SAAT MUDIK LEBARAN, SUAMIKU MENURUNKAN AKU DAN ANAK KAMI DEMI KARDUS-KARDUS UNTUK KELUARGANYA, TANPA TAHU SATU KEPUTUSANKU AKAN MENGUBAH SELURUH MASA DEPANNYA

Pagi itu Reza mengira ia hanya meninggalkan istri dan anaknya demi beberapa kardus hadiah.

Ia tidak tahu bahwa sebelum matahari terbenam, satu keputusan kecil itu akan membuat semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan mulai terbongkar.

Aku menekan tombol kirim.

Seluruh dokumen kontrak investasi, rekaman dari kamera mobil, salinan pengajuan pinjaman, dan bukti transfer langsung terkirim kepada Ratri.

Tak sampai lima menit, sahabatku itu menelepon kembali.

“Nadira, dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang jangan tanda tangan apa pun yang dikirim Reza. Jangan bertemu dia sendirian. Semua komunikasi penting simpan.”

“Aku mengerti.”

“Ada satu hal yang harus kamu tahu.”

Nada suara Ratri membuatku menegakkan punggung.

“Apa?”

“Kalau dokumen yang dikirim Sinta asli, Reza bukan cuma melanggar perjanjian investasi. Dia mencoba menggunakan aset yang bukan miliknya sebagai jaminan.”

Aku memandang Elang yang sedang duduk di lantai balkon sambil memainkan kapal-kapalan.

“Aku tidak mau bertindak karena marah, Rat.”

“Bagus.”

“Aku cuma ingin melindungi apa yang menjadi hakku dan Elang.”

“Itu yang akan kita lakukan.”

Setelah telepon berakhir, aku menghubungi dua rekanku di perusahaan investasi.

Tidak ada keputusan emosional.

Tidak ada perintah untuk menghancurkan perusahaan Reza.

Kami hanya menjalankan prosedur yang memang tercantum dalam kontrak.

Selama tiga tahun terakhir, perusahaan investasiku memegang hak pengawasan atas penggunaan modal. Jika ditemukan pengalihan dana ke pihak terafiliasi tanpa persetujuan investor, kami berhak membekukan pencairan berikutnya, meminta audit khusus, dan mengambil langkah sesuai klausul perlindungan investasi.

Semua klausul itu pernah ditandatangani Reza sendiri.

Ironisnya, ia mungkin bahkan tidak mengingatnya.

Menjelang sore, ponselku mulai dipenuhi pesan.

Reza menelepon tujuh kali.

Bu Ratih menelepon empat kali.

Kakak Reza, Bayu, mengirim tiga pesan.

Aku tidak menjawab satu pun.

Aku membawa Elang ke pantai.

Anakku berlari mengejar ombak kecil sambil tertawa setiap kali air menyentuh kakinya.

“Bunda, lihat!”

Ia mengangkat sebuah kerang kecil.

“Bagus?”

“Bagus sekali.”

“Buat Bunda.”

Aku menerimanya.

“Terima kasih.”

Elang tersenyum lebar.

Aku tiba-tiba menyadari betapa jarangnya aku melihatnya sebebas itu setiap kali kami mudik ke Solo.

Biasanya pada jam seperti ini, ia sudah diminta diam karena rumah Eyang penuh tamu.

Aku sendiri mungkin sedang berdiri di dapur, memotong bawang untuk puluhan orang sementara Reza duduk bersama saudara-saudaranya di ruang depan.

Ponselku kembali bergetar.

Kali ini pesan dari Reza.

Kamu sebenarnya di mana?

Aku menjawab singkat.

Bali.

Tanda sedang mengetik langsung muncul.

BALI?

Kamu bercanda?

Aku tidak menjawab.

Telepon masuk beberapa detik kemudian.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Kamu ke Bali?” bentaknya tanpa salam.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu berangkat ke Solo tanpa kami.”

“Aku sudah belikan tiket bus!”

“Aku tidak memintanya.”

“Nadira, kamu tahu nggak keluarga besar sedang kumpul? Semua orang tanya kamu sama Elang ke mana. Aku harus jawab apa?”

Aku menatap Elang yang sedang membuat benteng pasir.

“Jawab yang sebenarnya.”

“Apa?”

“Bilang kamu memilih membawa kardus-kardus hadiah daripada istri dan anakmu.”

Reza terdiam.

“Jangan kekanak-kanakan.”

“Aku sedang menemani anakku liburan. Sepertinya justru itu keputusan paling dewasa yang kubuat hari ini.”

“Nadira!”

“Aku tutup.”

“Tunggu!”

Aku menghentikan gerakan tanganku.

Suara Reza berubah lebih rendah.

“Setelah Lebaran kita perlu bicara soal rumah Bandung.”

Jantungku tidak lagi berdebar.

Justru anehnya, aku merasa sangat tenang.

“Kenapa?”

“Aku punya rencana ekspansi bisnis. Ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani.”

“Oh.”

“Hanya formalitas.”

“Formalitas?”

“Iya. Nanti aku jelaskan.”

Aku memandang laut.

“Kalau begitu kirim saja dokumennya sekarang.”

Reza terdiam beberapa detik.

“Nggak perlu sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena aku bilang nanti kita bicarakan.”

Aku tersenyum tipis.

“Baik.”

Aku memutus sambungan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur tanpa memikirkan apakah Bu Ratih tersinggung karena pesan yang belum kubalas.

Namun di Solo, keadaan rupanya berbeda.

Keesokan paginya, Bayu menelepon.

Aku membiarkannya.

Ia menelepon lagi.

Kemudian lagi.

Pada panggilan keempat, aku mengangkat.

“Nadira, kamu melakukan apa?”

Tidak ada salam.

Tidak ada basa-basi.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa rekening operasional perusahaan kami ditinjau?”

Perusahaan Bayu adalah salah satu pihak yang menerima transfer dari bisnis Reza.

“Aku tidak tahu. Tanya Reza.”

“Jangan pura-pura nggak tahu. Reza bilang investor meminta audit.”

“Kalau begitu berikan dokumen yang diminta auditor.”

“Nadira!”

“Ada apa?”

Bayu terdiam.

Mungkin baru saat itu ia menyadari sesuatu.

“Kamu tahu soal investor itu?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Kalau transaksi perusahaanmu sah, audit seharusnya bukan masalah.”

Aku menutup telepon.

Siangnya, Sinta mengirim pesan lagi.

Bu Nadira, Pak Reza meminta saya menghapus beberapa invoice lama. Saya menolak.

Aku langsung meneleponnya.

“Sinta, jangan hapus apa pun.”

“Baik, Bu.”

“Cadangkan semua data.”

Suaranya terdengar gugup.

“Ada sesuatu lagi.”

“Apa?”

“Saya menemukan pembayaran rutin ke rekening pribadi Pak Bayu selama hampir dua tahun. Keterangannya biaya konsultasi.”

“Bayu memberikan jasa konsultasi?”

“Saya tidak menemukan kontraknya.”

Aku memejamkan mata.

Jumlah persoalannya ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

“Jangan mengambil kesimpulan sendiri. Simpan datanya dan serahkan kepada auditor.”

“Baik, Bu.”

Hari kedua di Bali, Reza akhirnya mengetahui siapa investor strategis yang selama ini menopang perusahaannya.

Saat itu aku sedang menemani Elang makan es krim ketika Ratri mengirim pesan.

Dia sudah tahu.

Beberapa detik kemudian, Reza menelepon.

Aku mengangkatnya.

Suara di ujung sana berbeda.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada nada meremehkan.

“Nadira.”

“Ya?”

“Investor itu… perusahaanmu?”

Aku tidak menjawab beberapa detik.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak awal.”

“Jadi tiga tahun lalu… uang yang menyelamatkan perusahaan itu uangmu?”

“Dana perusahaan investasiku.”

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

Aku hampir tertawa.

“Karena saat itu kamu merasa gagal. Aku tidak ingin membuatmu merasa lebih kecil.”

“Jadi selama ini kamu bohong?”

“Tidak. Aku hanya tidak memberitahumu identitas investor. Kontraknya sah dan semua kewajiban investor dipenuhi.”

“Kenapa sekarang kamu melakukan ini?”

“Melakukan apa?”

“Mengaudit perusahaanku!”

“Karena ada indikasi dana investasi dialihkan kepada pihak terafiliasi tanpa persetujuan.”

“Itu perusahaan keluargaku!”

“Justru itu masalahnya.”

Reza mulai meninggikan suara.

“Ini perusahaan yang kubangun!”

“Dan aku tidak pernah mengklaim sebaliknya.”

“Kalau begitu jangan ikut campur!”

Aku diam sebentar.

“Reza, kamu mengajukan pinjaman tiga miliar dengan rumah Bandung sebagai jaminan.”

Sunyi.

Begitu sunyi sampai aku bisa mendengar napasnya.

“Siapa yang bilang?”

“Jadi benar?”

“Itu cuma rencana.”

“Dengan tanda tanganku?”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Apakah aku pernah menandatangani persetujuan?”

“Situasinya rumit.”

“Jawab.”

Reza tidak menjawab.

Aku menutup mata sesaat.

“Jangan pernah lagi menggunakan namaku atau asetku tanpa persetujuan.”

“Nadira, aku suamimu.”

“Dan itu bukan izin untuk mengambil sesuatu yang bukan milikmu.”

Telepon terputus.

Entah dia yang memutus atau jaringan yang bermasalah.

Aku tidak peduli.

Hari ketiga, Bu Ratih akhirnya menelepon menggunakan nomor lain.

Aku mengangkat karena mengira itu panggilan dari pihak resor.

“Nadira!”

Aku langsung mengenali suaranya.

“Iya, Bu.”

“Kamu tega sekali melakukan ini kepada suamimu menjelang Lebaran!”

Aku mengerutkan kening.

“Melakukan apa?”

“Reza bilang gara-gara kamu, perusahaannya diperiksa!”

“Perusahaannya diperiksa karena ada transaksi yang harus dijelaskan.”

“Uang Reza ya uang keluarga!”

“Uang perusahaan bukan uang pribadi.”

“Jangan mengajari Ibu!”

Aku diam.

Bu Ratih melanjutkan.

“Dulu Reza menikahimu ketika kamu tidak punya apa-apa!”

Kalimat itu hampir membuatku tertawa.

Ketika menikah dengan Reza, tabunganku justru lebih besar daripada miliknya.

Namun aku tidak merasa perlu membuktikannya.

“Kalau Ibu menelepon hanya untuk mengatakan itu, saya tutup.”

“Tunggu!”

Nada suaranya berubah.

“Cabut auditnya.”

“Saya tidak bisa.”

“Kamu pemilik perusahaan investasinya!”

“Justru karena itu saya harus mengikuti prosedur.”

“Nadira, keluarga itu harus saling membantu.”

Aku terdiam sesaat.

Lalu teringat pagi ketika Reza menutup pintu mobil di depan wajah Elang.

“Benar, Bu.”

“Jadi?”

“Karena itu seharusnya keluarga tidak menggunakan tanda tangan anggota keluarganya tanpa izin.”

Bu Ratih langsung diam.

Aku tahu saat itu juga bahwa ia mengerti aku sudah mengetahui semuanya.

“Kamu merekam kami?”

“Saya tidak mengatakan apa pun tentang rekaman.”

Keheningan di ujung telepon menjawab lebih banyak daripada kata-kata.

Aku mengakhiri panggilan.

Dua minggu setelah Lebaran, audit awal selesai.

Tidak semua kecurigaan terbukti.

Sebagian transfer ternyata memiliki dasar transaksi yang dapat dijelaskan.

Namun auditor menemukan cukup banyak ketidaksesuaian untuk membuat perusahaan investasi kami menjalankan hak perlindungan yang tercantum dalam kontrak.

Pengeluaran tertentu dibekukan.

Pengawasan keuangan diperketat.

Reza harus menyerahkan kewenangan atas sejumlah keputusan finansial sampai pemeriksaan selesai.

Pengajuan pinjaman dengan jaminan rumah Bandung juga dihentikan.

Untuk pertama kalinya, Reza harus menghadapi konsekuensi tanpa aku berdiri di belakangnya untuk membereskan semuanya.

Aku pulang ke Tangerang bersama Elang beberapa hari kemudian.

Reza sudah menunggu di rumah.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan dua minggu sebelumnya.

Di meja ruang makan ada kardus-kardus yang dulu ia bawa ke Solo.

Sebagian hadiah rupanya dikembalikan.

“Kenapa barang-barang itu ada di sini?” tanyaku.

Reza tersenyum pahit.

“Bayu marah karena transaksi perusahaannya ikut diperiksa. Bunda juga marah. Semua orang menyalahkanku.”

Aku meletakkan tas.

“Lalu?”

Ia menatapku.

“Baru sekarang aku sadar sesuatu.”

Aku tidak menjawab.

“Waktu semuanya baik-baik saja, mereka bilang aku anak kebanggaan keluarga. Begitu ada masalah, aku yang disuruh menyelesaikan semuanya sendiri.”

Aku memandangnya tanpa ekspresi.

“Sekarang kamu tahu rasanya.”

Reza menunduk.

“Nadira… aku salah.”

Itu pertama kalinya dalam enam tahun aku mendengar dua kata tersebut keluar dari mulutnya tanpa diikuti kata tetapi.

“Aku seharusnya tidak meninggalkan kalian.”

Aku tetap diam.

“Aku juga seharusnya tidak menggunakan rumah Bandung.”

“Memalsukan tanda tanganku, Reza.”

Ia menelan ludah.

“Iya.”

“Aku sudah terlalu sering memaafkanmu sebelum kamu benar-benar memahami kesalahanmu.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Ia menatapku penuh harap.

“Tapi perubahanmu bukan lagi tanggung jawabku.”

Wajahnya membeku.

Aku mengeluarkan sebuah map dari tas.

“Apa ini?”

“Dokumen pemisahan pengelolaan aset dan surat dari pengacaraku.”

Tangannya gemetar ketika membukanya.

“Kamu mau cerai?”

“Aku mau memastikan Elang tumbuh di lingkungan yang aman dan tidak belajar bahwa mencintai keluarga berarti membiarkan dirinya diperlakukan tanpa hormat.”

Reza duduk perlahan.

Saat itulah Elang keluar dari kamar.

“Ayah?”

Reza langsung menoleh.

Elang mendekatinya dengan ragu.

“Ayah masih marah sama Elang?”

Wajah Reza berubah.

“Tidak.”

“Terus kenapa waktu itu Ayah nggak ajak Elang?”

Reza membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tidak ada laporan audit yang mampu membuatnya terlihat sehancur saat itu.

Ia berjongkok di depan putranya.

“Karena Ayah membuat pilihan yang bodoh.”

Elang berpikir sebentar.

“Lebih bodoh daripada pilih kardus?”

Reza menutup mata.

“Iya.”

Elang mengangguk seolah jawaban itu cukup baginya, lalu kembali ke kamar.

Aku memandang Reza.

Mungkin untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami bahwa yang hampir hilang bukan perusahaan.

Bukan rumah.

Bukan uang.

Melainkan kepercayaan seorang anak terhadap ayahnya.

Enam bulan kemudian, aku dan Reza resmi berpisah.

Prosesnya tidak mudah, tetapi jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.

Audit perusahaan selesai. Beberapa transaksi harus dikembalikan dan sistem pengawasan baru diterapkan. Reza tetap menjalankan bisnisnya, tetapi tidak lagi memiliki kebebasan menggunakan uang perusahaan seperti rekening pribadi.

Hubungannya dengan keluarganya juga berubah.

Aku tidak tahu apakah perubahan Reza akan bertahan selamanya.

Dan itu bukan lagi sesuatu yang harus kupastikan.

Suatu sore, aku menjemput Elang setelah ia menghabiskan akhir pekan bersama ayahnya.

Reza mengantarnya sampai ke depan pagar.

Di tangan Elang ada sebuah mobil remote.

“Dari Eyang?” tanyaku.

Elang menggeleng.

“Ayah yang beli.”

Ia lalu menunjukkan sebuah kotak kecil lain.

“Ini buat Bunda.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada kerang putih yang dibingkai sederhana.

Kerang yang Elang berikan kepadaku di Bali.

Di bawahnya tertulis tanggal perjalanan kami.

Aku menatap Reza.

“Aku menemukannya di koper Elang,” katanya pelan. “Kupikir itu penting.”

Aku mengangguk.

“Memang.”

Reza tidak meminta kesempatan kedua.

Aku juga tidak memberikannya.

Namun sebelum pergi, ia berkata pelan, “Terima kasih karena waktu itu kamu membawa Elang ke Bali.”

Aku sedikit terkejut.

“Kenapa?”

Reza memandang putranya.

“Karena kalau kamu tetap naik bus ke Solo hari itu, mungkin sampai sekarang aku masih mengira tidak ada yang salah denganku.”

Mobilnya kemudian pergi.

Elang menggenggam tanganku.

“Bunda.”

“Hm?”

“Kalau nanti kita mudik lagi, kita naik apa?”

Aku tersenyum.

“Tergantung kita mau pergi ke mana.”

Elang tertawa.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira mempertahankan keluarga berarti bertahan di tempat yang sama, menerima semuanya, dan terus mengalah agar tidak ada yang pergi.

Ternyata aku salah.

Kadang-kadang, menyelamatkan sebuah keluarga justru dimulai ketika seseorang berani keluar dari pola yang menghancurkannya.

Dan semua itu bermula pada satu pagi menjelang Lebaran, ketika suamiku memilih memenuhi mobil dengan kardus-kardus untuk keluarganya dan meninggalkan aku serta anak kami di rumah.

Hari itu Reza mengira ia sedang memilih barang-barang yang lebih penting untuk dibawa ke Solo.

Padahal tanpa ia sadari, ia sedang menunjukkan kepadaku dengan sangat jelas siapa yang selama ini selalu ia tinggalkan.

Aku dan Elang tidak pernah sampai ke Solo pada Lebaran itu.

Namun justru karena perjalanan yang batal itulah, akhirnya kami sampai ke tempat yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kutuju.

Sebuah kehidupan di mana aku tidak perlu lagi memohon agar dianggap berharga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang