Di Acara Syukuran Apartemenku, Suamiku Menyerahkan Kartu Akses kepada Perempuan

Nama Nadira Putri tercetak di bawah judul Perjanjian Pengembalian Dana Talangan. Nilainya enam ratus juta rupiah. Pada halaman terakhir, ada tanda tangan yang menyerupai milikku, tepat di atas keterangan penjamin pribadi.

Aku membaca kalimat berikutnya perlahan. Jika perusahaan gagal membayar, aku disebut bersedia melunasi kewajiban itu dengan dana pribadiku.

“Nadira yang membiayai renovasi?” tanyaku.

Arga meraih dokumen tersebut, tetapi Pak Bima lebih dahulu menggesernya.

“Ini salinan untuk Bu Maya.”

“Jangan ikut campur,” bentak Arga. “Ini urusan suami istri.”

“Nama saya ada di sini,” kataku. “Jadi aku berhak membacanya.”

Di seberang meja, Nadira kehilangan warna wajah. Tangannya turun dari perut, lalu meremas kartu akses.

“Mas bilang Mbak Maya sudah setuju,” bisiknya.

Panggilan Pak Arga akhirnya hilang.

Aku menatapnya. “Setuju menjadi penjamin utang kalian?”

Nadira memandang Arga, menunggu jawaban yang tidak datang.

Pak Bima membuka catatannya.

“Bulan lalu Bu Maya meminta saya memeriksa posisi pinjaman perusahaan sebelum menyetujui perpanjangan. Perjanjian ini tercantum dalam daftar kewajiban yang dikirim bagian keuangan kemarin. Karena ada nama Anda sebagai penjamin, saya meminta lampirannya.”

Aku teringat dokumen yang kutandatangani bulan lalu. Hanya perpanjangan pinjaman modal dariku kepada perusahaan, tanpa tambahan jaminan apa pun.

“Jadi kamu memakai tanda tanganku dari berkas lain?”

Arga mengusap mulutnya.

“Aku berniat memberitahumu.”

“Kapan? Setelah Nadira pindah?”

Bu Ratih berdiri. “Sudah, Maya. Jangan permalukan suamimu di depan orang banyak.”

Aku memandang tamu-tamu yang masih duduk dengan piring penuh. Beberapa mulai beranjak, tetapi ragu melewati kami.

“Bukan aku yang mengundang mereka untuk menyaksikan pengumuman ini, Bu.”

Lalu aku meminta maaf kepada para tamu dan menyampaikan bahwa acara selesai. Tidak ada yang membantah. Suara kursi bergeser memenuhi ruangan, disusul salam pendek dan tatapan yang buru-buru dialihkan.

Dua rekan bisnis Arga menghampiri Pak Bima, menyerahkan kartu nama, lalu pergi tanpa menyalami suamiku.

Pintu tertutup. Tinggal keluarga inti, Nadira, dan kami.

“Sekarang jawab,” kataku. “Siapa yang membuat dokumen itu?”

Arga duduk kembali.

“Aku.”

Satu kata itu terdengar sangat kecil dibandingkan kerusakan yang ditimbulkannya.

Nadira menutup mata. Air matanya jatuh, tetapi aku sudah terlalu lelah untuk menebak apakah ia menangisi kebohongan Arga atau rencana mereka yang gagal.

“Uang itu tabungan saya,” katanya akhirnya. “Saya mencairkan deposito karena Arga bilang perusahaan sedang menunggu pembayaran klien. Apartemen ini katanya disiapkan untuk saya dan bayi.”

“Kamu tahu apartemen ini milikku?”

Nadira mengangguk pelan.

“Katanya kalian sudah sepakat. Katanya Mbak hanya belum mau keluarga tahu.”

Aku tertawa pendek, lalu berhenti karena dadaku sakit.

“Dan kamu tidak pernah merasa perlu bertanya langsung kepadaku?”

Ia menunduk. “Saya takut jawabannya berbeda.”

Itulah kalimat paling jujur yang kudengar malam itu.

Arga mendekat.

“Maya, aku panik. Vendor mendesak pembayaran. Nadira mau membantu, tapi meminta kepastian.”

“Lalu kamu menjaminkan namaku.”

“Aku akan menggantinya.”

“Dengan uang siapa?”

Ia diam.

Aku meminta Nadira meletakkan kartu akses di meja. Setelah ragu sesaat, ia menurut. Arga mengeluarkan kartu tambahannya ketika Pak Bima meminta hal yang sama.

Kutelepon pengelola dan meminta seluruh akses tambahan dinonaktifkan sementara sampai identitas serta persetujuan pemilik diperiksa kembali. Petugas datang mencatat nomor kartu dan menerima salinan formulir yang kusangkal.

Bu Ratih menangis ketika aku berdiri.

“Kasihan bayinya, Maya.”

“Bayi itu tetap tanggung jawab Arga. Tapi tempat tinggal dan utang mereka bukan tanggung jawabku.”

Malam itu aku tidak pulang bersama suamiku. Aku menginap di rumah kakakku, sementara Pak Bima membantuku menyimpan semua dokumen dan menyusun langkah berikutnya.

Keesokan paginya, permintaan maaf Arga memenuhi ponselku. Ia mengirim foto pernikahan kami, lalu pesan tentang masa-masa sulit yang pernah kami lewati.

Aku hampir membalas.

Kemudian kulihat foto formulir penghuni itu lagi. Namaku dipakai agar perempuan lain bisa memasuki rumahku tanpa izinku.

Kumatikan layar.

Dalam pemeriksaan berikutnya, pengelola menunjukkan bahwa formulir diserahkan melalui surel kantor Arga. Bagian keuangan juga menyimpan pesan ketika Arga memerintahkan pencantuman namaku sebagai penjamin. Semua kusampaikan melalui pendamping hukum, termasuk penyangkalanku terhadap tanda tangan tersebut.

Aku juga mengajukan perpisahan.

Arga sempat datang bersama ibunya. Mereka membawa buah dan berbicara tentang kesempatan kedua. Kali ini, aku menerima mereka di ruang tamu rumah kakakku dengan Pak Bima mendampingi.

“Aku tidak bisa kembali tinggal dengan orang yang membuat keputusan atas namaku,” kataku.

Arga menangis. Aku ikut menangis setelah mereka pergi, tetapi keputusanku tidak berubah.

Beberapa minggu kemudian, Nadira meminta bertemu. Kami duduk di sebuah kedai dekat kantorku.

Ia menyerahkan salinan percakapannya dengan Arga, termasuk pesan tentang dokumen jaminan.

“Saya akan menagih uang saya kepada pihak yang menerimanya,” katanya. “Saya tidak akan memakai tanda tangan itu untuk menuntut Mbak.”

Aku mengangguk.

“Maaf saya terlambat berbuat benar.”

“Aku menghargai dokumen ini,” jawabku. “Untuk yang lain, aku masih butuh waktu.”

Ia menerima jawabanku. Kami berpisah tanpa pelukan.

Berbulan-bulan kemudian, urusan perpisahan selesai. Pinjaman perusahaan ditangani sesuai perjanjian, sementara penggunaan tanda tanganku menjalani proses tersendiri. Tidak semuanya selesai secepat keinginanku, tetapi setiap surat kini kubaca sendiri sebelum menyetujuinya.

Apartemen itu akhirnya kutempati.

Kamar yang direncanakan Arga sebagai kamar bayi kuubah menjadi ruang kerja. Pada hari pindahan, kakakku menemukan stiker melati cadangan di kotak alat tulis.

“Mau ditempel di kartu baru?” tanyanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Yang ini saja.”

Kutempel stiker itu di bingkai foto Ayah dekat pintu masuk.

Malamnya, ketika merapikan map kepemilikan, kutemukan catatan Ayah pada fotokopi dokumen ruko yang dulu dijual. Tulisan itu dibuat jauh sebelum aku menikah.

Untuk bekal Maya punya tempat pulang sendiri.

Aku duduk di lantai cukup lama memegang kertas tersebut.

Dulu kupikir Ayah meninggalkan uang untuk membeli apartemen. Baru malam itu aku memahami hadiah sebenarnya: sebuah pintu yang bisa kututup ketika seseorang berhenti memperlakukanku sebagai keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang