Saat bapak mertuaku sakit, beliau membuat surat wasiat. Namun, setelah beliau

“Memangnya kamu rela, Mas, kalau seluruh warisan Bapak justru dinikmati selingkuhan Ibu?”

Yosep menoleh tajam. “Jaga mulutmu. Mas Haris itu teman lama keluarga.”

“Kalau begitu, tanyakan kenapa dia meminta Ibu menyerahkan sertifikat rumah tiga hari sebelum Bapak meninggal.”

“Dari mana kamu tahu?”

Niken tidak langsung menjawab. Lampu lalu lintas berubah merah. Ia menginjak rem, lalu menatap suaminya.

“Karena malam itu Bapak menyuruhku mengambil obat di kamar. Aku mendengar percakapan mereka.”

Yosep membuka mulut, tetapi ponselnya kembali berdering. Nama Irwan muncul di layar.

“Cepat ke IGD. Bawa Niken sekalian,” katanya tanpa salam. “Haris juga sudah datang.”

Niken merasakan tengkuknya dingin.

Di rumah sakit, Irwan langsung menghadang mereka.

“Puas kamu sekarang?” bentaknya kepada Niken. “Ibu sampai begini gara-gara ulahmu!”

Beberapa orang menoleh. Lala menangis di bangku tunggu, sementara Haris berdiri di sampingnya dengan kemeja rapi dan wajah muram.

Niken memilih mendekati perawat.

“Bagaimana kondisi Ibu Helen?”

“Sedang ditangani dokter. Mohon keluarga menunggu.”

Haris maju selangkah.

“Untuk biaya perawatan, sebaiknya urusan warisan segera diselesaikan. Kalau Niken menyerahkan pengelolaannya kepada keluarga, semuanya lebih mudah.”

Kalimat itu membuat Yosep mengangkat kepala.

“Ibu masih di dalam,” katanya. “Kenapa Om membicarakan warisan?”

“Saya cuma memikirkan kebutuhan kalian.”

Niken menatap Haris. “Biaya awal sudah saya bayar lewat kasir. Selanjutnya kita tunggu penjelasan dokter.”

Untuk sesaat, senyum tipis lelaki itu menghilang.

Dokter keluar beberapa menit kemudian. Helen mengalami stroke dan harus menjalani perawatan lanjutan. Ketika Irwan kembali menyebut pertengkaran sebagai penyebabnya, dokter menjelaskan bahwa kondisi itu perlu dinilai dari pemeriksaan dan riwayat kesehatan, bukan disimpulkan dari satu kejadian.

Niken melihat Yosep menunduk. Namun, tak ada permintaan maaf yang keluar dari mulutnya.

Saat diizinkan masuk bergantian, Niken berdiri paling belakang. Helen terbaring dengan sebelah wajah melemah. Matanya bergerak gelisah ketika melihat Haris mendekati ranjang.

“Tenang, Helen. Biar saya urus semuanya,” katanya.

Helen justru mencengkeram seprai.

Niken memperhatikan gerakan kecil itu.

“Ibu ingin Haris keluar?”

Mata Helen berkedip cepat. Tangannya yang masih bisa bergerak terangkat sedikit, menunjuk pintu.

Haris tertawa pendek. “Dia masih bingung.”

“Kita beri Ibu waktu istirahat,” kata Yosep, kali ini berdiri di antara Haris dan ranjang.

Setelah ruangan lebih sepi, Helen meraih pergelangan tangan Niken. Bibirnya bergerak susah payah.

“La… ci…”

Niken mendekat.

“La… ci… ba… wah.”

“Laci bawah di kamar Ibu?”

Helen berkedip sekali. Air mata mengalir ke pelipisnya.

Malam itu, setelah memastikan ada keluarga yang menunggu, Niken pulang mengambil pakaian Helen. Yosep ikut tanpa banyak bicara.

Di laci terbawah lemari, mereka menemukan amplop cokelat berisi bukti transfer, salinan sertifikat, dan beberapa lembar perjanjian.

Yosep membaca salah satunya. Wajahnya berubah.

Ada tanda tangan Helen sebagai penjamin utang usaha Haris. Rumah keluarga dicantumkan sebagai aset yang dijanjikan untuk melunasi utang, meskipun kepemilikannya masih atas nama almarhum ayah mereka.

“Ini hampir dua miliar,” bisik Yosep.

Niken menemukan ponsel lama Helen di bawah amplop. Setelah diisi daya, layar menyala. Pesan-pesan Haris masih tersimpan di sana.

Janji menikahi Helen setelah urusan harta selesai. Permintaan uang yang terus meningkat. Lalu ancaman menyebarkan foto dan percakapan pribadi jika Helen menolak membantu mengambil sertifikat.

Yosep duduk di tepi ranjang.

“Bapak tahu?”

“Tahu sebagian,” jawab Niken. “Beliau pernah meminta Ibu berhenti menemui Haris. Setelah itu mereka hampir tidak bicara.”

“Kenapa kamu diam?”

“Aku pernah mencoba bicara kepadamu. Kamu bilang aku menantu yang terlalu ingin mencampuri urusan keluarga.”

Yosep menatapnya, lalu perlahan menunduk.

Keesokan paginya, Niken menemui pengacara bernama Ratna atas rekomendasi Pak Burhan. Ia membawa dokumen yang ditemukan bersama Yosep, sekaligus map hijau yang sejak kemarin dijaganya.

Ratna membaca semuanya dengan teliti.

“Kita pisahkan persoalannya,” katanya. “Dugaan ancaman Haris perlu dilaporkan dengan bukti. Adapun warisan harus diperiksa berdasarkan dokumen kepemilikan dan ketentuan yang berlaku. Jangan menandatangani apa pun karena desakan keluarga.”

Siang harinya, Pak Burhan mengundang seluruh keluarga ke kantornya. Haris datang bersama Irwan, membawa sebuah surat kuasa yang meminta tanda tangan Niken.

“Selesaikan hari ini,” kata Irwan. “Jangan membuat Ibu tambah susah.”

Ratna menggeser surat itu kembali.

“Bu Niken tidak akan menandatanganinya.”

Haris menegang saat melihat amplop cokelat di meja.

Pak Burhan kemudian membuka berkas lain.

“Almarhum meminta saya menjelaskan ini bila keluarganya mempermasalahkan keputusan beliau.”

Di dalamnya terdapat catatan pengeluaran selama hampir dua tahun. Pembelian obat, pembayaran perawat, biaya kendaraan untuk kontrol, semuanya disertai kuitansi.

Irwan mengernyit. “Lalu?”

“Sebagian besar dibayar Ibu Niken.”

Lala menggeleng. “Bapak punya uang.”

“Rekening operasional beliau saat itu sedang bermasalah,” ujar Pak Burhan. “Ada penarikan yang harus ditelusuri. Untuk menjaga pengobatan tetap berjalan, Bu Niken memakai uangnya sendiri.”

Yosep menatap istrinya.

“Uang penjualan rumah orang tuamu?”

Niken mengangguk kecil.

Rumah yang selama ini dikira Yosep dijual untuk membiayai gaya hidup Niken ternyata habis perlahan untuk merawat ayahnya.

Pak Burhan memutar rekaman video.

Almarhum duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya kurus, tetapi suaranya jelas.

“Niken tidak pernah meminta rumah atau ruko. Waktu saya menyuruhnya mencatat semua uang yang keluar, dia malah berkata saya harus fokus sembuh.”

Niken menutup mulutnya.

“Dia juga yang menemukan pengelola kebun mengambil hasil panen tanpa laporan. Dia mencari akuntan, membereskan upah pekerja, lalu mengembalikan laporan itu kepada saya. Tak satu rupiah pun dia minta.”

“Kebun?” Irwan menyela.

Pak Burhan menghentikan rekaman.

“Kebun sawit dua puluh lima hektare itu telah dialihkan melalui dokumen tersendiri semasa beliau hidup. Keabsahan dan kewajiban terkaitnya sedang diperiksa bersama Bu Ratna. Bukan sesuatu yang bisa dibagikan dengan menekan Niken.”

Haris mendadak berdiri.

“Saya tidak perlu mendengar urusan keluarga kalian.”

“Tunggu,” kata Yosep.

Ia meletakkan salinan pesan ancaman di meja.

“Sekarang kita bicarakan uang Ibu.”

Wajah Haris kehilangan warna.

Beberapa minggu kemudian, laporan terhadap Haris mulai diproses. Helen menjalani rehabilitasi, sementara perselisihan harta ditangani melalui pengacara. Niken menolak semua pertemuan yang hanya berisi bentakan dan tuntutan.

Yosep akhirnya meminta maaf.

“Beri aku kesempatan memperbaikinya.”

Niken menyerahkan kunci rumah keluarga kepadanya.

“Urus Ibu dulu. Soal kita, aku butuh waktu.”

Sore itu, Pak Burhan menyerahkan surat terakhir dari almarhum.

Di bagian bawah, ada kalimat yang membuat Niken menangis lebih lama daripada saat pembacaan wasiat.

“Rumah dan kebun itu sudah Bapak pikirkan masak-masak. Tetapi keputusan tentang hidupmu tetap milikmu sendiri. Jangan merasa harus bertahan dalam pernikahan hanya demi menjaga amanah Bapak.”

Untuk pertama kalinya, peninggalan itu terasa bukan seperti beban.

Niken melipat surat tersebut, mengambil kunci mobilnya, lalu pulang ke tempat yang ia pilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang