MERTUA KESAYANGAN

Ponselku hampir terlepas dari tangan ketika Mas Rahmat mengirimkan sebuah foto.

Dalam foto itu, Mas Fahri terlihat sedang duduk di sebuah restoran bersama seorang perempuan berambut panjang. Mereka duduk bersebelahan, begitu dekat hingga bahu mereka saling bersentuhan.

Namun, bukan kedekatan mereka yang membuat dadaku terasa sesak.

Perempuan itu sedang menyuapkan makanan kepada suamiku.

Mas Fahri tersenyum lebar.

Senyuman yang sudah lama tidak kulihat sejak dia berangkat bekerja ke Kalimantan delapan bulan lalu.

Aku memperbesar foto tersebut berkali-kali.

Tidak salah lagi.

Lelaki itu benar-benar suamiku.

Air mataku jatuh membasahi layar ponsel.

“Ya Allah, Mas Fahri… tega sekali kamu.”

Aku segera menelepon Mas Rahmat.

Panggilan tersambung setelah beberapa kali dering.

“Halo, Almira.”

“Mas, foto ini kapan diambil?” tanyaku tanpa basa-basi.

Mas Rahmat terdiam.

“Jawab, Mas!”

“Kemarin malam.”

Aku menutup mulut, menahan tangis.

“Perempuan itu siapa?”

“Namanya Nabila. Dia bekerja di bagian administrasi perusahaan kami.”

“Sudah berapa lama mereka dekat?”

“Aku nggak tahu pasti. Tapi beberapa bulan terakhir mereka sering pergi bersama.”

Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.

Perlahan, aku duduk di kursi teras.

“Kenapa Mas baru memberitahuku sekarang?”

“Karena aku awalnya mengira mereka hanya teman kerja. Tapi kemarin aku mendengar sesuatu yang membuatku nggak bisa diam lagi.”

“Apa?”

Mas Rahmat menarik napas panjang.

“Fahri bilang kepada Nabila bahwa sebentar lagi dia akan menyelesaikan urusannya dengan keluarga di kampung.”

Aku terdiam.

“Maksudnya?”

“Aku nggak tahu, Mir. Tapi Nabila bertanya kapan mereka bisa menikah. Fahri menjawab setelah semua urusan rumah dan tanah selesai.”

Jantungku berdegup semakin keras.

Rumah dan tanah?

Tanah peninggalan almarhum ayahku!

Aku tiba-tiba teringat bahwa dua minggu lalu, Mas Fahri meminta foto sertifikat tanah warisan Bapak. Katanya, perusahaan membutuhkan dokumen tersebut untuk pengajuan pinjaman karyawan.

Saat itu aku tidak curiga.

Aku bahkan sudah mengirimkan fotonya.

“Mas Rahmat, ada hal lain yang Mas ketahui?”

“Ada. Tapi kamu harus tenang.”

“Katakan saja.”

“Kemarin Fahri juga menerima telepon dari ibunya. Setelah itu dia bilang kepada Nabila bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.”

Aku membeku.

“Ibunya?”

“Iya.”

Aku memandang pintu rumah yang sedikit terbuka.

Ibu mertuaku sedang berada di dalam.

Perempuan yang selama ini kupanggil Ibu dengan penuh hormat.

Perempuan yang setiap hari kurawat, kubantu memasak, dan kutemani ketika sakit.

Apa mungkin beliau mengetahui hubungan suamiku dengan Nabila?

“Almira?” panggil Mas Rahmat.

“Iya, Mas.”

“Aku nggak mau membuatmu salah paham. Sebaiknya kamu cari tahu dulu sebelum mengambil keputusan.”

Aku mengusap air mata.

“Terima kasih sudah memberitahuku.”

Setelah menutup telepon, aku duduk cukup lama di teras.

Pikiranku dipenuhi pertanyaan.

Selama ini aku tinggal bersama ibu mertua karena Mas Fahri bekerja jauh dari rumah. Setiap bulan, sebagian besar uang kiriman suamiku digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan pengobatan beliau.

Aku bahkan berhenti bekerja di toko pakaian setelah Ibu mengatakan tidak ada yang bisa menemaninya di rumah.

Katanya, seorang menantu perempuan harus mengutamakan keluarga.

Aku menurut.

Sekarang aku mulai bertanya-tanya apakah semua pengorbanan itu hanya membuatku semakin mudah dimanfaatkan.

Sore harinya, aku mencoba menelepon Mas Fahri.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Panggilan kedua ditolak.

Pada panggilan ketiga, akhirnya terdengar suaranya.

“Halo, Mir. Ada apa?”

Aku menahan tangis.

“Mas lagi di mana?”

“Di mess. Baru pulang kerja.”

Aku menggigit bibir.

“Sendirian?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

Aku memejamkan mata.

“Mas, siapa Nabila?”

Sambungan mendadak hening.

“Mas?”

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Jawab dulu. Nabila itu siapa?”

“Teman kantor.”

“Cuma teman?”

“Iya, Almira. Kamu kenapa, sih?”

Aku menarik napas panjang.

“Kalau cuma teman, kenapa dia menyuapi Mas di restoran?”

Tidak ada jawaban.

“Mas, aku punya fotonya.”

Terdengar suara kursi bergeser dari seberang telepon.

“Siapa yang mengirimkan foto itu?”

“Jadi Mas nggak mau menyangkal?”

“Almira, jangan langsung percaya omongan orang!”

Aku tertawa getir.

“Aku percaya apa yang kulihat, Mas.”

“Foto itu bisa disalahartikan.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Mas Fahri diam cukup lama.

Kemudian terdengar suara perempuan dari kejauhan.

“Sayang, makanannya sudah siap.”

Aku membeku.

Suara itu jelas sekali.

Mas Fahri buru-buru berkata, “Mir, nanti Mas telepon lagi.”

Sambungan terputus.

Aku menatap ponsel dengan mata basah.

Jadi benar.

Perempuan itu bahkan berada di tempat tinggal suamiku.

Malamnya, aku tidak sanggup makan.

Ibu mertua memperhatikanku dari seberang meja.

“Kenapa kamu cuma mengaduk nasi?”

“Nggak nafsu makan, Bu.”

“Jangan manja. Besok masih banyak pekerjaan rumah.”

Aku mengangguk.

Namun, ketika Ibu menyebut nama Mas Fahri, aku memberanikan diri bertanya.

“Bu, Mas Fahri akhir-akhir ini sering menelepon Ibu?”

Sendok di tangan beliau berhenti bergerak.

“Kenapa?”

“Aku cuma bertanya.”

“Ya, kadang-kadang.”

“Dia pernah cerita tentang teman perempuan di kantor?”

Ibu langsung menatapku tajam.

“Maksud kamu apa?”

“Ada perempuan bernama Nabila, Bu.”

Wajah Ibu berubah.

Hanya sesaat.

Namun, aku melihatnya.

“Memangnya kenapa dengan perempuan itu?” tanyanya.

“Katanya dia dekat dengan Mas Fahri.”

Ibu meletakkan sendok dengan keras.

“Almira! Suamimu bekerja jauh untuk mencari nafkah. Jangan menambah bebannya dengan kecemburuan nggak jelas!”

Aku terkejut.

“Tapi, Bu, aku punya bukti…”

“Bukti apa? Foto? Sekarang foto bisa diambil dari sudut mana saja!”

Aku terdiam.

Bagaimana Ibu tahu aku memiliki foto?

Padahal aku belum mengatakan apa pun tentang itu.

“Bu, siapa yang bilang aku punya foto?”

Ibu terlihat gugup.

“Ya… Ibu cuma menebak.”

Aku menatap beliau cukup lama.

Kemudian aku bertanya dengan suara pelan.

“Ibu sudah tahu tentang Nabila, ya?”

“Jangan menuduh orang tua!”

Ibu langsung berdiri dan meninggalkan meja makan.

Aku tidak mengejarnya.

Untuk pertama kalinya, aku merasa diam justru membuatku lebih mudah memahami keadaan.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal.

Ketika hendak menyapu ruang tengah, aku mendengar ibu mertuaku berbicara melalui telepon di dalam kamar.

Pintunya tidak tertutup rapat.

“Fahri, kamu harus lebih hati-hati! Almira sudah mulai curiga.”

Aku berhenti melangkah.

Jantungku berdegup kencang.

“Sudah Ibu bilang, jangan terlalu sering terlihat bersama Nabila!”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Jadi Ibu memang tahu.

Beberapa detik kemudian, suara beliau kembali terdengar.

“Yang penting sertifikat tanahnya bisa segera kita urus. Kalau semuanya sudah selesai, kamu bebas mengambil keputusan.”

Aku merasa pandanganku mengabur.

Sertifikat tanah?

Apa hubungan perselingkuhan Mas Fahri dengan tanah warisanku?

Aku mendekat sedikit.

“Jangan sampai Almira tahu bahwa Nabila sudah hamil.”

Aku hampir menjatuhkan sapu.

Hamil?

Perempuan itu sedang mengandung anak suamiku?

Tubuhku gemetar hebat.

Namun, ibu mertua belum selesai berbicara.

“Iya, Ibu tahu. Tapi kamu harus sabar. Kalau kamu menceraikan Almira sekarang, urusan tanah itu bisa gagal.”

Air mataku mengalir tanpa suara.

Sekarang semuanya jelas.

Mas Fahri tidak hanya berselingkuh.

Dia juga berencana mengambil sesuatu yang menjadi hakku sebelum meninggalkanku.

Aku mundur perlahan dan masuk ke kamar.

Di sana, aku menangis sepuasnya.

Namun, setelah hampir setengah jam, aku mulai berpikir.

Aku tidak boleh terus menangis.

Kalau mereka benar-benar berencana menggunakan tanah warisanku, aku harus melindungi dokumennya.

Aku segera membuka lemari dan mengambil map berisi surat-surat penting.

Sertifikat asli masih ada.

Aku mengembuskan napas lega.

Namun, ketika membuka map tersebut, aku menemukan sesuatu yang tidak kukenal.

Selembar surat kuasa.

Namaku tercantum sebagai pemberi kuasa.

Sedangkan nama Mas Fahri tertulis sebagai penerima kuasa untuk mengurus proses administrasi tanah.

Yang membuatku terkejut adalah tanda tangan di bagian bawah.

Tanda tanganku.

Padahal aku tidak pernah menandatangani surat tersebut.

Aku memotretnya, lalu segera menghubungi kakak sepupuku, Mbak Rina, yang bekerja di kantor notaris.

Setelah mendengar ceritaku, Mbak Rina langsung meminta agar aku tidak menyerahkan dokumen apa pun.

“Mir, jangan tanda tangan apa-apa dulu. Bawa surat itu ke sini. Kita periksa keasliannya.”

Aku mengangguk.

“Iya, Mbak.”

“Dan satu lagi, simpan sertifikat aslinya di tempat yang aman.”

Siang harinya, aku berpamitan kepada Ibu untuk mengunjungi Mbak Rina.

Namun, beliau langsung melarang.

“Mau ke mana kamu?”

“Ke rumah saudara, Bu.”

“Untuk apa?”

“Ada urusan pribadi.”

Ibu menyipitkan mata.

“Urusan apa yang nggak bisa kamu ceritakan kepada Ibu?”

Aku tersenyum tipis.

“Urusan keluarga Bapak, Bu.”

Wajah beliau langsung berubah.

“Kamu mau membicarakan tanah warisan itu?”

Aku menatapnya.

“Kenapa Ibu langsung berpikir begitu?”

Beliau terdiam.

Aku tidak menunggu jawaban.

Aku segera berangkat menggunakan ojek online.

Di kantor Mbak Rina, aku menyerahkan salinan surat kuasa tersebut.

Ia memeriksanya dengan teliti.

“Mir, tanda tangan ini memang mirip punyamu. Tapi kalau kamu tidak pernah menandatanganinya, kita harus meminta pemeriksaan lebih lanjut.”

Aku mengangguk.

“Aku juga menemukan foto sertifikat tanahku tersimpan di ponsel Mas Fahri beberapa minggu lalu.”

Mbak Rina menghela napas.

“Jangan khawatir. Surat kuasa yang dipalsukan tidak otomatis memberi mereka hak atas tanahmu. Tapi kita harus memastikan belum ada pengajuan apa pun yang menggunakan dokumen itu.”

Aku merasa sedikit lega.

Mbak Rina kemudian mengantarku untuk berkonsultasi mengenai langkah pengamanan dokumen dan pelaporan dugaan pemalsuan.

Sore harinya, ketika pulang, aku mendapati rumah dalam keadaan ramai.

Pak Sofyan duduk di ruang tamu bersama ibu mertuaku.

Begitu melihatku, keduanya langsung menghentikan percakapan.

“Almira, dari mana saja?” tanya Ibu.

“Dari rumah saudara.”

Pak Sofyan tersenyum canggung.

“Oh, Almira sudah pulang.”

Aku membalas senyumnya.

Namun, perhatianku tertuju pada sebuah amplop cokelat di atas meja.

Nama Mas Fahri tertulis di sudutnya.

Ketika Ibu menyadari arah pandanganku, beliau buru-buru mengambil amplop tersebut.

Aku berpura-pura tidak melihatnya.

“Pak Sofyan datang mau pesan pepes lagi, Bu?”

Wajah Ibu langsung menegang.

Pak Sofyan tertawa kecil.

“Bukan. Saya cuma mampir sebentar.”

Aku mengangguk.

Namun, ketika hendak menuju kamar, terdengar Pak Sofyan berkata pelan kepada Ibu.

“Jangan sampai surat dari bank itu diketahui Almira.”

Langkahku langsung terhenti.

Aku berpura-pura mengambil air minum di dapur.

Beberapa menit kemudian, Pak Sofyan pulang.

Ibu masuk ke kamar sambil membawa amplop tersebut.

Aku menunggu sampai beliau tertidur.

Kemudian aku mencari kesempatan untuk memeriksa tumpukan kertas yang tadi ditinggalkannya di meja ruang tengah.

Di sana terdapat secarik catatan.

Sertifikat tanah Almira. Pengajuan pembiayaan. Fahri. Sofyan. Tanda tangan.

Aku memotretnya.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Nomor Mas Rahmat muncul di layar.

Aku segera menjawab.

“Halo, Mas.”

“Almira, kamu harus hati-hati.”

“Ada apa lagi?”

“Fahri baru saja mengajukan cuti mendadak.”

Aku terdiam.

“Dia mau pulang?”

“Iya. Katanya ada urusan penting di kampung.”

Aku menelan ludah.

“Kapan?”

“Besok pagi.”

Aku memejamkan mata.

Berarti waktuku semakin sedikit.

Namun, Mas Rahmat kembali berbicara.

“Ada satu hal yang belum sempat kuceritakan.”

“Apa?”

“Perempuan bernama Nabila itu memang sedang hamil. Tapi kemarin aku mendengar dia bertengkar hebat dengan Fahri.”

Aku mengerutkan kening.

“Bertengkar soal apa?”

“Nabila bilang dia tidak mau lagi dijadikan alasan untuk merebut harta Almira.”

Aku membeku.

“Jadi Nabila tahu?”

“Sepertinya iya. Bahkan dia bilang ada orang lain yang sebenarnya mengatur semuanya.”

“Siapa?”

Mas Rahmat terdiam sejenak.

“Pak Sofyan.”

Aku langsung teringat amplop cokelat tadi.

Pak Sofyan.

Lelaki yang pagi itu datang meminta pepes ikan.

Lelaki yang membuat Bu Syarifah begitu marah.

Tiba-tiba semuanya terasa berkaitan.

Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara pintu kamarku diketuk.

“Almira!”

Itu suara ibu mertuaku.

Aku buru-buru mengakhiri panggilan.

“Iya, Bu?”

“Buka pintunya!”

Aku menyimpan ponsel dan membuka pintu.

Ibu berdiri dengan wajah penuh kemarahan.

Di tangannya terdapat map berisi sertifikat tanahku.

“Almira, kamu menyembunyikan surat-surat ini dari Ibu?”

Aku menatap map tersebut.

“Itu memang dokumen milikku, Bu.”

“Berani sekali kamu bicara begitu!”

Aku menarik napas panjang.

“Bu, aku sudah tahu tentang Mas Fahri dan Nabila.”

Wajah beliau mendadak pucat.

“Aku juga tahu soal surat kuasa yang tanda tangannya dipalsukan.”

Ibu mundur selangkah.

“Almira, dengarkan Ibu dulu…”

Aku menggeleng.

“Selama ini aku menganggap Ibu seperti ibu kandungku sendiri. Aku merawat Ibu, membantu pekerjaan rumah, bahkan berhenti bekerja karena Ibu memintanya.”

Air mataku mulai mengalir.

“Tapi ternyata Ibu ikut membantu Mas Fahri mengkhianatiku.”

Ibu tidak menjawab.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Apa salahku, Bu? Apa selama ini aku begitu tidak berharga di mata keluarga ini?”

Untuk pertama kalinya, ibu mertuaku terlihat kehilangan kata-kata.

Namun, beberapa detik kemudian, beliau justru menangis.

“Almira, sebenarnya Ibu juga sedang dipaksa.”

Aku terdiam.

“Dipaksa siapa?”

Ibu menutup wajahnya.

“Pak Sofyan.”

Aku mengernyit.

“Apa hubungannya Pak Sofyan dengan keluarga kita?”

Ibu duduk di tepi tempat tidur.

Tangannya gemetar.

“Dia memegang surat utang almarhum ayah Fahri. Nilainya ratusan juta rupiah. Selama ini Ibu berusaha membayarnya diam-diam.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Lalu kenapa harus menggunakan tanah warisanku?”

“Karena Pak Sofyan mengancam akan mengambil rumah ini kalau utangnya tidak dilunasi.”

Aku menggeleng.

“Utang itu bukan tanggung jawabku, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Kalau Ibu tahu, kenapa Ibu tega membiarkan Mas Fahri memalsukan tanda tanganku?”

Ibu menangis semakin keras.

Namun, tiba-tiba beliau mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.

“Karena sebenarnya Fahri bukan orang yang pertama kali merencanakan penggunaan tanah itu.”

Aku menatapnya tajam.

“Maksud Ibu?”

Beliau mengangkat wajah.

“Orang yang pertama kali mengusulkan semuanya adalah Pak Sofyan.”

Aku terdiam.

“Lalu kenapa dia begitu tertarik dengan tanah milikku?”

Ibu menggigit bibir.

“Karena tanah peninggalan ayahmu itu berada tepat di jalur proyek pembangunan jalan baru.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

“Proyek jalan?”

Ibu mengangguk.

“Beberapa bulan lagi, tanah di kawasan itu akan mendapat ganti rugi dengan nilai sangat besar. Pak Sofyan sudah tahu lebih dulu.”

Aku merasa kepalaku berputar.

Sekarang aku mulai memahami alasan mereka begitu mengincar sertifikat tersebut.

Bukan sekadar tanah warisan.

Melainkan uang yang mungkin akan kuterima dari pembebasan lahan.

Aku menatap ibu mertuaku dengan penuh kekecewaan.

“Jadi semua ini karena uang?”

Beliau menunduk.

Aku menghela napas panjang.

“Kalau begitu, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan namaku lagi.”

Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di halaman.

Kami sama-sama menoleh.

Beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu depan dengan keras.

“ASSALAMUALAIKUM!”

Aku mengenali suara itu.

Pak Sofyan.

Ibu langsung berdiri dengan wajah ketakutan.

“Almira, jangan bilang apa-apa dulu.”

Aku tidak menjawab.

Namun, ketika membuka pintu kamar, aku melihat Pak Sofyan sudah berdiri di ruang tengah bersama seorang perempuan.

Perempuan itu mengenakan kerudung krem dan membawa tas kecil.

Wajahnya terlihat pucat.

Aku langsung mengenalinya dari foto yang dikirim Mas Rahmat.

Nabila.

Perempuan yang sedang mengandung anak suamiku.

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Almira?”

Aku mengangguk perlahan.

Nabila tiba-tiba menangis.

“Maafkan aku. Aku datang bukan untuk merebut suamimu.”

Aku menatapnya bingung.

“Lalu untuk apa?”

Nabila mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

“Untuk memberitahumu bahwa Fahri bukan satu-satunya orang yang telah membohongimu.”

Pak Sofyan langsung mencengkeram lengannya.

“Nabila! Jangan macam-macam!”

Namun, perempuan itu melepaskan tangannya.

Kemudian ia menatapku dengan suara bergetar.

“Almira, sebelum menikah denganmu, Fahri sudah pernah menikah secara siri.”

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

Nabila menangis semakin keras.

“Dan perempuan yang dinikahinya itu bukan aku.”

Aku menahan napas.

“Lalu siapa?”

Nabila membuka amplop dan memperlihatkan selembar foto pernikahan lama.

Dalam foto tersebut, Mas Fahri duduk di samping seorang perempuan mengenakan kebaya putih.

Ketika melihat wajah perempuan itu, aku merasa lantai di bawah kakiku seolah runtuh.

Aku mengenalnya.

Sangat mengenalnya.

Perempuan itu adalah Bu Syarifah.

Istri Pak Sofyan.

Nabila menatapku dengan mata basah.

“Fahri dan Bu Syarifah pernah menikah secara siri sebelum perempuan itu menikah dengan Pak Sofyan. Dan sampai sekarang, mereka menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan Fahri denganku.”

Aku memandang Pak Sofyan.

Wajah lelaki itu berubah pucat.

Sementara ibu mertuaku tiba-tiba terduduk lemas.

Saat itulah aku sadar bahwa rumah tanggaku ternyata berdiri di atas kebohongan yang sudah dimulai jauh sebelum aku mengenal Mas Fahri.

Dan mungkin, selama ini aku bukan sekadar menantu yang dimanfaatkan.

Aku adalah orang terakhir yang sengaja mereka masukkan ke dalam sebuah rencana yang telah disusun bertahun-tahun sebelumnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang