Saat Kubagikan Undangan Pernikahan, Mantanku Menertawakanku dan Menantang Calon

“Angka itu salah.”

Raka mengucapkannya begitu cepat sampai suaranya pecah. Tangannya bergerak hendak membuka map, tetapi Rendra menahannya dengan telapak tangan.

“Kita bicarakan di ruangan lain.”

Aku menatap angka yang sempat terlihat di halaman pertama. Tiga ratus delapan puluh juta rupiah.

Di bawahnya ada nama yang membuat tengkukku dingin.

Nadira Putri Wicaksana.

Namaku.

“Aku ikut,” kataku.

Rendra memandangku sebentar, lalu mengangguk.

Bimo membantu meminta ruang kecil kepada pengelola restoran. Ketika kami berpindah, Selma ikut berdiri. Raka langsung menoleh kepadanya.

“Kamu tunggu di sini.”

“Aku bendahara perusahaanmu,” jawabnya. “Kalau ini soal transaksi, aku ikut.”

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya hilang.

Di ruangan sebelah, Rendra membuka map. Ia tidak lagi membahas hubungan kami ataupun ucapan Raka. Ia menunjuk salinan formulir pengajuan kerja sama.

“Perusahaan Anda mengajukan proyek penyelenggaraan acara untuk tiga gudang baru kami. Dalam dokumen ini, Nadira tercatat sebagai direktur kreatif sekaligus pihak yang bersedia menjamin pengembalian uang muka.”

Aku menarik kertas itu mendekat.

Tanda tangan di bagian bawah mirip milikku. Terlalu mirip.

Namun, aku tidak pernah menandatanganinya.

“Aku sudah tidak bekerja di sana selama tiga tahun.”

“Makanya kami menghentikan proses pencairan berikutnya,” kata Rendra.

Raka mengusap bibirnya.

“Itu kesalahan administrasi. Staf memakai berkas lama.”

“Berkasnya bertanggal bulan lalu.”

“Template-nya lama.”

Aku membalik halaman. Ada salinan KTP, portofolio, dan foto beberapa acara yang kukerjakan di Yogyakarta.

Salah satunya pesta pernikahan di sebuah hotel, proyek pertamaku bersama Rendra. Saat itu ia datang mewakili keluarga pengantin.

“Kamu mengambil foto dari akun usahaku?”

Raka tidak menjawab.

Selma mengulurkan tangan meminta dokumen itu. Ia membaca dua halaman, lalu menatap Raka.

“Kamu bilang Nadira sudah setuju.”

Aku menoleh kepadanya.

“Setuju apa?”

“Namamu dicantumkan supaya proposalnya kuat. Raka bilang kalian sudah bicara.”

“Jangan pura-pura tidak tahu,” bentak Raka.

Selma tersentak.

Suasana mendadak berubah. Kedekatan yang tadi mereka pamerkan kini terasa seperti dua orang yang saling menunggu kesempatan menyalahkan.

Rendra menggeser lembar berikutnya.

“Uang muka masuk ke rekening perusahaan. Sebagian diteruskan kepada vendor. Namun, pembayaran senilai tiga ratus delapan puluh juta masuk ke rekening yang disebut milik pemasok perlengkapan.”

Aku mengenali nama penerimanya.

Pradana Kreasi.

“Itu usaha kakaknya Raka,” kataku. “Dulu sudah tutup sebelum aku pergi.”

Raka menatapku tajam.

“Kamu tidak tahu perkembangan perusahaan setelah keluar.”

“Benar. Karena itu jangan pakai namaku untuk menjamin uang yang tidak pernah kuterima.”

Ponsel Selma bergetar berkali-kali. Ia melihat layar, lalu wajahnya semakin pucat.

“Apa uang untuk gedung itu dari sini?”

Raka diam.

“Raka. Jawab.”

“Aku akan menggantinya sebelum acara.”

“Acara apa?” tanyaku.

Selma meletakkan ponselnya di meja. Di layar terdapat percakapan dengan pengelola gedung pernikahan.

Tanggal pelunasannya kemarin.

Aku memandang cincin di jarinya. Ia mengikuti arah pandanganku, lalu perlahan menutup tangan.

“Kamu bilang proyek ini sudah menghasilkan keuntungan.”

“Memang akan menghasilkan,” kata Raka. “Kalau pencairannya tidak ditahan.”

Rendra menutup map.

“Tim kami akan meminta keterangan resmi. Malam ini saya hanya perlu memastikan bahwa Nadira tidak pernah memberikan persetujuan.”

“Tidak pernah,” jawabku.

Raka mendadak berubah nada.

“Nadi, kita kenal sudah lama. Aku cuma butuh waktu.”

Tiga tahun lalu, kalimat itu selalu berhasil membuatku mengalah. Waktu untuk mengembalikan tabungan. Waktu untuk memperbaiki sikap. Waktu untuk mencantumkan namaku kembali.

Sekarang aku hanya merapikan salinan dokumen di hadapanku.

“Aku akan meminta bantuan pengacara.”

Ia tertawa hambar.

“Sekarang karena punya calon suami kaya, kamu merasa bisa menghancurkanku?”

Aku menatapnya.

“Namaku ada di dokumen palsu, Raka. Aku sedang melindungi diriku.”

Kami meninggalkan ruangan tanpa kembali ke meja alumni. Di parkiran, Rendra membuka pintu mobil, tetapi aku belum masuk.

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Tentang namamu? Kemarin sore. Tim pemeriksa mengirim hasil awal.”

“Kenapa tidak langsung bilang?”

Ia mengembuskan napas.

“Aku ingin membawa dokumen lengkap supaya kamu tidak hanya mendapat kabar yang menakutkan. Aku berencana bicara setelah makan malam.”

“Aku tetap perlu tahu lebih awal.”

Rendra mengangguk.

“Kamu benar. Maaf.”

Tidak ada pembelaan panjang. Tidak ada penjelasan bahwa aku terlalu sensitif.

Justru itu yang membuat air mataku jatuh.

“Aku takut semuanya terulang,” bisikku.

Rendra berdiri di depanku tanpa buru-buru menyentuh.

“Apa yang kamu butuhkan sekarang?”

Aku mengusap pipi.

“Pulang. Besok baru kita urus.”

Dua hari kemudian, Selma datang ke kantorku di Yogyakarta. Ia membawa laptop dan sebuah buku rekening lama.

“Aku tidak datang supaya kamu mencabut laporan.”

Aku mempersilakannya duduk.

“Aku ingin memberikan sesuatu yang seharusnya kuberikan tiga tahun lalu.”

Di layar laptop terdapat salinan pembukuan usaha kami. Ada setoran modalku, pembagian keuntungan yang tidak pernah kuterima, serta surel Raka yang memerintahkan penghapusan namaku dari materi perusahaan.

“Kamu menyimpannya?”

“Aku yang mengerjakan pembukuannya.”

“Dan kamu diam.”

Ia mengangguk. Air matanya jatuh, tetapi aku tidak meraih tisu untuknya.

“Dulu aku percaya kalau aku selalu membantunya, dia akan memperlakukanku lebih baik.”

Aku memandangi perempuan yang pernah menganggap kepergianku sebagai kemenangan.

“Aku juga pernah percaya begitu.”

Selma menyerahkan salinan berkas kepada pengacaraku. Pertunangannya berakhir minggu itu. Pemeriksaan perusahaan berlanjut, sementara aku mulai membereskan jejak namaku dalam dokumen mereka.

Sebulan kemudian, aku menikah.

Pestanya sederhana, dengan bunga putih dan dedaunan yang kurancang sendiri. Sebelum acara dimulai, Rendra menyerahkan sebuah amplop.

Aku mengerutkan kening.

“Dokumen lagi?”

Ia tertawa.

“Buka dulu.”

Di dalamnya ada selembar kertas dari tiga tahun lalu. Formulir vendor untuk proyek pernikahan pertama yang mempertemukan kami.

Pada kolom alasan pemilihan, tulisan tangannya masih jelas.

Nadira memahami kebutuhan klien, berani menolak rancangan yang tidak aman, dan membayar timnya tepat waktu.

Aku membacanya dua kali.

“Waktu itu kamu belum mengenalku.”

“Makanya aku meminta rekomendasi dari tiga orang yang pernah bekerja denganmu.”

“Jadi kamu memilih usahaku bukan karena kasihan?”

Rendra menatapku heran.

“Kasihan kenapa? Kamu yang menyelamatkan acara itu.”

Aku tertawa sambil menangis.

Di luar, seseorang memanggil namaku. Sudah waktunya berjalan menuju pelaminan.

Kusimpan kertas itu di samping undangan hijau tua kami. Untuk pertama kalinya, aku memiliki bukti tertulis tentang diriku yang tidak perlu kuperjuangkan agar diakui.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang