
Begitu pintu tertutup, kutekan tombol panggil perawat.
Aku tidak akan menunggu malam keempat untuk mengetahui apakah suamiku masih menganggapku manusia atau sekadar nama di atas sertifikat rumah.
Perawat datang beberapa saat kemudian. Ketika melihat mataku terbuka, ia segera mendekat.
“Bu Xu Jing? Bisa mendengar saya?”
“Bisa,” bisikku. “Tolong panggil dokter. Dan ibu saya.”
Setelah pemeriksaan, dokter memastikan aku mampu menjawab pertanyaan dan mengikuti instruksi. Aku mengakui bahwa sejak sehari sebelumnya aku sengaja menyembunyikan kesadaranku.
Wajahnya menjadi serius.
“Kami membutuhkan informasi yang jujur untuk merawat Ibu.”
“Saya tahu. Saya salah.”
Aku menangis ketika menjelaskan apa yang kudengar. Dokter tidak langsung menyimpulkan Mingyuan berniat mencelakaiku. Pertanyaannya tentang oksigen memang sudah dijawab secara medis. Namun, kekhawatiranku tentang uang dan dokumen perlu ditangani.
Perawat membantuku menelepon Ibu. Aku meminta agar untuk sementara kunjungan suamiku didampingi petugas.
Ibu tiba menjelang subuh bersama kakakku, Raka.
Beliau memeluk bahuku dengan hati-hati.
“Kenapa kamu menanggung ini sendirian?”
Aku tidak punya jawaban yang tidak terdengar menyedihkan.
Karena aku ingin membuktikan bahwa aku masih dicintai.
Raka mengambil ponselku dari tas yang dibawa Ibu. Kami menghubungi bank, mengamankan akses pribadiku, lalu mengunduh riwayat rekening bersama melalui akses yang kumiliki.
Transaksi delapan puluh lima juta itu benar ada.
Tanggalnya sehari setelah kecelakaan.
Keterangan transfernya hanya satu kata.
Titipan.
Aku menatap angka itu sampai huruf-huruf di layar kabur.
Uang tersebut kami kumpulkan untuk sekolah Guoguo.
Pagi harinya, Mingyuan datang membawa termos bubur. Langkahnya terhenti ketika melihatku duduk dengan sandaran ranjang dinaikkan.
“Jing? Kamu sudah sadar?”
Ia meletakkan termos dan hendak memelukku. Aku mengangkat tangan.
“Duduk saja.”
Wajahnya berubah ketika melihat Raka.
“Kenapa tidak ada yang meneleponku?”
“Aku ingin bicara dengan Ibu dulu.”
Ia tersenyum kaku.
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu bangun.”
Aku ingin sekali percaya pada kelegaan di wajahnya. Tujuh tahun terlalu panjang untuk dihapus oleh satu malam, tetapi kebohongan juga tidak menjadi benar hanya karena sudah berlangsung lama.
“Kenapa kamu mengirim uang kepada Lin Wei?”
Senyumnya lenyap.
“Itu urusan pekerjaan.”
“Dari tabungan sekolah anak kita?”
Mingyuan menatap Raka, lalu kembali kepadaku.
“Kita bicarakan berdua.”
“Bicarakan di sini.”
Ia mengatakan uang itu pinjaman sementara untuk kebutuhan proyek. Ketika kutanya nama proyek dan bukti perjanjiannya, jawabannya berubah menjadi investasi.
Aku menunggu sampai ia berhenti bicara.
“Lalu rumah kita mau dijual untuk investasi juga?”
Termos bubur itu tersenggol sikunya. Tutupnya jatuh ke lantai.
“Siapa yang bilang?”
“Kamu belum menjawab.”
Mingyuan berdiri.
“Jing, kamu baru mengalami kecelakaan. Jangan membebani pikiran dengan hal yang belum kamu pahami.”
Raka ikut berdiri, tetapi aku memintanya tetap duduk.
“Kalau begitu, jelaskan sampai aku paham.”
Untuk pertama kalinya, suamiku tidak punya kalimat yang terdengar masuk akal.
Pertemuan itu berakhir ketika perawat masuk untuk memeriksa kondisiku. Mingyuan pergi setelah berjanji mengembalikan uang.
Siangnya, kami menghubungi seorang pengacara. Melalui pendampingannya, dokumen rumah diperiksa dan agen yang disebut dalam pesan Lin Wei berhasil ditemukan.
Rumah itu belum terjual.
Namun, agen sudah menerima foto sertifikat, salinan identitasku, dan keterangan bahwa aku akan memberikan kuasa setelah kondisiku memungkinkan.
Bahkan ada draf surat kuasa yang memakai namaku.
“Apa ada tanda tangan?” tanyaku.
“Belum,” jawab pengacaraku. “Itu sebabnya kita perlu segera menyampaikan keberatan tertulis.”
Aku mengembuskan napas panjang.
Setidaknya ada satu pintu yang belum sempat mereka buka.
Dua hari kemudian, Lin Wei meminta bertemu. Aku setuju setelah pengacaraku mengatakan akan mendampingi.
Ia datang tanpa riasan mencolok, mengenakan kemeja sederhana. Entah mengapa aku sempat membayangkan seseorang yang akan tersenyum menang.
Perempuan di hadapanku justru tampak ketakutan.
“Mingyuan bilang kalian sedang mengurus perceraian,” katanya.
Aku memandangnya.
“Dan kamu percaya dia perlu menyembunyikan tabungan kami dari keluargaku?”
Lin Wei menunduk.
“Aku tahu bagian itu salah.”
Ia menyerahkan salinan percakapan. Mingyuan mengaku rumah tersebut akan dijual untuk pembagian harta. Delapan puluh lima juta itu katanya bagian uang pribadinya yang dititipkan agar tidak habis untuk biaya rumah sakit.
Tidak ada satu pun pesan yang menyebut tabungan Guoguo.
Namun, Lin Wei juga menunjukkan percakapan yang lebih lama.
Di sanalah hubungan mereka terlihat jelas.
Janji menikah. Rencana tinggal bersama. Keluhan tentangku yang dianggap terlalu sibuk menghitung pengeluaran.
Aku membaca seperlunya, lalu menutup berkas.
“Aku tidak ingin mendengar penjelasan tentang kenapa dia memilihmu.”
Lin Wei menangis.
“Aku sudah mengembalikan uangnya.”
Pengacaraku memeriksa bukti transfer dan mencocokkannya dengan rekening. Dana itu telah kembali utuh.
Aku tetap tidak mengucapkan terima kasih.
Mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya adalah hal yang memang harus dilakukan.
Pemulihanku berlangsung beberapa minggu. Guoguo datang bersama Ibu, membawa gambar tiga orang di depan rumah.
“Ayah bilang rumahnya mau diganti,” katanya.
Aku membeku.
“Kapan Ayah bilang begitu?”
“Sebelum Mama kecelakaan. Katanya nanti aku punya kamar warna ungu.”
Aku memeluknya pelan.
Jadi rencana itu tidak muncul karena aku terbaring di rumah sakit. Kecelakaan hanya membuat Mingyuan merasa punya kesempatan mempercepatnya.
Aku mengajukan perceraian setelah cukup pulih untuk mengurusnya.
Mingyuan meminta maaf, marah, lalu kembali meminta maaf. Ia juga mengetahui bahwa aku sempat berpura-pura belum sadar.
“Kamu menjebakku.”
“Aku melakukan hal bodoh,” jawabku. “Tapi aku tidak menciptakan hubunganmu dengan Lin Wei. Aku tidak memindahkan uang itu. Aku juga tidak menghubungi agen.”
Ia terdiam.
Urusan harta dan pengasuhan membutuhkan waktu. Aku mengikuti prosesnya dengan pendampingan, sementara Guoguo tetap mendapat ruang untuk menyayangi ayahnya tanpa harus mendengar semua luka ibunya.
Berbulan-bulan kemudian, rumah itu akhirnya dijual melalui kesepakatan yang benar-benar kuketahui dan kutandatangani sendiri.
Aku pindah ke tempat yang lebih kecil bersama Guoguo.
Pada malam pertama, ia mengetuk pintu kamarku.
“Mama masih suka pura-pura tidur?”
Aku menatapnya, terkejut.
“Nenek bilang dulu Mama takut bangun.”
Dadaku terasa sesak. Aku mengangkatnya ke pangkuan.
“Sekarang tidak lagi.”
Guoguo menyandarkan kepala di bahuku.
“Kalau capek, tidur saja. Nanti aku bangunkan.”
Aku mencium rambutnya.
Dulu aku memejamkan mata untuk mencari bukti cinta.
Malam itu, aku tidak perlu menguji siapa pun.
