
Telepon itu bergetar begitu keras di tangan Mutia sampai ia nyaris menjatuhkannya. Ia bergegas ke teras belakang sebelum mengangkat panggilan.
“Foto itu ada di rumah tempat Mbak bekerja?” Suara Aksara terdengar tertahan.
“Iya.”
“Perempuan di sebelah Papa itu siapa?”
“Bu Larasati. Pemilik rumah ini.”
Hening sejenak.
“Mbak yakin mereka menikah?”
“Saya tidak hadir waktu akadnya. Tapi di sini Pak Andi memperkenalkannya sebagai istri.”
Aksara mengembuskan napas panjang.
“Tolong jangan kirim apa pun lagi malam ini. Jangan sampai Mbak ketahuan.”
Mutia justru merasa tenggorokannya tercekat. Sejak tadi ia membayangkan imbalan, kemarahan Mawar, dan wajah Laras ketika rahasianya terbongkar. Ia tidak membayangkan suara seorang anak yang sedang menahan tangis.
“Pak Aksa, saya sebenarnya punya alasan sendiri.”
“Soal apa?”
Mutia memandang pintu kamar yang tertutup.
“Saya curiga suami saya punya hubungan dengan Bu Laras.”
Kata-kata itu akhirnya keluar. Selama dua minggu, ia menyimpannya sendirian bersama suara pintu yang dibuka menjelang subuh dan rambut Damar yang selalu basah sebelum azan.
“Curiga atau sudah tahu?” tanya Aksara pelan.
“Saya belum tahu.”
“Kalau begitu, jangan lakukan sesuatu yang membahayakan diri Mbak hanya untuk membuktikannya.”
Setelah panggilan berakhir, Mutia tetap duduk di dekat mesin cuci. Untuk pertama kalinya, ia berharap kecurigaannya salah.
Menjelang pukul empat, kasur bergerak.
Mutia memejamkan mata ketika Damar bangun. Ia mendengar suaminya mengambil handuk, lalu membuka pintu dengan sangat hati-hati.
Beberapa menit kemudian, Mutia menyusul.
Cahaya menyelinap dari ruang kerja Laras. Pintunya tidak rapat.
“Sudah kubilang, jangan kirim pesan kalau istrimu ada di dekatmu,” bisik Laras.
“Dia mulai curiga. Kemarin ngomongnya aneh.”
“Ya sudah, lebih perhatian sedikit.”
Mutia meremas ujung dasternya.
“Uang yang Ibu janjikan kapan?” tanya Damar.
“Nanti setelah Andi mentransfer. Kemarin kamu juga sudah kuberi.”
“Itu habis buat cicilan motor.”
Laras mendengus.
“Makanya jangan banyak gaya. Kalau Mutia sampai tahu, kamu sendiri yang urus.”
Mutia mundur. Tumitnya menyenggol ember.
Percakapan di dalam terhenti.
Ia berlari kecil ke dapur, membuka keran, lalu mengambil gelas. Ketika Damar muncul, tangannya begitu gemetar sampai air tumpah ke lantai.
“Kamu bangun, Mut?”
“Haus.”
Damar mengusap tengkuknya.
“Aku disuruh Bu Laras memeriksa jendela. Katanya ada bunyi.”
Mutia menatap handuk di bahunya.
“Terus mau keramas?”
Damar tertawa pendek.
“Sekalian. Gerah.”
Dulu, jawaban seperti itu selalu cukup. Pagi itu, Mutia baru menyadari betapa mudahnya seseorang berbohong ketika orang yang mendengarkan ingin percaya.
Setelah Damar masuk kamar mandi, ia mengirim pesan kepada Aksara.
Saya mau pergi dari sini. Saya sudah dengar sendiri.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Amankan dokumen dan barang pribadi Mbak. Saya datang siang bersama Mama. Kalau Mbak merasa terancam, keluar dulu.
Mutia membuka lemari kecil mereka. Ia memasukkan KTP, buku nikah, pakaian, serta amplop tabungan ke dalam tas.
Amplop itu kosong.
Ia membongkar lipatan baju, memeriksa laci, lalu duduk di lantai. Tujuh juta rupiah hasil menyisihkan gaji selama hampir setahun lenyap.
Ketika Damar kembali, Mutia mengangkat amplop itu.
“Uangku ke mana?”
Wajah Damar berubah.
“Dipakai dulu.”
“Untuk apa?”
“Bayar cicilan. Nanti kuganti.”
“Tadi kamu bilang uang Bu Laras juga untuk cicilan.”
Damar membeku.
Mutia berdiri perlahan.
“Kamu dengar?”
“Cukup jelas.”
Damar meraih lengannya, tetapi Mutia segera menarik diri.
“Jangan pegang aku.”
“Mut, dengarkan dulu. Aku khilaf.”
“Berapa kali?”
Damar menunduk.
Pertanyaan itu tidak pernah dijawab.
Menjelang siang, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Mutia sudah menunggu di teras dengan tas di samping kaki.
Aksara turun bersama seorang perempuan berkerudung krem. Mutia mengenalinya dari foto, tetapi Mawar tampak jauh lebih lelah daripada perempuan yang tersenyum di layar ponselnya.
“Laras ada?” tanyanya.
Belum sempat Mutia menjawab, Laras muncul dari ruang tengah.
Senyumnya menghilang.
“Mbak Mawar?”
Mutia menoleh. Mereka saling mengenal.
Mawar mengamati ruang tamu, lalu berhenti di depan foto pernikahan.
“Jadi ini alasanmu berhenti bekerja di kantor kami.”
Laras menyilangkan tangan.
“Kalau mau bicara, tunggu Mas Andi.”
“Sudah saya telepon. Dia sedang menuju ke sini.”
Aksara berdiri di dekat pintu. Tatapannya jatuh pada Damar yang baru keluar dari belakang rumah.
“Dia siapa?”
“Suami saya,” jawab Mutia.
Laras mendadak berkata, “Pembantu ini memang bermasalah. Dia menyebarkan fitnah karena saya tegur.”
Mutia membuka mulut, tetapi Mawar lebih dahulu menoleh kepadanya.
“Saya mau mendengar langsung. Apa yang kamu ketahui?”
Mutia menceritakan semuanya. Tidak ia tambahkan dugaan sebagai kepastian. Ia hanya mengulang percakapan yang didengarnya menjelang subuh.
“Itu bohong!” Laras membentak.
Damar justru berkata, “Bu, jangan begini. Ibu juga bilang Pak Andi jarang pulang.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Laras menatap Damar dengan wajah pucat.
Saat itulah Andi masuk.
Ia mendengar kalimat terakhir Damar. Pandangannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain, lalu berhenti pada Mawar.
“Mawar, aku bisa jelaskan.”
Mawar tertawa kecil, tanpa kegembiraan.
“Kalian rupanya punya kalimat yang sama.”
Andi berbalik kepada Laras.
“Apa maksudnya jarang pulang?”
Laras menangis. Damar mundur mendekati Mutia, seolah tempatnya masih di sisi perempuan yang baru saja dikhianatinya.
Mutia mengangkat tas.
“Aku pergi.”
“Mut, jangan bikin malu di depan orang.”
Ia menatap suaminya lama.
“Kamu masih sempat memikirkan malu?”
Mawar mengambil ponsel dari tasnya.
“Berapa gaji Mutia yang belum dibayar?” tanyanya kepada Laras.
“Itu urusan saya.”
“Betul. Selesaikan sekarang.”
Di hadapan Andi, Laras akhirnya mentransfer gaji terakhir Mutia. Aksara mengantarnya keluar, sementara pertengkaran mulai pecah di ruang tamu.
Di dekat mobil, Aksara bertanya, “Mbak punya tempat tujuan?”
“Rumah kakak saya. Di Depok.”
“Saya antar.”
Mutia menggeleng.
“Saya bisa naik kereta. Tapi terima kasih.”
Aksara kemudian mentransfer uang sesuai imbalan yang dijanjikannya. Mutia menatap layar beberapa saat, lalu mengembalikannya.
“Saya sempat berharap dibayar untuk membongkar keluarga Bapak,” katanya. “Sekarang rasanya tidak benar.”
“Keluarga kami sudah retak sebelum Mbak mengirim foto itu.”
Mutia tidak menjawab.
Tiga bulan kemudian, ia bekerja di sebuah katering dekat rumah kakaknya. Permohonan cerainya sedang berjalan. Damar beberapa kali meminta kembali, mula-mula dengan tangisan, kemudian dengan kemarahan ketika Mutia tetap menolak.
Suatu sore, sebuah pesanan masuk atas nama Mawar.
Ketika Mutia mengantarkannya, perempuan itu menyambutnya di rumah yang lebih kecil, tanpa foto Andi di dinding.
“Kamu kelihatan lebih sehat,” katanya.
Mutia tersenyum. “Ibu juga.”
Mawar membuka kotak makanan, lalu bertanya, “Masih sering teringat?”
“Masih. Terutama kalau dengar suara keran sebelum subuh.”
Mawar mengangguk, tidak menyuruhnya segera melupakan.
Malam itu, sepulang bekerja, Mutia keramas. Air hangat mengalir melewati tengkuknya. Untuk pertama kalinya, suara air tidak membuatnya ingin mengintip ke balik pintu.
Di luar kamar mandi, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Damar.
Aku kangen rumah.
Mutia membacanya sekali, lalu meletakkan ponsel.
Dahulu ia akan menjawab dengan bertanya kapan suaminya pulang.
Sekarang ia tahu, rumah yang dirindukan Damar bukan sebuah tempat. Rumah itu adalah perempuan yang selalu memaafkan sebelum sempat mendengar penjelasan.
Dan perempuan itu sudah pergi.
