Di balik pohon mangga yang tumbuh di samping rumah, kulihat Bude Nias sedang berbicara dengan seorang laki-laki bertubuh tinggi. Lelaki itu mengenakan jaket hitam dan topi yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya.

Namun, bukan penampilannya yang membuat darahku seolah berhenti mengalir.
Melainkan suara laki-laki itu.
“Aku sudah bilang, jangan datang ke sini lagi!” bisik Bude Nias dengan nada marah.
“Kamu pikir aku mau datang kalau bukan karena uang itu?” jawab lelaki tersebut.
Aku langsung mengenali suaranya.
Itu suara pria yang menyerangku malam sebelumnya.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak berteriak.
“Rere mulai curiga,” lanjut Bude Nias. “Apalagi setelah perempuan kota itu datang.”
Lelaki tersebut tertawa pendek.
“Lili? Sejak dulu perempuan itu memang suka ikut campur.”
Jantungku berdegup semakin kencang.
Bagaimana mungkin pria asing itu mengenal Bu Lili?
Aku mendekat sedikit, bersembunyi di balik tumpukan pot bunga.
“Kalau polisi menemukan rekaman itu, kita semua habis,” kata Bude Nias.
“Rekamannya sudah kuhancurkan.”
“Jangan bodoh! Anak itu membuat salinan!”
Aku menggigit bibir.
Anak itu?
Apakah mereka sedang membicarakan Salia?
Tiba-tiba lelaki tersebut mencengkeram lengan Bude Nias.
“Kamu yang menyuruhku mengambil boneka itu. Sekarang kamu harus bertanggung jawab!”
Bude Nias berusaha melepaskan tangannya.
“Lepaskan! Kamu sudah membunuh dua anak, masih mau menyeretku juga?”
Dunia seakan berhenti berputar.
Dua anak.
Salia dan Anela.
Jadi benar mereka mengetahui siapa pembunuh kedua gadis itu.
Aku mundur perlahan, berniat kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan menghubungi polisi.
Namun, kakiku tanpa sengaja menyenggol sebuah ember plastik.
Brak!
Percakapan mereka langsung terhenti.
“Siapa di situ?” bentak lelaki itu.
Aku berlari.
Belum sempat mencapai pintu dapur, seseorang menarik rambutku dari belakang. Tubuhku terhuyung dan jatuh ke tanah.
“Rere!” seru Bude Nias.
Lelaki itu membalikkan tubuhku.
Ketika cahaya lampu teras menyinari wajahnya, aku merasa seluruh kekuatan di tubuhku lenyap.
“Mas Angga?”
Lelaki itu terdiam.
Wajahnya memang lebih tua. Rambutnya mulai beruban, dan ada bekas luka memanjang di dekat alis kirinya. Namun, aku tidak mungkin salah mengenali mata itu.
Mata lelaki yang pernah kucintai.
Ayah kandung Salia.
“Jadi benar kamu masih hidup,” bisikku.
Angga menatapku tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Seharusnya kamu nggak ikut campur, Re.”
Aku memandangnya dengan air mata mengalir.
“Salia itu anakmu sendiri, Mas!”
Dia tidak menjawab.
“Bagaimana kamu bisa tega?”
Angga justru menarik kerah bajuku.
“Diam kalau masih mau hidup!”
“Sudah, Angga!” Bude Nias berusaha menarik tangannya. “Jangan sakiti Rere!”
Aku menoleh kepada perempuan yang selama ini kuanggap keluarga sendiri.
“Bude tahu semuanya?”
Wajah Bude Nias basah oleh air mata.
“Maafkan Bude, Re.”
Satu kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun.
Ternyata selama ini aku tidur, makan, dan menangis di dekat seseorang yang mengetahui rahasia kematian putriku.
Angga menyeretku masuk melalui pintu belakang. Bude Nias mengikuti dengan wajah ketakutan.
Di dapur, Angga mengambil tali jemuran dan mengikat kedua tanganku pada kaki meja kayu.
Aku mencoba melawan, tetapi tubuhku masih lemah akibat benturan tadi.
“Kamu mau apa?” tanyaku.
Angga berjongkok di hadapanku.
“Di mana boneka kelinci Salia?”
Aku terdiam.
Boneka kelinci berwarna putih itu masih tersimpan di lemari kamar putriku.
“Kenapa kamu mencari boneka itu?”
“Jawab saja!”
Aku menggeleng.
Angga menampar meja hingga gelas bergetar.
Bude Nias segera mendekat.
“Angga, jangan ribut! Tetangga bisa dengar.”
Angga berdiri dan berjalan menuju kamar Salia.
Aku memandang Bude Nias dengan penuh kebencian.
“Kenapa, Bude? Apa salah Salia sampai harus mengalami semua ini?”
Bude Nias terduduk di kursi.
“Awalnya Bude nggak tahu kalau Angga akan menyakiti mereka.”
“Jangan bohong!”
“Bude cuma diminta membantu mengambil sesuatu dari kamar Salia.”
“Apa?”
Bude Nias menunduk.
“Flashdisk.”
Aku terdiam.
Perlahan, Bude Nias menceritakan semuanya.
Beberapa bulan sebelumnya, Angga kembali ke kampung bersama seorang rekan bernama Harun. Mereka menjalankan usaha penyaluran tenaga kerja yang ternyata digunakan untuk menipu calon pekerja dengan menjanjikan pekerjaan bergaji tinggi di luar kota.
Sejumlah korban kehilangan uang tabungan mereka.
Angga mengetahui bahwa Salia dan Anela pernah melihat dokumen transaksi mencurigakan ketika membantu Bu Maryam membersihkan sebuah kios yang disewa Harun.
Kedua anak itu diam-diam merekam percakapan Angga dengan beberapa orang yang membahas pemindahan uang hasil penipuan.
Mereka berniat menyerahkan rekaman tersebut kepada guru mereka.
Namun, Angga mengetahui rencana itu.
“Dia bilang cuma mau menakut-nakuti mereka,” ucap Bude Nias sambil menangis.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dan Bude membiarkannya?”
“Bude punya utang kepada Angga. Dia mengancam akan menyebarkan surat-surat pinjaman Bude.”
“Utang bisa dibayar, Bude! Tapi nyawa anakku nggak bisa dikembalikan!”
Bude Nias menangis semakin keras.
Saat itulah Angga kembali dari kamar Salia sambil membawa boneka kelinci putih.
Dia merobek bagian jahitan di punggung boneka itu menggunakan gunting.
Dari dalam kapas, sebuah kantong plastik kecil terjatuh.
Angga segera mengambilnya.
Namun, wajahnya berubah ketika membuka kantong tersebut.
Kosong.
“Mana barangnya?” bentaknya.
Aku sendiri terkejut.
Aku tidak pernah mengetahui adanya kantong tersembunyi dalam boneka Salia.
Angga mencengkeram bahuku.
“Kamu sudah memindahkannya, ya?”
“Aku bahkan nggak tahu apa yang kamu cari!”
Dia menatapku beberapa saat, lalu melempar boneka itu ke lantai.
“Kalau begitu, siapa yang mengambilnya?”
Tiba-tiba ponsel Angga berdering.
Dia menjawab dengan suara kasar.
“Apa?”
Aku tidak mendengar jelas ucapan orang di seberang, tetapi wajah Angga mendadak pucat.
“Nggak mungkin! Aku sudah membereskan semuanya!”
Dia memutus sambungan dan menoleh kepada Bude Nias.
“Kita harus pergi sekarang.”
Bude Nias berdiri dengan panik.
“Kenapa?”
“Harun ditangkap polisi!”
Aku mengangkat kepala.
Angga meraih tasnya, tetapi sebelum sempat melangkah, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Kemudian seseorang mengetuk pintu dengan keras.
“Bu Rere! Ini dari kepolisian!”
Angga langsung membeku.
Dia menatapku penuh curiga.
“Kamu menghubungi mereka?”
Aku menggeleng.
Belum sempat dia bergerak, suara Pak Anas terdengar dari luar.
“Rere! Kalau kamu dengar, jawab!”
Aku mencoba berteriak, tetapi Angga langsung membekap mulutku.
Bude Nias justru berlari menuju pintu depan.
“Pak Polisi! Di sini!”
Angga mengumpat dan berusaha melarikan diri melalui halaman belakang.
Namun, dua petugas sudah menunggu di luar.
Dalam beberapa detik, dia berhasil diamankan.
Aku menangis ketika seorang polisi melepaskan ikatan di tanganku.
Pak Anas dan Bu Lili masuk tidak lama kemudian.
Bu Lili langsung memelukku.
“Syukurlah kamu selamat, Re.”
Aku masih gemetar.
“Bagaimana Ibu tahu?”
Bu Lili menarik napas panjang.
“Salia pernah menghubungi saya sebelum menghilang.”
Aku menatapnya dengan bingung.
“Kenapa Salia menghubungi Ibu?”
“Karena dia tahu saya pernah bekerja di lembaga bantuan hukum. Dia takut melapor langsung setelah mengetahui salah satu pelakunya adalah ayah kandungnya.”
Air mataku kembali mengalir.
Bu Lili menjelaskan bahwa Salia pernah mengirimkan beberapa berkas dan rekaman kepada alamat surel khusus yang diberikannya.
Namun, pesan terakhir Salia baru ditemukan ketika Bu Lili memeriksa folder surat sampah pada malam setelah mendengar kabar kematian putriku.
Dalam pesan tersebut, Salia menuliskan nama Angga dan Harun.
Dia juga mengungkapkan bahwa Bude Nias pernah mengambil ponselnya secara diam-diam.
“Kenapa Ibu nggak bilang tadi siang?” tanyaku.
“Karena saya sudah menyerahkan semuanya kepada penyidik. Polisi meminta agar informasi itu tidak disebarkan dulu. Saya khawatir pelakunya melarikan diri.”
“Jadi tadi Ibu memperingatkan saya…”
Bu Lili mengangguk.
“Saya curiga ada orang dekatmu yang terlibat, tetapi saat itu belum ada cukup bukti.”
Aku menutup wajah.
Putriku ternyata sudah berusaha meminta pertolongan.
Tetapi dia tidak pernah sempat pulang untuk menceritakan semuanya kepadaku.
Keesokan paginya, polisi kembali memeriksa kamar Salia.
Boneka kelinci yang telah dirusak Angga juga dibawa sebagai barang bukti.
Aku diminta menjelaskan kejadian malam sebelumnya dan semua yang kuketahui tentang kematian putriku.
Dari hasil penyelidikan, akhirnya terungkap bahwa Angga dan Harun adalah orang terakhir yang diketahui menemui Salia dan Anela.
Kedua anak itu sebelumnya berusaha mengumpulkan bukti tentang penipuan yang mereka temukan.
Namun, setelah mengetahui rencana tersebut, Angga membawa mereka ke sebuah bangunan kosong dengan alasan ingin menyelesaikan persoalan secara baik-baik.
Di sanalah keduanya kehilangan nyawa.
Angga kemudian berusaha menghilangkan bukti dan memindahkan jenazah mereka agar penyelidikan mengarah ke tempat lain.
Mengenai jenazah yang lebih dahulu kumakamkan, hasil pemeriksaan forensik dan identifikasi DNA akhirnya memberikan jawaban.
Jenazah itu ternyata milik Anela.
Sementara jenazah yang sebelumnya dianggap sebagai Anela dan ditemukan lebih awal adalah seorang korban lain dari jaringan penipuan Harun. Identitas perempuan tersebut baru diketahui setelah polisi mencocokkan laporan orang hilang dan data DNA keluarganya.
Rupanya para pelaku sengaja mencampur barang-barang pribadi korban untuk mengaburkan identitas mereka.
Aku tidak sanggup membayangkan betapa rumit dan kejamnya rencana itu.
Namun, masih ada satu hal yang belum terjawab.
Siapa yang mengambil flashdisk dari boneka Salia?
Pertanyaan itu akhirnya terjawab tiga hari kemudian.
Bu Maryam datang ke rumahku membawa sebuah amplop putih.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Rere, ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Dia mengeluarkan flashdisk kecil berwarna merah muda.
Aku langsung teringat kantong plastik kosong dalam boneka kelinci.
“Dari mana Ibu mendapatkannya?”
Bu Maryam menangis.
“Anela menitipkannya kepadaku beberapa hari sebelum menghilang. Katanya, kalau terjadi sesuatu pada dia atau Salia, aku harus memberikannya kepada orang yang benar-benar bisa dipercaya.”
Aku menggenggam flashdisk itu.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena aku ketakutan, Re. Setelah Anela ditemukan meninggal, ada orang yang menelepon dan mengancam akan menyakiti keluargaku kalau aku bicara.”
Aku tidak sanggup memarahinya.
Aku tahu rasa takut bisa membuat seseorang kehilangan keberanian.
Namun, aku juga tahu bahwa keberanian yang terlambat tetap bisa menyelamatkan orang lain.
Kami menyerahkan flashdisk itu kepada polisi.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen transaksi, rekaman pembicaraan, serta sebuah video pendek yang dibuat oleh Salia dan Anela.
Dalam video tersebut, kedua gadis itu duduk berdampingan di kamar Salia.
Wajah mereka masih ceria meskipun terlihat sedikit gugup.
Anela berbicara lebih dulu.
“Kalau ada yang menonton video ini, berarti kami mungkin belum berhasil menyerahkan bukti kepada guru.”
Kemudian Salia mendekat ke kamera.
Aku langsung menangis ketika mendengar suaranya.
“Mama, kalau Mama melihat ini, jangan marah, ya. Salia cuma ingin menolong orang-orang yang uangnya diambil.”
Dia tersenyum kecil.
“Salia tahu Mama selalu bilang kita nggak boleh diam kalau melihat orang lain diperlakukan nggak adil.”
Aku menutup mulut, berusaha menahan isak.
Putriku melanjutkan.
“Salia takut, Ma. Tapi Salia lebih takut kalau ada orang lain yang jadi korban.”
Video itu berakhir ketika Anela mengajak Salia segera menyimpan rekaman mereka.
Aku memutarnya berkali-kali.
Setiap kali melihat senyum Salia, dadaku terasa hancur.
Namun, untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku juga merasakan kebanggaan yang begitu besar.
Putriku bukan sekadar korban dari kejahatan yang mengerikan.
Dia adalah anak pemberani yang berusaha melakukan sesuatu yang benar.
Beberapa bulan kemudian, Angga dan Harun menjalani proses persidangan atas dakwaan pembunuhan dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan jaringan penipuan mereka.
Bude Nias juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena terbukti membantu menyembunyikan informasi penting dan memfasilitasi upaya pengambilan barang bukti.
Aku hadir dalam beberapa persidangan.
Setiap kali melihat Angga duduk di kursi terdakwa, aku teringat masa ketika lelaki itu pernah berjanji akan menjagaku dan anak kami.
Namun, janji tersebut ternyata tidak pernah berarti apa pun baginya.
Suatu hari, setelah persidangan selesai, Angga memanggilku ketika petugas hendak membawanya keluar.
“Rere!”
Aku berhenti.
Dia menatapku dengan mata merah.
“Aku menyesal.”
Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
“Salia anakku juga.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuhku bergetar karena marah.
“Jangan pernah menggunakan kata anak untuk mencari belas kasihan, Mas.”
Angga menunduk.
“Kalau kamu benar-benar menganggap Salia anakmu, seharusnya kamu melindunginya. Bukan menjadi orang yang paling dia takuti.”
Aku berbalik dan berjalan pergi.
Tidak ada lagi yang ingin kukatakan kepadanya.
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, jenazah Salia akhirnya dimakamkan di tempat yang layak.
Aku memilih sebidang tanah tidak jauh dari makam almarhumah ibuku.
Hari pemakaman itu, Bu Maryam datang membawa bunga melati. Kami berdiri berdampingan di depan pusara kedua anak kami yang letaknya berdekatan.
“Anela pasti senang bisa tetap dekat dengan Salia,” katanya lirih.
Aku mengangguk.
“Mereka selalu ingin melakukan semuanya bersama.”
Kami menangis dalam diam.
Beberapa minggu setelah pemakaman, aku mulai membereskan kamar Salia.
Aku mencuci seprai, menyimpan buku pelajaran, dan merapikan pakaian yang masih tergantung di lemari.
Ketika membuka laci paling bawah, aku menemukan sebuah kotak kecil berwarna biru.
Di atasnya tertulis namaku.
Untuk Mama tersayang.
Tanganku gemetar ketika membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat gelang manik-manik sederhana dan selembar surat.
Aku duduk di tepi tempat tidur, lalu mulai membaca.
Mama, Salia tahu Mama sering capek bekerja. Kadang Salia pura-pura tidur supaya Mama nggak perlu menemani Salia belajar kalau sudah malam.
Air mataku langsung menetes.
Salia ingin cepat besar supaya bisa bekerja dan membelikan Mama rumah yang bagus. Rumah yang atapnya nggak bocor kalau hujan.
Aku tersenyum di tengah tangis.
Terima kasih karena Mama selalu bilang Salia anak yang berani. Kalau suatu hari Salia takut, Salia akan ingat kata-kata Mama.
Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat yang membuat dadaku terasa sesak.
Kalau Mama sedih, peluk saja boneka kelinci Salia. Anggap Salia sedang memeluk Mama dari jauh.
Aku langsung meraih boneka yang sudah diperbaiki jahitannya itu.
Kupeluk erat-erat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis tanpa merasa harus menyembunyikan kesedihanku.
Aku menangis karena kehilangan.
Aku menangis karena rindu.
Dan aku menangis karena akhirnya menyadari bahwa selama hidupnya, Salia telah tumbuh menjadi anak yang jauh lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.
Setahun kemudian, aku menggunakan sebagian tabunganku untuk mendirikan sebuah ruang belajar kecil di rumah.
Setiap sore, anak-anak dari keluarga kurang mampu datang untuk membaca, mengerjakan tugas sekolah, dan belajar bersama.
Aku menamainya Rumah Belajar Salia dan Anela.
Bu Maryam ikut membantu mengajar, sementara Bu Lili sesekali datang memberikan penyuluhan sederhana tentang keselamatan anak dan cara meminta bantuan ketika menghadapi ancaman.
Di dinding ruang belajar, kupasang foto Salia dan Anela yang sedang tersenyum bersama.
Setiap kali melihat foto itu, rasa sakit di dadaku memang tidak pernah sepenuhnya hilang.
Namun, aku mulai memahami bahwa kehilangan tidak selalu harus membuat seseorang berhenti menjalani hidup.
Kadang, dari kesedihan yang paling dalam, seseorang justru menemukan alasan baru untuk terus melangkah.
Suatu sore, seorang anak perempuan kecil menghampiriku setelah kegiatan belajar selesai.
“Bu Rere, itu foto siapa?” tanyanya sambil menunjuk dinding.
Aku tersenyum.
“Itu Salia dan Anela.”
“Mereka kakak yang baik, ya, Bu?”
Aku mengangguk.
“Iya, Sayang. Mereka anak-anak yang sangat baik.”
Anak perempuan itu kemudian bertanya dengan polos.
“Sekarang mereka di mana?”
Aku memandang foto putriku.
Senyumnya masih sama seperti yang selalu kuingat.
“Mereka sudah pulang kepada Allah.”
Anak itu terdiam sesaat, lalu menggenggam tanganku.
“Kalau begitu, semoga mereka bahagia di sana, ya, Bu.”
Aku berjongkok dan memeluknya.
“Amin.”
Ketika anak-anak sudah pulang, aku berdiri sendirian di depan foto Salia.
Cahaya matahari sore masuk melalui jendela, menyinari wajahnya yang tersenyum.
Aku menyentuh bingkai foto itu perlahan.
“Salia, Mama sudah menepati janji.”
Air mataku mengalir, tetapi kali ini aku mampu tersenyum.
“Orang yang menyakitimu sudah diproses hukum. Dan sekarang, Mama akan berusaha menjaga anak-anak lain supaya tidak mengalami apa yang kamu alami.”
Aku menarik napas panjang.
“Terima kasih sudah menjadi anak Mama.”
Kemudian aku mematikan lampu ruang belajar dan menutup pintunya.
Di luar, langit mulai berubah jingga.
Untuk pertama kalinya sejak tragedi itu, aku mampu berjalan pulang tanpa terus menoleh ke belakang.
Aku tahu Salia tidak akan pernah kembali.
Namun, keberaniannya akan terus hidup melalui setiap anak yang belajar untuk berkata jujur, meminta pertolongan, dan melawan ketidakadilan.
Dan selama aku masih bernapas, nama putriku tidak akan pernah kulupakan.
