Setiap Kakakku Pulang dengan Wajah Lebam, Dia Selalu Membawa Uang Ibu Kembali

Arman menarik lengan Mira begitu aku mengangkat ponsel.

“Kita pulang.”

“Lepaskan tangannya,” kata Ayah dari balik pintu.

“Jangan ikut campur!”

Mira tersandung di anak tangga. Aku hampir membuka kunci, tetapi Ibu sudah menelepon tetangga yang tadi mengantarnya. Aku menghubungi polisi, menyebutkan alamat dan menjelaskan bahwa seorang laki-laki sedang mengancam keluarga kami sambil membawa dokumen dengan tanda tangan yang disangkal pemiliknya.

Arman mendengar percakapan itu.

“Kamu mau melaporkan kakakmu sendiri?” bentaknya.

Aku menatap kamera pintu.

“Aku melaporkan apa yang sedang terjadi.”

Dua tetangga keluar dari rumah. Arman melepaskan Mira, lalu berjalan menuju motornya.

Namun, kali ini Mira tidak mengikutinya.

“Dimas di mana?” tanyanya.

“Pulang dulu kalau mau tahu.”

Mira menutup mulut. Bahunya berguncang.

Ayah membuka pintu setelah Arman menjauh ke pagar. Mira masuk, sementara tetangga tetap berdiri di luar sampai petugas datang.

Map cokelat itu dibawa Arman pergi.

Tetapi ucapan, gerakan, dan surat yang ditempelkannya ke kaca sudah tersimpan dalam rekaman.

Di ruang tengah, Mira duduk di lantai.

“Maaf, Yah.”

Ayah menarik kursi, lalu duduk di hadapannya.

“Ayah ingin tahu yang sebenarnya.”

Mira menangis semakin keras.

Arman memiliki utang yang selama ini ia sembunyikan. Beberapa bulan terakhir, orang-orang mulai datang menagih. Setiap kali Mira gagal memperoleh uang dari kami, kemarahannya meledak.

Minggu lalu, ia mendengar Ibu membicarakan kemungkinan menjual rumah untuk pindah ke tempat yang lebih kecil.

“Mas Arman menyuruhku mencari salinan sertifikat dan contoh tanda tangan Ayah,” kata Mira. “Katanya cuma untuk bertanya harga kepada kenalannya.”

“Kenapa kamu mengambilnya?”

“Aku takut.”

Aku menahan keinginan untuk langsung membalas. Ketakutannya nyata. Namun, dokumen itu juga nyata.

“Kakak boleh takut,” kataku pelan. “Tapi kami perlu tahu apa saja yang sudah diberikan kepadanya.”

Mira mengangguk sambil mengusap wajah.

Bukan hanya salinan dokumen rumah. Ia pernah memotret kartu identitas Ayah dan Ibu. Arman juga meminta nomor rekening serta tanggal lahir mereka dengan alasan mengurus bantuan keluarga.

Ibu memegang ujung meja.

“Sejak kapan?”

“Dua bulan lalu.”

Kami mencatat semuanya untuk disampaikan kepada petugas.

Sore itu, dengan bantuan keluarga dan pendampingan yang diatur setelah kami meminta pertolongan, Dimas dijemput dari rumah neneknya. Anak itu datang membawa tas sekolah dan sandal yang berbeda warna.

Begitu melihat Mira, ia berlari memeluknya.

“Besok kita tidur di sini lagi?”

Mira menutup mata.

“Iya, Sayang.”

“Kalau Papa telepon, Mama jangan keluar dulu.”

Tak seorang pun berbicara.

Aku berlutut untuk membetulkan sandalnya, menyembunyikan wajahku yang tiba-tiba basah.

Dua hari berikutnya dipenuhi urusan yang melelahkan. Ayah memeriksa dokumen bersama orang yang memahami persoalan properti. Kami menghubungi bank untuk meninjau keamanan rekening. Mira menjalani pemeriksaan lanjutan dan mulai berbicara dengan pendamping layanan perempuan.

Aku duduk bersamanya ketika ia diminta menjelaskan kejadian yang dialaminya.

Beberapa kali ia berhenti.

Beberapa kali ia berkata ingin membatalkan semuanya.

Aku akhirnya memahami bahwa meninggalkan rumah Arman bukan keputusan tunggal yang selesai saat pintu kami terbuka. Setiap pesan darinya bisa membuat Mira kembali merasa bersalah.

Ia meminta maaf. Lalu mengancam. Kemudian mengirim foto Dimas ketika masih bayi.

Malam ketiga, Mira berdiri di dekat pintu dengan tas kecil.

Aku melihatnya dari dapur.

“Kakak mau pergi?”

“Dia bilang mau berubah. Aku cuma mau bicara.”

Tanganku gemetar, tetapi aku tidak meraih tasnya.

“Kakak bisa membicarakan pesan itu dengan pendamping besok. Kalau tetap ingin bertemu, atur tempat dan orang yang menemani.”

“Kamu pasti menganggapku bodoh.”

“Aku menganggap Kakak sedang ketakutan. Aku juga takut kehilangan Kakak.”

Mira memandangku lama, lalu duduk di kursi dekat pintu.

Kami berada di sana hampir satu jam sebelum ia meletakkan tas.

Keesokan siangnya, seorang pria bernama Pak Hendra datang mencari Ayah.

Ia membawa salinan surat yang sama.

“Ada apa lagi?” tanyaku, berdiri di samping Ayah.

Pak Hendra tampak kebingungan.

“Pak Arman mengatakan keluarga sudah sepakat menjual. Saya sudah menyerahkan uang tanda jadi.”

Ayah mempersilakannya duduk bersama tetangga yang kami minta menemani.

Dari percakapan itu, kami mengetahui bahwa Arman telah menerima uang dengan mengaku mewakili keluarga. Ia menunjukkan salinan dokumen dan surat persetujuan tersebut.

Jumlahnya jauh lebih besar daripada tiga juta yang diminta Mira.

Ketika mendengar angkanya, kakakku langsung pucat.

“Dia bilang uang itu untuk membayar utang,” bisiknya.

Aku menoleh.

“Kakak tahu dia menerima uang?”

Mira mengangguk dengan air mata mengalir.

“Tapi aku tidak tahu dia mengaku rumahnya akan dijual.”

Ada rasa marah yang panas di dadaku. Kali ini aku tidak menutupinya.

“Kak, setiap informasi yang disembunyikan bisa membuat orang lain terluka.”

“Aku tahu.”

“Kalau mau kami membantu, semuanya harus disampaikan. Termasuk bagian yang membuat Kakak malu.”

Mira menarik napas tersendat, lalu meminta agar keterangannya ditambahkan.

Persoalan uang dan dokumen ditindaklanjuti melalui jalur resmi. Kami tidak membayar utang Arman untuk membuatnya diam. Pak Hendra menyerahkan percakapan dan bukti pembayarannya. Ayah menyampaikan bahwa ia tidak pernah memberikan persetujuan.

Prosesnya panjang. Tidak ada satu pertemuan yang langsung membereskan semuanya.

Aku hampir membatalkan keberangkatanku ke Surabaya.

Namun, malam sebelum batas konfirmasi pelatihan, Mira mengetuk kamarku.

“Jangan batal.”

“Kondisinya belum tenang.”

“Kalau kamu tinggal karena aku, nanti aku akan merasa harus selalu menunggu kamu menyelesaikan semuanya.”

Ia menyodorkan daftar jadwal pendampingan, pemeriksaan, dan pertemuan yang sudah dibuatnya.

Di bawahnya ada nomor tetangga serta saudara yang bersedia menemani Ibu dan Ayah.

“Aku belum berani setiap hari,” katanya. “Tapi aku mau belajar.”

Aku memeluknya.

Enam bulan kemudian, aku pulang dari Surabaya. Mira bekerja di tempat katering dekat rumah. Ia masih mengikuti pendampingan dan menyelesaikan urusan perpisahannya. Ada hari-hari ketika ia menangis setelah menerima kabar tentang Arman, tetapi ia tidak lagi menghadapinya sendirian.

Pagi setelah kepulanganku, kudengar pintu brankas dibuka.

Mira sedang berdiri di samping Ibu.

Aku berhenti di ambang kamar.

Ia menoleh, lalu menunjukkan amplop kecil di tangannya.

“Gaji pertamaku yang sudah utuh,” katanya. “Sebagian mau kutitipkan untuk biaya Dimas.”

Ibu memeluknya sebelum menerima amplop itu.

Dulu kakakku selalu meninggalkan rumah kami dengan membawa uang dan wajah tertunduk.

Pagi itu, ia datang untuk menyimpan sesuatu.

Dan ketika brankas kembali terkunci, kuncinya tetap berada di tangan Ibu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang