SUAMIKU MENYODORKAN SURAT CERAI KARENA SELINGKUHANNYA HAMIL.

Aku menatap surat perceraian yang kutandatangani semalam. Baru sekarang aku menyadari betapa

cermat Rendi memilih waktu untuk menyerahkannya.

Namun, setelah diperiksa kembali, dokumen itu ternyata bukan akta perceraian yang sudah berkekuatan hukum. Itu hanyalah rancangan kesepakatan pribadi yang disiapkan pengacara Rendi sebagai bahan untuk proses perceraian di pengadilan.

Di dalamnya memang terdapat klausul pembagian tanggung jawab keuangan. Tetapi tidak ada satu pun ketentuan yang dapat secara otomatis membuatku bertanggung jawab atas pinjaman yang diajukan tanpa persetujuanku.

Rendi rupanya ingin menggunakan tanda tanganku sebagai bukti bahwa aku mengetahui dan menerima pengaturan keuangan tersebut.

“Bu Ratih, Rendi bilang apa waktu meminta Ibu menandatangani surat itu?” tanyaku.

Ibu mertuaku mengusap air mata.

“Dia bilang kamu sudah menyetujui semuanya, Maya. Katanya kalian mau berpisah baik-baik dan sedang merapikan urusan bisnis.”

“Lalu kenapa Ibu menolak?”

Bu Ratih membuka ponselnya.

“Karena tiga hari lalu, Ibu menerima pesan dari seseorang yang mengaku sebagai petugas verifikasi bank.”

Dia menunjukkan percakapan tersebut.

Petugas itu meminta konfirmasi mengenai kesediaannya menjaminkan rumah di Sidoarjo untuk fasilitas kredit perusahaan kateringku.

Bu Ratih mengira terjadi kesalahan administrasi.

Namun, ketika dia menanyakan hal itu kepada Rendi, putranya justru marah.

“Rendi bilang Ibu nggak perlu ikut campur. Semua sudah diatur dengan Maya.”

Aku menatapnya.

“Jadi Ibu sebenarnya sudah curiga sejak tiga hari lalu?”

“Iya. Tapi Ibu belum tahu kalau dia menggunakan tanda tangan Ibu.”

Bu Ratih menarik napas panjang.

“Tadi malam, setelah Rendi pulang dari rumahmu, dia menelepon Ibu. Dia bilang kamu sudah menandatangani kesepakatan perpisahan.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Dia bilang sekarang nggak ada lagi yang bisa menghalangi pencairan kredit.”

Aku langsung terdiam.

Bu Ratih melanjutkan.

“Pagi tadi Ibu menelepon nomor resmi bank yang pernah menghubungi Ibu. Ibu menjelaskan bahwa Ibu tidak pernah setuju menjaminkan rumah.”

Petugas bank kemudian mengonfirmasi bahwa terdapat permohonan kredit yang menggunakan data asetnya, tetapi pemeriksaan persetujuan pemilik agunan belum selesai.

Petugas juga menyampaikan bahwa jadwal pencairan yang diajukan pihak pemohon adalah hari itu, bergantung pada penyelesaian seluruh persyaratan.

“Itulah kenapa Ibu langsung meneleponmu,” kata Bu Ratih sambil menangis. “Ibu takut kamu juga dibohongi.”

Aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Rendi, aku melihat ibu mertuaku bukan sebagai perempuan yang selalu membela anak laki-lakinya, melainkan sebagai seseorang yang juga sedang berusaha menyelamatkan hidupnya sendiri.

Namun, satu pertanyaan masih menggangguku.

“Bu, kenapa Rendi berani menggunakan rumah Ibu sebagai jaminan?”

Bu Ratih menunduk.

“Karena dia tahu Ibu menyimpan salinan sertifikat dan dokumen rumah di lemari kerja.”

Aku langsung teringat kejadian dua minggu sebelumnya.

Rendi pernah pulang ke Sidoarjo dengan alasan mengantar ibunya memeriksakan kesehatan.

Saat itu aku tidak curiga.

Sekarang, perjalanan tersebut terasa memiliki tujuan lain.

Aku menatap petugas bank.

“Pak, saya ingin mengajukan keberatan resmi atas seluruh dokumen yang menggunakan identitas saya.”

Bu Ratih segera menyela.

“Saya juga.”

Petugas tersebut mengangguk.

“Kami akan mencatat keberatan Ibu berdua dan meneruskannya kepada bagian kepatuhan. Sampai pemeriksaan selesai, permohonan ini tidak dapat dilanjutkan berdasarkan dokumen yang sedang disengketakan.”

Aku mengembuskan napas lega.

Namun, masalah sebenarnya baru dimulai.

Siang itu, aku dan Bu Ratih mendatangi kantor pengacara bernama Nadia Kusuma.

Setelah memeriksa dokumen perceraian dan pengajuan kredit, Nadia menjelaskan bahwa surat perpisahan yang kutandatangani tidak serta-merta mengesahkan kewajiban pinjaman perusahaan.

“Bu Maya, perceraian harus diproses sesuai hukum. Kesepakatan pribadi ini juga tidak bisa menggantikan persetujuan yang sah untuk fasilitas kredit.”

Aku mengangguk.

“Jadi Rendi nggak bisa begitu saja meninggalkan utang Rp6,4 miliar kepadaku?”

“Tidak sesederhana itu. Kita perlu memeriksa status badan hukum perusahaan, kewenangan penandatangan, dokumen jaminan, dan proses persetujuan bank.”

Nadia kemudian menunjuk nama PT Lintas Boga Perkasa.

“Yang lebih mendesak adalah memastikan siapa sebenarnya pemilik perusahaan pemasok ini.”

Aku menatapnya.

“Bukankah Vela bekerja di sana?”

“Menurut dokumen yang kita punya, iya. Tetapi kita perlu memeriksa hubungan kepemilikannya.”

Sore harinya, melalui data perusahaan dan dokumen pendukung yang berhasil diperoleh secara resmi, Nadia menemukan bahwa PT Lintas Boga Perkasa baru mengalami perubahan susunan pemegang saham beberapa bulan sebelumnya.

Nama pemegang saham mayoritasnya membuatku membeku.

Vela Maheswari.

Perempuan yang sedang mengandung anak Rendi itu ternyata bukan sekadar karyawan pemasok mesin.

Dia merupakan pemegang saham pengendali perusahaan yang akan menerima pembayaran Rp6,4 miliar.

Aku menutup mulut.

“Jadi uang pinjaman itu akan masuk ke perusahaan Vela?”

Nadia mengangguk.

“Kalau permohonan kredit disetujui dan seluruh syarat pencairan terpenuhi, dokumen pengajuan memang mengarahkan pembayaran ke rekening pemasok tersebut.”

Aku merasa kedua tanganku dingin.

Sekarang semuanya mulai terlihat jelas.

Rendi menggunakan identitas Dapur Maya Nusantara sebagai calon debitur.

Dia mencantumkan rumah ibunya sebagai agunan tambahan.

Sementara perusahaan milik Vela menjadi penerima dana pembelian mesin.

Dan surat perpisahan yang disodorkan kepadaku semalam diduga disiapkan agar aku tidak mempertanyakan pengaturan tanggung jawab keuangan tersebut.

Namun, masih ada sesuatu yang janggal.

Kalau Rendi benar-benar ingin mengambil uang, mengapa dia memilih skema pembayaran langsung kepada vendor, bukan transfer ke rekening pribadinya?

Jawabannya muncul keesokan pagi.

Fikri, seorang teknisi mesin pengemasan yang pernah menawarkan peralatan kepada Dapur Maya, meneleponku.

“Mbak Maya, saya dengar perusahaan Mbak mau membeli satu lini produksi besar.”

Aku langsung menegakkan punggung.

“Dari siapa Mas dengar?”

“Dari orang PT Lintas Boga Perkasa. Mereka menghubungi beberapa distributor untuk mencari mesin bekas.”

Aku terdiam.

“Mesin bekas?”

“Iya, Mbak. Mereka mencari mesin pengemasan seharga sekitar Rp800 juta sampai Rp1 miliar.”

Aku merasa jantungku berdetak semakin cepat.

“Tapi nilai penawaran mereka ke bank Rp6,4 miliar.”

Fikri langsung terdiam.

“Enam miliar?”

“Iya.”

“Mbak, mesin dengan spesifikasi yang tercantum dalam daftar itu nggak mungkin semahal itu.”

Aku meminta Fikri memberikan penawaran pembanding secara tertulis berdasarkan spesifikasi teknis yang sama.

Setelah dokumennya diterima, aku menyerahkannya kepada Nadia.

Dia segera memahami kejanggalannya.

“Kalau nilai mesin dalam penawaran kredit jauh lebih tinggi daripada harga barang yang sebenarnya, ada kemungkinan terjadi penggelembungan nilai transaksi.”

Aku menatapnya.

“Jadi selisih uangnya bisa digunakan untuk hal lain?”

“Itu salah satu risiko yang perlu diperiksa. Kita belum boleh menyimpulkan adanya penggelapan sebelum mengetahui transaksi sebenarnya.”

Namun, aku sudah mulai memahami mengapa Rendi begitu terburu-buru.

Dia ingin proses pencairan selesai sebelum aku memeriksa dokumen pemasok dan nilai pembelian.

Siang harinya, Rendi akhirnya menelepon.

“Maya, kamu sudah bikin masalah besar!”

Aku mengaktifkan pengeras suara dengan Nadia berada di sampingku.

“Masalah apa, Rendi?”

“Bank menahan pengajuan kredit!”

“Karena aku nggak pernah menyetujuinya.”

Rendi menghela napas kasar.

“Kamu nggak ngerti. Perusahaan kita bisa berkembang kalau mesin itu dibeli.”

Aku tertawa pendek.

“Perusahaan kita? Sejak kapan kamu menjadi pemilik Dapur Maya Nusantara?”

Rendi terdiam.

Aku melanjutkan.

“Dan kenapa perusahaan Vela yang menjadi pemasok?”

Sambungan mendadak sunyi.

Beberapa detik kemudian, Rendi berkata pelan.

“Kamu sudah tahu soal Vela?”

“Aku tahu dia pemegang saham mayoritas PT Lintas Boga Perkasa.”

Rendi mengumpat pelan.

Aku menahan amarah.

“Rendi, apakah mesin yang akan dibeli benar-benar bernilai Rp6,4 miliar?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Jawab!”

Akhirnya dia berkata.

“Semua perusahaan juga mengambil keuntungan.”

Aku merasa muak.

“Keuntungan bukan berarti boleh menggunakan tanda tangan palsu dan menjaminkan rumah ibumu tanpa izin!”

Rendi langsung menutup telepon.

Malam itu, Bu Ratih datang ke rumahku.

Dia membawa sebuah map hitam yang ditemukan di lemari kerja mendiang suaminya.

“Maya, Ibu baru ingat sesuatu.”

Aku mempersilakannya duduk.

Di dalam map tersebut terdapat salinan dokumen lama tentang pinjaman usaha Rendi.

Nilainya Rp1,8 miliar.

Tanggalnya hampir setahun sebelumnya.

Aku menatap Bu Ratih.

“Rendi punya utang sebesar ini?”

Dia mengangguk.

“Dia pernah membuka usaha distribusi bahan makanan dengan seorang teman. Tapi bisnisnya gagal.”

Aku membaca dokumen tersebut.

Nama salah satu pihak pemberi pinjaman membuatku membeku.

Vela Maheswari.

Aku menatap ibu mertuaku.

“Jadi hubungan mereka sudah dimulai jauh sebelum Vela hamil?”

Bu Ratih menunduk.

“Ibu nggak tahu soal hubungan pribadi mereka. Tapi Rendi pernah bilang Vela membantu modal usaha.”

Aku mulai memahami hubungan keuangan yang selama ini disembunyikan suamiku.

Vela bukan hanya perempuan selingkuhan.

Dia juga memiliki hubungan bisnis dan piutang terhadap Rendi.

Jika pengajuan kredit Rp6,4 miliar berhasil dicairkan kepada perusahaan pemasok miliknya, sebagian dana mungkin dapat digunakan untuk menyelesaikan kewajiban lama Rendi.

Namun, kenyataan yang lebih mengejutkan datang ketika Nadia memeriksa rancangan perjanjian pembelian mesin.

Di dalamnya terdapat klausul pembayaran uang muka yang tidak dapat dikembalikan apabila pembatalan dilakukan setelah proses persetujuan kredit.

Nilai uang mukanya Rp1,6 miliar.

Aku menatap Nadia.

“Berarti kalau aku terlambat membatalkan, perusahaan bisa tetap menghadapi tuntutan pembayaran uang muka?”

Nadia mengangguk hati-hati.

“Bisa timbul sengketa kontrak, tetapi keabsahannya masih harus diperiksa karena kewenangan penandatangan dan persetujuan transaksi sedang dipersoalkan.”

Aku mengusap wajah.

Jadi, rencana itu memiliki beberapa lapisan.

Rendi ingin mengajukan kredit atas nama perusahaanku.

Vela menjadi pihak penerima dana.

Rumah Bu Ratih dicantumkan sebagai jaminan.

Sementara klausul kontrak disusun untuk menciptakan kewajiban pembayaran bahkan ketika transaksi dibatalkan.

Aku mulai memahami bahwa Rendi mungkin tidak sekadar ingin meninggalkanku.

Dia sedang berusaha menggunakan usahaku sebagai jalan keluar dari persoalan keuangannya sendiri.

Beberapa hari kemudian, aku dan Bu Ratih menyerahkan laporan resmi mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan dan penggunaan dokumen tanpa izin.

Pihak bank melakukan pemeriksaan internal atas berkas pengajuan kredit.

Kantor notaris yang namanya tercantum dalam dokumen juga diminta memberikan klarifikasi.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa beberapa salinan dokumen memang pernah diajukan untuk proses verifikasi, tetapi belum seluruhnya memenuhi persyaratan legalitas.

Permohonan kredit akhirnya tidak dilanjutkan.

Aku merasa lega.

Namun, hubunganku dengan Rendi sudah tidak dapat diselamatkan.

Seminggu kemudian, dia datang ke rumah.

Wajahnya terlihat lelah.

“Maya, aku mau bicara.”

Aku mempersilakannya duduk di teras.

“Apa lagi?”

Rendi menunduk.

“Aku salah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku memang punya utang kepada Vela. Awalnya urusan bisnis. Setelah itu hubungan kami berubah.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu mengira mengkhianati istrimu adalah cara menyelesaikan utang?”

Rendi menangis.

“Aku panik. Bisnisku gagal. Aku takut kehilangan semuanya.”

Aku menggeleng.

“Jadi kamu memilih mempertaruhkan perusahaan yang kubangun bertahun-tahun dan rumah ibumu sendiri?”

Dia tidak mampu menjawab.

Aku menarik napas panjang.

“Rendi, aku bisa menerima kenyataan bahwa kamu tidak lagi mencintaiku. Tapi aku nggak bisa menerima bahwa kamu menggunakan kepercayaanku untuk membuat dokumen yang bisa menghancurkan hidupku.”

Air matanya jatuh.

“Apakah kamu bisa memaafkanku?”

Aku memandangnya lama.

“Mungkin suatu hari. Tapi bukan berarti aku akan kembali.”

Rendi menunduk.

Aku melanjutkan.

“Kita selesaikan perceraian melalui jalur yang benar. Dan semua urusan keuangan harus diperiksa sampai jelas.”

Dia mengangguk perlahan.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami berjalan dengan pendampingan hukum.

Aku kembali fokus mengembangkan Dapur Maya.

Usahaku memang tidak langsung berkembang pesat.

Namun, setiap pesanan yang datang membuatku merasa sedang membangun kembali sesuatu yang hampir hilang.

Bu Ratih masih sesekali datang.

Dia sering membantu menyiapkan pesanan katering untuk acara keluarga.

Suatu sore, ketika kami sedang menata kotak makanan, dia tiba-tiba berkata.

“Maya, Ibu dulu pikir menjadi ibu berarti harus selalu membela anak sendiri.”

Aku menoleh.

Bu Ratih tersenyum sedih.

“Sekarang Ibu tahu, kadang cara terbaik menyayangi anak adalah membiarkannya bertanggung jawab atas kesalahannya.”

Aku menggenggam tangannya.

“Terima kasih karena Ibu memilih memberi tahu saya.”

Dia mengangguk.

“Ibu hampir terlambat.”

Aku tersenyum kecil.

“Tapi Ibu tetap menelepon.”

Malam itu, setelah pesanan terakhir dikirim, aku duduk sendirian di dapur produksi.

Di hadapanku terdapat sebuah buku catatan lama.

Buku pertama yang kugunakan ketika memulai usaha katering.

Pada halaman awal tertulis daftar pesanan nasi kotak untuk dua puluh orang.

Keuntungannya hanya Rp180.000.

Aku membaca angka itu dan tersenyum.

Dari keuntungan sekecil itulah Dapur Maya tumbuh.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa pinjaman miliaran rupiah.

Tanpa janji keuntungan yang tidak masuk akal.

Tanpa harus menggunakan hak milik orang lain.

Aku menutup buku tersebut.

Dulu aku mengira pengkhianatan terbesar Rendi adalah ketika dia memilih perempuan lain.

Namun, ternyata yang jauh lebih menyakitkan adalah mengetahui bahwa orang yang tidur di sampingku selama bertahun-tahun telah menggunakan kepercayaanku untuk merencanakan sesuatu yang bisa menghancurkan masa depanku.

Aku tidak menangis ketika dia menyodorkan surat perpisahan.

Bukan karena aku tidak terluka.

Melainkan karena saat itu aku belum mengetahui seberapa dalam pengkhianatannya.

Sekarang aku tahu.

Dan aku juga tahu bahwa kehilangan suami yang tidak lagi setia bukanlah akhir dari hidupku.

Terkadang, justru dengan melepaskan orang yang salah, kita bisa menyelamatkan semua hal yang telah dibangun dengan benar.

Aku mematikan lampu dapur dan mengunci pintu.

Besok pagi, pesanan baru sudah menunggu.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa masa depanku kembali berada di tanganku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang