
Suara air dari kamar mandi masih terdengar ketika aku membuka kembali video yang kusimpan semalam. Tanganku gemetar melihat Mas Damar memeluk Bu Larasati di kamar tamu, lalu mencium kening perempuan itu seolah mereka adalah pasangan suami istri.
Aku mematikan layar sebelum air mataku jatuh.
Selama delapan tahun menikah, aku tidak pernah membayangkan laki-laki yang dulu rela bekerja sebagai buruh bangunan demi membelikanku cincin sederhana kini tega mengkhianatiku dengan perempuan yang menggaji kami.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Mutia, jangan kirim video itu kepada Pak Andi. Kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya suamimu, temui saya di warung soto dekat gerbang perumahan pukul dua siang. Datang sendiri.”
Aku membaca pesan itu berulang kali. Belum sempat membalas, pesan berikutnya muncul.
“Saya perempuan yang memasukkan ponsel Pak Andi ke dalam kuah soto.”
Jantungku berdegup kencang.
Bagaimana perempuan itu mengetahui video yang kusimpan? Apakah dia sudah mengawasiku sejak lama?
Aku segera menyimpan nomor tersebut dengan nama Bu Sari, meskipun belum mengetahui identitas aslinya.
Pintu kamar mandi terbuka.
Mas Damar keluar dengan rambut basah dan handuk kecil tersampir di bahunya. Aroma sampo yang sama kembali memenuhi ruangan.
“Kamu sedang apa?” tanyanya.
“Melihat resep masakan.”
Dia mendekat, berusaha mengintip layar ponselku.
“Resep apa sampai wajahmu pucat begitu?”
Aku memasukkan ponsel ke saku.
“Resep supaya suami tidak bosan makan di rumah.”
Mas Damar tertawa kecil, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Jangan aneh-aneh, Mut. Kita sudah enak bekerja di sini. Jangan sampai gara-gara kamu terlalu banyak curiga, kita kehilangan pekerjaan.”
Perkataannya membuatku semakin yakin bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Memangnya aku mencurigai siapa, Mas?”
Dia terdiam.
“Sudahlah. Aku mau tidur.”
Aku memperhatikannya berjalan menuju kamar. Untuk pertama kalinya, aku merasa sedang tinggal bersama orang asing.
Pukul setengah dua siang, setelah memastikan Mas Damar tertidur, aku meninggalkan rumah melalui pintu samping. Aku mengatakan kepada petugas keamanan bahwa aku hendak membeli kebutuhan dapur.
Warung soto itu tidak terlalu ramai. Di meja paling ujung, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun duduk mengenakan blus krem dan kerudung abu-abu.
Dia langsung berdiri ketika melihatku.
“Mutia?”
Aku mengangguk ragu.
“Saya Ratih.”
“Bu Ratih, bagaimana Ibu tahu tentang video itu?”
Perempuan tersebut mempersilahkanku duduk sebelum menjawab.
“Karena saya sudah lama menyelidiki Larasati.”
Aku terdiam.
Ratih mengeluarkan beberapa lembar foto dari tasnya. Dalam foto pertama, Bu Larasati terlihat memasuki sebuah apartemen bersama Mas Damar. Foto berikutnya memperlihatkan mereka sedang makan malam di restoran.
Namun, foto terakhir membuatku membeku.
Mas Damar berdiri di depan kantor notaris bersama Bu Larasati. Di tangan mereka terdapat sebuah map biru.
“Foto ini diambil tiga minggu lalu,” kata Ratih.
“Apa yang mereka lakukan di kantor notaris?”
“Itulah yang sedang saya cari tahu.”
Aku menatapnya dengan bingung.
“Bukankah Ibu istri pertama Pak Andi?”
Ratih mengangguk.
“Saya menikah dengan Andi dua puluh tiga tahun lalu. Kami memiliki seorang putri yang sekarang kuliah di Surabaya. Lima tahun lalu, Andi menikahi Larasati setelah mendapat persetujuan saya.”
Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
“Kenapa Ibu menyetujuinya?”
Ratih tersenyum pahit.
“Karena waktu itu saya sedang menjalani pengobatan panjang. Saya mengira Andi membutuhkan pendamping. Larasati terlihat sangat perhatian, bahkan sering mengantar saya ke rumah sakit.”
Dia berhenti sejenak.
“Ternyata saya salah menilai orang.”
Aku menunduk.
“Pak Andi tahu hubungan mereka?”
“Belum. Saya baru mendapatkan bukti beberapa hari lalu. Ketika saya mencoba membicarakannya, Andi malah menuduh saya cemburu. Kami bertengkar sampai saya kehilangan kesabaran dan menjatuhkan ponselnya ke mangkuk soto.”
Aku teringat ucapan Pak Andi saat sarapan.
“Jadi Ibu yang merusak ponselnya?”
Ratih mengangguk malu.
“Saya menyesal melakukannya. Tetapi bukan itu masalah terbesarnya.”
Dia mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Rumah tempat kalian bekerja sebenarnya milik perusahaan keluarga saya. Andi hanya diberi hak untuk mengelolanya. Dua bulan lalu, Larasati mulai mendesak agar rumah itu dialihkan atas namanya.”
Aku mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Dia mengatakan ingin menjadikannya jaminan pinjaman usaha. Tetapi saya menemukan bahwa usaha yang dimaksud terdaftar atas nama seseorang bernama Damar Prasetyo.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
“Itu nama lengkap suami saya.”
Ratih menatapku dengan iba.
“Saya tahu.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Selama ini aku mengira Mas Damar hanya berselingkuh karena tergoda kecantikan dan kekayaan Bu Larasati. Rupanya hubungan mereka melibatkan sesuatu yang jauh lebih besar.
“Bagaimana Ibu mendapatkan nomor saya?”
“Saya pernah melihat nomor kamu di daftar pekerja rumah itu. Kemarin saya meminta bantuan seseorang untuk memeriksa rekaman kamera keamanan di sekitar rumah. Dia melihat kamu sedang berusaha merekam sesuatu dari luar kamar tamu.”
Aku teringat kursi yang kugunakan semalam.
Ratih menggenggam tanganku.
“Mutia, saya tidak meminta kamu membalas dendam. Saya hanya ingin kita mendapatkan bukti yang sah sebelum mereka melakukan sesuatu yang merugikan banyak orang.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui perselingkuhan itu, aku merasa tidak sendirian.
Namun, sebelum kami sempat membicarakan langkah berikutnya, ponsel Ratih berdering.
Wajahnya berubah ketika membaca pesan.
“Mutia, kamu harus segera kembali.”
“Ada apa?”
“Petugas keamanan baru mengabari saya. Damar membawa dua orang laki-laki masuk ke rumah.”
Aku langsung berdiri.
“Tapi Mas Damar tadi sedang tidur!”
Ratih mengambil tasnya.
“Sepertinya dia sudah tahu kamu pergi.”
Kami bergegas menuju mobil Ratih yang terparkir di seberang jalan.
Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi kemungkinan buruk. Apakah Mas Damar menemukan kamera tersembunyi yang kugunakan? Apakah dia akan menghapus semua bukti?
Ketika mobil berhenti tidak jauh dari gerbang rumah, aku melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman.
Dari balik pagar, tampak Mas Damar berbicara dengan dua pria berkemeja putih.
Salah seorang membawa tas peralatan.
“Mereka sedang apa?” bisikku.
Ratih memperhatikan beberapa saat.
“Itu teknisi sistem keamanan.”
Aku semakin bingung.
Mengapa Mas Damar memanggil teknisi ketika Pak Andi dan Bu Larasati sedang pergi?
Kami memutuskan menunggu sampai kedua pria itu meninggalkan rumah.
Setengah jam kemudian, mobil hitam keluar dari halaman.
Aku segera masuk melalui pintu samping.
Rumah tampak sepi.
Namun, ketika melewati ruang kerja Pak Andi, aku mendengar suara Mas Damar sedang menelepon.
“Sudah beres, Bu. Semua rekaman kamera tiga hari terakhir sudah dihapus.”
Aku berhenti melangkah.
“Tenang saja. Mutia tidak akan tahu. Dia cuma pembantu dapur, mana mungkin mengerti urusan beginian?”
Tanganku mengepal.
Mas Damar melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Soal surat itu, saya sudah tanda tangan. Tinggal menunggu Ibu kembali dari hotel.”
Beberapa detik kemudian dia tertawa.
“Iya, Sayang. Sebentar lagi rumah itu jadi milik kita.”
Aku mundur perlahan, tetapi tanpa sengaja menyenggol vas kecil di meja.
Benda itu jatuh dan pecah.
PRANG!
Pintu ruang kerja langsung terbuka.
“Mutia!”
Mas Damar menatapku dengan wajah pucat.
“Kamu sejak kapan di situ?”
Aku berusaha terlihat tenang.
“Baru datang. Ada apa, Mas?”
Dia melangkah mendekat.
“Kamu mendengar pembicaraanku?”
“Pembicaraan apa?”
Matanya menyipit.
“Jangan bohong!”
Untuk pertama kalinya selama delapan tahun menikah, Mas Damar membentakku dengan nada yang benar-benar menakutkan.
Aku mundur.
“Mas, kenapa kamu marah?”
Dia meraih pergelangan tanganku.
“Kasih ponselmu!”
“Tidak!”
“Mutia, jangan bikin aku kehilangan kesabaran!”
Aku mencoba melepaskan tangannya.
Saat itulah terdengar suara perempuan dari pintu depan.
“Lepaskan istrimu, Damar.”
Kami sama-sama menoleh.
Ratih berdiri di ambang pintu bersama seorang pria berkacamata dan dua petugas keamanan.
Mas Damar langsung melepaskan tanganku.
“Bu Ratih?”
Perempuan itu melangkah masuk.
“Jadi benar kamu yang membantu Larasati mengurus pemindahan aset perusahaan keluarga saya.”
Mas Damar menggeleng cepat.
“Bukan begitu, Bu. Saya hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?”
Dia terdiam.
Ratih mengeluarkan ponselnya.
“Percakapanmu tadi sudah terdengar oleh kami melalui sambungan telepon Mutia.”
Aku terkejut. Rupanya sebelum masuk rumah, Ratih memintaku menyalakan panggilan suara dan menyimpan ponsel di saku.
Mas Damar menatapku dengan kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kamu menjebakku?”
Aku menggeleng.
“Aku cuma ingin tahu kenapa suamiku berbohong setiap hari.”
Dia membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Ratih kemudian memperkenalkan pria berkacamata di sampingnya sebagai pengacara keluarga.
“Kami sudah memeriksa dokumen perusahaan yang diajukan Larasati. Ada tanda tangan yang diduga dipalsukan. Semua akan diperiksa lebih lanjut melalui jalur hukum.”
Mas Damar terduduk di sofa.
Wajahnya kehilangan warna.
Namun, kejutan terbesar justru datang beberapa menit kemudian.
Sebuah mobil memasuki halaman.
Pak Andi turun sendirian.
Dia berjalan masuk dengan wajah serius, lalu menatap Mas Damar.
“Saya sudah mendengar semuanya.”
Aku tertegun.
“Bapak tidak sedang di hotel?”
Pak Andi menggeleng.
“Saya memang pergi bersama Larasati. Tetapi Ratih menghubungi saya setelah mendapatkan bukti tambahan. Saya meninggalkan Larasati di hotel dan kembali untuk memastikan sendiri.”
Ratih menatap mantan suaminya dengan mata berkaca-kaca.
“Andi, saya sudah berkali-kali memperingatkanmu.”
Pak Andi menunduk.
“Saya tahu. Maaf karena tidak percaya.”
Mas Damar tiba-tiba berdiri.
“Pak, saya bisa jelaskan!”
Pak Andi mengangkat tangan.
“Jelaskan kepada pengacara saya nanti. Saya tidak mau mendengar alasan apa pun sekarang.”
Mas Damar kemudian menoleh kepadaku.
“Mut, tolong aku. Kamu istriku.”
Aku menatap laki-laki yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kehidupanku.
Dulu, setiap kali dia sakit, aku rela begadang. Ketika dia kehilangan pekerjaan, aku menjual gelang peninggalan ibuku agar kami bisa membayar kontrakan. Bahkan saat kami diterima bekerja di rumah ini, aku bersyukur karena mengira akhirnya kehidupan kami akan membaik.
Kini dia memohon pertolongan setelah menghancurkan kepercayaanku sendiri.
“Mas, waktu kamu memeluk Bu Larasati, apa kamu ingat punya istri?”
Dia menunduk.
“Mut, aku khilaf.”
“Kalau cuma sekali, mungkin kamu bisa menyebutnya khilaf. Tapi kamu berbohong berbulan-bulan, Mas.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Aku bukan marah karena kalah cantik atau kalah kaya. Aku terluka karena orang yang paling kupercaya justru membuatku merasa tidak berharga.”
Mas Damar menangis.
Namun, tangisannya tidak lagi membuatku ingin memeluknya.
Malam itu aku mengemasi pakaianku.
Ratih menawarkan pekerjaan sementara di usaha katering miliknya. Aku menerimanya dengan satu syarat, aku ingin bekerja berdasarkan kemampuanku, bukan karena dikasihani.
Sebelum meninggalkan rumah, aku melihat Mas Damar duduk sendirian di ruang tamu, menunggu pemeriksaan dokumen bersama pengacara.
“Mutia,” panggilnya lirih.
Aku berhenti.
“Apa kamu masih mau memaafkanku?”
Aku menatapnya lama.
“Suatu hari mungkin aku bisa memaafkanmu, Mas. Tapi bukan berarti aku harus kembali hidup bersamamu.”
Dia menangis semakin keras.
Aku melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Tiga bulan kemudian, proses perceraianku berjalan. Pemeriksaan atas dugaan pemalsuan dokumen juga masih berlangsung. Bu Larasati tidak lagi tinggal di rumah itu, sedangkan Pak Andi dan Ratih sedang menyelesaikan persoalan keluarga mereka melalui jalur hukum.
Aku sendiri mulai membangun usaha makanan rumahan dari tabungan dan penghasilanku bekerja bersama Ratih.
Suatu pagi, ketika sedang menyiapkan pesanan nasi kotak, aku menerima sebuah amplop dari kurir.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Mas Damar.
Dia mengaku bahwa kebiasaannya mandi dan keramas setiap pagi bukan semata-mata untuk menghilangkan aroma parfum Bu Larasati.
Ternyata perempuan itu selalu memintanya memakai sampo khusus yang dibelikan sendiri. Mas Damar menurut karena mengira itu bentuk perhatian.
Namun, pada bagian terakhir surat tersebut, ada pengakuan yang membuatku terdiam.
Bu Larasati pernah berkata bahwa dia sengaja memilih Damar karena mengetahui istrinya bekerja di dapur dan tidak memiliki keluarga dekat di Jakarta.
Dia mengira aku akan terlalu takut kehilangan pekerjaan untuk berani membuka mulut.
Aku melipat surat itu perlahan.
Selama ini mereka menganggap kesederhanaanku sebagai kelemahan.
Padahal justru dari dapur kecil itulah aku belajar bertahan, bekerja, dan akhirnya menemukan keberanian untuk pergi.
Aku memasukkan surat tersebut ke dalam laci, lalu kembali menyiapkan pesanan.
Di luar, matahari pagi menyinari halaman kontrakan baruku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi memikirkan siapa yang sedang mandi, siapa yang berbohong, atau parfum perempuan mana yang menempel pada pakaian suamiku.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Hari ini aku harus mengantarkan lima puluh kotak makanan sebelum pukul sebelas.
Dan anehnya, kesibukan sederhana itu membuatku jauh lebih bahagia daripada semua janji manis yang pernah kudengar selama delapan tahun pernikahanku.
Sebab aku akhirnya mengerti, kehilangan seorang suami yang tidak setia bukan berarti kehilangan masa depan.
Kadang, justru setelah melepaskan orang yang salah, kita baru memiliki kesempatan untuk menemukan kembali diri sendiri.
