Seminggu Sebelum Pernikahan, Tunanganku Menolak Meminjamiku Uang untuk Operasi

“Uang muka gedung yang mana?”

Suaraku membuat pegawai yang memegang mesin pembayaran berhenti bergerak.

Keisya menoleh. Senyumnya perlahan hilang ketika melihat wajahku.

“Gedung pernikahanku, Kak. Mas Dimas menawarkan bantuan karena pembayaran dari usaha calon suamiku belum cair.”

Aku memandang Dimas.

“Berapa?”

“Rani, jangan membicarakan ini di sini.”

“Semalam kamu menanyakan kenapa ibuku mendadak perlu operasi menjelang pernikahan kita. Sekarang aku ingin tahu berapa yang kamu keluarkan untuk pernikahan orang lain.”

Dimas meletakkan kartu di meja.

“Lima belas juta. Itu pinjaman.”

“Dan kebaya hampir dua puluh delapan juta ini?”

Keisya menatap label harga, lalu Dimas.

“Tadi kamu bilang sudah membicarakannya dengan Kak Rani.”

Dadaku terasa dingin.

“Membicarakan apa?”

Keisya mundur selangkah.

“Katanya uang itu dari dana yang belum dipakai untuk acara kalian. Aku akan mengembalikannya bulan depan.”

Aku langsung membuka aplikasi rekening. Dana pernikahan kami disimpan di rekening terpisah milik Dimas. Setiap bulan aku mentransfer bagianku, lalu ia mengirim catatan pengeluaran.

Terakhir, saldo yang dilaporkannya masih empat puluh enam juta.

“Buka rekeningnya,” kataku.

“Tidak perlu begini.”

“Kalau itu uangmu sendiri, tunjukkan. Kalau ada uangku di dalamnya, aku berhak tahu.”

Keisya segera berkata kepada kasir, “Tolong jangan proses pembayarannya dulu.”

Dimas menatapnya seolah ia baru saja berpihak kepada orang asing.

Kami akhirnya duduk di ruang konsultasi butik. Bu Lestari, pemiliknya, menyediakan tempat setelah melihat tanganku gemetar. Aku menghubungi kakakku dan memintanya datang.

Ketika Dimas akhirnya memperlihatkan riwayat transaksi, aku tidak langsung memahami semua angka itu.

Lima belas juta ke pengelola gedung.

Delapan juta ke vendor dokumentasi.

Enam juta ke rekening Keisya.

Saldo tersisa bahkan tidak cukup untuk membayar dekorasi kami.

“Makanya kamu menagih katering kemarin,” bisikku.

“Aku bisa mengaturnya.”

“Kamu memakai setoran berikutnya untuk menutup uang yang sudah keluar.”

“Itu cuma sementara.”

Aku menatapnya. Selama ini aku menyimpan bukti transfer agar tidak dianggap memanfaatkan dia. Sementara itu, ia memindahkan uangku tanpa bertanya.

Keisya membuka percakapannya dengan Dimas.

“Aku minta pinjam untuk gedung. Yang lain dia sendiri yang menawarkan,” katanya. “Aku tidak tahu ini dana bersama.”

Di layar, Dimas menulis bahwa aku sudah setuju membantu. Bahkan ada kalimat yang membuat mataku panas.

Rani paham. Dia tidak keberatan menunda beberapa kebutuhannya.

Aku memang selalu menunda. Sepatu kerja yang solnya lepas. Pemeriksaan gigi. Kursus yang ingin kuikuti. Rupanya kebiasaanku mengalah sudah dianggap sebagai persetujuan yang tidak perlu diminta.

“Kenapa?” tanyaku.

Dimas bersandar, wajahnya tegang.

“Keisya sedang kesulitan. Aku tahu rasanya rencana pernikahan hampir gagal.”

“Ibuku sedang di rumah sakit.”

“Aku tahu kamu punya deposito.”

Ruangan mendadak terasa sempit.

Aku menatapnya lama.

“Jadi kamu menolak karena tahu aku masih bisa mengorbankan sesuatu.”

Dimas tidak menjawab.

Kakakku tiba beberapa menit kemudian. Begitu ia duduk di sampingku, aku baru menyadari betapa keras tubuhku menahan diri agar tidak menangis.

Kami meminta salinan transaksi yang berkaitan dengan dana bersama. Keisya memberikan bukti pembayaran yang diterimanya dan menghubungi calon suaminya untuk menjelaskan keadaan.

Tidak ada yang berteriak. Justru ketenangan ruangan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.

Kulepas cincin pertunangan dan meletakkannya di meja.

“Aku membatalkan pernikahan kita.”

Dimas langsung mencondongkan tubuh.

“Jangan gegabah. Undangan sudah tersebar.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau menjelaskan apa kepada semua orang?”

“Bahwa kami tidak jadi menikah.”

“Cuma karena uang?”

Aku menggeleng.

“Karena kamu mengajarkan aturan yang hanya berlaku untukku, lalu berbohong atas namaku.”

Ia meraih cincin itu, tetapi aku sudah berdiri.

Malamnya, aku menginap di rumah kakakku. Pembatalan acara kami urus satu per satu. Ada biaya yang hangus, ada yang bisa dikembalikan, dan ada barang yang harus diambil dari apartemen.

Dimas berkali-kali mengirim pesan. Mula-mula marah, lalu memohon, kemudian menjanjikan seluruh uang akan kembali jika aku mau melanjutkan pernikahan.

Aku meneruskan pesan tentang keuangan kepada pendamping yang membantu kami menyusun penyelesaian. Untuk urusan lain, aku tidak membalas.

Dua hari kemudian, Keisya datang ke rumah sakit bersama calon suaminya, Fajar. Mereka membawa bukti pengembalian dana yang belum dibayarkan kepada vendor.

“Kami sedang mengurus sisanya,” kata Fajar. “Ada pengembalian yang perlu waktu. Kami tidak ingin menjanjikan tanggal yang belum pasti.”

Aku mengangguk.

Keisya duduk di ujung kursi.

“Aku dulu sering cerita kepadanya karena dia kelihatan selalu siap membantu,” katanya. “Sekarang aku sadar aku tidak pernah bertanya apa yang harus dia korbankan, atau siapa yang sebenarnya menanggungnya.”

“Aku tidak tahu hubungan kalian seperti apa,” jawabku. “Tapi aku tahu apa yang terjadi pada uangku.”

“Itu cukup untuk kamu marah.”

Aku lega ia tidak memintaku segera memaafkan.

Ibu menjalani pemulihan perlahan. Ketika akhirnya kuceritakan bahwa pernikahan dibatalkan, beliau menatapku dengan mata basah.

“Maaf, Nak. Gara-gara Ibu sakit—”

“Bukan gara-gara Ibu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kalau Ibu tidak sakit, mungkin aku baru mengetahui semuanya setelah menikah.”

Pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku, aku menjemput Ibu pulang. Tidak ada riasan. Aku mengenakan kemeja longgar dan sepatu yang nyaman untuk berjalan di lorong rumah sakit.

Saat kami menunggu obat, pesan Dimas masuk.

Aku sudah mengembalikan bagian uangmu yang tersisa. Semoga sekarang kamu puas.

Aku memeriksa transfernya, menyimpan bukti, lalu menutup percakapan.

Di sebelahku, Ibu mengeluarkan amplop tipis dari tas.

“Ini buat kamu.”

Isinya buku tabungan lama. Saldo kecil di dalamnya berasal dari uang jahitan yang disisihkannya bertahun-tahun.

“Ibu menabung untuk hadiah pernikahanmu,” katanya.

Aku hendak mengembalikannya, tetapi beliau menahan tanganku.

“Hadiah itu tetap milikmu. Tidak perlu ada pengantin laki-laki dulu.”

Beberapa bulan kemudian, uang itu kupakai untuk mengikuti kursus yang selalu kutunda.

Pada halaman pertama buku catatan baruku, kutulis namaku sendiri.

Tidak ada daftar pengeluaran bersama di bawahnya. Hanya jadwal kelas, target yang ingin kucapai, dan tanggal mulai.

Ternyata, hidup yang sudah kurencanakan tidak seluruhnya batal. Ada bagian yang baru bisa dimulai setelah aku berhenti membiayai rencana orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang