MELAHIRKAN SAAT MAGRIB 2

Sapu lidi itu melayang melewati bahuku dan menghantam daun pintu dengan suara keras. Seketika, dorongan dari luar berhenti. Jari-jari pucat yang tadi menyelinap melalui celah pintu lenyap begitu saja, disusul suara jeritan panjang yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, kudorong pintu hingga tertutup rapat, lalu kupasang kembali palang kayunya.

Brak!

Aku terjatuh terduduk. Napasku tersengal, kedua tanganku gemetar, sementara keringat dingin mengalir hingga membasahi kerah baju.

“Sudah saya peringatkan, malah kamu langgar!” bentak Mbah dukun.

“Maaf, Mbah. Saya pikir tadi benar-benar Runi.”

Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia justru bergegas kembali menghampiri Hanah yang masih terbaring kesakitan.

“Pak Arif, cepat kemari! Istrimu membutuhkanmu!”

Aku segera bangkit.

Namun, baru dua langkah berjalan, suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring.

Aku berhenti.

Di atas dipan, Mbah dukun sedang menggendong bayi mungil yang tubuhnya dibungkus kain bersih.

“Alhamdulillah, laki-laki!” serunya.

Air mataku langsung mengalir.

“Han, anak kita lahir!”

Hanah hanya tersenyum lemah. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan matanya tampak kesulitan untuk tetap terbuka.

“Mas… Runi sudah ketemu?”

Pertanyaan itu membuat kebahagiaanku mendadak berubah menjadi kegelisahan.

“Belum, Han. Tapi nanti Mas cari. Kamu istirahat dulu.”

Hanah menggenggam tanganku.

“Jangan tinggalin Runi sendirian, Mas.”

Aku mengangguk sambil menahan tangis.

Mbah dukun segera menyelesaikan penanganan persalinan. Setelah memastikan bayi kami bernapas dengan baik, ia memintaku terus mengajak Hanah berbicara karena kondisinya terlihat sangat lemah.

“Kalau darahnya terus keluar atau dia makin lemas, kita harus segera cari bantuan medis,” katanya.

Aku semakin cemas.

“Mbah, puskesmas terdekat di mana?”

“Ada di kecamatan. Tapi jalan menuju sana cukup jauh.”

Aku memandang Hanah yang memejamkan mata.

Baru kali ini aku merasa begitu tidak berdaya. Dua anak dan seorang istri berada dalam tanggung jawabku, tetapi bahkan aku tidak tahu bagaimana membawa mereka keluar dari desa asing ini.

Beberapa saat kemudian, setelah keadaan Hanah sedikit lebih tenang, Mbah dukun menyerahkan bungkusan kain hitam kepadaku.

“Ini beras kuning. Bawa kalau mau mencari Runi.”

Aku menerima bungkusan itu dengan bingung.

“Untuk apa, Mbah?”

“Kalau sampai di pemakaman sebelah utara, panggil nama anakmu tiga kali. Tapi ingat, jangan mengikuti suara siapa pun sebelum kamu melihat orangnya dengan jelas.”

“Kenapa harus ke pemakaman?”

Mbah dukun menatapku lama.

“Karena tadi sore ada yang melihat anak kecil berjalan ke sana.”

Aku langsung berdiri.

“Kenapa Mbah baru bilang sekarang?”

“Karena tadi istrimu sedang melahirkan!”

Aku tidak membantah.

Setelah memastikan Hanah cukup stabil dan Mbah dukun bersedia menjaganya, aku mengambil lampu petromaks dan bergegas keluar.

Udara malam begitu dingin. Jalan tanah di depan rumah tampak kosong, hanya diterangi cahaya bulan yang sesekali tertutup awan.

“Runi!” panggilku.

Tidak ada jawaban.

Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang diapit pohon pisang dan semak belukar.

Semakin jauh, rumah-rumah penduduk semakin jarang terlihat.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa dari balik pepohonan.

Aku menghentikan langkah.

“Runi?”

Suara tawa itu terdengar lagi.

Aku mengangkat lampu lebih tinggi.

Di antara batang pohon, terlihat seorang anak laki-laki berdiri membelakangiku.

Tubuhnya kecil. Bajunya mirip pakaian yang dikenakan Runi sebelum menghilang.

“Run! Ayah di sini!”

Anak itu perlahan menoleh.

Namun, ketika cahaya petromaks menerangi wajahnya, aku terperanjat.

Dia bukan Runi.

Wajah anak itu sangat pucat. Matanya tampak sayu, sementara bibirnya membentuk senyum yang tidak wajar.

“Anak Bapak bukan di sini,” katanya pelan.

Aku mundur.

“Kamu siapa?”

Anak itu menunjuk ke arah jalan bercabang.

“Dia menunggu di tempat orang-orang tidur.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, anak tersebut berlari masuk ke balik pepohonan.

Aku mengejarnya beberapa langkah, tetapi sosoknya sudah menghilang.

Tempat orang-orang tidur?

Aku baru memahami maksudnya ketika melihat sebuah gerbang tua di ujung jalan.

Pemakaman.

Jantungku berdegup kencang.

Dari balik gerbang, tampak puluhan cahaya obor bergerak di antara batu nisan.

Ada suara orang berbicara, bercampur lantunan doa yang terdengar samar.

Aku memberanikan diri masuk.

Di tengah pemakaman, sekelompok orang berdiri mengelilingi sebuah makam baru. Tanahnya masih basah, dengan taburan bunga di atasnya.

Namun, sesuatu membuat langkahku terhenti.

Tak satu pun orang di sana menoleh ketika aku datang.

Padahal, suara langkahku cukup jelas.

“Permisi, Pak. Saya mencari anak saya. Namanya Runi.”

Tidak ada jawaban.

Aku mengulangi pertanyaan itu.

Seorang laki-laki yang berdiri paling dekat dengan makam perlahan mengangkat tangan dan menunjuk ke arah gundukan tanah.

Dadaku mendadak sesak.

Jangan-jangan…

Aku berlari menghampiri makam tersebut.

“Runi!”

Aku berlutut dan menyentuh tanah yang masih lembap.

“Runi, Nak! Kamu di mana?”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Namun, tepat ketika aku hendak membaca tulisan pada penanda makam, semua suara mendadak berhenti.

Aku mengangkat kepala.

Orang-orang yang tadi berdiri mengelilingiku sudah menghilang.

Obor-obor pun lenyap.

Hanya tersisa cahaya lampu petromaks di tanganku.

Aku berdiri dengan tubuh gemetar.

“Ya Allah… apa sebenarnya yang terjadi?”

“Ayah…”

Suara itu datang dari belakang.

Aku menoleh cepat.

Di dekat gerbang pemakaman, Runi berdiri sambil menggenggam tangan seorang laki-laki tua.

“Runi!”

Aku langsung berlari dan memeluk anakku erat-erat.

“Ke mana saja kamu, Nak? Ayah cari dari tadi!”

Runi menangis dalam pelukanku.

Laki-laki tua di sampingnya hanya berdiri diam.

“Terima kasih, Pak. Bapak yang menemukan anak saya?”

Ia mengangguk.

“Tadi anak ini berkeliaran dekat makam. Saya khawatir dia tersesat.”

Aku memperhatikan wajahnya. Rambutnya putih, tubuhnya kurus, dan ada bekas luka panjang di pelipis kirinya.

“Bapak tinggal di sekitar sini?”

“Saya sudah lama menjaga tempat ini.”

Aku ingin bertanya lebih banyak, tetapi Runi terus menarik tanganku.

“Ayah, pulang. Ibu sakit.”

Aku segera berpamitan.

Namun, sebelum meninggalkan gerbang, laki-laki itu memanggilku.

“Pak Arif.”

Aku terkejut.

“Bagaimana Bapak tahu nama saya?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Jangan salahkan anak ini. Dia hanya mengikuti seseorang yang memanggilnya.”

“Siapa?”

Laki-laki itu menatap Runi.

“Orang yang sudah lama menunggu kelahiran seorang bayi.”

Aku ingin mengejar penjelasan, tetapi Runi semakin keras menarik tanganku.

Akhirnya kami meninggalkan pemakaman.

Sepanjang perjalanan, anakku terus menoleh ke belakang.

“Run, tadi siapa yang mengajak kamu pergi?”

Runi terdiam.

“Ada ibu.”

“Ibu siapa?”

“Ibu yang nangis.”

Aku merasakan tengkukku meremang.

“Dia bilang apa?”

Runi menatapku polos.

“Katanya mau lihat adik.”

Aku tidak bertanya lagi.

Ketika sampai di rumah Mbah dukun, aku langsung membawa Runi masuk.

Hanah masih terbaring sambil memeluk bayi kami.

Melihat Runi, matanya berkaca-kaca.

“Ya Allah, Runi! Sini sama Ibu!”

Anakku berlari memeluknya.

Untuk beberapa saat, aku merasa semua ketakutan malam itu akhirnya berakhir.

Namun, ketenangan tersebut hanya berlangsung sebentar.

Ketika kuceritakan pertemuanku dengan penjaga makam, wajah Mbah dukun mendadak pucat.

“Laki-laki tua dengan luka di pelipis kiri?”

Aku mengangguk.

“Iya, Mbah.”

“Namanya Kang Wiryo.”

“Mbah kenal?”

Perempuan itu duduk perlahan.

“Dia sudah meninggal tujuh tahun lalu.”

Aku membeku.

“Tidak mungkin. Saya baru saja bicara dengannya!”

Mbah dukun tidak menjawab.

Ia malah mengambil sebuah foto usang dari dalam lemari kayu.

“Apakah ini orangnya?”

Aku menatap foto tersebut.

Di sana tampak seorang laki-laki tua mengenakan baju lurik, berdiri di samping seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.

Laki-laki itu persis orang yang menyerahkan Runi kepadaku.

“Iya, Mbah. Ini orangnya!”

Tanganku gemetar.

“Siapa perempuan di sampingnya?”

Mbah dukun memandang foto itu dengan mata berkaca-kaca.

“Namanya Lasmi. Anak Kang Wiryo.”

Aku menelan ludah.

“Dia sekarang di mana?”

“Meninggal setelah melahirkan, puluhan tahun lalu.”

Aku terdiam.

Mbah dukun melanjutkan, “Dulu Lasmi datang ke rumah ini ketika hendak melahirkan. Kondisinya sudah sangat lemah. Saat itu jalan menuju rumah sakit sulit dilewati karena banjir.”

“Lalu bayinya?”

“Selamat. Tapi ibunya tidak tertolong.”

Aku menatap bayi dalam foto tersebut.

“Siapa yang merawat anaknya?”

Mbah dukun mengusap air mata.

“Saya.”

Aku memandangnya dengan bingung.

“Berarti bayi itu cucu angkat Mbah?”

Perempuan tua itu menggeleng.

“Bukan.”

Ia menunjuk bayi dalam foto.

“Itu saya.”

Aku terpaku.

“Maksud Mbah?”

“Lasmi adalah ibu kandung saya. Kang Wiryo kakek saya.”

Aku kembali memperhatikan foto tersebut. Perempuan tua di hadapanku memang memiliki bentuk mata yang mirip dengan bayi dalam gendongan Lasmi.

“Jadi perempuan yang meninggal itu ibu Mbah?”

Mbah dukun mengangguk.

“Saya tidak pernah mengenalnya. Seumur hidup, saya cuma tahu wajahnya dari foto itu.”

Aku teringat sosok perempuan berambut panjang yang berdiri di luar pintu ketika Hanah melahirkan.

“Kalau begitu, jangan-jangan perempuan yang tadi malam…”

Mbah dukun mengangkat tangan.

“Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum kita ketahui.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan dengan suara bergetar.

“Sejak kecil saya mendengar banyak cerita tentang ibu saya. Ada yang bilang beliau masih mencari bayinya. Ada yang mengaku mendengar tangisannya saat magrib. Tapi saya tidak pernah tahu mana yang benar.”

Runi tiba-tiba menunjuk foto tersebut.

“Itu!”

Kami serentak menoleh.

“Apa, Nak?” tanyaku.

Runi menunjuk wajah Lasmi.

“Ibu yang ajak Runi.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Mbah dukun menutup mulutnya.

“Runi, kamu yakin?” tanyanya.

Anakku mengangguk.

“Ibu itu nangis. Bilang mau ketemu anaknya.”

Mbah dukun mulai menangis.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Namun, kejadian berikutnya membuat kami semakin terkejut.

Runi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah gelang kecil dari benang merah.

“Ini dikasih ibu.”

Mbah dukun langsung meraihnya.

Tangannya gemetar ketika memperhatikan gelang tersebut.

“Ya Allah…”

Aku mendekat.

“Kenapa, Mbah?”

Perempuan itu menangis semakin keras.

“Kakek saya pernah bercerita bahwa ibu membuat gelang merah untuk bayi yang akan dilahirkannya. Tapi gelang itu hilang setelah ibu meninggal.”

Ia memperlihatkan gelang tersebut kepadaku.

Di antara simpul benang terdapat kepingan logam kecil bertuliskan satu nama.

Sumirah.

Aku menatap Mbah dukun.

“Itu nama Mbah?”

Ia mengangguk sambil terisak.

“Iya.”

Untuk pertama kalinya sejak kami datang, aku melihat perempuan tua yang selalu bersikap keras itu menangis seperti anak kecil.

Ia memeluk gelang tersebut erat-erat.

“Ibu… ternyata Ibu tidak pernah melupakan saya.”

Hanah ikut menangis mendengarnya.

Aku memandang Runi yang kini duduk di samping adiknya.

Anak itu tampak tenang, seolah tidak menyadari betapa besar arti benda yang baru saja diberikannya.

Menjelang subuh, suara azan terdengar dari kejauhan.

Mbah Sumirah segera menghubungi seorang warga yang memiliki kendaraan. Kami akhirnya mendapat bantuan untuk membawa Hanah dan bayi kami ke puskesmas.

Setelah diperiksa tenaga medis, keduanya membutuhkan perawatan dan pemantauan lebih lanjut. Aku bersyukur kami tidak terlambat mendapatkan pertolongan.

Beberapa hari kemudian, setelah kondisi Hanah membaik, kami kembali mengunjungi Mbah Sumirah.

Kali ini rumahnya terlihat berbeda.

Tidak ada lagi suasana menyeramkan seperti malam itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela, memperlihatkan dapur sederhana dan halaman penuh tanaman obat.

Mbah Sumirah menyambut kami dengan senyum hangat.

“Bagaimana cucu saya yang baru lahir?” tanyanya sambil menggendong bayi kami.

“Alhamdulillah sehat, Mbah.”

Aku kemudian memberanikan diri bertanya.

“Mbah, apa Mbah percaya perempuan yang dilihat Runi itu benar-benar ibu Mbah?”

Ia tersenyum tipis.

“Saya tidak tahu, Arif. Mungkin benar, mungkin hanya kemiripan dengan foto yang pernah dilihat Runi. Tapi gelang ini nyata.”

Aku mengangguk.

“Yang penting sekarang Mbah sudah punya kenangan dari ibu Mbah.”

Perempuan tua itu menunduk.

“Selama puluhan tahun saya merasa ditinggalkan. Padahal ibu saya meninggal ketika berjuang melahirkan saya. Sekarang saya baru benar-benar memahami betapa besar pengorbanannya.”

Hanah menggenggam tangannya.

“Mbah juga sudah menyelamatkan saya dan anak saya.”

Mbah Sumirah tersenyum.

“Saya hanya membantu semampunya. Syukurlah kalian akhirnya mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.”

Sebelum pulang, aku mengajak keluarga mampir ke pemakaman sebelah utara.

Mbah Sumirah menunjukkan makam Lasmi dan Kang Wiryo.

Ternyata makam yang semalam kudekati sambil menangis memang berada tidak jauh dari keduanya.

Aku tertegun ketika melihat tanggal pada batu nisannya.

Makam yang kukira masih baru ternyata sudah berusia puluhan tahun.

“Kenapa, Mas?” tanya Hanah.

Aku menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

Aku tidak sanggup menjelaskan apa yang kulihat malam itu.

Ketika kami hendak meninggalkan pemakaman, Runi tiba-tiba berhenti di depan makam Lasmi.

Ia meletakkan sekuntum bunga melati di atasnya.

“Ayah, ibu yang kemarin sudah ketemu anaknya.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu dari mana, Nak?”

Runi tersenyum.

“Dia bilang terima kasih.”

Aku terdiam cukup lama.

Angin pagi berembus lembut, menggoyangkan dedaunan di sekitar makam.

Aku tidak melihat siapa pun selain keluargaku. Tidak ada suara aneh ataupun sosok misterius.

Hanya ada sebuah pemakaman sunyi dan anak kecil yang sedang menggenggam tanganku.

Dalam perjalanan pulang, aku terus memikirkan semua kejadian tersebut.

Mungkin ada hal-hal yang memang tidak mampu dijelaskan oleh manusia. Mungkin pula rasa takut, kelelahan, dan keadaan genting membuat kami melihat serta mendengar sesuatu dengan cara yang berbeda.

Namun, satu hal yang tidak bisa kubantah adalah kenyataan bahwa malam itu mempertemukan kami dengan Mbah Sumirah, seorang perempuan yang selama hidupnya merindukan ibunya.

Dan tanpa sengaja, Runi telah membawa pulang sesuatu yang begitu berharga baginya.

Bertahun-tahun kemudian, setiap kali mendengar azan magrib, aku selalu teringat malam kelahiran anak kedua kami.

Bukan lagi karena sosok-sosok mengerikan di balik pintu.

Melainkan karena sebuah gelang merah, tangisan seorang ibu, dan kenyataan bahwa cinta seorang ibu dapat meninggalkan jejak yang begitu dalam, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

Namun, ada satu hal yang baru kusadari jauh setelah kejadian tersebut.

Pada malam ketika Runi menghilang, dia belum pernah melihat foto Lasmi.

Foto itu tersimpan di dalam lemari terkunci milik Mbah Sumirah.

Lalu bagaimana mungkin Runi dapat mengenali wajah perempuan dalam foto itu dengan begitu yakin?

Sampai sekarang, aku belum menemukan jawabannya.

Dan mungkin, memang tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban agar kita bisa memahami arti sebuah peristiwa.

Sebab bagi Mbah Sumirah, gelang merah itu bukan sekadar benda peninggalan.

Itu adalah bukti bahwa ibunya pernah menunggunya lahir, menyiapkan sesuatu untuknya, dan mencintainya bahkan sebelum sempat melihat wajahnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang