bersama dua petugas.
Setelah melihat barang-barang di dalam tas, beliau meminta Bude Nias duduk di ruang tamu.
“Bude Nias, kami perlu mendengar penjelasan Ibu.”
Bude menangis semakin keras.
“Pak, saya tidak membunuh anak-anak itu.”
Aku membeku.
Tidak seorang pun menuduhnya sebagai pembunuh.
Mengapa beliau justru mengatakan hal tersebut?
Pak Dimas menatapnya tajam.
“Kalau begitu, siapa yang melakukannya?”
Bude menutup wajah dengan kedua tangan.
“Angga.”
Dunia seakan berhenti berputar.
“Mas Angga?” tanyaku.
Bude mengangguk.
“Dia datang sekitar tiga minggu lalu. Dia bilang ingin bertemu Salia. Bude melarangnya, tapi dia mengancam akan membongkar sesuatu tentang keluarga kita.”
“Sesuatu apa?”
Bude tidak menjawab.
Pak Dimas kemudian memperlihatkan sebuah foto dari ponselnya.
“Apakah pria ini yang datang menemui Salia?”
Aku menatap foto tersebut.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan kemeja hitam, berdiri di depan sebuah minimarket.
Aku mengenali wajah itu.
Mas Angga.
Namun, penampilannya jauh berbeda dari yang kuingat. Rambutnya lebih panjang, tubuhnya kurus, dan terdapat bekas luka di dekat alis kirinya.
“Benar, Pak. Itu mantan suami saya.”
Pak Dimas menghela napas.
“Kami sudah menemukan keberadaannya.”
“Di mana, Pak?”
“Dia ditemukan meninggal lima hari lalu di sebuah rumah kontrakan di Bekasi.”
Kakiku langsung lemas.
“Apa?”
“Identitasnya sudah kami cocokkan. Saat ini kami sedang menyelidiki penyebab kematiannya.”
Aku memegang ujung meja agar tidak terjatuh.
Jika Mas Angga sudah meninggal lima hari lalu, bagaimana mungkin dia datang menemui Salia dua hari sebelum putriku ditemukan tewas?
Aku menoleh kepada Bude Nias.
“Bude bilang dia datang tiga minggu lalu. Kapan terakhir Bude melihatnya?”
Bude mengusap air mata.
“Seminggu lalu.”
“Lalu siapa pria yang datang setelah itu?”
Bude menggeleng ketakutan.
“Bude nggak tahu, Re.”
Pak Dimas segera meminta petugas membawa Bude untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Sebelum pergi, beliau mengatakan bahwa hasil pemeriksaan awal boneka Anela sudah keluar.
Di dalam punggung boneka itu ditemukan sebuah alat perekam suara berukuran kecil.
Bukan kamera. Bukan alat pelacak.
Sebuah perekam yang menyimpan percakapan selama beberapa hari.
“Kami menemukan satu rekaman yang sangat penting,” kata Pak Dimas.
Beliau memutar sebagian rekaman dari ponselnya.
Awalnya terdengar suara dua anak perempuan sedang tertawa.
Aku langsung mengenali suara Salia dan Anela.
“Kalau Om datang lagi, kita harus bilang sama Ibu, ya,” kata Anela.
“Iya. Aku takut,” jawab Salia.
Kemudian terdengar suara pria.
“Kalian sudah janji tidak akan bercerita kepada siapa-siapa.”
Aku merinding.
Suara itu terdengar berat dan serak.
“Om bohong!” teriak Salia. “Om bukan ayahku!”
Terdengar suara benda jatuh, lalu rekaman mendadak berhenti.
Aku menangis tanpa suara.
Putriku ternyata sudah mengetahui kebohongan pria tersebut.
“Pak, siapa orang itu?”
“Kami masih mengidentifikasi suaranya.”
Aku memohon agar beliau memutar rekaman sekali lagi. Namun, Pak Dimas mengatakan bahwa bagian lain masih diperiksa dan mungkin mengandung petunjuk tambahan.
Setelah polisi pergi, aku duduk sendirian di ruang tamu hingga matahari terbit.
Sekitar pukul delapan pagi, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Dengan ragu, aku mengangkatnya.
“Halo?”
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara seorang perempuan.
“Rere, jangan percaya Nias.”
Aku langsung berdiri.
“Siapa ini?”
“Aku orang yang pernah merawat Angga sebelum dia meninggal.”
Jantungku berdegup keras.
“Apa maksud Ibu?”
“Angga tidak pernah datang menemui anakmu. Selama tiga minggu terakhir hidupnya, dia dirawat di rumah sakit. Dia bahkan tidak bisa berjalan.”
Aku terdiam.
“Kalau begitu, siapa pria yang mengaku sebagai ayah Salia?”
Perempuan itu menarik napas panjang.
“Itulah yang ingin Angga sampaikan kepadamu sebelum meninggal.”
“Siapa dia?”
“Adik kembarnya.”
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Mas Angga tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki saudara kembar.
“Namanya Arya,” lanjut perempuan itu. “Wajah mereka hampir sama. Tetapi Arya pernah menjalani hukuman penjara karena kasus penculikan.”
Aku mencengkeram ponsel erat-erat.
“Kenapa dia mendekati anakku?”
“Karena dia mencari sesuatu yang ditinggalkan Angga.”
“Sesuatu apa?”
“Dokumen tentang kematian seorang perempuan tujuh tahun lalu.”
Aku tidak mengerti.
Namun, kalimat berikutnya membuat darahku terasa membeku.
“Perempuan itu bernama Laras. Dia adalah putri kandung Nias.”
Aku teringat album foto yang hendak dibawa Bude dari kamar Salia.
Selama ini Bude selalu mengatakan bahwa beliau tidak pernah memiliki anak.
“Bu, tolong jelaskan semuanya.”
Namun, sambungan telepon tiba-tiba terputus.
Aku segera mencoba menelepon kembali, tetapi nomor tersebut sudah tidak aktif.
Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju kamar Salia.
Polisi memang telah membawa boneka dan beberapa barang, tetapi album foto lama itu masih tertinggal di atas meja setelah diperiksa.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Di halaman pertama terdapat foto Bude Nias ketika masih muda, berdiri bersama seorang perempuan cantik dan dua pria yang wajahnya hampir sama.
Mas Angga dan Arya.
Di bawah foto itu tertulis sebuah tanggal, tujuh tahun silam.
Aku membalik halaman berikutnya.
Ada foto seorang bayi perempuan yang sedang digendong Laras.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan.
Untuk Salia, putri kecilku. Semoga suatu hari nanti kamu mengetahui siapa ibu kandungmu.
Aku terpaku.
Tulisan itu membuat napasku seolah terhenti.
Salia?
Ibu kandung?
Tidak mungkin.
Aku sendiri yang melahirkan Salia.
Aku masih mengingat rasa sakit persalinan, tangisan pertamanya, dan wajah mungilnya ketika diletakkan di dadaku.
Namun, ketika kuperhatikan foto bayi itu lebih saksama, aku menemukan sesuatu yang membuat tanganku gemetar hebat.
Bayi tersebut mengenakan gelang rumah sakit dengan nama yang berbeda.
Anela.
Aku terduduk di lantai.
Jadi, foto itu bukan foto Salia.
Seseorang telah menulis nama Salia di belakangnya untuk menyembunyikan identitas bayi tersebut.
Saat itulah aku menyadari bahwa rahasia ini mungkin bukan tentang putriku seorang.
Aku segera menghubungi Pak Dimas dan mengirimkan foto tersebut.
Beliau memintaku menunggu di rumah.
Namun, sebelum telepon ditutup, terdengar suara ketukan dari pintu depan.
Tok. Tok. Tok.
Aku berjalan perlahan menuju ruang tamu.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengintip melalui jendela.
Seorang pria berdiri membelakangiku, mengenakan jaket abu-abu dan topi hitam.
Ketika dia berbalik, lututku langsung gemetar.
Wajahnya sama persis dengan Mas Angga.
Pria itu tersenyum tipis.
“Rere, akhirnya kita bertemu.”
Aku mundur ketakutan.
“Arya?”
Dia tidak menjawab. Hanya mengangkat sebuah amplop cokelat.
“Aku tahu kamu sedang mencari pembunuh Salia.”
Aku segera mengunci pintu.
“Pergi! Polisi sedang menuju kemari!”
Pria itu justru tertawa pelan.
“Bagus. Karena aku juga ingin bertemu polisi.”
Kemudian dia menyelipkan amplop tersebut melalui celah bawah pintu.
“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang malam kematian Salia.”
Aku tidak bergerak sampai mendengar langkahnya menjauh.
Setelah memastikan dia pergi, aku mengambil amplop itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar hasil pemeriksaan rumah sakit dan sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan Salia dan Anela sedang duduk bersama seorang perempuan.
Aku mengenali perempuan tersebut.
Bu Maryam.
Namun, di belakang mereka berdiri seseorang yang selama ini kuanggap sebagai keluarga sendiri.
Bude Nias.
Di bawah foto terdapat tulisan singkat.
Rere, tanyakan kepada Nias mengapa Anela harus meninggal lebih dulu.
Aku menatap kalimat itu berulang kali.
Lalu ponselku berbunyi.
Pesan dari Pak Dimas.
Bu Rere, kami baru menerima hasil autopsi kedua anak. Ada temuan yang harus segera Ibu ketahui. Tolong jangan menemui siapa pun sebelum kami tiba.
Aku belum sempat membalas ketika pesan kedua masuk.
Satu hal lagi. Bude Nias menghilang dari ruang pemeriksaan sebelum keterangannya selesai diambil.
Aku menoleh ke arah jendela.
Di seberang jalan, seorang perempuan berdaster gelap berdiri di bawah pohon mangga.
Bude Nias.
Beliau menatap rumahku tanpa bergerak.
Kemudian perlahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah kamar Salia.
Bibirnya bergerak seolah mengatakan sesuatu.
Aku tidak bisa mendengar suaranya.
Namun, aku mampu membaca gerakan bibir itu dengan jelas.
“Mayat yang pertama kali kamu temukan di lemari itu bukan Salia.”
Tubuhku langsung membeku.
Karena aku teringat satu hal yang selama ini luput dari perhatianku.
Ketika polisi pertama kali mengangkat tubuh kecil dari dalam lemari, wajahnya sudah sulit dikenali.
Aku mengenalinya dari pakaian dan gelang kesayangan Salia.
Bukan dari wajahnya.
Jika perkataan Bude benar, lalu siapa sebenarnya anak yang telah kumakamkan?
Dan yang jauh lebih mengerikan, di manakah Salia sekarang?
