MENGANTAR JENAZAH TERNYATA BUKAN PERJALANAN BIASA. ADA MOBIL JENAZAH

Pak Diman hampir menjatuhkan ponselnya ketika suara tangisan dari dalam toilet tiba-tiba berhenti.

Keheningan yang menyusul justru terasa lebih mengerikan.

“Pak! Pak Diman! Bapak dengar saya?” suara Zaki terdengar panik dari seberang telepon.

Pak Diman menelan ludah. Kedua kakinya terasa lemas.

“Zak… kalau Windu benar-benar ada di mobil, berarti siapa yang ada di toilet ini?”

“Apa maksud Bapak?”

“Tadi ada yang menjawab waktu Bapak memanggil Windu. Sekarang malah menangis.”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara Windu melalui pengeras suara ponsel Zaki.

“Pak, saya sudah di mobil! Jangan tunggu siapa-siapa! Cepat kembali!”

Pak Diman hendak menjawab ketika gagang pintu toilet bergerak perlahan.

Klik.

Klik.

Lalu terdengar suara seorang perempuan.

“Pak Diman…”

Darah Pak Diman seolah berhenti mengalir.

Suara itu bukan suara Windu.

Suara tersebut terdengar serak, berat, tetapi sangat dikenalnya.

“Kenapa Bapak meninggalkan saya?”

Pak Diman mundur hingga punggungnya membentur tembok.

“Ra… Ranti?”

Dari dalam toilet terdengar isakan pelan.

“Saya belum sampai rumah, Pak.”

Pak Diman langsung berlari tanpa menoleh.

Ia melewati bangunan SPBU dengan napas tersengal-sengal. Sandalnya hampir terlepas ketika kakinya tersandung batu kecil.

Begitu melihat mobil hitam mereka, ia berteriak.

“ZAKI! BUKA PINTUNYA!”

Zaki segera membuka pintu.

Pak Diman masuk dan langsung menguncinya.

Wajahnya pucat seperti orang baru saja melihat kematian.

Windu yang duduk di sebelah jenazah Ranti menatapnya kebingungan.

“Pak, kenapa?”

Pak Diman tidak menjawab.

Matanya justru tertuju kepada Ranti.

Jenazah perempuan itu masih duduk dalam posisi yang sama. Tubuhnya disangga dengan sabuk pengaman dan bantalan agar tidak terguncang selama perjalanan.

Namun, sekarang kepalanya terlihat sedikit miring ke arah Pak Diman.

“Zak, kita berangkat sekarang,” bisiknya.

“Tapi bensinnya belum diisi, Pak.”

“ISI CEPAT! SETELAH ITU LANGSUNG PERGI!”

Zaki tidak membantah.

Ia mengisi bahan bakar sementara Windu membantu memastikan seluruh barang aman. Beberapa menit kemudian, mobil kembali melaju meninggalkan SPBU.

Tidak seorang pun berbicara selama hampir lima belas menit.

Akhirnya, Windu memberanikan diri bertanya.

“Pak, sebenarnya tadi Bapak melihat apa?”

Pak Diman mengusap wajahnya.

“Bapak mendengar Ranti menangis di dalam toilet.”

Windu langsung membeku.

“Ranti?”

“Iya. Suaranya sama persis.”

Zaki melirik melalui kaca spion.

“Pak, mungkin Bapak kelelahan. Dari tadi kita belum benar-benar istirahat.”

Pak Diman menggeleng.

“Bapak tahu suara Ranti. Dia sudah bekerja membantu keluarga Bapak hampir empat tahun.”

Windu menunduk.

Mendengar nama Ranti membuat dadanya kembali sesak.

Ranti bukan sekadar perempuan yang mereka antar menuju pemakaman. Selama dua tahun terakhir, Windu menjalin hubungan dengannya. Mereka bahkan sudah membicarakan rencana menikah setelah Ranti menyelesaikan pekerjaannya di kota.

Namun, semua rencana itu hancur ketika Ranti ditemukan meninggal secara mendadak di kamar kontrakannya.

Menurut keterangan awal, perempuan itu mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan kematian mendadak.

Windu masih sulit menerimanya.

Apalagi dua hari sebelum meninggal, Ranti sempat meneleponnya sambil menangis.

Sayangnya, saat itu Windu sedang bekerja dan tidak sempat mendengarkan seluruh ceritanya.

“Win, kamu masih menyimpan ponsel Ranti?” tanya Pak Diman tiba-tiba.

Windu mengangguk.

“Ada di tas saya, Pak. Kenapa?”

“Dia pernah cerita sesuatu sebelum meninggal?”

Windu terdiam.

“Memangnya kenapa, Pak?”

Pak Diman menarik napas panjang.

“Tadi suara di toilet itu bilang dia belum sampai rumah. Bapak jadi teringat sesuatu.”

“Apa?”

“Seminggu sebelum meninggal, Ranti pernah meminta izin pulang kampung. Katanya ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan keluarganya.”

Windu mengangkat wajah.

“Dia nggak pernah cerita soal itu kepada saya.”

“Justru itu yang membuat Bapak heran.”

Zaki yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut berbicara.

“Kalau begitu, mungkin kita perlu menghubungi keluarganya lagi.”

Pak Diman mengangguk.

Namun, sebelum sempat mengambil ponsel, terdengar suara benda jatuh dari bagian belakang mobil.

Duk!

Mereka bertiga tersentak.

Zaki segera menepikan kendaraan di tempat yang cukup terang.

Windu memeriksa tas dan perlengkapan di dekat jenazah.

Sebuah dompet kecil berwarna cokelat terjatuh ke lantai.

“Itu dompet Ranti,” katanya.

Pak Diman mengernyit.

“Bukannya tadi disimpan di dalam tas?”

Windu mengangguk.

Ia mengambil dompet tersebut.

Saat membukanya untuk memastikan isinya tidak tercecer, sebuah kertas terlipat jatuh dari sela tempat kartu.

Windu memungutnya.

Ternyata itu selembar kuitansi transfer bank.

Jumlahnya membuat Windu terkejut.

Lima puluh juta rupiah.

Transaksi tersebut dilakukan tiga hari sebelum Ranti meninggal.

Nama pengirimnya adalah Ranti Wulandari.

Sedangkan nama penerimanya membuat Pak Diman mendadak diam.

Sulastri.

Ibu kandung Ranti.

“Kenapa, Pak?” tanya Windu.

Pak Diman menatap kuitansi itu cukup lama.

“Ranti pernah meminjam uang kepada Bapak.”

Windu terkejut.

“Berapa?”

“Lima puluh juta. Katanya untuk membantu ibunya.”

“Berarti uang ini dari Bapak?”

Pak Diman mengangguk pelan.

“Tapi ada yang aneh. Ranti bilang ibunya membutuhkan uang untuk operasi. Sedangkan waktu Bapak menelepon keluarga Ranti kemarin, mereka mengatakan Bu Sulastri sehat-sehat saja.”

Zaki menatap mereka bergantian.

“Mungkin Ranti punya alasan lain.”

Pak Diman menghela napas.

“Semoga saja.”

Mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul dua dini hari, ponsel Windu tiba-tiba berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor Ranti.

Windu langsung menegakkan tubuh.

“Mas Zaki!”

“Ada apa?”

“Nomor Ranti mengirim pesan!”

Zaki hampir menginjak rem.

“Jangan bercanda, Win!”

“Saya serius!”

Pak Diman segera mengambil ponsel tersebut.

Di layar terlihat sebuah pesan singkat.

Jangan bawa aku ke rumah Ibu sebelum kalian mengetahui uang itu dipakai untuk apa.

Tidak seorang pun berbicara.

Windu langsung memeriksa ponsel milik Ranti yang disimpannya di dalam tas. Perangkat itu masih mati sejak pertama kali diserahkan kepadanya.

“Siapa yang menggunakan nomor Ranti?” gumamnya.

Zaki mencoba berpikir tenang.

“Bisa jadi nomor itu sudah dipindahkan ke kartu lain atau akunnya masih aktif di perangkat lain. Jangan langsung menganggap ini hal gaib.”

Pak Diman mengangguk, tetapi tangannya tetap gemetar.

Windu segera membalas pesan tersebut.

Kamu siapa?

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba menelepon.

Panggilan tidak tersambung.

Namun, beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk.

Foto itu memperlihatkan Ranti sedang duduk di sebuah ruangan bersama seorang laki-laki.

Laki-laki tersebut mengenakan kemeja batik dan peci hitam.

Di atas meja terdapat map merah serta sejumlah uang.

Windu memperbesar foto.

Ia belum pernah melihat pria tersebut.

Tetapi Pak Diman langsung mengenalinya.

“Itu Pak Harun.”

“Siapa dia?” tanya Zaki.

“Suami kedua Bu Sulastri. Ayah tiri Ranti.”

Windu menatap foto itu dengan serius.

“Apa hubungannya dengan uang lima puluh juta tadi?”

Pak Diman menggeleng.

“Bapak nggak tahu.”

Namun, ada sesuatu dalam ekspresi pria itu yang membuat Windu merasa ia sedang menyembunyikan informasi.

Menjelang Subuh, mereka tiba di sebuah rumah makan yang buka sepanjang malam.

Zaki memutuskan berhenti untuk beristirahat. Ia sudah terlalu lelah mengemudi dan tidak ingin mengambil risiko di jalan.

Mereka menghubungi keluarga Ranti untuk memberitahukan keterlambatan perjalanan, kemudian memastikan jenazah tetap terjaga dengan layak selama berhenti.

Ketika Zaki pergi mencuci muka, Windu duduk berhadapan dengan Pak Diman.

“Pak, saya ingin bertanya terus terang.”

Pak Diman mengangkat wajah.

“Apa?”

“Kenapa Bapak meminjamkan uang sebanyak itu kepada Ranti?”

Pria tersebut terdiam.

“Karena dia membutuhkan bantuan.”

“Tapi Ranti cuma bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Bapak. Lima puluh juta bukan jumlah kecil.”

Pak Diman menarik napas panjang.

“Ranti memang bekerja membantu keluarga Bapak. Tapi dia juga anak dari sahabat lama Bapak.”

Windu mengerutkan kening.

“Sahabat?”

“Almarhum ayah kandungnya, Pak Suryo, dulu bekerja bersama Bapak.”

“Ranti nggak pernah cerita.”

“Karena dia sendiri baru mengetahuinya beberapa bulan lalu.”

Windu merasa semakin bingung.

Pak Diman kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

“Ini sebenarnya hendak Bapak serahkan kepada keluarganya setelah pemakaman.”

Di dalam amplop terdapat fotokopi dokumen kepemilikan sebidang tanah.

Nama pemiliknya adalah Suryo Wibowo.

Ayah kandung Ranti.

“Tanah ini masih menjadi hak ahli waris Pak Suryo,” jelas Pak Diman.

“Lalu apa hubungannya dengan kematian Ranti?”

“Ranti mengetahui bahwa ayah tirinya berusaha menjual tanah tersebut tanpa persetujuannya.”

Windu membeku.

“Jadi uang lima puluh juta itu…”

“Mungkin diberikan agar Pak Harun membatalkan penjualan. Tapi Bapak belum tahu pasti.”

Windu meremas kedua tangannya.

Tiba-tiba ia teringat percakapan terakhir dengan Ranti.

Perempuan itu sempat berkata bahwa dirinya sangat takut pulang kampung.

Saat ditanya alasannya, Ranti hanya menangis.

Sekarang semuanya mulai terasa berkaitan.

Windu segera membuka riwayat percakapan terakhir dengan Ranti.

Ia menemukan sebuah pesan suara yang belum pernah didengarkannya sampai selesai.

Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol putar.

Suara Ranti terdengar pelan.

“Mas Windu, kalau nanti aku nggak bisa pulang, tolong bilang sama Ibu kalau aku sudah berusaha menyelamatkan rumah peninggalan Bapak.”

Windu menutup mulut.

Rekaman berlanjut.

“Aku takut, Mas. Pak Harun mengancam akan membuatku menyesal kalau aku tidak menyerahkan surat waris itu.”

Air mata Windu langsung jatuh.

“Kenapa kamu nggak cerita semuanya, Ran…”

Namun, bagian terakhir rekaman membuat keduanya terpaku.

“Dan kalau sesuatu terjadi padaku, tolong jangan percaya kepada orang yang mengantarkan jenazahku.”

Windu perlahan mengangkat wajah.

Pak Diman sedang menatapnya.

“Win…”

Windu mundur sedikit.

“Maksud Ranti siapa, Pak?”

Pak Diman tampak kebingungan.

“Bapak nggak tahu.”

“Tapi Bapak yang mengurus perjalanan ini.”

“Iya, karena keluarganya meminta bantuan!”

Windu menatapnya dengan penuh kecurigaan.

“Kenapa Ranti bisa mengatakan seperti itu sebelum meninggal?”

Pak Diman tidak mampu menjawab.

Saat itulah Zaki kembali dari kamar mandi.

Melihat wajah mereka, ia langsung berhenti.

“Ada apa?”

Windu memperlihatkan pesan suara tersebut.

Zaki mendengarkannya sampai selesai.

Kemudian wajahnya berubah serius.

“Kita harus menyerahkan rekaman ini kepada polisi.”

Pak Diman langsung mengangguk.

“Betul. Jangan sampai kita menuduh orang tanpa bukti.”

Mereka memutuskan singgah di kantor polisi terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung Ranti.

Penyidik menerima rekaman dan salinan dokumen yang mereka bawa. Keterangan awal mengenai kematian Ranti juga diminta kembali karena muncul dugaan adanya ancaman sebelum perempuan itu meninggal.

Setelah pemeriksaan singkat, mereka diizinkan melanjutkan perjalanan sambil menunggu petunjuk berikutnya.

Menjelang siang, mobil akhirnya memasuki desa tempat Ranti dilahirkan.

Namun, begitu tiba di depan rumah keluarganya, Windu melihat sesuatu yang membuatnya heran.

Tidak ada tenda duka.

Tidak ada kerumunan pelayat.

Bahkan halaman rumah terlihat kosong.

Seorang perempuan tua keluar ketika mendengar suara mobil.

Bu Sulastri.

Begitu melihat kendaraan mereka, ia langsung menangis.

“Anakku… Ranti…”

Windu segera turun dan menghampirinya.

Namun, sebelum jenazah diturunkan, seorang laki-laki bertubuh besar keluar dari dalam rumah.

Pak Harun.

Wajahnya berubah pucat ketika melihat Pak Diman.

“Kenapa kalian baru datang sekarang?”

Pak Diman menjelaskan bahwa perjalanan mengalami beberapa kendala.

Namun, Pak Harun justru terlihat sangat gelisah.

“Sudah, cepat bawa jenazahnya ke pemakaman saja.”

Windu mengerutkan kening.

“Pak, kami baru sampai. Bukankah keluarga ingin melihat Ranti terakhir kali?”

“Nggak perlu! Semua sudah disiapkan!”

Bu Sulastri langsung menangis semakin keras.

“Harun, aku mau melihat anakku!”

Pak Harun membentaknya.

“Sudah kubilang, jangan membuat semuanya semakin sulit!”

Zaki segera berdiri di antara mereka.

“Pak, mohon tenang. Kita harus menghormati keluarga dan almarhumah.”

Pak Harun tampak semakin marah.

Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, ponsel Windu kembali bergetar.

Pesan dari nomor Ranti.

Jangan biarkan mereka menguburku sebelum membuka map merah di lemari kamar Ibu.

Windu langsung menoleh kepada Bu Sulastri.

“Bu, apakah ada map merah di lemari kamar Ibu?”

Perempuan tua itu terlihat terkejut.

“Bagaimana kamu tahu?”

Pak Harun langsung membeku.

“Jangan dengarkan dia!” bentaknya.

Namun, Bu Sulastri sudah berlari masuk ke rumah.

Windu dan Zaki menyusul.

Di dalam lemari kayu tua, mereka menemukan sebuah map merah.

Isinya bukan hanya dokumen tanah.

Ada salinan surat pernyataan utang, bukti transfer, dan sebuah laporan pemeriksaan medis Ranti yang dibuat beberapa hari sebelum kematiannya.

Windu membaca laporan itu dengan wajah semakin pucat.

Menurut catatan dokter, Ranti pernah datang mengeluhkan pusing hebat, mual, dan kelemahan tubuh setelah meminum minuman yang diberikan seseorang. Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, tetapi Ranti belum sempat kembali.

Di antara dokumen tersebut terdapat surat tulisan tangan.

Jika aku meninggal sebelum persoalan tanah selesai, tolong selidiki Pak Harun. Dia pernah mengancamku. Aku juga curiga ada sesuatu dalam minuman yang diberikannya ketika aku pulang terakhir kali.

Windu langsung menghubungi penyidik yang menangani laporan mereka.

Pak Harun berusaha meninggalkan rumah, tetapi beberapa warga yang mendengar keributan memintanya menunggu sampai polisi datang.

Tak lama kemudian, petugas tiba dan membawa Pak Harun untuk dimintai keterangan.

Bu Sulastri menangis sambil memeluk foto Ranti.

“Ibu nggak tahu, Nak… Ibu nggak tahu dia sudah mengancammu…”

Pak Diman menunduk dengan mata berkaca-kaca.

Ia akhirnya mengakui bahwa beberapa hari sebelum Ranti meninggal, perempuan itu sempat meminta bantuannya mencari pengacara untuk mengurus warisan. Pak Diman belum sempat menindaklanjuti permintaan tersebut.

“Bapak menyesal sekali,” bisiknya.

Windu tidak menjawab.

Ia hanya memandang jenazah Ranti dengan air mata yang terus mengalir.

Setelah penyidik menjelaskan bahwa kematian Ranti perlu diperiksa lebih lanjut, keluarga menyetujui prosedur pemeriksaan yang diperlukan sebelum pemakaman.

Beberapa hari kemudian, hasil penyelidikan menunjukkan adanya zat berbahaya dalam tubuh Ranti. Bukti tambahan mengarah pada keterlibatan Pak Harun, yang kemudian diproses secara hukum.

Namun, satu pertanyaan masih mengganggu Windu.

Siapa yang mengirim pesan menggunakan nomor Ranti?

Ketika polisi menelusurinya, ternyata akun WhatsApp Ranti masih terhubung dengan sebuah laptop yang disimpan di rumah sahabatnya, Sinta.

Sinta mengaku menerima pesan terjadwal dari Ranti sebelum kematiannya. Karena takut pesan tersebut diabaikan, ia menggunakan akun yang masih terhubung untuk mengirimkan petunjuk kepada Windu selama perjalanan.

“Aku takut langsung menghubungi kalian,” kata Sinta sambil menangis. “Ranti pernah bilang ada orang yang memantau siapa saja yang berusaha membantunya.”

Penjelasan itu menjawab sebagian misteri.

Tetapi tidak menjelaskan suara perempuan yang menangis di toilet.

Tidak pula sosok pria kurus yang mengejar mobil Zaki di kawasan pemakaman.

Seminggu setelah pemakaman Ranti, Windu kembali menemui Pak Diman.

Ia ingin mengambil beberapa barang peninggalan Ranti yang masih disimpan di rumah pria tersebut.

Ketika sedang merapikan dokumen, Pak Diman tiba-tiba mengeluarkan sebuah foto lama.

“Win, Bapak baru ingat sesuatu.”

Foto itu memperlihatkan Pak Diman muda bersama Pak Suryo dan seorang pria kurus tanpa baju.

Pria tersebut memegang rokok.

Zaki yang kebetulan datang langsung membeku ketika melihatnya.

“Pak… siapa orang ini?”

Pak Diman menunjuk pria kurus tersebut.

“Namanya Karto. Dulu dia penjaga makam di desa lama tempat kami bekerja.”

Zaki menelan ludah.

“Itu orang yang mengejar mobil kita.”

Pak Diman terdiam.

Kemudian ia berkata pelan.

“Tapi Pak Karto sudah meninggal hampir lima belas tahun lalu.”

Windu memandang foto itu dengan tubuh gemetar.

“Kenapa dia mengejar mobil kita?”

Pak Diman tidak langsung menjawab.

Ia membalik foto tersebut.

Di belakangnya terdapat tulisan tangan Pak Suryo.

Kami bertiga berjanji menjaga rahasia ini sampai mati.

Zaki menatap Pak Diman tajam.

“Rahasia apa, Pak?”

Wajah pria paruh baya itu mendadak pucat.

Untuk pertama kalinya, Windu melihat ketakutan yang benar-benar berbeda di matanya.

Pak Diman akhirnya duduk lemas.

“Kalau kalian ingin tahu kenapa perjalanan mengantar Ranti begitu berat, Bapak harus menceritakan sesuatu tentang kematian ayah kandungnya.”

Windu menahan napas.

Pak Diman menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.

“Karena dua puluh tahun lalu, Pak Suryo sebenarnya tidak meninggal akibat kecelakaan kerja seperti yang selama ini diketahui Ranti.”

Suasana mendadak sunyi.

Lalu Pak Diman mengucapkan kalimat yang membuat Zaki dan Windu membeku.

“Dia meninggal ketika kami bertiga berusaha menyembunyikan sebuah kejahatan. Dan orang pertama yang mengetahui rahasia itu adalah Pak Karto.”

Windu menggenggam foto tersebut semakin erat.

Selama ini ia mengira perjalanan mengantar jenazah Ranti hanya dipenuhi kejadian aneh akibat kelelahan dan kesedihan.

Ternyata perjalanan itu juga telah membuka rahasia lama yang belum pernah diselesaikan.

Rahasia yang merenggut kehidupan dua generasi dalam satu keluarga.

Dan kini Windu sadar, sebelum benar-benar bisa mengikhlaskan kepergian Ranti, ia masih harus mencari tahu satu hal.

Apa sebenarnya yang dilakukan Pak Diman bersama ayah Ranti dan penjaga makam bernama Karto dua puluh tahun lalu?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang