Empat puluh delapan juta itu bukan angka asing. Jumlahnya sama persis dengan uang pesangon dan bonus penjualan terakhirku sebelum menikah.

Tiga minggu lalu, Licheng menawarkan diri menyimpannya sebagai deposito.
“Biar tidak terpakai. Nanti untuk uang muka rumah kita.”
Aku memotret percakapan di ponselnya dengan ponselku sendiri, lalu mengembalikannya ke meja. Sepanjang malam aku duduk menghadap jendela, menunggu napasku kembali teratur.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku mengira kehilangan diriku dimulai ketika berhenti bekerja.
Ternyata mereka sudah mencurinya jauh sebelum itu.
Pagi harinya, aku menelepon Rina, teman lamaku di Jakarta yang menawarkan pekerjaan.
“Posisi itu masih ada?”
“Masih. Tapi suamimu bilang kalian batal.”
Tanganku mengencang di sekeliling ponsel.
“Dia meneleponmu?”
“Kemarin sore. Katanya kamu sedang tidak stabil dan dia tidak mau memaksamu.”
Aku memejamkan mata.
“Rina, aku ingin tetap mengikuti prosesnya. Untuk diriku sendiri.”
Rina terdiam sebentar.
“Baik. Kirim ulang berkasmu langsung kepadaku.”
Setelah itu, aku pergi ke bank. Rekening tujuan transfer atas nama Yingyue bukan rekeningku, sehingga petugas tidak bisa memberikan keterangannya. Namun, aku memperoleh riwayat rekening asal yang memang terdaftar atas namaku.
Uang itu keluar sehari setelah aku menyerahkan kartu dan nomor akses kepada Licheng.
Aku menyimpan cetakannya dalam map, bersama dokumen pribadi dan surat pengalaman kerja.
Siang harinya, aku menemui seorang pengacara yang direkomendasikan Rina. Kami membicarakan bukti, asal uang, dan langkah untuk meminta pengembalian.
“Jangan tanda tangani dokumen apa pun sebelum membacanya,” pesannya.
Aku hampir tertawa.
Dahulu aku bahkan tidak merasa perlu membaca apa pun yang disodorkan suamiku.
Ketika pulang, ibu mertuaku sedang duduk mengupas bawang.
“Kamu dari mana? Ibu belum makan.”
“Ada nasi dan lauk di lemari, Bu.”
“Jadi sekarang Ibu harus mengambil sendiri?”
Aku meletakkan tas.
“Licheng sedang di kamar. Saya panggilkan.”
Beliau menatapku seolah aku baru berbicara dalam bahasa asing.
Malamnya, Licheng mengeluarkan selembar formulir.
“Ada urusan administrasi pekerjaan. Tanda tangan di sini.”
Aku menarik kertas itu mendekat.
Formulir pengajuan pinjaman.
Namaku tercantum sebagai pemohon, sementara rekening pencairannya memakai rekening lain.
“Ini administrasi pekerjaan siapa?”
Licheng meraih ujung kertas.
“Bukan yang ini. Aku salah ambil.”
Aku menahannya.
“Kenapa ada namaku?”
“Untuk modal. Kalau kita jadi pindah, perlu biaya.”
“Bukankah uangku ada di deposito?”
Ia melepaskan kertas itu.
“Masih.”
“Besok kita cairkan.”
“Tidak bisa sembarangan.”
“Aku ingin melihat bukti penempatannya.”
Untuk beberapa detik, hanya terdengar suara televisi dari ruang depan.
Lalu Licheng tersenyum.
“Kamu curiga kepada suamimu sendiri?”
Aku melipat formulir itu dan meletakkannya di meja.
“Aku sedang bertanya tentang uangku.”
Keesokan paginya, Yingyue datang membawa buah. Dia memelukku dengan hangat, seperti dahulu ketika meminta bantuan biaya sekolah.
“Kak Qingwei kelihatan capek.”
Aku mempersilakannya duduk.
“Kebetulan kamu datang. Ada yang ingin kutanyakan.”
Keluarkan uangnya sekarang, aku ingin berkata. Namun, aku memilih menaruh cetakan transfer di meja.
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa uangku masuk ke rekeningmu?”
Licheng keluar dari kamar begitu mendengar pertanyaanku.
“Itu aku yang minta.”
“Untuk apa?”
“Yingyue membantu mencari tempat tinggal di Jakarta.”
Aku menatap perempuan di hadapanku.
“Alamatnya?”
Yingyue meremas pegangan tas.
“Belum pasti.”
“Empat puluh delapan juta untuk tempat tinggal yang belum pasti?”
Ibu mertuaku mendekat.
“Kalau untuk masa depan suamimu, apa salahnya?”
Aku membuka salinan percakapan mereka.
“Kalau begitu, kenapa saya tidak boleh tahu?”
Licheng mencoba mengambil ponselku. Aku berdiri dan mundur ke dekat pintu yang terbuka.
“Bicaralah. Saya mendengarkan.”
Yingyue mendadak menangis.
“Kak, aku cuma dititipi.”
“Kalau begitu, kembalikan.”
“Sebagian sudah dipakai.”
Licheng membentak namanya, tetapi terlambat.
Aku memandang mereka bergantian.
“Dipakai untuk apa?”
Yingyue membuka tas dan mengeluarkan map tipis. Di dalamnya ada bukti pembayaran sewa kamar, pembelian perlengkapan, dan kuitansi sebuah agen penyalur kerja.
Nama pelamar pada berkas itu adalah Licheng.
Posisi manajer pemasaran.
Aku mengenali nama perusahaannya. Dalam kehidupan sebelumnya, aku pernah menjadi rekanan mereka. Mereka merekrut langsung dan tidak meminta uang jaminan sebesar itu.
“Siapa yang mengenalkan agen ini?”
Yingyue menunduk.
“Temanku.”
“Sudah pernah bertemu orang perusahaannya?”
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya, wajah Licheng memperlihatkan ketakutan yang tidak dibuat-buat.
Pekerjaan yang dibanggakannya ternyata belum pernah ada.
Kami menghubungi nomor pada kuitansi. Tidak aktif. Alamat kantornya, setelah diperiksa, hanya tempat sewa sementara.
Licheng terduduk.
“Aku pikir setelah berangkat, semuanya bisa kuganti.”
Aku menatap koper yang selama ini kusiapkan untuk kami berdua.
“Dan kalau aku ikut, aku yang harus mencari uang sampai semuanya tertutup?”
Ia tidak menjawab.
Aku meminta sisa dana dikembalikan dan memberikan tenggat melalui pengacaraku. Sebagian uang masih berada di rekening Yingyue. Sisanya menjadi perkara yang harus mereka pertanggungjawabkan, bukan beban yang akan kutanggung diam-diam.
Seminggu kemudian, aku menerima tawaran resmi dari kantor Rina.
Aku berangkat sendiri.
Ibu mertuaku menangis ketika melihat koperku. Licheng berdiri di sampingnya, meminta aku menunggu sampai keadaan tenang.
“Aku tidak melarangmu merawat Ibu,” kataku. “Aku hanya berhenti menjadikan hidupku sebagai pembayaran untuk keputusanmu.”
Ketika ancaman melukai diri kembali terdengar, aku meminta bantuan keluarga dan layanan darurat. Aku tidak mengejek, tidak menantang, dan tidak menjanjikan masa depanku sebagai syarat agar beliau tenang.
Setelah bantuan datang, aku pergi.
Proses perceraian berjalan berbulan-bulan. Aku bekerja, menyewa kamar kecil, dan perlahan menerima bahwa hidup kedua tidak berarti semua luka hilang. Aku masih terbangun ketakutan. Masih merasa bersalah ketika membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Pada hari gaji pertamaku masuk, sebuah pesan datang dari Licheng.
Kalau waktu bisa diulang, aku akan memilihmu.
Aku membaca kalimat itu lama.
Lalu kuhapus.
Waktu sudah pernah diulang.
Dan ternyata yang harus belajar memilihku adalah diriku sendiri.
