Perempuan yang Menolak Meminjamkan Halaman Rumahnya Dituduh Egois oleh

Ketukan di pagar terdengar ketika Maya baru selesai menyimpan dokumen itu. Bu Ratna berdiri di luar, kali ini tanpa rombongan.

“Tadi ada kertas terselip dekat potmu?” tanyanya.

Maya merasakan tengkuknya menegang.

“Kertas apa, Bu?”

“Berkas lama RT. Kalau ketemu, serahkan saja. Tidak ada gunanya disimpan.”

“Kalau tidak ada gunanya, kenapa Ibu mencarinya?”

Bu Ratna memalingkan wajah.

“Jangan ikut campur urusan yang tidak kamu pahami.”

Setelah perempuan itu pergi, Maya langsung menuju rumah Bu Endang. Ardi membukakan pintu. Ia masih mengenakan sarung tangan untuk mendorong kursi rodanya.

“Masuk, Mbak. Ibu sedang kompres lutut.”

Maya meletakkan salinan denah di meja.

Bu Endang terdiam lama, lalu menutup wajah dengan kedua tangan.

“Jadi akhirnya sampai juga kepadamu.”

“Ibu tahu siapa yang menaruhnya?”

“Saya.”

Suara itu datang dari pintu. Pak Darma, mantan sekretaris RT yang kini berjalan dengan tongkat, berdiri ditemani cucunya.

“Nomor tadi juga nomor saya,” katanya. “Saya takut kalau datang terang-terangan, kertasnya keburu diambil.”

Maya menarik kursi.

“Kenapa harus sembunyi-sembunyi?”

Pak Darma duduk perlahan.

“Karena sebelas tahun lalu saya juga memilih diam.”

Bu Endang membuka laci dan mengeluarkan foto seorang pria berseragam pengemudi bus.

“Suami saya, Pak Wawan. Setelah sakit, beliau memakai kursi roda. Waktu itu Ardi masih sekolah.”

Jalur samping tersebut dahulu merupakan jalan bersama menuju beberapa rumah belakang. Ketika renovasi rumah Bu Ratna berlangsung, sebagian ujungnya tertutup tembok dapur baru. Sisanya dipakai menyimpan pasir dan bahan bangunan.

Suatu malam, Pak Wawan mengalami sesak berat.

“Kami tidak bisa membawa kursi rodanya lewat,” ujar Bu Endang. “Tetangga membantu mengangkat beliau melalui gang belakang. Mobil menunggu jauh di depan.”

Ia berhenti untuk mengatur napas.

“Beliau meninggal di rumah sakit. Saya tidak tahu apakah sampai lebih cepat akan mengubah hasilnya. Tetapi saya tahu malam itu kami kehilangan waktu karena jalan tertutup.”

Maya memandang foto di tangannya.

Ibunya tidak pernah menceritakan kejadian tersebut.

“Ibumu yang memanggil rapat,” lanjut Pak Darma. “Dia meminta jalurnya dibuka kembali. Bu Ratna menolak membongkar dapurnya. Akhirnya ibumu memberikan sebagian tanah pekarangannya sebagai pengganti akses yang tertutup.”

Maya menatap denah itu lagi. Garis merah ternyata sedikit masuk ke batas halaman rumahnya.

“Jadi jalur itu…”

“Sebagian tanah ibumu,” jawab Bu Endang. “Diberikan untuk dipakai bersama, dengan syarat tidak boleh ditutup lagi.”

“Lalu halaman notulen yang hilang?”

Pak Darma mengeluarkan amplop.

“Saya yang melepasnya ketika pengurus berikutnya ingin membereskan persoalan ini tanpa menyebut bangunan Bu Ratna. Saya bilang halamannya rusak.”

Tangannya gemetar ketika menyerahkan kertas tersebut.

“Saya menyimpannya. Berkali-kali ingin mengembalikan, tetapi selalu takut bertengkar.”

Maya membacanya. Ada catatan keberatan ibunya, ukuran jalur, serta kesepakatan untuk tidak mendirikan bangunan atau meletakkan penghalang di atasnya.

“Kenapa sekarang?” tanyanya.

Pak Darma menunduk.

“Karena saya mendengar rencana pemasangan gudang perlengkapan warga.”

Ardi mengangkat kepala.

“Di mana?”

“Di ujung jalur itu.”

Keesokan paginya, sebelum kendaraan terapi Ardi tiba, Maya melihat dua pria menurunkan rangka besi di depan gang. Bu Ratna berdiri bersama Pak RT.

“Ini cuma tempat menyimpan meja,” katanya ketika Maya mendekat. “Nanti tetap bisa dilewati.”

Maya memandang ruang yang tersisa. Bahkan tubuh orang dewasa harus menyamping untuk melewatinya.

“Tolong hentikan pemasangannya dulu.”

Bu Ratna langsung meninggikan suara.

“Kemarin halaman, sekarang gudang. Semua kamu larang!”

Beberapa warga keluar rumah. Perempuan yang kemarin merekam Maya kembali mengangkat ponsel.

Kali ini Maya tidak menutup pagar.

“Kalau merekam, tolong utuh. Saya ingin bertanya kenapa gudang dibangun di jalur yang sudah disepakati harus terbuka.”

Ia menyerahkan salinan dokumen kepada Pak RT.

Pak RT mengerutkan kening.

“Saya belum pernah melihat berkas ini.”

“Karena satu halamannya saya ambil.”

Pak Darma muncul dari rumah Bu Endang. Wajahnya pucat, tetapi suaranya jelas.

“Saya bersedia menjelaskan kesalahan saya di rapat. Sekarang, rangka itu harus dipindahkan.”

Bu Ratna meraih kertas tersebut, tetapi Pak RT menahannya.

“Sebentar, Bu. Saya baca dulu.”

“Itu urusan lama. Orang-orangnya juga sudah meninggal.”

“Ibu saya meninggal,” kata Maya. “Kesepakatannya tidak ikut dikubur.”

Gang mendadak sunyi.

Saat itulah Ardi keluar. Ia mendorong kursi rodanya sendiri, membawa tas kecil di pangkuan. Di belakangnya, Bu Endang berjalan tertatih.

Ardi berhenti di depan rangka besi.

“Mobil saya sudah datang,” katanya. “Saya lewat mana?”

Seorang pria segera menawarkan bantuan.

“Kami angkat saja, Di.”

“Terima kasih, Pak. Tapi kursi saya bisa lewat setiap hari sebelum rangka ini dipasang.”

Pria itu menatap celah sempit tersebut, lalu meletakkan kembali kardus yang dibawanya.

“Ayo geser dulu,” katanya kepada para pekerja.

Bu Ratna membuka mulut, tetapi tidak seorang pun menunggu perintahnya. Rangka dipindahkan. Ardi melaju perlahan sampai ke jalan depan.

Maya mendampinginya tanpa menyentuh pegangan kursi roda.

Sebelum naik kendaraan, Ardi menoleh.

“Saya mau ikut rapat nanti malam. Jangan diputuskan tanpa saya.”

Rapat berlangsung di teras rumah Pak RT. Dokumen lama dicocokkan dengan arsip keluarga Maya dan keterangan beberapa warga senior. Rencana gudang dibatalkan sambil menunggu pemeriksaan batas dan akses bersama. Untuk acara warga, mereka memilih pelataran musala setelah mendapat izin pengurus.

Perempuan yang merekam Maya menghapus unggahannya, lalu mengirim penjelasan lengkap ke grup warga.

Bu Ratna bertahan paling lama.

“Saya cuma ingin kegiatan kampung tetap berjalan,” ujarnya.

Bu Endang menatapnya.

“Saya juga ingin hidup kami tetap berjalan, Ratna.”

Perempuan itu menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas.

Beberapa hari kemudian, saat membersihkan lemari ibunya, Maya menemukan kuitansi pembangunan jalur di dalam buku resep. Terselip pula secarik surat yang belum pernah dibacanya.

Maya mengenali tulisan ibunya.

Untuk Maya, kalau suatu hari kamu merasa halaman rumah kita terlalu sempit, Ibu minta maaf. Sebagiannya Ibu jadikan jalan supaya orang lain tidak harus meminta diangkat setiap kali ingin keluar.

Di bawahnya ada tambahan pendek.

Yang membayar semen paling banyak waktu itu Ratna. Semoga suatu hari dia ingat mengapa.

Maya membaca kalimat terakhir dua kali.

Sore itu, Bu Ratna datang membawa sapu dan sekantong semen untuk menambal permukaan jalur yang retak.

Ia berdiri kikuk di depan pagar.

“Boleh saya bantu bersihkan?”

Maya membuka pagar secukupnya, memastikan jalan samping tetap lapang.

“Boleh, Bu.”

Dari rumah sebelah, terdengar suara pintu terbuka. Ardi keluar hendak membeli makan, melintas sendiri di antara mereka.

Kali ini, tak seorang pun menyuruhnya menunggu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang