AYAH MERTUAKU BARU SAJA MENINGGAL DUNIA. AKU DAN SUAMI PULANG KE

Satya menatap Alya cukup lama. Tawaran istrinya terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat dadanya terasa sesak. Sejak ayahnya meninggal, ia merasa harus menggantikan seluruh tanggung jawab lelaki tua itu. Ia tidak ingin ibunya hidup kekurangan, apalagi sampai meminta bantuan kepada menantunya sendiri.

Namun, ketika melihat Alya menggenggam tangan Bu Sulastri dengan penuh kasih, pertahanannya perlahan runtuh.

“Baiklah, Al. Mas terima bantuanmu,” ucapnya akhirnya. “Tapi kita hitung dulu biayanya. Jangan sampai tabunganmu habis.”

Wajah Alya langsung berbinar.

“Alhamdulillah! Besok aku hubungi tukang bangunan, ya, Mas?”

Bu Sulastri menggeleng sambil mengusap air mata.

“Ya Allah, Nak. Ibu benar-benar nggak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa.”

Alya memeluk ibu mertuanya.

“Ibu cukup sehat dan bahagia saja. Itu sudah lebih dari cukup.”

Dewi ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman ayahnya, suasana rumah terasa sedikit lebih hangat.

Keesokan paginya, seorang tukang bangunan bernama Pak Harun datang memeriksa dapur. Begitu melihat kondisi balok penyangga, wajahnya langsung berubah serius.

“Ini nggak bisa ditunda lagi, Mas Satya. Kayunya sudah keropos. Kalau hujan deras, atap bisa ambruk.”

Bu Sulastri terkejut.

“Separah itu, Pak?”

Pak Harun menunjuk salah satu sudut atap.

“Lihat, Bu. Sambungannya sudah hampir lepas. Untung belum terjadi apa-apa.”

Setelah menghitung kebutuhan material dan upah pekerja, Pak Harun memperkirakan biaya renovasi mencapai dua puluh delapan juta rupiah.

Satya terdiam mendengar angka tersebut.

Tabungannya belum cukup, sedangkan uang peninggalan ayahnya hampir habis digunakan untuk biaya pengobatan dan pemakaman.

Alya segera membuka aplikasi perbankan di ponselnya.

“Mas, aku bisa menanggung dua puluh juta. Sisanya kita cicil dari penghasilan bulan depan.”

“Al, itu uang banyak.”

“Aku tahu. Makanya kita harus memastikan pekerjaannya benar-benar bagus.”

Satya akhirnya mengangguk.

Renovasi dimulai dua hari kemudian. Karena dapur tidak aman digunakan, Alya mengatur tempat memasak sementara di teras belakang. Ia juga membelikan Bu Sulastri kompor kecil agar tetap bisa menyiapkan makanan.

Namun, kabar tentang renovasi itu ternyata sampai ke telinga Bu Rini.

Suatu sore, ketika Alya sedang membagikan makanan kepada para pekerja, perempuan itu berdiri di depan pagar sambil memperhatikan tumpukan pasir dan batu bata.

“Wah, sekarang rumah Bu Sulastri mau jadi mewah, ya?” sindirnya.

Alya menoleh.

“Assalamu’alaikum, Bu Rini.”

“Wa’alaikumussalam. Hebat juga, baru ditinggal suami sudah bisa renovasi besar-besaran.”

Bu Sulastri yang sedang duduk di teras langsung menunduk.

Alya menarik napas panjang.

“Atap dapurnya hampir roboh, Bu. Jadi memang harus diperbaiki.”

Bu Rini tertawa kecil.

“Ya, siapa tahu hasil keliling nagih utang kemarin cukup banyak.”

Dewi yang baru keluar membawa minuman langsung berhenti.

“Bu Rini, jangan mulai lagi!”

Alya memberi isyarat agar Dewi tenang.

“Uang renovasi ini dari tabungan keluarga kami, Bu. Tidak ada hubungannya dengan utang siapa pun.”

“Memangnya saya menuduh?”

“Tidak, Bu. Saya hanya menjelaskan supaya tidak terjadi salah paham.”

Bu Rini mendengus sebelum berlalu.

Namun, keesokan harinya, kabar aneh mulai tersebar di kampung.

Beberapa tetangga mengatakan Satya menggunakan catatan utang ayahnya untuk memaksa warga membiayai renovasi. Bahkan ada yang menuduh Alya sengaja memamerkan kekayaannya agar Bu Sulastri terlihat lebih terpandang.

Dewi mengetahui kabar itu dari seorang teman.

“Mbak, ini sudah keterlaluan! Kita harus datangi Bu Rini!”

Alya menggeleng.

“Kita nggak perlu bertengkar. Kalau ada orang bertanya, kita jelaskan dengan bukti.”

“Tapi nama Bapak dibawa-bawa!”

“Aku tahu. Justru karena itu kita harus hati-hati.”

Alya kemudian mengusulkan agar Satya memeriksa kembali buku catatan peninggalan ayahnya. Ia ingin memisahkan antara pinjaman uang, ongkos ojek yang belum dibayar, dan bantuan yang memang diberikan secara cuma-cuma.

Malam itu, mereka bertiga duduk di ruang tamu sambil membuka setiap halaman.

“Mas, coba lihat ini,” kata Alya tiba-tiba.

Ia menunjuk beberapa angka yang ditulis dengan tinta berbeda.

Di samping nama Bu Rini terdapat catatan lima ratus ribu rupiah. Namun, pada halaman belakang, Alya menemukan tulisan kecil yang hampir tertutup noda.

Rini, ongkos antar berobat. Belum ditagih karena suaminya sedang sakit.

Satya terdiam.

“Jadi Bapak memang sengaja nggak menagihnya waktu itu.”

Alya mengangguk.

“Dan mungkin ada alasan kenapa Bu Rini marah saat kalian datang.”

Dewi mengerutkan kening.

“Alasan apa? Tetap saja nggak pantas menghina Bapak.”

“Benar. Tapi mungkin ada sesuatu yang belum kita ketahui.”

Keesokan sorenya, Alya pergi ke warung Bu Rini seorang diri.

Perempuan itu tampak terkejut melihat kedatangannya.

“Mau nagih utang lagi?”

“Bukan, Bu. Saya mau beli gula dan minyak goreng.”

Bu Rini melayani dengan wajah datar.

Setelah membayar, Alya memberanikan diri bertanya.

“Bu, dulu Bapak sering mengantar suami Ibu berobat, ya?”

Gerakan tangan Bu Rini mendadak berhenti.

“Kenapa tanya begitu?”

“Saya menemukan catatan Bapak. Katanya beliau sengaja menunda penagihan karena suami Ibu sedang sakit.”

Bu Rini terdiam.

Alya melanjutkan dengan lembut.

“Saya cuma ingin tahu cerita sebenarnya.”

Perempuan itu menatap rak dagangannya. Matanya perlahan berkaca-kaca.

“Dulu suami saya gagal ginjal, Nak. Seminggu bisa beberapa kali harus ke rumah sakit.”

Alya mendengarkan.

“Kalau nggak ada uang buat kendaraan, Pak Suryo, ayah mertuamu itu, selalu mau mengantar. Kadang saya cuma bisa bayar separuh.”

“Lalu kenapa Ibu marah waktu Mas Satya datang?”

Bu Rini menggigit bibir.

“Karena saya malu.”

Alya terdiam.

“Saya tahu masih punya utang. Tapi waktu itu suami saya baru meninggal beberapa bulan. Warung sepi, anak saya juga belum dapat pekerjaan. Saat Satya datang bersama Dewi, saya merasa semua orang akan tahu kalau saya masih punya tanggungan.”

Air matanya jatuh.

“Saya marah karena takut dipermalukan. Padahal mereka cuma bertanya baik-baik.”

Alya menghela napas.

“Tapi kenapa sampai mengatakan Bapak tidak jujur?”

Bu Rini menutup wajah.

“Itu kesalahan saya. Saya menyesal sejak hari itu.”

Alya tidak langsung menjawab.

“Bu, keluarga kami juga sedang berduka. Waktu Ibu menghina almarhum, Mas Satya dan Dewi benar-benar terluka.”

“Saya tahu, Nak.”

“Kalau Ibu belum sanggup membayar, sebenarnya bisa dibicarakan. Tapi jangan menyebarkan cerita yang membuat keluarga kami semakin susah.”

Bu Rini mengangguk sambil menangis.

“Saya minta maaf.”

Dua hari kemudian, Bu Rini datang ke rumah Bu Sulastri.

Kedatangannya membuat Dewi langsung memasang wajah waspada.

“Ada perlu apa lagi, Bu?”

Bu Rini menunduk.

“Saya datang mau minta maaf.”

Satya yang sedang memeriksa pekerjaan tukang segera menghampiri.

Di hadapan seluruh keluarga, Bu Rini mengakui bahwa ia memang memiliki tunggakan ongkos perjalanan kepada almarhum Pak Suryo. Ia juga mengakui telah berkata kasar ketika Satya datang menanyakan catatan tersebut.

“Saya sudah menyakiti keluarga kalian. Saya benar-benar menyesal.”

Bu Rini mengeluarkan amplop dari tasnya.

“Ini baru dua ratus ribu. Sisanya saya usahakan secepatnya.”

Satya hendak menerimanya, tetapi Bu Sulastri tiba-tiba mengangkat tangan.

“Tunggu, Nak.”

Semua orang menoleh.

Bu Sulastri masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah map plastik tua.

“Ibu ingin menunjukkan sesuatu.”

Dari dalam map, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas tulisan tangan suaminya.

“Beberapa minggu sebelum meninggal, Bapak pernah bilang ingin menyelesaikan urusan utang para tetangga.”

Satya terkejut.

“Kenapa Ibu nggak pernah cerita?”

“Karena waktu itu Ibu pikir Bapak hanya sedang berbicara biasa.”

Bu Sulastri menyerahkan kertas tersebut.

Di bagian atas tertulis pesan singkat.

Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan menyulitkan orang-orang yang memang sedang kesusahan. Tagih yang mampu, beri waktu yang belum mampu. Kalau anak-anak kita sudah berkecukupan, ikhlaskan yang kecil-kecil.

Satya membaca tulisan itu berkali-kali.

Tangannya mulai gemetar.

Dewi menangis sambil memegang bahu ibunya.

“Ya Allah, Bapak…”

Bu Sulastri tersenyum dalam tangis.

“Bapak kalian memang sering mengeluh capek. Tapi kalau ada tetangga minta diantar ke rumah sakit, dia tetap berangkat.”

Bu Rini menangis semakin keras.

“Padahal saya sudah menuduh beliau macam-macam…”

Satya akhirnya mengembalikan amplop tersebut.

“Bu Rini, simpan dulu uangnya untuk kebutuhan Ibu. Soal catatan Bapak, kami akan membicarakannya sebagai keluarga.”

“Tapi saya memang berutang, Nak.”

“Saya tahu, Bu. Dan saya menghargai Ibu sudah mengakuinya.”

Alya yang sejak tadi diam kemudian mendekati Bu Rini.

“Bu, kami hanya berharap masalah ini tidak lagi menjadi bahan fitnah. Kita bisa menyelesaikannya tanpa saling merendahkan.”

Bu Rini mengangguk berkali-kali.

“Saya janji.”

Seminggu kemudian, dapur Bu Sulastri akhirnya selesai direnovasi. Bangunannya sederhana, tetapi kokoh, bersih, dan jauh lebih terang daripada sebelumnya.

Pada sore hari ketika para pekerja membersihkan sisa material, sebuah mobil pikap berhenti di depan rumah.

Seorang laki-laki muda turun sambil membawa beberapa kotak peralatan dapur.

“Permisi, ini rumah almarhum Pak Suryo?”

Satya menghampirinya.

“Betul. Saya anaknya. Ada apa, Mas?”

Laki-laki itu tersenyum.

“Nama saya Ilham. Dulu waktu ibu saya sakit, Bapak sering mengantar kami ke rumah sakit. Saya baru pulang merantau dan dengar dapur rumah ini sedang diperbaiki.”

Ia menunjuk barang-barang di mobil.

“Saya ingin menyumbangkan sedikit perlengkapan dapur. Ini uang hasil kerja saya sendiri.”

Satya terkejut.

“Mas, nggak perlu sampai begitu.”

Ilham menggeleng.

“Dulu waktu kami nggak punya ongkos, Bapak pernah bilang, kalau sudah punya rezeki, bantu orang lain yang membutuhkan. Saya cuma ingin menepati pesan itu.”

Tak lama kemudian, Bu Rini muncul dari balik pagar.

“Ilham?”

Laki-laki itu menoleh.

“Ibu?”

Semua orang terdiam.

Ternyata Ilham adalah anak Bu Rini yang selama ini merantau.

Ia baru mengetahui cerita pertengkaran ibunya dengan keluarga Satya ketika pulang ke kampung.

“Aku sudah dengar semuanya, Bu,” ucap Ilham pelan. “Kenapa Ibu nggak cerita kalau masih punya utang kepada Pak Suryo?”

Bu Rini menunduk malu.

Ilham kemudian mengeluarkan amplop.

“Mas Satya, saya ingin melunasi seluruh tunggakan Ibu. Kalau bukan karena almarhum Bapak, mungkin dulu kami nggak bisa membawa Ayah berobat tepat waktu.”

Satya menatap amplop itu, lalu memandang Alya dan ibunya.

Bu Sulastri tersenyum.

“Terima saja kalau itu membuat hati mereka tenang, Nak. Tapi gunakan uangnya untuk membantu orang lain.”

Satya akhirnya menerima amplop tersebut.

Sore itu, keluarga kecil mereka berkumpul di dapur yang baru selesai diperbaiki. Bu Rini ikut membantu menyiapkan teh, sedangkan Dewi dan Ilham memasang rak piring.

Alya memandang semuanya dengan hati hangat.

Beberapa hari sebelumnya, mereka masih saling menyalahkan. Kini, mereka duduk bersama di meja yang sama.

Namun, kejutan terbesar justru datang ketika Pak Harun menyerahkan sisa kayu bekas bongkaran dapur kepada Satya.

“Mas, tadi saya menemukan kaleng kecil di balik balok lama. Sepertinya sengaja disimpan di sana.”

Satya membuka kaleng berkarat itu.

Di dalamnya terdapat beberapa foto keluarga, uang pecahan lama, dan sepucuk surat yang ditujukan kepada anak-anaknya.

Tulisan tangan Pak Suryo memenuhi selembar kertas.

Satya membacanya dengan suara bergetar.

Kalau kalian menemukan surat ini, mungkin Bapak sudah tidak ada. Bapak tidak bisa meninggalkan banyak harta. Motor tua itu pun masih sering mogok. Tapi Bapak berharap kalian tidak malu punya ayah yang hanya bekerja mengantar orang.

Bapak ingin kalian ingat, orang yang kita bantu mungkin tidak selalu bisa membalas. Ada yang lupa, ada yang marah, ada pula yang tidak pernah mengucapkan terima kasih. Jangan jadikan itu alasan untuk berhenti berbuat baik.

Kalau suatu hari kalian memperbaiki dapur rumah ini, buatlah tempat yang cukup luas. Bapak ingin Ibu punya ruang memasak yang nyaman, dan kalau ada tetangga kelaparan, masih ada tempat untuk menyiapkan makanan bagi mereka.

Suara Satya terhenti.

Ia tidak sanggup melanjutkan membaca.

Bu Sulastri menangis sambil memegang foto suaminya.

“Pak, ternyata kamu masih memikirkan kami sampai sejauh itu…”

Alya merangkul ibu mertuanya.

Dewi mengusap air mata, lalu memandang dapur yang baru.

“Mbak, berarti selama ini keinginan Bapak sama seperti rencana kita.”

Alya mengangguk.

“Iya, Wi. Dapur ini bukan cuma untuk keluarga kita.”

Beberapa bulan kemudian, setiap Jumat pagi, dari dapur sederhana itu tercium aroma nasi hangat dan lauk yang dimasak bersama.

Alya, Bu Sulastri, Dewi, bahkan Bu Rini bergantian menyiapkan puluhan bungkus makanan untuk pekerja harian dan warga lanjut usia yang membutuhkan.

Program kecil itu mereka beri nama Dapur Pak Suryo.

Satya memasang sebuah foto ayahnya di dinding, tepat di samping meja makan.

Suatu sore, ketika melihat Alya sedang membungkus nasi, ia mendekati istrinya.

“Al, Mas baru sadar sesuatu.”

“Apa, Mas?”

“Dulu Mas takut menerima bantuanmu karena merasa harus menanggung semuanya sendiri.”

Alya tersenyum.

“Sekarang?”

“Sekarang Mas mengerti, keluarga bukan tempat untuk menghitung siapa yang paling banyak berkorban.”

Alya menggenggam tangannya.

“Yang penting kita sama-sama mau menjaga, Mas.”

Satya mengangguk.

Di luar rumah, Bu Rini terlihat membantu Bu Sulastri membagikan makanan kepada para tetangga.

Tak ada lagi sindiran atau tatapan merendahkan.

Satya kemudian memandang foto ayahnya.

“Bapak mungkin nggak meninggalkan banyak uang,” gumamnya. “Tapi ternyata Bapak meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar.”

Alya menoleh.

“Apa itu, Mas?”

Satya tersenyum sambil mengusap matanya yang basah.

“Orang-orang yang akhirnya belajar menjadi lebih baik karena pernah mengenal Bapak.”

Dan ketika azan magrib berkumandang, keluarga itu berkumpul di dapur baru mereka, menikmati makanan sederhana dengan hati penuh syukur.

Satya akhirnya memahami bahwa warisan paling berharga dari ayahnya bukanlah uang yang tercatat dalam buku lusuh, melainkan kebaikan yang terus hidup, bahkan setelah orang yang menanamnya telah tiada.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang