SUAMIKU MENINGGALKAN IBUKU SENDIRIAN DI REST AREA DEMI

Nama perempuan yang disebut petugas hotel itu membuat tanganku mendadak dingin.

Selma Maharani.

Perempuan yang setahun lalu membuatku hampir meninggalkan Arga.

Aku masih ingat ketika menemukan pesan-pesan mesra mereka di ponsel suamiku. Arga bersumpah hubungan itu hanya kesalahpahaman. Katanya, Selma adalah mantan rekan kerja yang terlalu berharap kepadanya.

Aku memilih percaya setelah dia berjanji memutuskan hubungan tersebut.

Ternyata malam ini nama Selma kembali muncul dalam pemesanan hotel yang menggunakan identitasku.

Aku memandangi layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menghubungi Mbak Lestari, petugas administrasi yang tadi berbicara denganku.

“Mbak, saya ingin memastikan satu hal. Apakah identitas saya digunakan untuk menyetujui pembayaran?”

“Menurut berkas kami, ada formulir persetujuan penjaminan biaya tambahan atas nama Ibu. Tetapi tanda tangannya masih perlu kami verifikasi.”

Aku menarik napas panjang.

“Saya tidak pernah menandatangani formulir apa pun.”

Petugas itu terdiam.

“Baik, Bu. Kami akan mencatat keberatan Ibu dan meneruskannya kepada manajer.”

“Tolong simpan seluruh dokumennya. Besok saya datang bersama pendamping.”

Setelah telepon berakhir, aku menoleh kepada Ibu Sulastri.

Beliau tertidur di kursi penumpang dengan syal biru muda masih melingkar di lehernya.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

Saat itulah aku memutuskan tidak akan mendatangi hotel malam itu.

Aku harus memastikan Ibu aman terlebih dahulu.

Setelah mengantar beliau pulang ke rumahnya di Bekasi, aku membantu menyiapkan makanan dan obat rutinnya.

Ibu sempat menggenggam tanganku.

“Gia, jangan sampai rumah tanggamu hancur karena Ibu.”

Aku berjongkok di depannya.

“Bu, kalau rumah tanggaku hancur hanya karena aku meminta suamiku memperlakukan Ibu dengan baik, berarti masalahnya sudah ada sejak lama.”

Ibu menunduk.

“Aku cuma nggak mau kamu sendirian.”

Aku memeluknya.

“Gia lebih takut kalau terus bersama orang yang nggak bisa dipercaya.”

Malam itu, aku menginap di rumah Ibu.

Menjelang tengah malam, Arga mengirimkan belasan pesan.

Awalnya dia marah karena aku tidak datang ke hotel.

Kemudian dia menuduhku sengaja mempermalukan Bu Ratih.

Namun, pesan terakhir justru membuatku semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Gia, kalau ada orang hotel menghubungimu, bilang saja semua pemesanan sudah kamu setujui.”

Aku langsung mengambil tangkapan layar.

Lalu membalas singkat.

“Aku tidak akan mengakui persetujuan yang tidak pernah kuberikan.”

Arga menelepon seketika.

Aku tidak mengangkatnya.

Keesokan paginya, aku datang ke hotel bersama sahabatku, Nisa, yang bekerja sebagai konsultan hukum.

Setelah proses verifikasi identitas, pihak manajemen memperlihatkan salinan dokumen yang menggunakan namaku.

Di sana terdapat formulir penjaminan biaya kamar tambahan, layanan restoran, dan beberapa fasilitas hotel.

Jumlah keseluruhannya hampir empat puluh juta rupiah.

Namun, bagian yang membuatku membeku adalah tanda tangan di halaman terakhir.

Bentuknya mirip tanda tanganku.

Tetapi aku tahu itu bukan buatanku.

“Mbak Nisa, lihat ini.”

Nisa memeriksa dokumen tersebut.

“Kita perlu meminta pemeriksaan lebih lanjut. Jangan langsung menyimpulkan siapa yang menandatanganinya.”

Aku mengangguk.

Manajer hotel kemudian menjelaskan bahwa reservasi dibuat oleh Arga melalui sebuah akun perusahaan.

Nama Selma tercantum sebagai tamu kamar tambahan.

Aku menutup mata.

“Apakah suami saya menginap di kamar yang sama dengannya?”

Manajer menjawab hati-hati.

“Kami tidak dapat menyimpulkan hubungan pribadi para tamu, Bu. Tetapi kami bisa menyediakan catatan transaksi yang memang berhak Ibu periksa terkait penggunaan identitas Ibu.”

Aku mengangguk.

Aku tidak ingin memaksa petugas melanggar privasi orang lain.

Yang kubutuhkan adalah bukti tentang dokumen dan transaksi yang menggunakan namaku.

Ketika hendak meninggalkan hotel, pintu lift terbuka.

Arga keluar bersama Bu Ratih.

Di belakang mereka berjalan Selma.

Aku langsung berhenti.

Selma mengenakan gaun krem sederhana. Dia terlihat terkejut ketika melihatku.

Sementara Arga mendadak pucat.

“Gia?”

Aku menatapnya tenang.

“Pagi, Mas.”

Bu Ratih langsung mendekat.

“Kamu ini benar-benar keterlaluan! Kemarin nggak mau datang, sekarang malah mengganggu liburan kami!”

Aku menoleh kepadanya.

“Ma, saya datang untuk mengurus identitas saya yang digunakan tanpa persetujuan.”

Arga buru-buru menyela.

“Gia, kita bisa bicara di rumah.”

Aku menggeleng.

“Kenapa nggak sekarang?”

Selma menunduk.

Bu Ratih memegang lengan Arga.

“Sudah, jangan diladeni. Kita pulang saja.”

Namun, aku mengeluarkan salinan formulir dari map.

“Mas, ini tanda tangan siapa?”

Arga membeku.

Aku menunggu.

“Jawab, Mas.”

Dia menarik napas panjang.

“Aku yang mengurus pemesanannya.”

“Dan tanda tangan ini?”

Arga tidak menjawab.

Selma tiba-tiba berbicara.

“Gia, aku nggak tahu identitasmu digunakan untuk menjamin pembayaran.”

Aku menatapnya.

“Lalu kamu tahu apa?”

Selma menelan ludah.

“Arga bilang kalian sedang dalam proses berpisah.”

Dunia terasa berhenti sesaat.

Aku perlahan menoleh kepada suamiku.

“Berpisah?”

Arga langsung membentak.

“Selma, diam!”

Namun, perempuan itu justru mengangkat wajah.

“Aku nggak mau terus berbohong!”

Bu Ratih mendadak pucat.

“Selma, jangan bikin keributan.”

Aku memperhatikan reaksinya.

“Ma, Mama tahu soal mereka?”

Bu Ratih mengalihkan pandangan.

Dadaku terasa sesak.

Aku mengulang pertanyaan itu.

“Mama tahu?”

Akhirnya beliau menjawab dengan suara rendah.

“Arga memang dekat dengan Selma. Tapi Mama pikir kalian sudah nggak cocok lagi.”

Aku tertawa getir.

Jadi selama ini bukan hanya suamiku yang menyembunyikan hubungan tersebut.

Ibu mertuaku juga mengetahuinya.

Aku menatap Bu Ratih.

“Ma, kemarin Mama membiarkan ibuku ditinggalkan sendirian di rest area supaya Mama bisa menikmati liburan dengan mereka?”

Bu Ratih terdiam.

Arga mengusap wajahnya.

“Gia, aku cuma ingin suasana tenang.”

“Dengan meninggalkan Ibu di tempat yang nggak dikenalnya?”

“Dia bisa mencari bantuan!”

Aku menatapnya lama.

“Kalau yang ditinggalkan itu Bu Ratih, apa kamu akan mengatakan hal yang sama?”

Arga tidak menjawab.

Aku mengangguk perlahan.

“Sudah cukup.”

Kemudian aku berbalik dan berjalan meninggalkan mereka.

Namun, sebelum mencapai pintu keluar, Selma memanggilku.

“Gia, tunggu.”

Aku berhenti.

Dia mendekat dengan mata berkaca-kaca.

“Aku perlu mengatakan sesuatu.”

Nisa berdiri di sampingku.

Selma menarik napas panjang.

“Arga pernah bilang kepadaku bahwa apartemen kalian akan segera dijual.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia bilang hasil penjualannya akan digunakan untuk memulai usaha baru.”

Aku menatap Selma.

“Usaha apa?”

“Bisnis pemasaran digital. Dia mengajak aku menjadi mitra.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Apartemen yang kami tempati masih memiliki cicilan.

Aku yang mengatur sebagian besar pembayaran bulanannya.

Dan Arga pernah memintaku menandatangani beberapa dokumen dengan alasan penyesuaian fasilitas kredit.

Saat itu aku belum menyetujuinya karena ingin membaca seluruh isi dokumen terlebih dahulu.

Sekarang aku mulai memahami mengapa dia berkali-kali mendesakku.

Aku segera menghubungi bank.

Setelah proses verifikasi, petugas menjelaskan bahwa memang ada permintaan informasi mengenai pelunasan dipercepat dan persyaratan pengalihan kepemilikan.

Namun, belum ada transaksi penjualan yang diselesaikan.

Aku mengembuskan napas lega.

Setidaknya masih ada waktu untuk melindungi kepentinganku.

Siang itu, aku bertemu penasihat hukum bersama Nisa.

Aku menyerahkan seluruh dokumen hotel, pesan Arga, dan salinan berkas yang berkaitan dengan apartemen.

Penasihat hukum menyarankan agar aku segera mengamankan dokumen pribadi, memeriksa kewenangan penggunaan rekening bersama, serta memastikan tidak ada persetujuan yang diberikan atas namaku tanpa sepengetahuan.

Aku juga menyiapkan laporan mengenai dugaan penggunaan tanda tangan tanpa izin.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang membesar-besarkan persoalan.

Aku hanya ingin memastikan hak dan tanggung jawab kami jelas.

Tiga hari kemudian, Arga datang ke rumah Ibu Sulastri.

Wajahnya terlihat lelah.

Dia membawa sekotak kue dan sebuket bunga.

“Gia, aku mau bicara.”

Aku mempersilakannya duduk di teras. Nisa menemaniku karena aku tidak ingin berbicara sendirian dengannya.

Arga menatapku.

“Aku minta maaf soal ibumu.”

Aku tidak menjawab.

“Aku seharusnya nggak meninggalkannya.”

Aku mengangguk.

“Betul.”

Dia menunduk.

“Dan soal Selma…”

Aku menunggu.

Arga mengusap wajahnya.

“Aku memang punya hubungan dengannya.”

Dadaku terasa sakit.

Meskipun sudah mendengar pengakuan Selma, mengetahui kebenaran langsung dari mulut suamiku tetap menyakitkan.

“Sejak kapan?”

“Hampir delapan bulan.”

Aku memejamkan mata.

Delapan bulan.

Selama delapan bulan, dia masih tidur di sampingku, menerima perhatian dan dukunganku, lalu menemui perempuan lain ketika aku sedang bekerja.

“Kenapa, Mas?”

Arga terdiam lama.

Akhirnya dia menjawab, “Aku merasa kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluargamu.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu merasa berhak berselingkuh karena itu?”

Dia menggeleng.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Arga tidak mampu menjawab.

Aku menarik napas panjang.

“Mas, aku bisa menerima kalau hubungan kita punya masalah. Aku bisa diajak bicara. Tapi kamu memilih berbohong, menggunakan identitasku tanpa izin, lalu meninggalkan ibuku di rest area.”

Air mataku mulai jatuh.

“Yang membuatku paling sakit bukan karena kamu memilih orang lain. Tapi karena kamu bahkan nggak merasa perlu menjaga keselamatan ibuku.”

Arga menunduk.

“Aku menyesal.”

Aku memandangnya lama.

“Aku ingin kita berpisah.”

Dia langsung mengangkat wajah.

“Gia, jangan terburu-buru!”

“Aku sudah memikirkan semuanya.”

“Kita bisa memperbaiki hubungan.”

Aku menggeleng.

“Kepercayaan nggak bisa dipulihkan hanya dengan satu permintaan maaf.”

Arga mulai menangis.

Namun, kali ini aku tidak mengubah keputusan.

Beberapa bulan berikutnya, kami menjalani proses perceraian melalui jalur hukum.

Urusan apartemen diselesaikan berdasarkan dokumen kepemilikan, kewajiban kredit, dan kesepakatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, persoalan formulir hotel ditangani secara terpisah setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan keterangan pihak terkait.

Arga mengakui telah meminta seorang staf mengisi data dan meniru tanda tanganku untuk mempercepat administrasi.

Permasalahan tersebut kemudian diselesaikan melalui proses yang sesuai, termasuk klarifikasi kepada pihak hotel dan tanggung jawab atas biaya yang timbul.

Aku tidak mengikuti setiap detail kehidupan Arga setelah itu.

Aku hanya mendengar dari beberapa kenalan bahwa rencana bisnisnya bersama Selma tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Namun, aku tidak merasa perlu mencari tahu lebih jauh.

Aku sudah cukup lama menghabiskan energi untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan orang lain.

Sekarang aku ingin membangun kembali hidupku sendiri.

Setahun setelah kejadian di rest area, aku mengajak Ibu Sulastri berlibur ke Bandung.

Kali ini hanya kami berdua.

Aku mengambil cuti beberapa hari dan menyiapkan perjalanan tanpa jadwal yang terlalu padat.

Kami berhenti di sebuah restoran kecil.

Makan soto hangat.

Kemudian berjalan-jalan menikmati udara sejuk.

Ibu terlihat sangat bahagia.

Suatu sore, ketika kami duduk di balkon penginapan, beliau tiba-tiba berkata,

“Gia, Ibu masih merasa bersalah.”

Aku menoleh.

“Kenapa, Bu?”

“Karena perjalanan waktu itu membuat rumah tanggamu berakhir.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bu, rumah tanggaku berakhir karena keputusan dan kebohongan Arga. Bukan karena Ibu.”

Beliau terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kalau Arga benar-benar menghormati pernikahan kami, dia nggak akan meninggalkan Ibu sendirian. Dia juga nggak akan menyembunyikan hubungan dengan Selma.”

Ibu mengusap air matanya.

“Tapi Ibu takut kamu kesepian.”

Aku tersenyum.

“Aku memang kadang kesepian, Bu. Tapi aku lebih tenang daripada ketika masih harus mempertanyakan setiap perkataan suamiku.”

Ibu memelukku erat.

Untuk pertama kalinya, aku merasa kami benar-benar sedang menikmati liburan tanpa harus memikirkan perasaan orang lain.

Malam itu, kami pergi melihat pertunjukan kembang api di sebuah festival kota.

Langit Bandung dipenuhi cahaya warna-warni.

Orang-orang bersorak gembira.

Anak-anak tertawa sambil menunjuk ke atas.

Aku berdiri di samping Ibu.

Beliau mengenakan syal biru muda yang kubelikan setahun lalu.

Syal yang sama ketika beliau ditinggalkan sendirian di rest area.

Aku menatapnya.

“Bu, masih ingat syal ini?”

Ibu tersenyum.

“Tentu. Hadiah dari anak Ibu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Dulu Ibu memakainya ketika sedang ketakutan sendirian.”

Beliau mengangguk perlahan.

Aku melanjutkan.

“Sekarang Ibu memakainya untuk menikmati kembang api.”

Ibu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Kemudian sebuah ledakan cahaya merah dan putih memenuhi langit.

Aku menoleh ke atas.

Selama bertahun-tahun, aku mengira menjadi istri yang baik berarti harus selalu mengalah demi menjaga keharmonisan keluarga.

Aku menerima ketika kebutuhan ibuku dianggap kurang penting.

Aku memaklumi ketika Arga lebih sering mendahulukan keluarganya sendiri.

Aku bahkan merasa bersalah setiap kali meminta perlakuan yang adil.

Namun, malam ketika ibuku ditinggalkan di rest area membuatku memahami sesuatu.

Menghormati pasangan tidak berarti membiarkan orang yang kita cintai diperlakukan tanpa kepedulian.

Dan menjaga pernikahan tidak berarti harus mengorbankan rasa aman, kejujuran, serta harga diri.

Aku tidak menyesal pernah mencintai Arga.

Ada masa ketika kami benar-benar bahagia.

Namun, cinta yang pernah ada tidak bisa menjadi alasan untuk menutup mata terhadap kebohongan yang terus berulang.

Aku juga tidak ingin menghabiskan hidup dengan membenci Bu Ratih.

Beliau mungkin sangat mencintai putranya.

Namun, kasih sayang kepada anak sendiri seharusnya tidak membuat seseorang menganggap ibu orang lain tidak layak dihormati.

Aku menatap Ibu Sulastri.

Beliau sedang tersenyum lebar sambil menikmati cahaya kembang api.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu tidak dibayangi rasa takut merepotkan siapa pun.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Bu, senang?”

Ibu menoleh.

“Senang sekali, Nak.”

Aku tertawa kecil.

“Bagus. Tahun depan kita jalan-jalan lagi.”

Beliau langsung menggeleng.

“Jangan sering-sering. Nanti uangmu habis.”

Aku tersenyum.

“Tenang, Bu. Kita sesuaikan dengan kemampuan. Yang penting bisa bersama.”

Ibu tertawa.

Kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku.

Di langit, kembang api terakhir meledak membentuk cahaya keemasan.

Aku memandangnya sambil tersenyum.

Setahun lalu, Arga meninggalkan ibuku sendirian demi menikmati pertunjukan seperti ini bersama keluarganya.

Saat itu, dia mengira aku akan selalu mengalah.

Dia mengira satu ancaman cukup membuatku kembali meminta maaf.

Dia juga mengira aku tidak akan berani mempertanyakan kebohongan yang selama ini disembunyikannya.

Namun, ternyata kejadian tersebut justru membuatku menemukan keberanian yang selama bertahun-tahun hilang.

Bukan keberanian untuk membalas dendam.

Melainkan keberanian untuk berkata cukup.

Cukup terhadap kebohongan.

Cukup terhadap perlakuan tidak adil.

Dan cukup terhadap hubungan yang membuatku terus mengorbankan ketenangan sendiri.

Ketika pertunjukan selesai, aku membantu Ibu berjalan menuju mobil.

Kami berjalan perlahan di tengah kerumunan.

Tidak terburu-buru.

Tidak takut membuat seseorang menunggu.

Aku membukakan pintu mobil untuknya, lalu memastikan beliau duduk dengan nyaman.

Sebelum menyalakan mesin, aku menoleh.

“Bu, sudah siap pulang?”

Ibu tersenyum.

“Sudah, Nak.”

Aku membalas senyumnya.

Kali ini, tidak ada yang akan kutinggalkan sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa bebas menentukan ke mana hidupku akan berjalan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang