SUAMIKU ENAM TAHUN TERBARING TANPA DAYA, TAPI SETIAP MALAM MUNCUL PAKAIAN DALAM PRIA ASING—SAAT AKU MENGINTIP, DUA WAJAH SUAMIKU BERADA DI KAMAR YANG SAMA

Tangan pria itu sudah menyentuh gagang jendela ketika aku menjatuhkan tubuh serendah mungkin di lantai balkon.

Napas tertahan di tenggorokanku.

Hanya dinding setinggi lutut yang memisahkanku darinya.

Jendela terbuka.

Udara malam yang dingin masuk ke kamar.

“Ada sesuatu?” suara Livia terdengar.

Pria itu tidak menjawab.

Aku bisa mendengar napasnya dari balik dinding.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.

Lalu terdengar suara kucing dari atap rumah tetangga.

Pria itu mengumpat pelan.

“Cuma kucing.”

Jendela ditutup kembali.

Aku tetap tidak bergerak sampai langkah kakinya menjauh.

Tanganku gemetar hebat.

Enam tahun aku hidup bersama seorang lelaki yang tidak pernah menjawab ketika kupanggil.

Enam tahun aku menggenggam tangannya setiap malam.

Dan sekarang ada lelaki lain dengan wajah yang sama persis berdiri beberapa meter dariku.

Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan.

Kemungkinan bahwa suamiku telah membohongiku selama enam tahun.

Atau kemungkinan bahwa pria yang selama ini kurawat bukanlah suamiku.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan kamera.

Melalui celah tirai, kurekam semua yang bisa kulihat.

Pria berwajah Raka duduk di kursi dekat ranjang.

Livia berdiri di samping pasien dengan suntikan di tangannya.

“Jangan terlalu banyak,” kata pria itu. “Kita masih membutuhkan dia hidup sampai semuanya selesai.”

“Kalau dosisnya dikurangi, respons motoriknya semakin kuat.”

“Berapa lama?”

“Sulit dipastikan.”

Pria itu menatap pasien.

“Enam tahun kau diam. Bertahanlah beberapa hari lagi, Kak.”

Kak.

Satu kata itu membuat seluruh tubuhku dingin.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah dikatakan ibu Raka bertahun-tahun lalu.

Raka lahir kembar.

Saudaranya meninggal ketika masih bayi.

Setidaknya itulah cerita keluarga Wicaksana.

Aku segera mundur dari balkon. Aku tidak bisa menghadapi mereka sendirian.

Aku turun melalui tangga besi dengan kaki gemetar, berjalan menembus kebun, lalu menelepon satu-satunya orang yang masih kupercaya.

Bu Sari.

“Bu,” bisikku, “jangan bereaksi apa pun. Jangan masuk kamar Pak Raka. Masuk ke kamar Ibu dan kunci pintunya.”

“Bu Nadira?”

“Lakukan sekarang.”

Aku menghubungi pengacaraku, Dimas Santoso, kemudian polisi.

Aku tidak menjelaskan semuanya melalui telepon. Ceritaku terdengar terlalu gila bahkan di telingaku sendiri.

Aku hanya mengatakan ada dugaan penyekapan dan pemberian obat tanpa izin di rumahku.

Dimas tiba lebih dulu.

Aku menunjukkan rekaman dari ponsel.

Wajahnya berubah.

“Nadira, siapa laki-laki ini?”

“Itulah yang ingin kutahu.”

Kami kembali ke rumah bersama dua petugas polisi sekitar empat puluh menit kemudian.

Namun kamar Raka sudah kosong.

Tempat tidurnya berantakan.

Livia menghilang.

Pria berwajah Raka juga tidak ada.

Pintu servis di belakang lemari terbuka.

Di baliknya ternyata terdapat lorong sempit menuju gudang lama dan keluar ke jalan kecil di belakang rumah.

Mereka sudah pergi.

Aku merasa lututku kehilangan tenaga.

“Raka…”

Di lantai dekat ranjang, aku menemukan selang infus yang baru dilepas.

Ada bercak kecil darah di ujungnya.

Malam itu polisi memeriksa seluruh rumah.

Dari kamar Livia ditemukan beberapa botol obat tanpa label, dua kartu identitas dengan nama berbeda, dan sebuah ponsel lama.

Tetapi penemuan paling mengejutkan datang dari Bu Sari.

Perempuan itu masuk ke ruang tamu dengan wajah pucat.

“Saya harus mengatakan sesuatu, Bu Nadira.”

Ia membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Ayah Ibu menitipkan ini kepada saya sebelum meninggal.”

Aku menatapnya.

“Ayah?”

“Beliau bilang saya hanya boleh memberikannya kalau terjadi sesuatu yang sangat aneh pada Pak Raka.”

Di dalam kotak terdapat sebuah amplop.

Tulisan tangan ayahku masih sangat kukenal.

Nadira, kalau suatu hari kamu meragukan siapa lelaki yang tinggal di rumahmu, percayalah pada keraguanmu.

Tanganku membeku.

Di bawah surat itu terdapat dua lembar foto.

Foto pertama memperlihatkan Raka saat berusia sekitar dua belas tahun.

Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki yang wajahnya identik.

Di belakang foto tertulis dua nama.

Raka Wicaksana.

Rangga Wicaksana.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Saudara kembar Raka tidak pernah meninggal.

Dimas membaca dokumen berikutnya.

Itu laporan penyelidikan pribadi yang dipesan ayahku beberapa bulan sebelum kematiannya.

Rangga dibesarkan oleh kerabat keluarga di Surabaya setelah perceraian orang tua Raka. Keluarga sengaja menyembunyikan keberadaannya karena sengketa warisan.

Ketika dewasa, Rangga beberapa kali terlibat masalah utang dan pemalsuan dokumen.

Kemudian jejaknya menghilang.

Tepat tiga bulan sebelum kecelakaan Raka.

Aku memejamkan mata.

Semua mulai tersusun.

“Kalau pria yang berdiri tadi Rangga,” kata Dimas perlahan, “berarti pasien yang selama ini kamu rawat memang Raka.”

Aku menggeleng.

“Belum tentu.”

Aku membutuhkan bukti.

Polisi melacak mobil Livia melalui kamera jalan.

Mobil itu ditemukan dini hari di sebuah rumah kosong di kawasan Lembang.

Kami tiba ketika matahari baru muncul.

Rumah tersebut dikelilingi pohon pinus dan tampak seperti vila yang sudah lama tidak digunakan.

Polisi masuk lebih dulu.

Aku menunggu di mobil sampai seorang petugas keluar.

“Kami menemukan pasien.”

Aku berlari masuk.

Raka terbaring di sebuah kasur tipis di kamar belakang.

Tangannya terikat longgar. Napasnya lemah.

“Raka!”

Aku berlutut di sampingnya.

Matanya terbuka.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, tatapannya terasa benar-benar hidup.

Aku menggenggam tangannya.

“Kalau kamu bisa mendengarku, kedip dua kali.”

Satu kedipan.

Kemudian kedipan kedua.

Aku menangis.

Bukan karena sedih.

Karena untuk pertama kalinya aku tahu ia benar-benar berada di sana selama ini.

Rangga dan Livia tidak ditemukan di vila itu.

Namun sebuah laptop tertinggal.

Isinya menjelaskan hampir semuanya.

Rangga telah kembali ke Bandung setelah mengetahui bahwa pernikahanku dengan Raka membuat Raka memiliki akses terhadap saham perusahaan keluargaku melalui sebuah yayasan investasi.

Rencana awalnya sederhana.

Rangga akan menggantikan Raka setelah kecelakaan.

Tetapi kecelakaan itu tidak pernah direncanakan.

Raka benar-benar mengalami cedera otak berat.

Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan Rangga.

Dengan bantuan Livia, yang ternyata sudah mengenalnya jauh sebelum bekerja untukku, ia mulai mempelajari kehidupan Raka.

Tanda tangan.

Kebiasaan.

Cara bicara.

Riwayat keluarga.

Selama bertahun-tahun mereka menunggu.

Mereka tidak bisa begitu saja menyingkirkan Raka karena beberapa dokumen yayasan membutuhkan verifikasi biometrik.

Raka harus tetap hidup.

Namun ia juga harus tetap tidak mampu berbicara.

Dokter di rumah sakit kemudian menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Kondisi Raka memang berat setelah kecelakaan, tetapi tidak seburuk yang terlihat selama enam tahun.

Dalam darah dan rambutnya ditemukan jejak penggunaan obat penenang jangka panjang.

Livia tidak merawatnya agar pulih.

Ia memastikan Raka tidak pernah cukup sadar untuk mengungkapkan kebenaran.

Aku merasa mual ketika mendengarnya.

Setiap kali Raka tampak lebih sadar, Livia meningkatkan dosis.

Setiap gerakan mata yang selama ini dianggap refleks mungkin sebenarnya adalah usaha suamiku meminta pertolongan.

Tiga hari kemudian polisi menangkap Livia di sebuah apartemen di Jakarta.

Rangga belum ditemukan.

Sampai sebuah telepon masuk ke kantorku.

Nomor tidak dikenal.

“Nadira.”

Aku mengenali suara itu.

Rangga.

“Apa yang kamu mau?”

“Aku ingin bicara.”

“Bicaralah dengan polisi.”

Ia tertawa pelan.

“Kamu masih belum memahami semuanya.”

“Apa lagi yang harus kupahami?”

“Kenapa ayahmu menyelidikiku?”

Aku terdiam.

“Karena dia sudah tahu rencanamu.”

“Tidak.”

Suara Rangga berubah.

“Ayahmu menyelidikiku karena dia tahu kecelakaan Raka bukan kecelakaan.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

“Apa maksudmu?”

“Aku memang ingin mengambil hidup Raka. Tapi bukan aku yang merusak mobilnya.”

Telepon terputus.

Malam itu aku membuka kembali kotak peninggalan ayah.

Ada satu amplop yang sebelumnya menempel di bagian bawah kotak.

Di dalamnya terdapat laporan pemeriksaan kendaraan Raka setelah kecelakaan.

Selang rem dipotong.

Bukan rusak.

Dipotong.

Dan orang terakhir yang tercatat membawa mobil itu ke bengkel bukan Rangga.

Melainkan seseorang dari perusahaan ayahku.

Aku membaca nama tersebut berulang kali.

Hendra Prameswari.

Adik ayahku.

Pamanku sendiri.

Keesokan paginya polisi mendatangi rumah Paman Hendra.

Ia mencoba menyangkal semuanya.

Sampai Dimas menunjukkan catatan transfer.

Hendra telah membayar seorang mekanik untuk merusak mobil Raka karena ia mengetahui ayahku berniat menyerahkan sebagian besar saham Prameswari Tekstil kepadaku dan menempatkan Raka sebagai salah satu pengawas yayasan keluarga.

Jika aku kehilangan suami dan kemudian dianggap tidak mampu memimpin perusahaan karena kondisi emosional, Hendra berharap mengambil kendali.

Namun Raka tidak meninggal.

Rencana itu gagal.

Dan tanpa disadarinya, kecelakaan tersebut justru membuka kesempatan bagi Rangga.

Dua kejahatan berbeda bertemu pada satu korban yang sama.

Raka.

Enam tahun kemudian, Hendra ditahan.

Livia bekerja sama dengan penyidik dan memberikan lokasi persembunyian Rangga.

Ia ditangkap di Pelabuhan Tanjung Priok ketika mencoba meninggalkan Indonesia menggunakan identitas palsu.

Aku tidak pernah menghadiri persidangan mereka lebih dari yang diperlukan.

Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu untuk orang-orang yang menjadikan hidup manusia sebagai alat mendapatkan uang.

Aku memilih menghabiskan waktuku bersama Raka.

Setelah obat-obatan dihentikan secara bertahap, perubahan kecil mulai muncul.

Jarinya bisa bergerak.

Kemudian kepalanya.

Tiga bulan kemudian, ia mampu duduk dengan bantuan.

Dokter tidak menjanjikan pemulihan penuh.

Aku tidak meminta janji.

Bagiku, setiap kemajuan adalah sesuatu yang enam tahun lalu bahkan tidak berani kuharapkan.

Suatu sore, hampir setahun setelah malam di balkon itu, aku membawanya ke teras.

Bandung baru selesai diguyur hujan.

Udara Dago dingin dan aroma tanah basah memenuhi halaman.

Aku duduk di sebelah kursi rodanya sambil membaca laporan perusahaan.

Tiba-tiba jarinya menyentuh tanganku.

Aku menoleh.

Bibirnya bergerak.

Suara yang keluar sangat pelan dan serak.

“Nadira.”

Aku membeku.

Itu adalah pertama kalinya aku mendengar suamiku memanggil namaku setelah hampir tujuh tahun.

Air mataku langsung jatuh.

Aku menggenggam tangannya.

“Aku di sini.”

Raka menarik napas panjang.

Ada sesuatu yang ingin ia katakan.

Aku mendekatkan telinga.

“Maaf.”

Aku menggeleng sambil menangis.

“Kamu tidak perlu meminta maaf.”

Namun Raka kembali menggeleng.

Dengan susah payah, ia mengucapkan kalimat yang membuatku terdiam.

“Aku… tahu Rangga masih hidup… sebelum kecelakaan.”

Aku menatapnya.

Raka memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan.

“Aku menyembunyikannya… darimu.”

“Kenapa?”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Karena aku malu pada keluargaku.”

Saat itulah aku akhirnya memahami bahwa kebenaran tidak selalu datang dalam bentuk yang membuat hati lega.

Kadang orang yang kita cintai juga menyimpan rahasia.

Kadang kesetiaan bukan berarti mengenal seluruh isi hidup seseorang.

Aku telah menghabiskan enam tahun berbicara kepada lelaki yang kupikir tidak bisa mendengarku.

Ternyata ia mendengar lebih banyak daripada yang kukira.

Dan aku hidup enam tahun bersama seorang suami yang kukira telah kehilangan segalanya.

Padahal di balik tubuh yang tak mampu bergerak itu, ia masih menyimpan rasa takut, penyesalan, dan rahasia.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku marah,” kataku.

Raka menatapku.

“Tapi kali ini kamu akan mendengarnya langsung dariku.”

Sudut bibirnya bergerak sangat tipis.

Hampir seperti senyum.

Aku tersenyum sambil menangis.

Enam tahun sebelumnya, kecelakaan merampas suara suamiku.

Kebohongan orang-orang di sekeliling kami hampir merampas hidupnya.

Namun pada akhirnya, bukan polisi, uang, atau perusahaan yang terasa paling berharga bagiku.

Melainkan satu hal yang dulu kuanggap biasa.

Kesempatan untuk duduk berhadapan dengan orang yang kucintai dan mendengar kebenaran, meskipun kebenaran itu menyakitkan.

Karena sejak malam aku melihat dua wajah suamiku berada dalam kamar yang sama, aku belajar satu hal.

Wajah bisa ditiru.

Tanda tangan bisa dipalsukan.

Identitas bahkan bisa dicuri.

Tetapi sebuah kehidupan tidak pernah benar-benar dapat digantikan oleh kehidupan lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang