Mengantar jenazah adalah tanggung jawab besar. Dalam kisah-kisah yang beredar, sebagian orang mengaku pernah mengalami gangguan jin atau makhluk halus saat melakukannya. Itulah sebabnya, menurut kepercayaan tersebut, pemakaman tidak boleh ditunda-tunda.
MENGANTAR PULANG MAYAT 10
“Ternyata orang kota kurang sopan santun, ya,” gerutu Windu yang sejak tadi merasa kesal.
Suasana di dalam angkot seketika hening. Hanya deru mesin yang terdengar mengisi kesunyian di antara para penumpang.
Satu per satu penumpang turun di tempat tujuan masing-masing. Kini, hanya Windu dan Hartinah yang tersisa.

“Tujuannya ke mana, Neng?” tanya sopir sambil melirik melalui kaca spion.
“Kita mau ke mana, Har?” Windu justru meneruskan pertanyaan itu kepada Hartinah.
“Ke depan saja. Nanti kita turun di pemberhentian terakhir,” jawab Hartinah.
“Jalan saja, Pak! Kami turun di pemberhentian terakhir!” seru Windu kepada sopir.
Tak lama kemudian, angkot kembali berhenti. Seorang kakek penjual sapu lidi naik sambil membawa barang dagangannya. Ia mengenakan celana panjang hitam, kemeja batik cokelat, dan peci rajut putih.
Kakek itu duduk di bangku seberang, tepat di hadapan Windu dan Hartinah. Tatapannya tertuju tajam kepada Hartinah.
“Mau ke mana, Neng?” tanyanya, kali ini menoleh kepada Windu.
“Ke pemberhentian terakhir, Pak. Saya juga belum tahu mau ke mana. Pokoknya ikut teman saya ini. Kami perantau dari kampung,” jawab Windu sambil tersenyum.
Kakek itu mengangguk dan membalas senyumnya. Namun, sesaat kemudian, pandangannya kembali tertuju kepada Hartinah.
Sementara itu, sopir yang semula memperhatikan jalan justru melirik Windu melalui kaca spion setelah mendengar jawabannya.
“Ada-ada saja, Neng… Di kota tinggal sama siapa? Sendirian?” tanyanya.
“Sama Pak Diman yang menyalurkan saya kerja, Pak. Teman saya ini juga kerja, cuma tempatnya beda.”
“Hidup di kota jangan gampang percaya kepada siapa pun, Neng. Banyak-banyak ibadah. Kalau ada masalah, cerita kepada keluarga. Jangan dipendam sendiri sampai membebani pikiran. Kamu masih muda, perjalanan hidupmu masih panjang.”
“Iya. Terima kasih, Pak.”
Angkot melaju perlahan di tengah lalu lintas yang padat. Beberapa kali kendaraan itu harus berhenti di lampu merah.
Klakson saling bersahutan ketika lampu lalu lintas berganti. Cahaya kendaraan berkelebat dari berbagai arah. Perlahan, rasa kantuk mulai menyerang Windu.
Ia merapatkan kedua kaki, melipat tangan di atas pangkuan, lalu menumpukan dahinya di sana. Guncangan angkot sesekali mengubah posisi tubuhnya, tetapi tidak cukup untuk mengusir kantuk yang semakin berat.
“Neng! Sudah sampai!”
Seruan sopir membuat Windu terbangun.
Sambil menguap, ia berusaha mengumpulkan kesadaran. Namun, ketika menoleh ke tempat Hartinah duduk, matanya langsung membelalak.
Bangku di sebelahnya kosong.
Hartinah menghilang.
Windu menoleh ke sekeliling dengan gelisah. Kapan temannya turun? Mengapa tidak membangunkannya?
“Cari temannya? Dia sudah turun tadi,” ujar kakek penjual sapu yang ternyata masih berada di dalam angkot.
Windu hanya menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, masih kebingungan.
Kakek itu bergeser mendekati sopir sambil menggeser ikatan sapunya. Ia menyerahkan ongkos, lalu menunggu uang kembalian.
“Abah… Abah… Ada-ada saja,” celetuk sopir sambil terkekeh.
Windu tidak memahami maksud ucapan itu.
Setelah kakek tersebut turun, Windu ikut membayar ongkos dan keluar. Rupanya, pemberhentian terakhir angkot itu berada tepat di depan sebuah terminal.
“Bus malam! Bus malam! Ini bus terakhir tujuan Jawa! Transit cuma sekali! Ayo, cepat sebelum berangkat!” teriak seorang laki-laki berseragam perusahaan otobus.
Windu berdiri kebingungan. Tidak tahu harus ke mana, ia akhirnya duduk di teras deretan ruko terminal.
Pikirannya terasa kosong.
Ia memandangi dua bus yang terparkir tidak jauh darinya. Dari jendela yang terang, terlihat sejumlah penumpang sudah duduk di dalam.
Beberapa saat kemudian, barulah ia teringat ponsel di saku celananya. Tadi ia sengaja mematikannya karena baterainya hampir habis.
Untunglah ponsel itu masih bisa dinyalakan.
Begitu layar menyala, muncul banyak panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Pak Diman.
Dengan tangan gemetar, Windu membuka nomor lelaki itu. Namun, sebelum sempat menekan tombol panggil, nama Pak Diman sudah lebih dahulu muncul di layar.
“Halo…” jawab Windu.
“Halo! Kamu di mana, Win? Dari tadi Bapak cari! Halo, jawab!”
Suara Pak Diman terdengar lebih keras daripada biasanya.
“D-di terminal, Pak. Tadi saya naik angkot merah dari pasar malam. Terus turun di terminal.”
“Di terminal? Naik angkot merah?”
Pak Diman terdiam sesaat.
“Tetap di situ. Bapak jemput. Jangan pergi ke mana-mana! Dengar, Win?”
Belum sempat Windu menjawab, ponselnya mati kehabisan baterai.
Ia menatap layar hitam itu dengan cemas.
Salah satu bus mulai bergerak meninggalkan terminal. Kini hanya tinggal satu bus, sementara suasana di sekitarnya semakin sepi. Sejumlah ruko sudah tutup, lampu-lampunya pun dipadamkan.
Windu memeluk kedua lengannya dan tetap duduk di teras.
Setelah menunggu cukup lama, sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya. Bentuknya mirip mobil Pak Diman.
Benar saja, lelaki itu keluar dan segera menghampirinya.
“Kok bisa sampai di sini, Win? Untung kamu tidak hilang.”
Windu bangkit dengan wajah pucat.
“Sini ponselmu. Lain kali jangan begini lagi!”
Nada Pak Diman tegas. Ia mengambil ponsel yang disodorkan Windu, lalu mengarahkannya menuju mobil.
Di kursi penumpang depan sudah duduk seorang laki-laki yang usianya sebaya dengan Pak Diman. Windu masuk dan duduk di bangku belakang.
“Oh, ini yang namanya Windu? Cantik, ya. Kenalkan, Om Rudi, temannya Pak Diman.”
Lelaki itu menoleh ke belakang dan mengulurkan tangan.
Windu mengangguk, lalu menjabat tangannya sekilas. Setelah itu, ia kembali menunduk.
Kejadian tadi masih membuatnya terguncang. Dalam hati, ia terus bertanya-tanya tentang keberadaan Hartinah.
“Windu sudah makan?” tanya Om Rudi.
“Sudah,” jawabnya singkat.
Pak Diman tampak tidak senang mendengar jawaban Windu yang pendek. Namun, ia tidak langsung menegur dan mulai mengemudikan mobil keluar dari terminal.
“Windu sudah kerja atau masih sekolah?” tanya Om Rudi lagi, kini sambil memandang jalan.
“Kerja.”
Om Rudi tersenyum.
“Oh, begitu. Windu suka belanja, kan? Nanti Om dan Pak Diman mau mampir ke mal sebentar. Windu boleh pilih apa saja yang kamu mau. Biar Om yang bayar.”
“Tidak usah. Terima kasih.”
Ekspresi Windu tetap datar. Ia tidak sedang ingin berbicara dengan siapa pun.
Pak Diman mengerutkan kening. Ia menganggap sikap Windu tidak sopan kepada temannya.
Dengan kesal, ia melirik bangku belakang melalui kaca spion.
Seketika tubuhnya menegang.
Ada dua perempuan di sana.
Yang satu Windu.
Yang satu lagi…
Jantung Pak Diman serasa berhenti.
Matanya membelalak ketika melihat jenazah Ranti duduk di sebelah Windu dengan mata terpejam.
Ranti mengenakan setelan piyama dan jilbab. Maskernya turun hingga ke dagu.
Persis seperti saat jenazahnya diantar pulang ke kampung halaman.
Penulis: Vhyo Tantika
