
Palu hakim baru saja diketukkan ketika Arga berdiri mendadak dari kursinya.
“Tidak mungkin! Saya tidak pernah menyetujui transaksi sebesar itu!”
Suaranya menggema di ruang sidang Pengadilan Agama Bekasi. Bu Ratih, ibu mertuaku, yang sejak pagi duduk dengan wajah penuh percaya diri, tiba-tiba mencengkeram ujung kerudungnya. Wajahnya pucat seperti baru melihat sesuatu yang mengerikan.
Aku duduk di samping pengacaraku, Maya Salsabila, sambil menggenggam map berwarna biru.
Di dalam map itulah tersimpan bukti yang selama ini tidak pernah Arga bayangkan akan kutemukan.
Tiga minggu sebelumnya, aku masih mengira bahwa masalah terbesar dalam pernikahan kami adalah tuduhan perselingkuhan akibat golongan darah Dimas.
Ternyata aku salah.
Hasil pemeriksaan DNA memang telah membuktikan bahwa Arga adalah ayah biologis putra kami. Namun, bukti itu tidak membuatnya meminta maaf. Sebaliknya, dia semakin berusaha menekanku agar menerima perceraian dengan syarat yang menguntungkan dirinya.
Suatu sore, Arga datang bersama Bu Ratih membawa beberapa lembar dokumen.
“Tanda tangani saja, Rani. Biar semuanya cepat selesai,” katanya sambil meletakkan pulpen di meja.
Aku membaca halaman pertama dengan saksama.
Di sana tertulis bahwa aku bersedia meninggalkan rumah, tidak mengajukan tuntutan atas harta bersama, dan menyetujui pengasuhan Dimas oleh Arga.
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa aku harus menyerahkan Dimas?”
Bu Ratih langsung menyahut.
“Karena Arga lebih mampu membesarkan cucu Mama. Kamu bekerja seharian. Siapa yang mau mengurus bayi itu?”
Aku menatap perempuan yang pernah menangis bahagia ketika pertama kali menggendong Dimas.
“Selama ini justru saya yang mengurus Dimas, Bu. Bahkan ketika Arga menolak menggendongnya.”
Wajah Bu Ratih memerah.
“Jangan kurang ajar!”
Arga mengetuk meja.
“Sudah! Kalau kamu tidak mau menandatangani, kita bertemu di pengadilan.”
Aku menutup dokumen tersebut.
“Baik. Kita bertemu di pengadilan.”
Mereka pergi dengan wajah kesal.
Malam itu, aku menyerahkan salinan dokumen tersebut kepada Maya. Ketika memeriksanya, dia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti membaca.
“Bu Rani, rumah yang sekarang Ibu tempati dibeli kapan?”
“Dua tahun setelah kami menikah.”
“Uang muka rumah berasal dari mana?”
“Sebagian besar dari tabungan saya. Kenapa, Bu?”
Maya menunjuk salah satu halaman.
“Di sini suami Ibu menyatakan bahwa rumah tersebut sepenuhnya dibeli menggunakan dana pribadinya sebelum menikah.”
Aku terdiam.
“Itu tidak benar.”
“Apakah Ibu masih menyimpan bukti transfer uang muka?”
Aku mengangguk.
“Masih. Saya selalu menyimpan dokumen keuangan.”
Maya menatapku serius.
“Kalau begitu, kita perlu memeriksa semuanya.”
Keesokan harinya, aku membuka kembali kotak dokumen lama yang kusimpan di lemari kamar belakang.
Di sana terdapat bukti transfer uang muka rumah sebesar seratus delapan puluh juta rupiah dari rekening pribadiku. Ada pula catatan pembayaran renovasi, pembelian perabot, dan beberapa transaksi lain.
Namun, ketika mencocokkan dokumen dengan riwayat rekening, aku menemukan sesuatu yang aneh.
Selama hampir dua tahun, terdapat sejumlah transfer rutin dari rekening bersama kami ke rekening atas nama Ratih Wulandari.
Ibu mertuaku sendiri.
Jumlahnya bervariasi, antara lima juta hingga lima belas juta rupiah.
Awalnya, aku mengira uang tersebut digunakan Arga untuk membantu ibunya. Selama ini, aku tidak pernah melarang suamiku membantu orang tua.
Namun, ketika seluruh transaksi dijumlahkan, nilainya mencapai hampir dua ratus juta rupiah.
Tanganku mulai gemetar.
Yang membuatku semakin curiga, beberapa transaksi dilakukan tepat setelah bonus tahunan dan penghasilanku masuk ke rekening bersama.
Aku membawa temuan itu kepada Maya.
“Apakah uang ini bisa diminta kembali?” tanyaku.
Maya tidak langsung menjawab.
“Kita harus mengetahui tujuan transfernya terlebih dahulu. Tidak semua pemberian kepada keluarga bisa dianggap penyalahgunaan harta bersama. Tapi transaksi ini penting karena suami Ibu menyatakan tidak memiliki dana tambahan dan menuntut seluruh rumah.”
Aku mengangguk.
“Lalu bagaimana kita membuktikannya?”
“Kita mulai dari dokumen yang sah dan keterangan pihak terkait.”
Beberapa hari kemudian, sebuah petunjuk datang dari orang yang sama sekali tidak kuduga.
Pak Hendra, mantan rekan kerja Arga, menghubungiku.
“Bu Rani, maaf mengganggu. Saya dengar Ibu dan Pak Arga sedang ada masalah.”
Aku menjawab hati-hati.
“Iya, Pak. Ada apa?”
Dia terdiam sebentar.
“Saya sebenarnya tidak ingin ikut campur. Tapi ada sesuatu yang menurut saya harus Ibu ketahui.”
Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor lamaku.
Pak Hendra menyerahkan salinan dokumen perusahaan yang diperolehnya secara sah ketika masih menangani proyek bersama Arga.
“Dulu Pak Arga pernah mengajukan pinjaman karyawan. Alasannya untuk renovasi rumah.”
Aku mengernyit.
“Renovasi rumah kami sudah selesai sebelum itu.”
Pak Hendra mengangguk.
“Saya tahu. Makanya saya heran.”
Dia menunjukkan tanggal pengajuan pinjaman.
Tanggal tersebut bertepatan dengan salah satu transfer besar ke rekening Bu Ratih.
“Uangnya dipakai untuk apa, Pak?”
“Saya tidak tahu pasti. Tapi waktu itu Pak Arga pernah bilang sedang membantu ibunya membeli sebuah ruko.”
Aku membeku.
Ruko?
Selama enam tahun menikah, Arga tidak pernah mengatakan bahwa keluarganya membeli properti lain.
Aku segera menyampaikan informasi tersebut kepada Maya.
Setelah menelusuri dokumen yang dapat diperoleh secara resmi, kami menemukan bahwa Bu Ratih memang membeli sebuah ruko kecil di kawasan Tambun.
Pembeliannya dilakukan secara bertahap.
Dan sebagian tanggal pembayarannya berdekatan dengan transfer dari rekening bersama kami.
Namun, Maya mengingatkanku untuk tidak terburu-buru menyimpulkan.
“Ruko itu atas nama ibu mertua Ibu. Kita tidak bisa langsung menganggapnya harta bersama. Kita harus membuktikan hubungan dan sumber dananya.”
Aku memahami penjelasannya.
Aku tidak ingin bertindak berdasarkan prasangka seperti yang dilakukan Arga kepadaku.
Aku hanya ingin fakta berbicara.
Sementara itu, proses perceraian terus berjalan.
Arga tetap bersikeras bahwa rumah adalah miliknya. Dia bahkan menyampaikan tuduhan bahwa aku tidak mampu memberikan lingkungan keluarga yang baik bagi Dimas.
Ironisnya, laki-laki yang pernah meragukan darah dagingnya sendiri sekarang mengaku sebagai ayah yang paling layak mendapatkan pengasuhan.
Ketika hakim menanyakan alasan tuduhan perselingkuhan, Arga menjawab bahwa dia pernah menemukan ketidaksesuaian golongan darah.
Maya kemudian menyerahkan hasil pemeriksaan DNA dan penjelasan medis mengenai pewarisan golongan darah.
Hakim membaca dokumen tersebut.
“Saudara Arga, apakah Saudara masih mempertanyakan hubungan biologis dengan anak ini?”
Arga menunduk.
“Tidak, Yang Mulia.”
“Apakah Saudara memahami bahwa orang tua dengan golongan darah A dapat memiliki anak bergolongan darah O?”
Arga terdiam.
“Iya, sekarang saya tahu.”
Aku menatapnya dari seberang ruangan.
Betapa mudahnya dia mengatakan sudah tahu.
Padahal karena ketidaktahuannya, aku harus melewati malam-malam penuh tangisan bersama bayi yang bahkan belum bisa memanggil kata Papa.
Namun, kejutan terbesar baru datang ketika pembahasan beralih pada persoalan harta.
Maya menyerahkan bukti uang muka rumah, riwayat rekening, dan dokumen transaksi yang sudah disiapkan untuk diperiksa dalam proses hukum terkait.
Arga mulai gelisah.
“Kenapa semua rekening saya dibuka?” katanya kesal.
Maya menjawab tenang.
“Karena Saudara menyatakan bahwa seluruh aset tersebut diperoleh dari uang pribadi Saudara. Kami mengajukan bukti untuk menunjukkan keadaan yang berbeda.”
Hakim kemudian meminta penjelasan mengenai sejumlah transfer ke rekening Bu Ratih.
Arga menjawab bahwa uang itu merupakan bantuan untuk ibunya.
“Bantuan keluarga, Yang Mulia. Tidak ada yang salah.”
Aku tidak membantah bahwa membantu orang tua adalah hal baik.
Namun, Maya kemudian mengajukan bukti tambahan berupa percakapan yang pernah dikirim Arga kepadaku dan dokumen pembayaran yang telah diverifikasi.
Dalam salah satu pesan lama, Arga menulis bahwa seluruh bonus tahunannya sudah digunakan untuk membayar cicilan rumah kami.
Padahal pada periode yang sama, terdapat transfer besar ke rekening Bu Ratih.
Ketika diminta menjelaskan perbedaan tersebut, Arga mulai terbata-bata.
“Waktu itu saya mungkin salah ingat.”
Maya kemudian menanyakan tentang pembelian ruko di Tambun.
Bu Ratih langsung menegakkan tubuh.
“Itu ruko saya! Tidak ada hubungannya dengan Rani!”
Namun, pemeriksaan dokumen menunjukkan bahwa sebagian pembayaran ruko memang berasal dari dana yang ditransfer Arga, termasuk uang dari rekening bersama.
Arga berusaha menyela.
“Itu uang saya sendiri!”
Maya menunjukkan rincian sumber dana.
“Sebagian dana dalam rekening tersebut berasal dari penghasilan Bu Rani. Ada pula transfer dari tabungan pribadinya yang tidak pernah disetujui untuk pembelian ruko.”
Ruang sidang mendadak sunyi.
Aku melihat Arga mengepalkan tangan.
Bu Ratih menunduk dan tidak lagi berani menatapku.
Lalu Maya mengeluarkan dokumen terakhir.
Bukti pemindahan lima puluh juta rupiah dari rekening pribadiku yang dilakukan Arga setelah menuduhku berselingkuh.
Dana itu ternyata tidak sekadar dipindahkan untuk diamankan.
Berdasarkan riwayat transaksi lanjutan yang berhasil diperoleh melalui proses pembuktian, sebagian besar uang tersebut digunakan untuk melunasi kewajiban pembayaran ruko Bu Ratih.
Aku menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi selama aku menangis karena kamu menuduhku mengkhianatimu, kamu memakai tabunganku untuk membayar ruko Mama?”
Arga tidak menjawab.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kamu bilang tidak mau membayar kebutuhan kesehatanku karena aku mungkin berselingkuh. Tapi uang yang kukumpulkan bertahun-tahun justru kamu ambil untuk kepentingan keluargamu tanpa izin?”
“Rani, cukup!” bentaknya.
Aku berhenti bicara setelah hakim meminta kami menjaga ketertiban.
Namun, kali ini aku tidak menundukkan kepala.
Dalam persidangan berikutnya, Arga tidak lagi bisa mempertahankan semua pernyataannya. Dia mengakui bahwa sebagian dana keluarga digunakan untuk membantu pembelian ruko dan bahwa pemindahan tabunganku dilakukan tanpa persetujuanku.
Perkara perceraian dan sengketa harta memerlukan penanganan tersendiri. Setelah melalui proses mediasi dan pembuktian, kami akhirnya mencapai kesepakatan tertulis mengenai pengembalian tabungan pribadiku dan penyelesaian bagian harta yang dipersengketakan.
Pengasuhan Dimas tetap bersamaku, sementara kewajiban Arga sebagai ayah diatur sesuai keputusan pengadilan.
Pada hari keputusan perceraian dibacakan, Arga menghampiriku di koridor.
Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
“Rani, boleh kita bicara?”
Aku berhenti.
“Ada apa?”
Dia memandang Dimas yang tertidur dalam gendonganku.
“Aku menyesal.”
Aku terdiam.
“Aku seharusnya percaya sama kamu. Aku terlalu mendengarkan Mama.”
Aku menatapnya lama.
“Mas, masalahnya bukan cuma karena kamu mendengarkan Mama.”
Arga mengangkat wajah.
“Kamu punya banyak kesempatan untuk mencari tahu kebenaran. Tapi kamu memilih menghukum aku sebelum ada bukti.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tahu.”
Aku menarik napas.
“Dan ketika kebenarannya sudah jelas, kamu tetap tidak merasa perlu meminta maaf.”
Arga menunduk.
“Aku salah.”
Untuk pertama kalinya, kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutnya.
Namun, anehnya, aku tidak merasakan keinginan untuk kembali.
Aku hanya merasa lega.
Sebelum pergi, Arga bertanya pelan.
“Apa kita benar-benar nggak bisa mulai lagi?”
Aku melihat Dimas yang sedang tertidur.
Kemudian menatap mantan suamiku.
“Kamu tetap ayah Dimas, Mas. Aku nggak akan menghapus kenyataan itu. Tapi menjadi ayah yang baik tidak berarti kita harus kembali menjadi suami istri.”
Arga mengangguk perlahan.
Aku berjalan meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
Enam bulan kemudian, hidupku mulai menemukan ketenangannya.
Aku kembali bekerja penuh waktu, dibantu ibuku yang dengan senang hati menjaga Dimas ketika aku berada di kantor.
Uang tabunganku telah dikembalikan sesuai kesepakatan. Aku juga berhasil menyewa rumah kecil yang nyaman, dengan halaman mungil tempat Dimas belajar berjalan.
Suatu sore, ketika sedang membereskan dokumen lama, aku menemukan foto Arga menggendong Dimas sesaat setelah kelahirannya.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan Arga.
Papa akan selalu menjaga kamu, Nak.
Aku memandangi tulisan tersebut cukup lama.
Kemudian menyimpan foto itu dalam album khusus untuk Dimas.
Aku tidak ingin putraku tumbuh dengan cerita bahwa ayahnya adalah manusia yang sepenuhnya buruk.
Namun, aku juga tidak akan mengajarinya bahwa mencintai seseorang berarti harus menerima penghinaan tanpa batas.
Ketika Dimas terbangun dan memanggilku dengan suara cadelnya, aku segera menghampirinya.
“Bunda!”
Aku tersenyum dan merentangkan tangan.
“Iya, Sayang. Bunda di sini.”
Dia berjalan tertatih ke arahku, kemudian tertawa ketika berhasil memeluk kakiku.
Aku mengangkat tubuh mungilnya dan mencium kedua pipinya.
Dulu aku mengira kemenangan terbesarku adalah membuktikan bahwa aku tidak pernah berselingkuh.
Ternyata bukan.
Kemenangan terbesarku adalah ketika aku berhenti menggantungkan harga diriku pada kepercayaan seseorang yang bahkan tidak bersedia mencari kebenaran.
Golongan darah Dimas tidak pernah menjadi masalah dalam keluarga kami.
Yang menghancurkan pernikahan itu adalah prasangka, keserakahan, dan kepercayaan yang sengaja dibuang.
Dan hari itu, sambil mendengarkan tawa putraku memenuhi rumah kecil kami, aku menyadari satu hal.
Aku memang kehilangan seorang suami.
Tetapi aku tidak kehilangan diriku sendiri.
