Tunanganku Menikahi Saudari Tiriku Tepat pada Hari Pernikahan Kami—Ketika Ayah

Namaku tercetak di bawah kalimat yang membuat tanganku dingin.

Aku diminta menyetujui perpanjangan kuasa pengelolaan aset kepada Ayah selama sepuluh tahun, termasuk kewenangan menjaminkan properti tertentu untuk pembiayaan usaha.

Di halaman berikutnya ada daftar aset.

Rumah Ibu. Dua ruko. Dan bangunan yang digunakan sebagai klinik Arga.

“Pak Adrian,” panggilku.

Mobil baru memasuki jalan utama. Ia membaca lampiran di ponselku, lalu meminta sopir berhenti di tempat yang aman.

“Jangan membalas surelnya dulu.”

“Apa mereka bisa menjalankannya tanpa tanda tanganku?”

“Kita periksa dokumen yang berlaku. Draf ini sendiri belum berarti kamu menyetujui apa pun.”

Aku mengangguk, tetapi mataku tertahan pada satu keterangan di bagian bawah.

Dokumen akan disampaikan setelah resepsi, bersamaan dengan administrasi keluarga.

Mereka tidak sekadar berharap aku mengalah. Mereka menyiapkan pulpen.

Malam itu aku menginap di apartemen sahabatku, Naya. Ketika pintu tertutup, barulah seluruh tubuhku gemetar.

Naya tidak bertanya macam-macam. Ia membantuku melepas tusuk konde, mengambilkan pakaian, lalu duduk di lantai bersamaku.

“Aku sudah memilih lagu untuk dansa pertama,” kataku.

Tangisku pecah sebelum kalimat berikutnya selesai.

Keesokan paginya, Ayah menelepon tujuh belas kali.

Aku menjawab panggilan kedelapan belas.

“Pulang. Ada berkas yang harus dibereskan.”

“Berkas apa?”

“Urusan peninggalan ibumu. Jangan dibuat sulit.”

“Aku akan membacanya bersama Pak Adrian.”

Di seberang sana, suara Ayah berubah keras.

“Sejak kapan kamu lebih percaya orang luar daripada ayahmu sendiri?”

Aku menatap bekas cincin di jariku.

“Sejak Ayah tahu aku akan datang ke pernikahan yang pengantinnya sudah diganti.”

Ayah terdiam, lalu menutup telepon.

Pemeriksaan dokumen berlangsung beberapa hari. Tidak semua yang kutakutkan terbukti, tetapi yang ditemukan sudah cukup membuatku sulit tidur.

Sebagian pendapatan sewa memang masuk ke rekening pengelolaan. Namun, ada pengeluaran pribadi yang dicatat sebagai biaya properti. Ada pula tunggakan sewa klinik Arga yang selama ini tidak pernah diberitahukan kepadaku.

Bantuan yang kuberikan untuk menyelamatkan kliniknya ternyata bukan bantuan terakhir.

“Ayahmu beberapa kali menyetujui penundaan pembayaran,” jelas Pak Adrian. “Kita perlu meminta pertanggungjawaban dan dasar persetujuannya.”

Aku mengingat Arga yang mengeluh tidak mampu membayar cicilan peralatan, lalu memintaku menalangi biaya pernikahan.

Pada minggu yang sama, ia membelikan Melati gelang.

Aku tahu karena Melati pernah memamerkannya kepadaku.

Katanya hadiah dari teman.

Hari kelima, aku kembali ke rumah bersama Naya dan pendamping dari kantor Pak Adrian untuk mengambil barang.

Melati sudah memindahkan meja riasku ke lorong.

“Kupikir Kakak tidak membutuhkannya lagi,” katanya.

Aku melewatinya dan masuk kamar.

Foto Ibu yang biasanya berada di meja sudah tidak ada.

“Di mana foto ibuku?”

Bu Ratih muncul dari arah ruang kerja.

“Disimpan. Melati tidak nyaman tidur dengan foto orang meninggal.”

Aku menatapnya sampai ia membuang muka. Seorang asisten rumah tangga akhirnya mengambil foto itu dari lemari bawah tangga.

Bingkainya retak di sudut.

Aku memeluknya, lalu menyerahkan daftar barang kepada Naya agar ia membantu memeriksa.

Ayah menungguku di ruang makan.

“Kita masih bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Aku duduk.

Dia menggeser map ke arahku.

Draf yang sama.

“Perusahaan sedang membutuhkan kepastian,” katanya. “Kalau pengelolaan terputus, pegawai bisa terkena dampaknya.”

“Aku tidak meminta perusahaan ditutup. Aku meminta pembukuan yang bisa diperiksa.”

“Kamu belum memahami bisnis.”

“Kalau begitu, berikan laporannya agar aku bisa belajar.”

Wajahnya mengeras.

Arga masuk beberapa menit kemudian. Melati berdiri di belakangnya.

“Dinda, tolong jangan mengaitkan masalah kita dengan klinik.”

Aku menoleh.

“Apakah pasienmu tahu bangunannya menunggak sewa?”

Ia memucat.

“Aku akan membayar.”

“Bicarakan jadwalnya dengan pengelola. Pasien tetap bisa dilayani selama penyelesaiannya diatur. Tapi aku tidak akan lagi membayar diam-diam untukmu.”

Melati meraih lengan Arga.

“Jadi ini balas dendam?”

Aku menggeleng.

“Selama ini kalian mengira semua yang kuberikan tidak punya batas. Aku sedang menjelaskan batasnya.”

Aku meninggalkan map itu tanpa menandatanganinya.

Dua hari sebelum ulang tahunku, Ayah datang ke kantor Pak Adrian. Kali ini sendirian.

Ia membawa sebuah amplop tua.

“Ini seharusnya diberikan kepadamu ketika penyerahan pengelolaan selesai.”

Aku mengenali tulisan Ibu.

Di dalamnya ada surat pendek dan salinan catatan mengenai aset yang ia siapkan semasa hidup.

Namun, bukan angka-angkanya yang membuatku berhenti membaca.

Ada satu paragraf tentang Ayah.

Ibu menulis bahwa mereka pernah berdebat karena Ayah ingin menggunakan rumah sebagai jaminan ekspansi usaha. Ibu menolak. Ia ingin rumah itu menjadi tempat pulangku, apa pun yang terjadi.

Aku mengangkat wajah.

“Jadi Ayah tahu kenapa Ibu mempertahankannya.”

Ayah menunduk.

“Ayah pikir bisa mengembangkannya untuk kita semua.”

“Termasuk menjanjikan kamar dan rumah itu kepada Melati?”

Ia mengusap matanya.

“Ayah terbiasa berpikir kamu akan mengerti.”

Aku melipat surat itu perlahan.

“Aku mengerti, Yah. Aku hanya tidak selalu setuju.”

Pada ulang tahunku, penyerahan kendali dilakukan sesuai dokumen dan prosedur yang telah diperiksa. Pengelola profesional ditunjuk. Penggunaan dana perusahaan dan pendapatan properti dipisahkan. Aku meminta agar kebutuhan pegawai tidak dikorbankan untuk menutupi pengeluaran keluarga.

Rumah itu tidak langsung kukosongkan. Ayah diberi waktu untuk mengatur tempat tinggal dan menyelesaikan urusan pengelolaan. Aku tidak ingin mengulangi cara mereka mengeluarkanku dari hidup sendiri tanpa pemberitahuan.

Hubunganku dengan mereka tidak pulih setelah satu permintaan maaf.

Aku masih menangis ketika melewati toko gaun. Masih menghindari lagu tertentu. Namun, aku mulai kembali menerima proyek yang dulu kutunda demi membantu usaha keluarga dan klinik Arga.

Enam bulan kemudian, Naya membantuku membuka studio desain kecil di salah satu ruko Ibu.

Saat menata laci, kutemukan kunci rumah berkepala hitam yang dulu kutinggalkan di resepsi. Pak Adrian mengambilnya ketika mengurus barang-barangku dan menyimpannya bersama dokumen.

Aku memutarnya di telapak tangan.

Naya bertanya apakah aku akan memakainya lagi.

“Tidak. Kuncinya sudah diganti.”

Sore itu Ayah datang membawa tanaman untuk studio. Ia berhenti di ambang pintu dan mengetuk, meskipun pintunya terbuka.

“Boleh masuk?”

Aku menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk.

Untuk pertama kalinya, Ayah menunggu izinku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang