
“Kalau kamu naik bus itu, jangan kembali meminta apa pun dari keluarga!”
Ayah berdiri di samping pikap hitam milik Dimas, sementara air kecokelatan merambat naik ke halaman. Lima menit sebelumnya, petugas mengumumkan kendaraan evakuasi terakhir segera berangkat.
Aku mengencangkan ransel.
“Ayo ikut, Yah. Bu, tinggalkan barangnya.”
“Bantu dorong dulu!” bentak Ayah. “Mobil ini dibeli pakai uang!”
Aku hampir menjawab bahwa sebagian uang itu milikku. Namun, klakson bus berbunyi panjang dari ujung gang.
Dimas sudah pergi untuk menjemput Sinta, tunangannya. Ia meninggalkan pikap yang terjebak lumpur, lalu membiarkan kami menyelamatkannya.
Ibu menarik lenganku.
“Sebentar saja, Ras.”
Aku memandangi air yang terus naik, lalu menggeleng.
“Aku mau hidup, Bu. Kalian juga harus pergi.”
Aku berlari sebelum keberanianku habis.
Pak Rudi menarik tanganku ke pintu bus. Sesaat kemudian, kendaraan bergerak meninggalkan gang, membawa tetangga yang menangis dan tas-tas berisi kehidupan yang diselamatkan seadanya.
Dari tikungan jalan yang lebih tinggi, rumah kami masih terlihat.
Ayah dan Ibu sedang mendorong pikap.
Air sudah mencapai lutut mereka.
“Pak Rudi!” Aku berdiri. “Orang tua saya masih di rumah!”
Ia segera mengambil radio. Kusebutkan alamat kami dengan suara gemetar.
Sebelum rumah itu hilang di balik hujan, kulihat Ibu menarik lengan Ayah. Ayah tetap bertahan di dekat pintu pengemudi.
Lalu pagar samping roboh.
Aku menutup mulut agar tidak menjerit.
Saat itulah sebuah ponsel bergetar di bawah kursiku.
Casing biru. Retak kecil di sudut layar.
Ponsel Dimas.
Sebuah pesan dari Sinta muncul.
Kamu sudah sampai terminal? Jangan sampai keluargamu tahu kita membawa uang simpanan Laras.
Aku membacanya tiga kali.
Selain uang muka pikap yang belum dikembalikan, aku menitipkan delapan belas juta rupiah kepada Ibu. Uang tunai itu kusimpan dalam amplop untuk biaya pindah dan kebutuhan awal sebelum menerima gaji pertamaku sebagai guru.
Ibu mengatakan amplopnya aman.
Ponsel itu kembali bergetar. Kali ini panggilan.
Aku mengangkatnya.
“Mas, uangnya jangan dimasukkan ke tas depan. Tadi hampir kelihatan waktu—”
“Sinta. Dimas di mana?”
Sambungan langsung terputus.
Aku duduk perlahan. Di luar jendela, sawah telah berubah menjadi hamparan air.
Perempuan di sebelahku menyentuh bahuku.
“Kamu pucat sekali.”
Aku ingin mengatakan bahwa adikku mencuri tabunganku. Namun, dari radio Pak Rudi terdengar kabar tim perahu sedang menuju rumah kami.
Untuk sementara, hanya kabar itu yang sanggup kutunggu.
Di gedung sekolah yang menjadi tempat pengungsian, aku membantu menata tikar sambil terus memandangi pintu.
Dua jam kemudian, Ibu datang dengan selimut di bahu.
Aku berlari memeluknya.
“Ayah?”
“Dibawa ke pos kesehatan. Kakinya terluka.”
Lututku lemas.
Seorang relawan menjelaskan mereka ditemukan di teras rumah tetangga yang lebih tinggi. Pikap sudah terseret dari halaman sebelum Ayah akhirnya mau meninggalkannya.
Aku mengantar Ibu duduk, memberinya air, lalu mengeluarkan ponsel Dimas.
“Kenapa uangku dibawa Dimas?”
Wajahnya berubah.
“Siapa bilang?”
“Katakan saja, Bu.”
Ibu meremas ujung selimut.
“Dia mau menaruhnya di tempat aman.”
“Kenapa harus dirahasiakan dariku?”
Ibu menunduk.
Aku baru tahu ia menyerahkan amplop itu pagi tadi. Dimas mengaku akan menitipkannya kepada keluarga Sinta, lalu kembali membantu evakuasi.
“Dia bilang kamu pasti keberatan,” bisik Ibu.
“Tentu aku keberatan. Itu uang untuk pekerjaanku.”
“Uangnya belum dipakai.”
“Ibu tahu itu dari mana?”
Ia tidak menjawab.
Dimas datang menjelang malam dengan mobil sewaan. Sinta tidak bersamanya.
Begitu melihat ponsel di tanganku, langkahnya terhenti.
“Kamu mengambil HP-ku?”
“Ditemukan di bus.”
Ia rupanya sempat naik untuk mengantar tas seorang tetangga, lalu turun di sisi lain menuju motor temannya.
“Amplopku mana?”
“Aman.”
“Bawa ke sini.”
Ia melirik orang-orang di sekitar kami.
“Jangan bikin malu. Kita sedang kena musibah.”
Aku menatapnya lama.
“Tadi kamu meninggalkan Ayah dan Ibu demi pergi ke terminal. Sekarang kamu ingin memakai banjir supaya aku diam?”
Pak Rudi yang berada di dekat meja pendataan menghampiri kami.
“Ada masalah?”
Aku menjelaskan singkat. Dimas buru-buru mengatakan itu urusan keluarga.
“Kalau uangnya milik Mbak Laras, kembalikan,” jawab Pak Rudi.
Dimas mengeluarkan amplop dari tas selempangnya.
Aku menghitung dengan tangan gemetar.
Empat juta rupiah kurang.
“Untuk apa?”
Ia mengusap tengkuk.
“Bayar sewa tempat usaha. Sisanya buat perjalanan.”
Aku memejamkan mata.
Dimas dan Sinta berencana membuka gerai minuman di kota. Mereka ingin pergi sebelum jalan tertutup banjir.
“Kamu punya waktu merencanakan usaha,” kataku, “tetapi tidak punya waktu mengajak orang tuamu menyelamatkan diri?”
Ia mulai meninggikan suara. Pak Rudi memintanya tenang dan menemani kami mencatat jumlah yang telah diambil serta kesanggupan pengembaliannya.
Malam itu, aku menyimpan uang yang tersisa di rekeningku.
Lalu aku pergi menemui Ayah.
Kakinya dibalut. Ia duduk di tepi ranjang pos kesehatan, memandangi celana berlumpurnya.
“Mobilnya hilang,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kalau tadi kamu bantu—”
“Ayah.”
Suaraku cukup tegas untuk membuatnya berhenti.
“Aku sudah meminta kalian ikut bus. Aku juga yang meminta pertolongan waktu melihat kalian masih di halaman.”
Ia menatapku, lalu memalingkan wajah.
Untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha menenangkan kemarahannya.
Tiga hari kemudian, kepala sekolah tempatku diterima bekerja menelepon. Aku menjelaskan bahwa aku berada di pengungsian dan mungkin terlambat datang.
“Dokumen Ibu aman?”
“Aman, Pak.”
“Datang ketika perjalanan sudah memungkinkan. Kamar sementara untuk guru baru masih tersedia.”
Aku menangis setelah panggilan itu berakhir.
Ada orang yang baru mengenalku, tetapi tidak meminta aku mengorbankan masa depanku untuk membuktikan bahwa aku layak diterima.
Seminggu kemudian, aku berangkat.
Sebelum naik kendaraan, Ibu menyerahkan kantong kain berisi bekal. Di dalamnya ada nasi, telur dadar, dan sebuah buku tabungan.
“Tabungan Ibu sendiri,” katanya. “Empat juta. Ibu yang menyerahkan uangmu tanpa izin. Biar Ibu yang menagih Dimas.”
Aku memandangnya.
“Jangan ambil lagi untuk kebutuhan siapa pun, Bu.”
“Iya.”
Ayah berdiri beberapa langkah di belakangnya, bertumpu pada tongkat pinjaman.
“Sudah ada yang menjemput di sana?” tanyanya.
“Sudah.”
Ia mengangguk, lalu mengambil ranselku dan menyerahkannya kepada sopir.
“Yang ini jangan ditaruh dekat barang basah. Ada ijazahnya.”
Aku menatapnya, teringat ancamannya saat aku meninggalkan halaman.
Ayah menghindari mataku, tetapi tangannya sempat menahan pintu kendaraan.
“Kabari kalau sudah sampai.”
Aku belum siap melupakan semuanya. Namun, kali ini aku mengangguk.
Dari jendela, kulihat mereka berdiri bersama sampai kendaraan berbelok.
Aku berangkat membawa uang yang tersisa, dokumen yang kering, dan pekerjaan yang menungguku. Untuk pertama kalinya, masa depanku tidak kutinggalkan di rumah agar orang lain merasa nyaman.
