Nenek yang Seumur Hidup Membenci Cucu-Cucu Perempuannya Mengundang Kami Makan Pangsit—Namun Laras Memergokinya Menuangkan Bubuk Misterius ke Tiga Mangkuk

Kereta belum sampai Cirebon ketika ponselku bergetar lagi.

Kali ini bukan pesan dari Ibu.

Laras menelepon.

Aku langsung mengangkatnya.

“Mbak?”

Tidak ada jawaban.

Yang terdengar hanya suara napas cepat, disusul bunyi pintu ditutup pelan.

“Laras, kamu di mana?”

“Nadira,” bisiknya. “Kamu benar.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Maksudmu?”

“Aku melihat Nenek memasukkan sesuatu ke mangkuk kami.”

Aku berdiri begitu cepat hingga lututku membentur meja lipat di depan kursi.

“Apa?”

“Tadi Nenek menyuruh kami keluar sebentar karena katanya kuahnya belum selesai. Tapi ponselku tertinggal di dapur. Aku kembali lewat pintu samping.”

Suara Laras bergetar.

“Aku melihat Nenek mengeluarkan bungkusan kecil dari saku bajunya. Ada bubuk putih. Dia menuangkannya ke tiga mangkuk.”

“Tiga?”

“Iya.”

Aku langsung memahami maksudnya.

Seharusnya ada empat mangkuk.

Mangkuk keempat adalah milikku.

Karena aku pergi, hanya tersisa tiga.

“Jangan makan apa pun,” kataku cepat. “Jangan biarkan Dinda dan Rani makan.”

“Aku sudah bilang.”

“Terus?”

“Mereka tidak percaya.”

Dari kejauhan terdengar suara Rani memanggil nama Laras.

Laras merendahkan suaranya.

“Dinda bilang aku sama gilanya denganmu. Rani malah marah karena menganggap kita sengaja membuat Nenek terlihat jahat di hari-hari terakhirnya.”

“Buang makanannya.”

“Aku takut ketahuan.”

“Lebih baik Nenek marah daripada kalian kenapa-kenapa.”

Telepon mendadak terputus.

Aku mencoba menelepon kembali.

Tidak diangkat.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Tetap tidak ada jawaban.

Aku segera menghubungi Ayah.

“Ayah, jangan biarkan mereka makan pangsit buatan Nenek.”

“Apa lagi ini, Nadira?”

“Laras melihat Nenek menuangkan bubuk putih ke mangkuk mereka.”

Ayah diam beberapa detik.

Lalu dia menghela napas panjang.

“Kamu jangan membuat cerita aneh.”

“Ayah, aku serius.”

“Nenek minum banyak obat. Bisa saja itu obat yang harus dicampur ke makanan.”

“Kalau obat Nenek, kenapa dimasukkan ke mangkuk cucu-cucunya?”

Ayah terdiam.

Untuk pertama kalinya, suaranya berubah.

“Kamu yakin Laras melihatnya?”

“Dia menelepon aku sambil gemetar.”

Aku mendengar Ayah memanggil Pakde Hendra dan Om Bowo.

Lalu sambungan terputus.

Sepuluh menit berikutnya terasa seperti satu jam.

Aku terus menatap layar ponsel.

Akhirnya Ibu menelepon.

Begitu kuangkat, terdengar keributan.

“Nadira, Dinda muntah-muntah.”

Aku membeku.

“Rani?”

“Rani juga pusing.”

“Laras?”

“Dia tidak makan.”

Jantungku berdegup keras.

“Bawa mereka ke rumah sakit sekarang!”

“Ayahmu sudah mengambil mobil.”

“Apa mereka makan banyak?”

“Dinda hampir menghabiskan satu mangkuk. Rani baru beberapa suap.”

Aku mencengkeram sandaran kursi.

“Bu, simpan sisa makanannya. Jangan dibuang. Bawa juga bungkusan apa pun yang ada di dapur.”

Ibu tidak menjawab.

“Nadira…”

“Apa?”

“Nenek menghilang.”

Aku merasa seluruh gerbong tiba-tiba menjadi sunyi.

“Apa maksud Ibu?”

“Setelah Dinda muntah, semua orang panik. Waktu Pakde mencari Nenek, kamarnya kosong.”

Aku langsung turun di stasiun berikutnya dan membeli tiket kembali menuju Jawa Tengah.

Sepanjang perjalanan, kepalaku dipenuhi kemungkinan paling buruk.

Dinda dan Rani akhirnya dibawa ke rumah sakit di Klaten.

Untungnya kondisi mereka stabil setelah mendapatkan penanganan. Dokter menduga ada zat tertentu dalam makanan yang menyebabkan gangguan pencernaan dan penurunan tekanan darah, tetapi sampel harus diperiksa lebih lanjut.

Menjelang subuh aku tiba.

Dinda terbaring pucat.

Rani menangis ketika melihatku.

“Mbak…”

Aku memeluknya.

“Aku bodoh.”

“Sudah. Yang penting kamu selamat.”

“Aku malah marah sama Mbak.”

Aku menggeleng.

“Sekarang bukan waktunya memikirkan itu.”

Laras berdiri di sudut kamar.

Wajahnya sama pucatnya.

“Aku mengambil ini.”

Dia menyerahkan sebuah plastik kecil yang dibungkus tisu.

Di dalamnya ada sisa bubuk berwarna putih kekuningan.

“Aku menemukannya di bawah meja dapur.”

Aku menatapnya.

“Kita serahkan ke dokter.”

Namun sebelum kami sempat melakukannya, Pakde Hendra masuk.

“Jangan.”

Kami semua menoleh.

Pakde menutup pintu.

“Ayah menemukan Nenek.”

“Di mana?” tanyaku.

“Rumah Mbah Wiryo.”

Mbah Wiryo adalah adik laki-laki almarhum Kakek yang tinggal dua desa dari rumah kami.

“Kenapa Nenek ke sana?”

Pakde tidak langsung menjawab.

“Ada sesuatu yang harus kalian tahu.”

Pagi itu, setelah kondisi Dinda dan Rani membaik, kami kembali ke rumah Nenek bersama-sama.

Nenek sudah berada di kamarnya.

Dia duduk di ranjang dengan wajah kosong.

Tidak ada air mata.

Tidak ada permintaan maaf.

Ketika melihat kami berempat masuk, dia hanya berkata pelan,

“Kalian ternyata masih hidup.”

Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.

Ayah langsung membentak.

“Ibu sebenarnya memasukkan apa ke makanan mereka?”

Nenek tersenyum tipis.

“Kenapa? Takut?”

Pakde Hendra menghantam meja.

“Dinda sampai masuk rumah sakit!”

Nenek justru tertawa pendek.

“Kalian baru takut kehilangan anak perempuan sekarang?”

Semua orang terdiam.

Aku maju satu langkah.

“Maksud Nenek apa?”

Tatapannya beralih kepadaku.

“Nenek sudah tahu kamu yang paling sulit ditipu.”

“Ditipu tentang apa?”

Dia tidak menjawab.

Justru Mbah Wiryo yang akhirnya bicara dari ambang pintu.

“Sulastri, cukup.”

Wajah Nenek berubah.

Mbah Wiryo masuk membawa sebuah kotak kayu tua.

Dia meletakkannya di meja.

“Sudah lebih dari tiga puluh tahun kamu menyimpan dendam kepada orang yang sudah mati.”

Aku semakin bingung.

“Dendam apa?”

Mbah Wiryo membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat beberapa surat lama, sebuah buku tanah, dan foto hitam putih Kakek bersama seorang perempuan yang tidak kukenal.

“Perempuan ini namanya Marni,” katanya.

Nenek langsung membuang muka.

“Dia kakak kandung Sulastri.”

Aku memandang foto itu lagi.

Mbah Wiryo melanjutkan.

“Marni seharusnya menikah dengan kakek kalian.”

Ruangan langsung sunyi.

“Tapi beberapa minggu sebelum pernikahan, Marni meninggal karena sakit. Setelah itu keluarga menjodohkan Kakek kalian dengan Sulastri.”

Aku masih belum memahami kaitannya.

Sampai Mbah Wiryo mengeluarkan sebuah surat.

“Tanah tempat rumah ini berdiri bukan milik Sulastri. Tanah ini warisan Marni.”

Nenek tiba-tiba berteriak.

“Diam!”

Namun Mbah Wiryo tidak berhenti.

“Dalam surat wasiat keluarga, tanah dan kebun di belakang rumah diwariskan kepada keturunan perempuan dalam garis keluarga Marni dan Sulastri.”

Aku tercekat.

“Keturunan perempuan?”

“Iya.”

Aku menatap Laras, Dinda, dan Rani.

Empat cucu perempuan.

Mbah Wiryo mengangguk.

“Setelah ayah kalian bertiga lahir, Sulastri yakin warisan itu akhirnya akan jatuh kepada putra-putranya. Tapi aturan dalam surat keluarga jelas. Jika generasi anak tidak memiliki perempuan, haknya turun kepada cucu perempuan.”

Sekarang semuanya terasa masuk akal sekaligus jauh lebih mengerikan.

Nenek bukan sekadar kecewa karena kami perempuan.

Keberadaan kami membuat tanah itu tidak bisa diwariskan kepada anak-anak lelakinya.

“Nenek membenci kami karena tanah?” tanyaku.

Nenek menatapku tajam.

“Kalian tidak tahu apa-apa.”

“Lalu bubuk itu apa?”

Dia terdiam.

Laras mengeluarkan plastik kecil tadi.

“Kami akan menyerahkannya kepada polisi.”

Untuk pertama kalinya, wajah Nenek benar-benar berubah.

Ketakutan muncul di matanya.

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Itu bukan racun.”

“Dinda masuk rumah sakit!”

“Itu obat pencahar dan obat penenang yang dihancurkan.”

Kami semua terdiam.

Rani menatapnya tak percaya.

“Kenapa Nenek memberikan itu kepada kami?”

Nenek menutup wajah.

Namun aku tidak puas.

“Kalau cuma ingin membuat mereka sakit, untuk apa?”

Mbah Wiryo tiba-tiba membuka bagian dasar kotak kayu.

Ada ruang tersembunyi di bawahnya.

Kosong.

Dia menatap Nenek.

“Surat tanah aslinya di mana?”

Tidak ada jawaban.

Aku langsung memahami.

“Makan malam itu cuma pengalihan.”

Nenek menatapku.

“Kami dibuat sakit supaya semua orang sibuk membawa kami ke rumah sakit.”

Laras melanjutkan dengan wajah pucat.

“Dan saat rumah kosong, Nenek pergi membawa dokumen.”

Ayah memejamkan mata.

“Ibu mau menghancurkan surat warisan itu?”

Nenek tertawa getir.

“Seumur hidup aku tinggal di rumah ini. Aku merawat suami kalian. Membesarkan tiga anak laki-laki. Tapi pada akhirnya tanah ini malah diberikan kepada empat anak perempuan yang bahkan jarang pulang.”

Aku merasa marah, tetapi untuk pertama kalinya aku juga melihat sesuatu selain kebencian di wajahnya.

Ketakutan.

Ketakutan seorang perempuan tua yang sepanjang hidupnya mengukur harga manusia berdasarkan siapa yang berhak memiliki sesuatu.

“Jadi Nenek sengaja membuat kami sakit?”

“Aku tidak berniat membunuh kalian.”

“Seolah itu membuat semuanya lebih baik.”

Nenek menunduk.

Kemudian terdengar suara mobil berhenti di halaman.

Dua petugas polisi turun.

Pakde rupanya sudah membuat laporan sejak malam.

Nenek panik.

“Jangan!”

Namun orang yang paling mengejutkan kami justru Om Bowo.

Dia berdiri di depan petugas.

“Saya yang membuat laporan. Anak saya dua orang menjadi korban.”

Nenek menatap putra bungsunya seperti baru saja ditikam.

“Bowo…”

Om Bowo menangis.

“Ibu selalu bilang anak perempuan tidak akan menjaga keluarga. Tapi tadi malam siapa yang menyelamatkan Dinda dan Rani?”

Dia menunjuk Laras.

“Perempuan.”

Lalu menunjukku.

“Siapa yang pertama curiga dan memperingatkan kami?”

“Perempuan.”

Suaranya pecah.

“Sedangkan kami, tiga anak laki-laki yang selalu Ibu banggakan, justru terlalu sibuk membela Ibu sampai hampir kehilangan anak-anak kami.”

Nenek tidak mengatakan apa-apa lagi.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan memastikan bubuk tersebut memang campuran obat yang dapat menyebabkan kantuk berat dan gangguan pencernaan jika dikonsumsi tanpa pengawasan. Polisi tetap memproses kejadian itu berdasarkan bukti dan keterangan keluarga.

Namun kejutan terakhir muncul ketika Mbah Wiryo menyerahkan dokumen asli yang selama ini dicari Nenek.

Ternyata surat itu tidak pernah ada di rumah.

Kakek sudah menitipkannya kepada Mbah Wiryo bertahun-tahun sebelum meninggal karena takut Nenek akan menghancurkannya.

Dan ada satu surat lain dari Kakek.

Surat itu ditujukan kepada kami.

Empat cucu perempuan yang saat itu bahkan belum semuanya lahir.

Isinya singkat.

Jika suatu hari keluarga ini memiliki anak-anak perempuan, jangan pernah membuat mereka merasa dilahirkan sebagai kesalahan. Rumah dan tanah bisa diwariskan, tetapi rasa diterima adalah warisan yang jauh lebih sulit diberikan.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Laras menangis.

Dinda memeluk Rani.

Ayah berdiri membelakangi kami, mengusap matanya diam-diam.

Enam bulan kemudian, Nenek meninggal.

Aku pulang ke Klaten untuk pemakamannya.

Anehnya, aku tidak lagi merasa marah.

Namun aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan semuanya.

Ada luka yang tidak hilang hanya karena orang yang membuatnya telah tiada.

Setelah pemakaman, kami berempat duduk di dapur tua.

Di meja terdapat empat mangkuk pangsit kuah.

Laras yang memasaknya.

Rani menatap mangkuknya lalu tertawa kecil.

“Sekarang aku trauma lihat pangsit.”

Kami ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya, kenangan tentang rumah itu tidak terasa sepenuhnya pahit.

Setahun kemudian, tanah warisan itu tidak kami jual.

Kami sepakat mengubah sebagian rumah menjadi tempat belajar gratis bagi anak-anak perempuan di desa.

Di dinding ruang utama, kami memasang satu kalimat dari surat Kakek.

Bukan tentang warisan.

Bukan tentang tanah.

Bukan pula tentang siapa yang berhak meneruskan nama keluarga.

Hanya satu kalimat sederhana.

Jangan pernah membuat seorang anak merasa kelahirannya adalah sebuah kesalahan.

Dan baru saat itulah aku mengerti.

Nenek menghabiskan hampir seluruh hidupnya mengejar cucu laki-laki agar nama keluarga tetap hidup.

Namun pada akhirnya, justru empat cucu perempuan yang memastikan rumah itu tetap berdiri, keluarga itu tetap terhubung, dan kisah mereka tidak pernah dilupakan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang