“Besok aku bisa pukul sepuluh,” jawabku. “Di tempat umum.”
Raka mengangguk.
“Dan jangan memanggilku ke ruang direktur untuk urusan ini.”
Beberapa orang masih memperhatikan kami. Raka memasukkan ponselnya ke saku, lalu mundur setengah langkah.
“Baik. Aku akan mengirim alamatnya.”
Untuk pertama kalinya, pesannya malam itu tidak diawali permintaan dokumen.
Ia bertanya apakah aku sudah sampai rumah.
Aku menjawab singkat, kemudian duduk lama di tepi ranjang. Kejadian di ballroom memang memalukan, tetapi surat yang ditunjukkan Nadine membuatku teringat bahwa sejak awal, pernikahan kami dibangun di atas kebutuhan orang lain.
Besok pagi, mungkin aku akan kembali diminta membantu menyelamatkan sesuatu.
Raka sudah menunggu ketika aku tiba di kedai. Tidak ada laptop, sekretaris, atau map di depannya.
“Aku minta maaf,” katanya sebelum aku duduk.
“Karena tidak mengenaliku?”
“Karena aku tidak berusaha mengenalmu.”
Aku meletakkan tas.
“Kamu tahu nama lengkapku. Kamu punya nomorku. Delapan bulan cukup lama untuk meminta satu foto.”

“Aku tahu.”
“Jadi jangan bilang penampilanku berubah.”
Ia menunduk.
“Aku tidak akan bilang begitu.”
Pelayan datang. Raka memesan kopi, lalu membatalkannya dan meminta sarapan lebih dulu. Aku hampir tersenyum, tetapi menahannya.
“Apa yang keluargamu minta sekarang?” tanyaku.
“Pengacara ingin kita menjelaskan keadaan sebenarnya. Sepupuku, Damar, mengajukan keberatan atas kewenanganku mengelola saham.”
“Lalu kamu butuh aku berpura-pura menjadi istri yang bahagia?”
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
“Aku ingin tahu apa yang kamu inginkan, sebelum kita menemui siapa pun.”
Aku memandangnya, mencari tanda bahwa kalimat itu sudah disiapkan.
“Aku ingin pinjaman usaha Ibu tetap mengikuti perjanjian awal. Jangan dijadikan alat untuk menahanku.”
“Setuju.”
“Aku ingin pekerjaanku dinilai tanpa hubungan ini.”
“Setuju.”
“Dan aku tidak mau berbohong.”
Raka menarik napas panjang.
“Aku juga tidak mau.”
Hari Senin, kami menyampaikan hubungan kami kepada HR dan bagian kepatuhan. Penugasan serta penilaian kinerjaku dialihkan kepada manajer lain. Aku tetap mengerjakan proyek yang sama, tetapi Raka tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang menyetujui hasil kerjaku.
Pengumuman itu tidak menghentikan bisik-bisik.
Di pantry, dua orang mendadak diam ketika aku masuk. Seseorang menyebut promosiku sudah pasti aman.
Padahal aku belum pernah dipromosikan.
Siska meletakkan gelasnya sedikit terlalu keras.
“Kalau iri, setidaknya baca struktur jabatan dulu.”
Aku berterima kasih setelah mereka pergi, tetapi malamnya aku tetap menangis.
Raka menelepon. Aku hampir tidak mengangkat.
“Aku dengar ada komentar di kantor,” katanya.
“Jangan panggil semua orang dan memarahi mereka.”
“Aku tidak akan.”
“Aku butuh waktu untuk membuktikan pekerjaanku sendiri.”
“Baik.”
Ia diam sebentar.
“Apa ada yang bisa kulakukan sekarang?”
Aku mengusap mata.
“Dengarkan saja.”
Dan malam itu, ia benar-benar mendengarkan.
Dua hari sebelum pertemuan keluarga, Nadine datang membawa kabar yang membuat perutku kembali menegang.
Damar memiliki salinan ringkasan kesepakatan kami, termasuk rencana evaluasi setelah satu tahun.
“Dari mana?” tanyaku.
Nadine menggeleng.
“Aku sedang mencari tahu.”
Aku segera menghubungi Raka.
Ia datang bersama pengacara keluarga, Bu Laras. Kami menelusuri siapa saja yang menerima dokumen tersebut. Ternyata ringkasan pernah dikirim kepada ayah Raka melalui staf administrasi yang juga menangani arsip rapat keluarga.
Tidak ada penyusupan besar. Hanya dokumen sensitif yang beredar terlalu mudah.
“Aku tidak ingin menyembunyikan isinya,” kataku. “Memang begitulah awalnya.”
Bu Laras mengangguk.
“Yang perlu dijelaskan adalah fakta dan kedudukan dokumennya. Bukan membuat cerita baru.”
Pada hari pertemuan, Damar meletakkan salinan itu di meja dengan ekspresi puas.
“Pernikahan ini dilakukan demi mempertahankan pengelolaan saham. Bahkan ada rencana mengakhirinya setelah setahun.”
“Ada rencana mengevaluasi,” jawabku. “Tidak ada perceraian otomatis.”
“Tapi kalian tidak hidup sebagai pasangan.”
Raka hendak berbicara. Aku mengangkat tangan kecil, meminta giliran.
“Benar. Kami menikah, lalu menjalani kehidupan terpisah. Saya menerima pinjaman usaha melalui perjanjian tertulis. Saya tidak akan menyebut hubungan kami romantis sejak awal.”
Ruangan sunyi.
Damar bersandar, seolah baru memenangkan sesuatu.
Lalu Raka menggeser dokumen di depannya.
“Aku bersedia kewenanganku ditinjau melalui tata kelola perusahaan. Kalau diperlukan, tunjuk pengelola sementara selama pemeriksaan.”
Ayahnya langsung menoleh.
“Raka, kamu sudah memikirkan dampaknya?”
“Sudah.”
“Ini yang kamu perjuangkan sejak kakekmu meninggal.”
Raka menatapku sebentar, kemudian kembali kepada ayahnya.
“Aku tidak mau meminta Mira membuktikan cinta agar aku tetap memegang jabatan.”
Aku menunduk, menyembunyikan tangan yang gemetar.
Pertemuan itu tidak berakhir dengan kemenangan siapa pun. Dokumen keluarga diperiksa lebih lanjut. Kewenangan Raka ditata sementara, dengan pengawasan tambahan dan pembagian keputusan yang lebih jelas.
Ia pulang tanpa membawa kepastian tentang saham.
Namun, di parkiran, untuk pertama kalinya ia bertanya apakah aku mau makan siang bersamanya tanpa membicarakan pekerjaan atau keluarga.
Aku mengangguk.
Bulan-bulan berikutnya tidak berubah menjadi kisah cinta yang mulus.
Raka masih pernah membatalkan janji karena rapat. Bedanya, ia menelepon sebelum waktunya, meminta maaf, dan menawarkan jadwal pengganti. Aku belajar menyampaikan kecewa tanpa menyembunyikannya di balik jawaban formal.
Kami bertemu konselor. Kami membicarakan uang, ruang pribadi, dan alasan masing-masing menerima pernikahan itu.
Pada bulan kesebelas, pinjaman usaha Ibu lunas sesuai perjanjian.
Aku membawa bukti pelunasannya ketika menemui Raka.
“Sekarang tidak ada urusan usaha yang mengikat kita,” kataku.
Ia membaca kertas itu, lalu mengembalikannya.
“Aku tahu.”
“Dan evaluasi kita bulan depan.”
“Aku ingat.”
Aku menunggu ia meminta kami melanjutkan.
Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada dua foto pernikahan kami. Pada salah satunya, aku sedang menatap pintu, menunggu kedatangannya.
“Aku baru benar-benar memperhatikan foto ini,” katanya. “Aku terlambat hari itu.”
Aku mengangguk.
“Aku tidak bisa mengubahnya. Tapi kalau kamu bersedia, Sabtu nanti aku ingin mengajakmu berkencan. Bukan sebagai syarat apa pun.”
Aku tertawa kecil.
“Jangan terlambat.”
Sabtu itu, ia datang dua puluh menit lebih awal.
Ponselnya bergetar ketika kami sedang memilih makanan. Aku melihat sekilas nama yang muncul di layar.
Mira.
Ia rupanya sedang menunjukkan sesuatu kepadaku lewat panggilan singkat.
Dari ponselku terdengar rekaman baru yang kubuat malam sebelumnya.
“Perhatian. Raka menelepon.”
Ia tertawa.
“Sudah bukan suami yang selalu sibuk?”
Aku menyimpan ponsel, lalu menatapnya.
“Sekarang aku tahu namamu.”
Raka menggenggam tanganku setelah meminta izin.
Dan kali ini, ketika ia memperkenalkan dirinya kepadaku, aku ingin mendengar lebih banyak.
