Aku langsung membuka mata. Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, seolah seseorang sedang merintih tepat di bawah lantai rumah kami.
“Tolong… jangan tinggalkan aku di sini…”

Jantungku berdegup begitu kencang. Aku menoleh ke arah Hani yang masih tertidur pulas di sampingku. Tangannya yang mungil menggenggam ujung bajuku. Dengan hati-hati, aku bangkit dari kasur dan berjalan menuju ruang tengah.
Rumah itu terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Angin malam berembus melalui celah jendela kayu, membuat tirai bergerak perlahan. Aku mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Mas Galih.
Tidak diangkat.
Kucoba sekali lagi. Hasilnya sama.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah gudang.
Brak!
Aku tersentak hingga hampir menjatuhkan ponsel.
“Mas Galih?” panggilku dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban.
Aku memberanikan diri mendekati gudang yang sejak siang belum sempat kami bersihkan. Pintunya sedikit terbuka, padahal aku yakin tadi sudah menutupnya.
Ketika tanganku hendak menyentuh gagang pintu, suara rintihan itu kembali terdengar.
“Ampun… saya nggak akan bilang siapa-siapa…”
Kali ini aku yakin suara tersebut berasal dari balik dinding gudang, bukan dari makam.
Aku mundur beberapa langkah. Tubuhku gemetar. Belum sempat memutuskan harus berbuat apa, terdengar ketukan keras dari pintu depan.
“Ratih! Buka, Tih! Ini Mas!”
Aku segera berlari membukakan pintu. Mas Galih berdiri dengan pakaian penuh lumpur, membawa ember berisi beberapa ekor belut.
“Mas! Dari mana saja? Aku ketakutan sendirian!”
“Lho, kenapa? Mas tadi ke sawah belakang kampung. Sinyalnya jelek, jadi nggak dengar telepon.”
Aku langsung menceritakan semua yang kudengar, termasuk suara gerbang makam yang terbuka sendiri.
Mas Galih terdiam sesaat.
“Mungkin suara orang lewat, Tih. Atau suara angin dari makam.”
“Tapi aku dengar jelas ada orang minta tolong dari gudang!”
Melihat wajahku yang pucat, Mas Galih akhirnya meletakkan embernya dan mengambil senter.
“Ya sudah. Kita periksa sama-sama.”
Kami berjalan menuju gudang. Mas Galih mendorong pintunya hingga terbuka lebar. Bau lembap langsung menyergap hidungku.
Di dalamnya terdapat lemari tua, beberapa karung kosong, dan tumpukan papan kayu. Tidak ada siapa-siapa.
“Tuh, kosong, kan?” ujar Mas Galih.
Namun, ketika dia hendak keluar, aku melihat sesuatu yang membuat langkahku terhenti.
Di lantai dekat lemari terdapat bekas gesekan panjang, seolah benda berat baru saja diseret.
“Mas, lihat itu.”
Mas Galih mengarahkan senternya ke lantai.
Kami menggeser lemari tersebut bersama-sama. Ternyata di belakangnya terdapat sebuah pintu kayu kecil yang hampir seluruh permukaannya tertutup debu.
“Aneh. Pemilik rumah nggak pernah bilang ada ruangan lain,” gumam Mas Galih.
Pintu itu terkunci dari luar menggunakan gembok berkarat.
“Jangan dibuka sekarang, Mas,” pintaku.
Mas Galih mengangguk. Kami memutuskan kembali ke kamar dan memeriksanya besok pagi.
Namun, malam itu belum selesai menguji keberanianku.
Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena Hani menangis keras. Biasanya putriku mudah ditenangkan, tetapi kali ini dia terus menunjuk ke arah pintu kamar.
“Kenapa, Sayang? Mau susu?”
Hani menggeleng sambil menangis semakin kencang.
Mas Galih yang tidur di sebelahku ikut terbangun.
Saat itulah terdengar suara ketukan dari arah gudang.
Tok… tok… tok…
Tiga ketukan pelan.
Kemudian suara seorang perempuan terdengar lirih.
“Tolong bukakan… anak saya masih di dalam…”
Aku dan Mas Galih saling berpandangan.
Wajah suamiku langsung berubah pucat.
“Kamu dengar, Mas?” bisikku.
Dia mengangguk perlahan.
Tanpa banyak bicara, Mas Galih mengambil linggis kecil dari kotak perkakas. Aku menggendong Hani dan mengikutinya sampai ruang tengah.
Ketika kami mendekati gudang, ketukan itu berhenti.
Mas Galih memukul gembok pintu kecil tersebut beberapa kali sampai akhirnya terlepas.
Begitu pintu dibuka, kami menemukan tangga sempit menuju ruangan bawah tanah.
Bau tanah basah bercampur sesuatu yang busuk langsung tercium.
“Mas, jangan turun. Kita panggil warga saja.”
Namun, sebelum Mas Galih menjawab, terdengar suara tangisan anak kecil dari bawah.
“Tolong… aku takut…”
Mas Galih segera menghubungi Pak RT. Untungnya, rumah beliau hanya berjarak beberapa ratus meter. Lima belas menit kemudian, Pak RT datang bersama Uwa Johan dan dua warga lainnya.
Ketika melihat pintu rahasia itu, wajah Uwa Johan mendadak menegang.
“Astaghfirullah… jadi benar ada ruangan ini.”
“Maksud Uwa apa?” tanyaku.
Uwa Johan tidak langsung menjawab.
“Dulu rumah ini milik keluarga Pak Suryana. Istrinya, Bu Marni, hilang bersama anak perempuannya sekitar delapan tahun lalu. Katanya mereka kabur karena masalah keluarga.”
Aku merasakan tengkukku semakin dingin.
“Terus hubungannya dengan ruangan ini apa?”
“Sebelum hilang, Bu Marni pernah cerita kepada tetangga kalau suaminya sering mengunci gudang. Tapi nggak ada yang tahu apa isinya.”
Pak RT meminta kami menunggu di atas sementara beliau dan dua warga turun membawa senter.
Beberapa menit kemudian terdengar teriakan.
“Ya Allah! Cepat hubungi polisi!”
Aku hampir menjatuhkan Hani.
Mas Galih segera berlari mendekati tangga, tetapi Pak RT melarangnya turun.
Di bawah sana ditemukan dua kerangka manusia yang tergeletak berdekatan. Salah satunya berukuran kecil, diduga kerangka seorang anak.
Aku menutup mulut, menahan tangis.
Polisi datang menjelang subuh dan langsung memasang garis pembatas di sekitar gudang. Kami diminta meninggalkan rumah sementara waktu.
Ketika petugas membawa keluar dua kantong jenazah, aku melihat Uwa Johan menangis sambil duduk di teras.
“Kasihan Marni… selama ini kami kira dia pergi meninggalkan anak dan suaminya.”
Aku menghampirinya.
“Wa, kenapa gerbang makam bisa terbuka sendiri tadi malam?”
Uwa Johan menggeleng.
“Gerbang itu sudah lama rusak, Tih. Kalau angin kencang, memang suka terbuka sendiri. Tapi anehnya, malam ini nggak ada angin besar.”
Aku tidak menjawab.
Pagi harinya, kami mengungsi ke rumah Bi Janah. Mas Galih masih berusaha menghubungi orang yang menjual rumah tersebut.
Namun, nomor teleponnya sudah tidak aktif.
“Mas, siapa sebenarnya yang menjual rumah itu?”
“Namanya Damar. Katanya keponakan pemilik lama. Dia punya surat kuasa dan dokumen rumah. Semua kelihatan lengkap.”
Bi Janah yang sedang menyiapkan teh mendadak menjatuhkan sendok.
“Damar?”
“Iya, Bi. Kenapa?”
Wajah bibiku berubah pucat.
“Damar itu anak sulung Pak Suryana. Dulu dia pergi dari kampung setelah ibunya hilang. Orang-orang bilang dia pindah ke Kalimantan.”
Aku dan Mas Galih saling berpandangan.
“Jadi rumah itu dijual oleh anak Bu Marni sendiri?”
Bi Janah mengangguk pelan.
“Tapi ada yang lebih aneh. Damar pernah bilang kepada warga kalau ibunya meninggal di luar kota. Padahal nggak pernah ada kabar pemakamannya.”
Siang itu polisi kembali menghubungi kami. Mereka menemukan sebuah kotak besi kecil di bawah tangga gudang.
Di dalamnya terdapat buku harian, beberapa foto keluarga, dan sebuah telepon genggam lama.
Dari catatan yang ditemukan, terungkap bahwa Bu Marni pernah mencurigai suaminya menggelapkan uang hasil penjualan tanah warisan keluarganya. Dia berniat melaporkan perbuatan tersebut kepada polisi.
Namun, sebelum sempat melapor, Bu Marni dan putri bungsunya menghilang.
Yang membuatku semakin terkejut, Pak Suryana ternyata sudah meninggal lima tahun lalu akibat serangan jantung.
Lalu siapa yang mengunci mereka di bawah tanah?
Polisi belum dapat memastikan penyebab kematian kedua korban. Mereka meminta kami tidak menyebarkan dugaan apa pun sebelum pemeriksaan forensik selesai.
Tiga hari kemudian, Damar berhasil ditemukan di sebuah penginapan di Bandung.
Aku mengetahui kabar itu dari Mas Galih.
Menurut keterangan awal yang disampaikan penyidik kepada kami, Damar mengakui pernah mengetahui keberadaan ruang bawah tanah tersebut. Namun, dia membantah mengetahui bahwa ibu dan adiknya berada di sana.
Penyelidikan kemudian mengungkap sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Di dalam telepon lama Bu Marni terdapat rekaman suara yang berhasil dipulihkan oleh petugas.
Rekaman itu dibuat pada malam terakhir sebelum beliau menghilang.
Terdengar suara pertengkaran antara Bu Marni, Pak Suryana, dan seorang laki-laki muda.
Laki-laki muda itu ternyata Damar.
“Kamu harus diam, Bu! Kalau Ibu melapor, Bapak bisa masuk penjara!”
“Apa kamu pikir Ibu akan membiarkan kalian mengambil uang itu?”
Kemudian terdengar suara benturan keras.
Rekaman berakhir dengan tangisan seorang anak.
Polisi menduga terjadi tindak kekerasan yang kemudian ditutupi dengan mengurung kedua korban di ruangan bawah tanah. Damar akhirnya ditetapkan sebagai tersangka setelah bukti-bukti tambahan ditemukan.
Tetapi masih ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun.
Siapa yang meminta tolong malam itu?
Ruangan bawah tanah tersebut sudah terkunci selama bertahun-tahun. Tidak mungkin ada orang hidup di dalamnya.
Mas Galih mencoba menenangkanku.
“Mungkin kamu terlalu capek. Suara yang kita dengar bisa saja berasal dari luar rumah.”
“Tapi Mas juga dengar perempuan itu bilang anaknya masih di dalam.”
Suamiku terdiam.
Seminggu kemudian, kami kembali ke rumah untuk mengambil sisa pakaian dan dokumen. Kami sudah sepakat menjual rumah tersebut setelah seluruh urusan hukum selesai.
Saat sedang membereskan lemari kamar, aku menemukan sebuah foto tua terselip di balik lacinya.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan tersenyum sambil menggendong anak kecil di depan rumah yang sekarang kami tempati.
Aku mengenali wajah perempuan tersebut dari foto yang diperlihatkan polisi.
Itu Bu Marni.
Namun, ada sesuatu yang membuat tanganku gemetar.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan yang sudah mulai pudar.
“Untuk siapa pun yang kelak tinggal di rumah ini, tolong jangan biarkan anakku sendirian.”
Aku terduduk di lantai.
Tiba-tiba Hani yang sedang bermain di dekat pintu tertawa kecil sambil melambaikan tangan ke sudut kamar.
“Dadah… dadah…”
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun, dari jendela yang menghadap makam, kulihat gerbang besi tua itu perlahan terbuka.
Kali ini tanpa suara berderit.
Aku memeluk Hani dan bergegas keluar rumah.
Saat melewati gerbang makam, mataku menangkap dua pusara baru yang berdampingan. Di atasnya terdapat bunga melati segar.
Bu Marni dan putrinya akhirnya dimakamkan dengan layak setelah bertahun-tahun dianggap menghilang.
Aku berhenti sejenak untuk mendoakan mereka.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak pindah ke rumah itu, aku tidak merasa takut.
Beberapa bulan kemudian, kami mendapat kabar bahwa Damar telah mengakui keterlibatannya dalam kematian ibu dan adiknya. Pengakuan itu diperkuat oleh hasil penyelidikan, meskipun proses persidangannya masih berlangsung.
Rumah tersebut akhirnya kami lepaskan setelah urusan kepemilikannya diselesaikan secara hukum. Mas Galih mendapatkan pekerjaan baru di sebuah bengkel, sementara aku mulai berjualan makanan dari rumah kontrakan sederhana kami.
Suatu sore, ketika sedang melipat pakaian, aku menemukan foto Bu Marni yang rupanya terbawa di antara barang-barang kami.
Aku hendak menyimpannya ketika Hani mendekat.
Putriku menunjuk perempuan dalam foto itu.
“Mama, nenek.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya, Sayang. Itu nenek yang dulu tinggal di rumah lama.”
Hani menggeleng.
“Bukan.”
Aku menatapnya.
Hani kemudian menunjuk anak perempuan yang berdiri di samping Bu Marni.
“Kakak itu yang bilang sama Hani, suruh Mama buka pintu.”
Tanganku seketika membeku.
Hani baru berusia satu tahun lebih. Dia bahkan belum mampu menyusun kalimat sepanjang itu dengan jelas sebelumnya.
Aku memandang wajah polos putriku yang kembali sibuk bermain.
Lalu aku teringat malam pertama di rumah sebelah makam, ketika Hani menangis sambil menunjuk pintu kamar.
Selama ini aku mengira anakku ketakutan karena berada di tempat asing.
Ternyata mungkin bukan itu alasannya.
Mungkin ada seorang anak yang sudah terlalu lama menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, akhirnya ada yang mendengar tangisannya.
