“Hubungan apa?”
Suaraku terdengar begitu tenang sampai Arga justru terlihat semakin takut.
Ia menarik ponselnya, tetapi tanganku lebih dulu menahannya di meja.
“Jangan sembunyikan lagi.”
Arga duduk perlahan.
“Dulu Keisya meninggalkanku karena aku belum punya pekerjaan tetap. Tiga bulan kemudian, aku bertemu denganmu.”
Aku mengingat masa itu. Arga datang ke acara peluncuran buku tempatku bekerja, mengajakku berbicara sampai petugas mematikan lampu ruangan. Sebulan kemudian, ia mulai mengirim bunga ke kantor.
“Kamu bilang sudah lama sendiri.”
“Aku malu mengaku masih memikirkannya.”
“Lalu kenapa menikahiku?”
Ia mengusap wajah.
“Awalnya aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melanjutkan hidup.”
Aku menarik tangan dari meja.
“Dengan memakai hidupku?”
“Aku kemudian mencintaimu, Dinda.”
“Kemudian itu kapan?”
Arga membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Aku berjalan ke kamar dan mengambil amplop dari tas. Kertas di dalamnya sudah sedikit kusut karena kubawa ke mana-mana selama seminggu.
“Aku menerima program Surabaya.”
Ia langsung berdiri.
“Kita sedang punya masalah. Kamu justru mau pergi?”
“Aku hampir menolak kesempatan ini karena kamu bilang kita perlu menjaga pernikahan. Kemarin, kamu tidak pulang karena menjaga perempuan lain.”
“Aku hanya membantunya. Dia kehilangan pekerjaan dan sedang berpisah dari suaminya.”
“Dan kamu memutuskan aku tidak perlu tahu?”
Arga menunduk.
Aku memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, lalu menelepon Nisa. Ketika Arga mencoba menyentuh lenganku, aku mundur.
“Aku perlu tempat untuk berpikir.”
Ia tidak menghalangi lagi.
Di rumah Nisa, air mataku akhirnya jatuh. Bukan ketika menceritakan apartemen atau belanjaan itu, melainkan saat melihat foto balkon yang kukirim kepadanya pagi sebelumnya.
Dua kursi. Vas bunga. Lampu kecil yang kupasang sendiri.
“Aku bahkan sempat mengukur tempat lilinnya,” kataku, lalu menangis sampai tidak bisa melanjutkan.
Nisa memelukku tanpa menyuruhku segera mengambil keputusan.
Siang harinya, aku mengirim surat penerimaan kepada penyelenggara program. Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Kami senang Ibu akhirnya dapat bergabung. Mohon konfirmasi bahwa kendala kesehatan keluarga yang disampaikan sebelumnya sudah teratasi.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Aku tidak pernah menyampaikan kendala kesehatan keluarga.

Tanganku mulai dingin ketika meminta mereka meneruskan korespondensi sebelumnya.
Ada surel dari alamatku, dikirim lima hari lalu.
Isinya permohonan menunda keikutsertaan karena suamiku memerlukan pendampingan selama perawatan. Di bagian bawah tertulis namaku lengkap.
Aku langsung menelepon Arga.
“Kamu membuka surelku?”
Ia diam.
“Jawab.”
“Aku hanya meminta penundaan. Bukan membatalkan.”
“Kamu menulis seolah aku yang meminta.”
“Aku takut kamu pergi dan tidak kembali.”
Aku memejamkan mata. Laptop kami terhubung dengan akun surelku. Selama ini, aku tidak pernah merasa perlu keluar dari akun setelah memakainya.
“Kamu takut aku pergi, tetapi kamu sendiri bebas menginap di tempat lain?”
“Dinda, aku tahu itu salah.”
Aku menutup telepon sebelum ia selesai.
Hari itu juga, kuganti kata sandi dan keluar dari seluruh perangkat lain. Rasanya aneh harus mengamankan hidupku dari orang yang seharusnya menjadi tempat paling aman.
Dua hari kemudian, Keisya menghubungiku.
Aku hampir menghapus pesannya, tetapi satu kalimat membuatku berhenti.
Arga bilang kalian sudah sepakat hidup terpisah.
Kami bertemu di sebuah kafe, ditemani Nisa yang duduk di meja dekat jendela.
Keisya tampak lebih lelah daripada ketika kulihat di lobi. Ia meletakkan ponselnya di meja.
“Aku tidak tahu dia masih pulang dan bersikap seperti suami biasa.”
Aku tidak menyentuh ponselnya.
“Kamu tahu dia menikah.”
“Iya.”
“Jadi ada bagian yang tetap kamu pilih untuk abaikan.”
Keisya menunduk.
“Ada.”
Jawaban itu tidak membuatku memaafkannya. Namun, setidaknya ia tidak mencoba menjadikanku perempuan yang terlalu curiga.
Ia menunjukkan pesan Arga tentang hubungan kami yang katanya tinggal formalitas. Lalu percakapan lama, sebelum pernikahan kami.
Dalam salah satunya, Arga mengirim foto cincin pertunanganku.
Kamu akan lihat aku juga bisa bahagia.
Aku menatap layar lama sekali.
Saat menerima cincin itu, aku menangis karena merasa dipilih.
Ternyata pada saat yang sama, ia sedang menunjukkannya kepada orang lain.
“Aku menyimpan pesan itu karena marah,” kata Keisya. “Sekarang aku malu membacanya.”
“Kenapa kamu mengirim pesan tentang alasan pernikahan kami?”
“Karena dia terus mengatakan kamu terlalu bergantung kepadanya. Aku bilang dia harus berhenti berbohong, termasuk tentang bagaimana hubungan kalian dimulai.”
Aku mengembalikan ponselnya.
“Terima kasih sudah menunjukkan. Setelah ini, aku tidak ingin menjadi bagian percakapan kalian lagi.”
Seminggu sebelum keberangkatan, aku bertemu Arga di rumah. Aku datang bersama Nisa untuk mengambil barang.
Balkon masih sama. Bunganya sudah layu.
Arga menyerahkan sepucuk surat.
“Aku menulis semuanya. Aku juga sudah meminta Keisya mencari tempat lain.”
Aku menerima surat itu tanpa membukanya.
“Aku akan membacanya nanti.”
“Aku mau memperbaiki ini. Aku bersedia ikut konseling.”
Aku memandangnya. Selama beberapa hari, aku berharap penyesalannya bisa membuatku merasa lebih baik. Ternyata yang kurasakan hanya lelah.
“Aku belum tahu apakah aku ingin melanjutkan pernikahan ini.”
Ia mengangguk, tetapi matanya basah.
“Selama ini aku pikir kamu akan selalu ada.”
“Aku memang selalu ada. Itu tidak berarti kamu boleh memperlakukanku seperti sesuatu yang tidak bisa hilang.”
Di Surabaya, aku tinggal di kamar kecil dekat tempat pelatihan. Minggu pertama terasa berat. Aku masih refleks ingin mengirim foto makan malam kepada Arga, lalu meletakkan ponsel kembali.
Perlahan, hari-hariku terisi naskah, diskusi, dan pekerjaan yang membuatku terjaga karena tertarik, bukan karena menunggu seseorang pulang.
Aku mengikuti beberapa pertemuan konseling bersama Arga secara daring. Di sana, ia mengakui kebohongannya tanpa menyalahkan Keisya. Aku menghargainya, tetapi kepercayaan kami tidak kembali hanya karena ia akhirnya berkata benar.
Menjelang akhir program, aku memutuskan berpisah.
Pada presentasi terakhir, mentorku mengembalikan tugas pendaftaran yang kukirim berbulan-bulan sebelumnya. Aku nyaris lupa pernah menulisnya.
Ada satu pertanyaan di halaman terakhir.
Apa yang paling ingin Anda pertahankan dalam enam bulan ke depan?
Jawabanku singkat.
Keberanian untuk memilih hidup yang juga memuat keinginan saya sendiri.
Aku tersenyum, kemudian menangis sedikit.
Ternyata sebelum melihat kantong belanja Arga di minimarket, ada bagian dari diriku yang sudah lebih dulu meminta untuk diselamatkan.
