Nama Maya Kusuma membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

Aku menatap Ibu yang berdiri di ambang pintu Ruang 27. Tangannya masih terulur, tetapi dia tidak lagi berusaha merebut dokumen itu.

“Jadi perempuan di terminal itu ibu kandungku?”

Ratih menutup wajahnya.

“Dengarkan Ibu dulu, Naya.”

“Sebelas tahun aku mengira Ayah meninggal karena kecelakaan. Seumur hidup aku percaya Ibu yang melahirkanku. Sekarang aku menemukan dokumen yang mengatakan semuanya berbeda!”

Air mataku jatuh.

“Siapa sebenarnya aku, Bu?”

Ratih perlahan duduk di kursi besi dekat pintu.

“Kamu tetap Naya Pradipta,” jawabnya dengan suara pecah. “Anak yang Ibu besarkan sejak bayi.”

“Tapi bukan anak yang Ibu lahirkan.”

Dia menggeleng.

“Bukan.”

Aku merasa lututku kehilangan tenaga.

Ratih menarik napas panjang sebelum akhirnya menceritakan kejadian dua puluh empat tahun lalu.

Saat itu dia sedang mengandung anak pertama. Arman bekerja sebagai teknisi peralatan laboratorium di sebuah klinik bersalin milik PT Samudra Medika.

Pada tanggal 27 Juni, Ratih melahirkan seorang bayi perempuan secara prematur.

Namun, bayi itu mengalami komplikasi berat dan meninggal beberapa jam kemudian.

“Aku bahkan belum sempat menggendongnya dengan benar,” bisik Ratih.

Aku menatapnya tanpa berkata-kata.

“Setelah pemakaman, Ibu kehilangan semangat hidup. Ibu terus menyalahkan diri sendiri. Ayahmu sampai mengambil cuti untuk menjagaku.”

Beberapa minggu kemudian, Arman pulang membawa kabar tentang seorang perempuan muda bernama Maya Kusuma.

Maya merupakan petugas administrasi di klinik tempatnya bekerja. Dia baru melahirkan seorang bayi perempuan, tetapi sedang menghadapi masalah serius dengan keluarganya.

“Ayah bilang Maya membutuhkan bantuan,” lanjut Ratih. “Dia tidak memiliki pekerjaan tetap setelah melahirkan dan sedang mencari tempat aman untuk membesarkan bayinya.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu kenapa aku justru dibawa pulang ke rumah Ibu?”

Ratih mulai menangis.

“Karena kami membuat keputusan yang salah.”

Dia menjelaskan bahwa Arman dan Maya sepakat menitipkanku sementara kepada mereka ketika Maya mengurus persoalan keluarganya.

Awalnya, penyerahan pengasuhan itu hanya direncanakan berlangsung beberapa bulan.

Namun, keadaan berubah ketika Arman mengetahui bahwa Maya sedang menyelidiki penyalahgunaan dokumen kelahiran di klinik tersebut.

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Penyalahgunaan dokumen?”

Ratih mengangguk.

“Samudra Medika memiliki beberapa layanan bersalin dan laboratorium. Waktu itu ada dugaan sejumlah data bayi digunakan dalam administrasi yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.”

Dadaku berdebar.

“Apa hubungannya denganku?”

Ratih menatapku lama.

“Nama dan data kelahiranmu termasuk yang pernah mereka gunakan.”

Aku membeku.

Dia menjelaskan bahwa Arman mulai membantu Maya mengumpulkan salinan dokumen yang menunjukkan ketidaksesuaian antara catatan kelahiran, identitas orang tua, dan laporan administrasi.

Namun, sebelum semua persoalan selesai, Maya tiba-tiba menghilang.

Aku langsung berdiri.

“Menghilang?”

Ratih mengangguk.

“Dia meninggalkan pesan kepada Ayahmu agar kamu tetap bersama kami sampai keadaan aman.”

Aku menatap dokumen di tanganku.

“Jadi Ayah dan Ibu membesarkanku karena Maya menitipkanku?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kalian mengaku sebagai orang tua kandungku?”

Ratih menangis semakin keras.

“Karena setelah beberapa tahun, Ibu takut kehilanganmu.”

Aku merasa dadaku seperti diremas.

“Kalian mengubah identitasku?”

Ratih menunduk.

“Ayahmu pernah mengatakan dokumen keluarga harus diperbaiki melalui prosedur yang benar. Tapi Ibu memohon agar dia tidak mengungkit masa lalu.”

Aku menggeleng.

“Jadi kalian membiarkan aku hidup tanpa mengetahui siapa ibuku?”

Tidak ada jawaban.

Aku kembali menyalakan alat perekam suara.

Suara Arman terdengar memenuhi ruangan.

“Naya, kalau kamu sudah menemukan berkas kelahiranmu, berarti ada sesuatu yang akhirnya harus Ayah jelaskan.”

Aku dan Ratih langsung terdiam.

Dalam rekaman itu, Arman mengatakan bahwa dia tidak pernah berniat mengambil anak Maya untuk selamanya.

Namun, ketika Maya menghilang, dia merasa bertanggung jawab memastikan aku tetap aman.

“Ayah seharusnya menyelesaikan status pengasuhanmu secara terbuka. Tetapi Ayah takut orang-orang yang terlibat dalam penyalahgunaan data klinik akan menemukanmu.”

Aku menahan napas.

“Selama bertahun-tahun, Ayah menyimpan dokumen aslimu di Ruang 27. Kalau suatu hari kamu menemukannya, carilah Maya Kusuma. Dia berhak menjelaskan kisahnya sendiri.”

Rekaman berhenti.

Aku menatap Ratih.

“Kalau Ayah ingin aku mencari Maya, kenapa Ibu justru melarangku?”

Ratih menggenggam kedua tangannya.

“Karena Ibu tahu Maya masih hidup.”

Aku membeku.

“Apa?”

Ratih mulai menangis.

“Tujuh tahun lalu, Maya menghubungi Ibu.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Tujuh tahun lalu? Setelah Ayah meninggal?”

Dia mengangguk.

“Maya bilang dia sudah menemukan sebagian dokumen lama. Dia ingin bertemu denganmu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Lalu Ibu bilang apa?”

Ratih menunduk.

“Ibu memintanya pergi.”

Aku merasa seluruh tubuhku panas.

“Kenapa?”

“Karena Ibu takut kamu memilih tinggal bersamanya.”

Aku tertawa getir.

“Bu, aku bukan barang yang bisa diperebutkan!”

Ratih menangis.

“Ibu tahu. Sekarang Ibu tahu.”

Aku mengambil napas panjang.

Namun, satu hal masih menggangguku.

“Kalau Maya masih hidup tujuh tahun lalu, kenapa namanya tercatat sebagai korban kebakaran terminal?”

Ratih mengangkat wajah.

“Apa maksudmu?”

Aku menunjukkan foto berita lama.

Dia membaca nama Maya Kusuma.

Wajahnya langsung berubah.

“Aku nggak tahu soal ini.”

Aku memperhatikannya.

Untuk pertama kalinya, ketakutan di wajah Ratih terlihat berbeda.

Bukan sekadar takut kehilangan anak.

Melainkan takut mengetahui sesuatu yang buruk telah terjadi kepada perempuan yang pernah menyerahkanku kepadanya.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar Ruang 27.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun muncul di ambang pintu.

Dia mengenakan kemeja putih dan membawa sebuah map plastik.

“Kalian akhirnya datang.”

Aku langsung berdiri.

“Bapak siapa?”

“Namaku Haryono. Dulu aku petugas keamanan gedung ini.”

Aku menatapnya dengan curiga.

“Bagaimana Bapak tahu kami berada di sini?”

Haryono menunjuk alat pembaca kartu di dekat pintu.

“Aku masih mendapat pemberitahuan kalau ruang arsip ini dibuka. Sekarang aku membantu menjaga bangunan untuk pemiliknya.”

Aku mengerutkan kening.

“Jadi gedung ini tidak benar-benar kosong?”

“Sebagian besar tidak digunakan. Tapi arsip lama masih berada di sini karena proses penyelesaian dokumen perusahaan belum selesai.”

Aku menatap kartu akses di tanganku.

“Kenapa kartu belasan tahun lalu masih bisa membuka pintu?”

Haryono menjelaskan bahwa sistem akses di beberapa ruang arsip tidak pernah diganti sepenuhnya. Kartu yang kusimpan merupakan kartu khusus yang masih tercatat aktif untuk keperluan pemeriksaan dokumen lama.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Koper itu memang sengaja disiapkan untukmu.”

Aku menahan napas.

“Oleh siapa?”

Haryono membuka map yang dibawanya.

“Maya Kusuma.”

Aku menatapnya.

“Tapi dia meninggal tujuh tahun lalu!”

Haryono mengangguk.

“Itu yang tertulis dalam berita. Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.”

Dia menjelaskan bahwa kebakaran terminal tujuh tahun lalu memang menewaskan empat orang.

Namun, identitas salah satu korban sempat salah dicatat karena barang-barang pribadi milik Maya ditemukan di dekat lokasi kebakaran.

Maya ternyata bekerja sementara sebagai petugas administrasi di terminal tersebut.

Pada malam kejadian, dia meninggalkan loker kerjanya untuk mengantar dokumen ke kantor pengelola.

Ketika kembali, area loket sudah terbakar.

Barang pribadinya ditemukan di antara puing-puing.

Karena proses identifikasi awal bermasalah, namanya sempat masuk dalam daftar korban.

Namun, kesalahan itu kemudian dikoreksi dalam catatan resmi.

Berita lama yang kulihat pagi tadi belum memuat pembaruan tersebut.

Aku merasa jantungku berdetak semakin keras.

“Jadi Maya masih hidup?”

Haryono mengangguk.

“Masih.”

Aku hampir menangis.

“Lalu perempuan yang memberikan koper itu semalam?”

Haryono menatapku lama.

“Itu Maya sendiri.”

Aku langsung menutup mulut.

Jadi perempuan yang berdiri di balik loket tersegel bukan hantu.

Dia adalah ibu kandungku.

Namun, bagaimana mungkin dia berada di sana?

Haryono menjelaskan bahwa loket lama memang sudah ditutup sejak kebakaran, tetapi bagian belakangnya masih memiliki akses melalui koridor petugas.

Maya menggunakan ruangan itu untuk menyerahkan koper tanpa menarik perhatian orang-orang yang sedang mengawasinya.

Aku mengerutkan kening.

“Mengawasi?”

Haryono mengangguk.

“Dia menerima ancaman setelah kembali menelusuri dokumen lama Samudra Medika.”

Aku merasa darahku dingin.

“Ancaman dari siapa?”

“Belum diketahui pasti. Tapi Maya pernah menemukan bahwa beberapa orang yang dahulu mengurus arsip kelahiran masih memiliki hubungan dengan jaringan perusahaan yang sama.”

Aku terdiam.

Sekarang aku mulai memahami mengapa perempuan itu tidak langsung memperkenalkan dirinya.

Dia ingin aku menemukan dokumen terlebih dahulu.

Namun, aku masih tidak mengerti mengapa dia memilih cara yang begitu berbahaya.

Aku menatap Haryono.

“Kalau Maya ingin bertemu denganku, kenapa tidak langsung datang ke rumah?”

Haryono menoleh kepada Ratih.

“Karena terakhir kali dia mencoba, Bu Ratih mengancam akan melaporkannya sebagai orang yang ingin mengambil anak.”

Ratih menunduk.

Aku menatap ibuku dengan mata berkaca-kaca.

“Jadi selama ini Ibu bukan hanya menyembunyikan identitasku. Ibu juga menghalangi Maya menemuiku?”

Ratih menangis.

“Ibu takut, Naya.”

Aku menggeleng.

“Ketakutan Ibu membuatku kehilangan kesempatan mengenal ibu kandungku.”

Ratih tidak membantah.

Namun, sebelum aku sempat mengatakan sesuatu lagi, Haryono mengeluarkan sebuah amplop dari mapnya.

“Ini dititipkan Maya.”

Aku segera membukanya.

Di dalamnya terdapat alamat sebuah rumah sederhana di kawasan Waru, Sidoarjo.

Dan sebuah surat.

Naya, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah mengetahui sebagian kebenaran. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Tetapi aku tidak ingin datang hanya untuk merebut kehidupan yang sudah kamu jalani. Aku ingin kamu mengetahui siapa dirimu, lalu memilih sendiri apakah ingin mengenalku.

Air mataku langsung jatuh.

Aku membaca bagian terakhir.

Aku akan menunggumu di rumah ini sampai kamu siap. Kalau kamu tidak ingin bertemu, aku akan menghormati keputusanmu.

Aku menutup surat tersebut.

Kemudian menatap Ratih.

“Ibu ikut denganku.”

Dia langsung mengangkat kepala.

“Naya…”

“Aku ingin mendengar semuanya dari Maya. Dan kali ini tidak boleh ada yang berbohong.”

Ratih mengangguk sambil menangis.

Sore itu, kami tiba di sebuah rumah kecil dengan pagar hijau.

Aku berdiri cukup lama di depan pintunya.

Tanganku gemetar ketika menekan bel.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Perempuan yang berdiri di hadapanku mengenakan blus sederhana berwarna biru muda.

Rambut pendeknya mulai memutih.

Wajahnya sama seperti perempuan yang kulihat di terminal.

Maya Kusuma.

Dia langsung menutup mulut ketika melihatku.

“Naya?”

Aku mengangguk.

Air matanya jatuh.

“Kamu benar-benar datang.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Perempuan itu adalah orang asing bagiku.

Namun, di saat yang sama, aku tahu bahwa dia telah melahirkanku.

Aku menatapnya lama.

Kemudian bertanya dengan suara bergetar.

“Kenapa Ibu tidak pernah datang mencariku?”

Maya menangis.

“Aku datang, Nak. Berkali-kali.”

Aku menutup mata.

Dia melanjutkan.

“Tapi setiap kali aku mencoba, selalu ada orang yang mengatakan kamu sudah bahagia dan tidak ingin mengenalku.”

Aku menoleh kepada Ratih.

Dia menunduk sambil menangis.

Maya kemudian menjelaskan bahwa setelah melahirkanku, dia memang sempat menitipkanku kepada Arman dan Ratih.

Namun, beberapa bulan kemudian, ketika dia ingin membawaku kembali, persoalan dokumen kelahiran di Samudra Medika membuat keadaan semakin rumit.

Ada catatan yang telah diubah.

Ada data identitas bayi yang tidak sesuai.

Dan ada orang-orang yang berusaha menutupinya.

Maya takut jika dia mengambilku secara terburu-buru, identitasku justru akan kembali digunakan dalam urusan yang tidak kupahami.

Dia kemudian meminta bantuan hukum dan berusaha mengumpulkan dokumen asli.

Namun, prosesnya tidak mudah.

Sementara waktu terus berlalu, Arman dan Ratih membesarkanku.

Aku mulai memanggil mereka Ayah dan Ibu.

Maya mengusap air matanya.

“Aku tahu aku juga membuat kesalahan besar karena terlalu lama menyerahkan keputusan tentang hidupmu kepada orang lain.”

Aku memandangnya.

“Jadi kenapa baru sekarang Ibu memberikan koper itu?”

Maya menarik napas panjang.

“Karena beberapa minggu lalu, aku akhirnya mendapatkan salinan arsip yang membuktikan identitas kelahiranmu. Aku tidak ingin lagi datang hanya membawa cerita tanpa dokumen.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Dan karena aku baru tahu bahwa Arman meninggalkan rekaman untukmu di Ruang 27.”

Aku mengusap wajah.

Ternyata dua orang tua yang berbeda telah menyimpan bagian-bagian kisah hidupku selama puluhan tahun.

Arman menyimpan dokumen.

Ratih menyembunyikan kebenaran karena takut kehilangan aku.

Sementara Maya terus berusaha mendapatkan bukti bahwa dirinya adalah ibu kandungku.

Aku menatap mereka berdua.

“Aku nggak tahu harus merasa apa sekarang.”

Maya mengangguk.

“Kamu nggak perlu memutuskan apa pun hari ini.”

Ratih menangis.

“Naya, Ibu minta maaf.”

Aku menatap perempuan yang membesarkanku sejak bayi.

Aku mengingat bagaimana dia menemaniku ketika sakit.

Mengajariku membaca.

Menunggu di depan gerbang sekolah.

Dan menangis ketika aku pertama kali diterima bekerja.

Semua kenangan itu nyata.

Namun, kebohongannya juga nyata.

Aku menarik napas panjang.

“Aku sayang Ibu,” kataku kepada Ratih. “Tapi aku juga sangat kecewa.”

Dia mengangguk sambil menangis.

Kemudian aku menoleh kepada Maya.

“Aku ingin mengenal Ibu.”

Maya langsung menutup mulut.

Aku melanjutkan.

“Tapi pelan-pelan. Aku belum siap memanggil Ibu seperti aku memanggil Ratih.”

Maya tersenyum di antara air matanya.

“Tidak apa-apa, Nak. Aku tidak meminta kamu melupakan siapa pun.”

Beberapa bulan berikutnya, aku mulai memeriksa kembali seluruh dokumen kelahiranku dengan pendampingan hukum.

Catatan administrasi lama ternyata memang memiliki ketidaksesuaian yang perlu diperbaiki.

Kami juga menemukan bahwa laporan kematian Arman sebelas tahun sebelumnya tidak berkaitan langsung dengan pemalsuan data kelahiran, meskipun sebelum meninggal dia sempat berusaha menyelesaikan dokumen tersebut.

Pemeriksaan resmi terhadap arsip Samudra Medika masih membutuhkan waktu.

Namun, setidaknya aku akhirnya mengetahui identitas ibu kandungku.

Suatu sore, aku kembali ke Terminal Arjosari.

Bukan untuk mencari hantu.

Bukan pula untuk membuktikan cerita menyeramkan tentang loket yang terbakar.

Aku hanya ingin melihat tempat ketika hidupku berubah.

Aku berdiri di depan koridor yang masih ditutup seng.

Kemudian mengeluarkan pelat logam A-317 dari saku.

Dulu aku mengira angka dua puluh tujuh merupakan pertanda buruk.

Angka yang membuat Ratih ketakutan.

Angka yang selalu dilarang disebut di rumah.

Namun, sekarang aku tahu bahwa angka itu sebenarnya merujuk kepada tanggal kelahiranku dan arsip yang selama puluhan tahun menyimpan identitasku.

Aku menggenggam pelat tersebut.

Kemudian ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari Maya.

Naya, besok aku mau membuatkan masakan yang dulu sering kusukai ketika hamil. Kalau kamu sempat, datanglah makan siang.

Aku tersenyum kecil.

Kemudian membalas.

Aku datang. Tapi jangan masak terlalu banyak, ya.

Beberapa detik kemudian, Maya membalas dengan gambar hati.

Aku menatap layar cukup lama.

Selama dua puluh empat tahun, aku mengira hidupku hanya memiliki satu cerita.

Ayah bernama Arman.

Ibu bernama Ratih.

Dan masa kecil yang sederhana di Surabaya.

Namun, ternyata ada bagian lain yang selama ini tersembunyi.

Seorang perempuan bernama Maya yang melahirkanku.

Seorang ayah yang menyimpan dokumen agar suatu hari aku bisa mengetahui kebenaran.

Dan seorang ibu yang membesarkanku, tetapi membiarkan ketakutannya merampas hakku mengenal asal-usul sendiri.

Aku tidak bisa mengubah masa lalu.

Aku juga tidak bisa mengembalikan tahun-tahun yang hilang.

Namun, aku masih bisa menentukan bagaimana hidupku berjalan setelah mengetahui semuanya.

Aku kembali menatap pelat A-317.

Lalu perlahan memasukkannya ke dalam tas.

Koper hitam yang diberikan Maya di terminal kini kusimpan di rumah.

Bukan sebagai benda misterius.

Melainkan sebagai pengingat bahwa kebenaran terkadang datang melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Dan malam ketika seorang perempuan asing memberiku koper milik ayahku yang sudah meninggal, aku mengira sedang menerima warisan berupa rahasia yang mengerikan.

Ternyata aku sedang menerima sesuatu yang jauh lebih penting.

Kesempatan untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya.

Aku tersenyum sambil menghapus air mata.

Karena pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang siapa yang melahirkan atau siapa yang membesarkan kita.

Keluarga juga tentang keberanian untuk mengatakan kebenaran, meskipun kebenaran itu bisa mengubah segalanya.

Dan setelah bertahun-tahun hidup di antara rahasia orang dewasa, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk memilih sendiri hubungan seperti apa yang ingin kubangun dengan kedua perempuan yang sama-sama menjadi bagian dari hidupku.

Nama Maya Kusuma membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

Aku menatap Ibu yang berdiri di ambang pintu Ruang 27. Tangannya masih terulur, tetapi dia tidak lagi berusaha merebut dokumen itu.

“Jadi perempuan di terminal itu ibu kandungku?”

Ratih menutup wajahnya.

“Dengarkan Ibu dulu, Naya.”

“Sebelas tahun aku mengira Ayah meninggal karena kecelakaan. Seumur hidup aku percaya Ibu yang melahirkanku. Sekarang aku menemukan dokumen yang mengatakan semuanya berbeda!”

Air mataku jatuh.

“Siapa sebenarnya aku, Bu?”

Ratih perlahan duduk di kursi besi dekat pintu.

“Kamu tetap Naya Pradipta,” jawabnya dengan suara pecah. “Anak yang Ibu besarkan sejak bayi.”

“Tapi bukan anak yang Ibu lahirkan.”

Dia menggeleng.

“Bukan.”

Aku merasa lututku kehilangan tenaga.

Ratih menarik napas panjang sebelum akhirnya menceritakan kejadian dua puluh empat tahun lalu.

Saat itu dia sedang mengandung anak pertama. Arman bekerja sebagai teknisi peralatan laboratorium di sebuah klinik bersalin milik PT Samudra Medika.

Pada tanggal 27 Juni, Ratih melahirkan seorang bayi perempuan secara prematur.

Namun, bayi itu mengalami komplikasi berat dan meninggal beberapa jam kemudian.

“Aku bahkan belum sempat menggendongnya dengan benar,” bisik Ratih.

Aku menatapnya tanpa berkata-kata.

“Setelah pemakaman, Ibu kehilangan semangat hidup. Ibu terus menyalahkan diri sendiri. Ayahmu sampai mengambil cuti untuk menjagaku.”

Beberapa minggu kemudian, Arman pulang membawa kabar tentang seorang perempuan muda bernama Maya Kusuma.

Maya merupakan petugas administrasi di klinik tempatnya bekerja. Dia baru melahirkan seorang bayi perempuan, tetapi sedang menghadapi masalah serius dengan keluarganya.

“Ayah bilang Maya membutuhkan bantuan,” lanjut Ratih. “Dia tidak memiliki pekerjaan tetap setelah melahirkan dan sedang mencari tempat aman untuk membesarkan bayinya.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu kenapa aku justru dibawa pulang ke rumah Ibu?”

Ratih mulai menangis.

“Karena kami membuat keputusan yang salah.”

Dia menjelaskan bahwa Arman dan Maya sepakat menitipkanku sementara kepada mereka ketika Maya mengurus persoalan keluarganya.

Awalnya, penyerahan pengasuhan itu hanya direncanakan berlangsung beberapa bulan.

Namun, keadaan berubah ketika Arman mengetahui bahwa Maya sedang menyelidiki penyalahgunaan dokumen kelahiran di klinik tersebut.

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Penyalahgunaan dokumen?”

Ratih mengangguk.

“Samudra Medika memiliki beberapa layanan bersalin dan laboratorium. Waktu itu ada dugaan sejumlah data bayi digunakan dalam administrasi yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.”

Dadaku berdebar.

“Apa hubungannya denganku?”

Ratih menatapku lama.

“Nama dan data kelahiranmu termasuk yang pernah mereka gunakan.”

Aku membeku.

Dia menjelaskan bahwa Arman mulai membantu Maya mengumpulkan salinan dokumen yang menunjukkan ketidaksesuaian antara catatan kelahiran, identitas orang tua, dan laporan administrasi.

Namun, sebelum semua persoalan selesai, Maya tiba-tiba menghilang.

Aku langsung berdiri.

“Menghilang?”

Ratih mengangguk.

“Dia meninggalkan pesan kepada Ayahmu agar kamu tetap bersama kami sampai keadaan aman.”

Aku menatap dokumen di tanganku.

“Jadi Ayah dan Ibu membesarkanku karena Maya menitipkanku?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kalian mengaku sebagai orang tua kandungku?”

Ratih menangis semakin keras.

“Karena setelah beberapa tahun, Ibu takut kehilanganmu.”

Aku merasa dadaku seperti diremas.

“Kalian mengubah identitasku?”

Ratih menunduk.

“Ayahmu pernah mengatakan dokumen keluarga harus diperbaiki melalui prosedur yang benar. Tapi Ibu memohon agar dia tidak mengungkit masa lalu.”

Aku menggeleng.

“Jadi kalian membiarkan aku hidup tanpa mengetahui siapa ibuku?”

Tidak ada jawaban.

Aku kembali menyalakan alat perekam suara.

Suara Arman terdengar memenuhi ruangan.

“Naya, kalau kamu sudah menemukan berkas kelahiranmu, berarti ada sesuatu yang akhirnya harus Ayah jelaskan.”

Aku dan Ratih langsung terdiam.

Dalam rekaman itu, Arman mengatakan bahwa dia tidak pernah berniat mengambil anak Maya untuk selamanya.

Namun, ketika Maya menghilang, dia merasa bertanggung jawab memastikan aku tetap aman.

“Ayah seharusnya menyelesaikan status pengasuhanmu secara terbuka. Tetapi Ayah takut orang-orang yang terlibat dalam penyalahgunaan data klinik akan menemukanmu.”

Aku menahan napas.

“Selama bertahun-tahun, Ayah menyimpan dokumen aslimu di Ruang 27. Kalau suatu hari kamu menemukannya, carilah Maya Kusuma. Dia berhak menjelaskan kisahnya sendiri.”

Rekaman berhenti.

Aku menatap Ratih.

“Kalau Ayah ingin aku mencari Maya, kenapa Ibu justru melarangku?”

Ratih menggenggam kedua tangannya.

“Karena Ibu tahu Maya masih hidup.”

Aku membeku.

“Apa?”

Ratih mulai menangis.

“Tujuh tahun lalu, Maya menghubungi Ibu.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Tujuh tahun lalu? Setelah Ayah meninggal?”

Dia mengangguk.

“Maya bilang dia sudah menemukan sebagian dokumen lama. Dia ingin bertemu denganmu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Lalu Ibu bilang apa?”

Ratih menunduk.

“Ibu memintanya pergi.”

Aku merasa seluruh tubuhku panas.

“Kenapa?”

“Karena Ibu takut kamu memilih tinggal bersamanya.”

Aku tertawa getir.

“Bu, aku bukan barang yang bisa diperebutkan!”

Ratih menangis.

“Ibu tahu. Sekarang Ibu tahu.”

Aku mengambil napas panjang.

Namun, satu hal masih menggangguku.

“Kalau Maya masih hidup tujuh tahun lalu, kenapa namanya tercatat sebagai korban kebakaran terminal?”

Ratih mengangkat wajah.

“Apa maksudmu?”

Aku menunjukkan foto berita lama.

Dia membaca nama Maya Kusuma.

Wajahnya langsung berubah.

“Aku nggak tahu soal ini.”

Aku memperhatikannya.

Untuk pertama kalinya, ketakutan di wajah Ratih terlihat berbeda.

Bukan sekadar takut kehilangan anak.

Melainkan takut mengetahui sesuatu yang buruk telah terjadi kepada perempuan yang pernah menyerahkanku kepadanya.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar Ruang 27.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun muncul di ambang pintu.

Dia mengenakan kemeja putih dan membawa sebuah map plastik.

“Kalian akhirnya datang.”

Aku langsung berdiri.

“Bapak siapa?”

“Namaku Haryono. Dulu aku petugas keamanan gedung ini.”

Aku menatapnya dengan curiga.

“Bagaimana Bapak tahu kami berada di sini?”

Haryono menunjuk alat pembaca kartu di dekat pintu.

“Aku masih mendapat pemberitahuan kalau ruang arsip ini dibuka. Sekarang aku membantu menjaga bangunan untuk pemiliknya.”

Aku mengerutkan kening.

“Jadi gedung ini tidak benar-benar kosong?”

“Sebagian besar tidak digunakan. Tapi arsip lama masih berada di sini karena proses penyelesaian dokumen perusahaan belum selesai.”

Aku menatap kartu akses di tanganku.

“Kenapa kartu belasan tahun lalu masih bisa membuka pintu?”

Haryono menjelaskan bahwa sistem akses di beberapa ruang arsip tidak pernah diganti sepenuhnya. Kartu yang kusimpan merupakan kartu khusus yang masih tercatat aktif untuk keperluan pemeriksaan dokumen lama.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Koper itu memang sengaja disiapkan untukmu.”

Aku menahan napas.

“Oleh siapa?”

Haryono membuka map yang dibawanya.

“Maya Kusuma.”

Aku menatapnya.

“Tapi dia meninggal tujuh tahun lalu!”

Haryono mengangguk.

“Itu yang tertulis dalam berita. Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.”

Dia menjelaskan bahwa kebakaran terminal tujuh tahun lalu memang menewaskan empat orang.

Namun, identitas salah satu korban sempat salah dicatat karena barang-barang pribadi milik Maya ditemukan di dekat lokasi kebakaran.

Maya ternyata bekerja sementara sebagai petugas administrasi di terminal tersebut.

Pada malam kejadian, dia meninggalkan loker kerjanya untuk mengantar dokumen ke kantor pengelola.

Ketika kembali, area loket sudah terbakar.

Barang pribadinya ditemukan di antara puing-puing.

Karena proses identifikasi awal bermasalah, namanya sempat masuk dalam daftar korban.

Namun, kesalahan itu kemudian dikoreksi dalam catatan resmi.

Berita lama yang kulihat pagi tadi belum memuat pembaruan tersebut.

Aku merasa jantungku berdetak semakin keras.

“Jadi Maya masih hidup?”

Haryono mengangguk.

“Masih.”

Aku hampir menangis.

“Lalu perempuan yang memberikan koper itu semalam?”

Haryono menatapku lama.

“Itu Maya sendiri.”

Aku langsung menutup mulut.

Jadi perempuan yang berdiri di balik loket tersegel bukan hantu.

Dia adalah ibu kandungku.

Namun, bagaimana mungkin dia berada di sana?

Haryono menjelaskan bahwa loket lama memang sudah ditutup sejak kebakaran, tetapi bagian belakangnya masih memiliki akses melalui koridor petugas.

Maya menggunakan ruangan itu untuk menyerahkan koper tanpa menarik perhatian orang-orang yang sedang mengawasinya.

Aku mengerutkan kening.

“Mengawasi?”

Haryono mengangguk.

“Dia menerima ancaman setelah kembali menelusuri dokumen lama Samudra Medika.”

Aku merasa darahku dingin.

“Ancaman dari siapa?”

“Belum diketahui pasti. Tapi Maya pernah menemukan bahwa beberapa orang yang dahulu mengurus arsip kelahiran masih memiliki hubungan dengan jaringan perusahaan yang sama.”

Aku terdiam.

Sekarang aku mulai memahami mengapa perempuan itu tidak langsung memperkenalkan dirinya.

Dia ingin aku menemukan dokumen terlebih dahulu.

Namun, aku masih tidak mengerti mengapa dia memilih cara yang begitu berbahaya.

Aku menatap Haryono.

“Kalau Maya ingin bertemu denganku, kenapa tidak langsung datang ke rumah?”

Haryono menoleh kepada Ratih.

“Karena terakhir kali dia mencoba, Bu Ratih mengancam akan melaporkannya sebagai orang yang ingin mengambil anak.”

Ratih menunduk.

Aku menatap ibuku dengan mata berkaca-kaca.

“Jadi selama ini Ibu bukan hanya menyembunyikan identitasku. Ibu juga menghalangi Maya menemuiku?”

Ratih menangis.

“Ibu takut, Naya.”

Aku menggeleng.

“Ketakutan Ibu membuatku kehilangan kesempatan mengenal ibu kandungku.”

Ratih tidak membantah.

Namun, sebelum aku sempat mengatakan sesuatu lagi, Haryono mengeluarkan sebuah amplop dari mapnya.

“Ini dititipkan Maya.”

Aku segera membukanya.

Di dalamnya terdapat alamat sebuah rumah sederhana di kawasan Waru, Sidoarjo.

Dan sebuah surat.

Naya, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah mengetahui sebagian kebenaran. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Tetapi aku tidak ingin datang hanya untuk merebut kehidupan yang sudah kamu jalani. Aku ingin kamu mengetahui siapa dirimu, lalu memilih sendiri apakah ingin mengenalku.

Air mataku langsung jatuh.

Aku membaca bagian terakhir.

Aku akan menunggumu di rumah ini sampai kamu siap. Kalau kamu tidak ingin bertemu, aku akan menghormati keputusanmu.

Aku menutup surat tersebut.

Kemudian menatap Ratih.

“Ibu ikut denganku.”

Dia langsung mengangkat kepala.

“Naya…”

“Aku ingin mendengar semuanya dari Maya. Dan kali ini tidak boleh ada yang berbohong.”

Ratih mengangguk sambil menangis.

Sore itu, kami tiba di sebuah rumah kecil dengan pagar hijau.

Aku berdiri cukup lama di depan pintunya.

Tanganku gemetar ketika menekan bel.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Perempuan yang berdiri di hadapanku mengenakan blus sederhana berwarna biru muda.

Rambut pendeknya mulai memutih.

Wajahnya sama seperti perempuan yang kulihat di terminal.

Maya Kusuma.

Dia langsung menutup mulut ketika melihatku.

“Naya?”

Aku mengangguk.

Air matanya jatuh.

“Kamu benar-benar datang.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Perempuan itu adalah orang asing bagiku.

Namun, di saat yang sama, aku tahu bahwa dia telah melahirkanku.

Aku menatapnya lama.

Kemudian bertanya dengan suara bergetar.

“Kenapa Ibu tidak pernah datang mencariku?”

Maya menangis.

“Aku datang, Nak. Berkali-kali.”

Aku menutup mata.

Dia melanjutkan.

“Tapi setiap kali aku mencoba, selalu ada orang yang mengatakan kamu sudah bahagia dan tidak ingin mengenalku.”

Aku menoleh kepada Ratih.

Dia menunduk sambil menangis.

Maya kemudian menjelaskan bahwa setelah melahirkanku, dia memang sempat menitipkanku kepada Arman dan Ratih.

Namun, beberapa bulan kemudian, ketika dia ingin membawaku kembali, persoalan dokumen kelahiran di Samudra Medika membuat keadaan semakin rumit.

Ada catatan yang telah diubah.

Ada data identitas bayi yang tidak sesuai.

Dan ada orang-orang yang berusaha menutupinya.

Maya takut jika dia mengambilku secara terburu-buru, identitasku justru akan kembali digunakan dalam urusan yang tidak kupahami.

Dia kemudian meminta bantuan hukum dan berusaha mengumpulkan dokumen asli.

Namun, prosesnya tidak mudah.

Sementara waktu terus berlalu, Arman dan Ratih membesarkanku.

Aku mulai memanggil mereka Ayah dan Ibu.

Maya mengusap air matanya.

“Aku tahu aku juga membuat kesalahan besar karena terlalu lama menyerahkan keputusan tentang hidupmu kepada orang lain.”

Aku memandangnya.

“Jadi kenapa baru sekarang Ibu memberikan koper itu?”

Maya menarik napas panjang.

“Karena beberapa minggu lalu, aku akhirnya mendapatkan salinan arsip yang membuktikan identitas kelahiranmu. Aku tidak ingin lagi datang hanya membawa cerita tanpa dokumen.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Dan karena aku baru tahu bahwa Arman meninggalkan rekaman untukmu di Ruang 27.”

Aku mengusap wajah.

Ternyata dua orang tua yang berbeda telah menyimpan bagian-bagian kisah hidupku selama puluhan tahun.

Arman menyimpan dokumen.

Ratih menyembunyikan kebenaran karena takut kehilangan aku.

Sementara Maya terus berusaha mendapatkan bukti bahwa dirinya adalah ibu kandungku.

Aku menatap mereka berdua.

“Aku nggak tahu harus merasa apa sekarang.”

Maya mengangguk.

“Kamu nggak perlu memutuskan apa pun hari ini.”

Ratih menangis.

“Naya, Ibu minta maaf.”

Aku menatap perempuan yang membesarkanku sejak bayi.

Aku mengingat bagaimana dia menemaniku ketika sakit.

Mengajariku membaca.

Menunggu di depan gerbang sekolah.

Dan menangis ketika aku pertama kali diterima bekerja.

Semua kenangan itu nyata.

Namun, kebohongannya juga nyata.

Aku menarik napas panjang.

“Aku sayang Ibu,” kataku kepada Ratih. “Tapi aku juga sangat kecewa.”

Dia mengangguk sambil menangis.

Kemudian aku menoleh kepada Maya.

“Aku ingin mengenal Ibu.”

Maya langsung menutup mulut.

Aku melanjutkan.

“Tapi pelan-pelan. Aku belum siap memanggil Ibu seperti aku memanggil Ratih.”

Maya tersenyum di antara air matanya.

“Tidak apa-apa, Nak. Aku tidak meminta kamu melupakan siapa pun.”

Beberapa bulan berikutnya, aku mulai memeriksa kembali seluruh dokumen kelahiranku dengan pendampingan hukum.

Catatan administrasi lama ternyata memang memiliki ketidaksesuaian yang perlu diperbaiki.

Kami juga menemukan bahwa laporan kematian Arman sebelas tahun sebelumnya tidak berkaitan langsung dengan pemalsuan data kelahiran, meskipun sebelum meninggal dia sempat berusaha menyelesaikan dokumen tersebut.

Pemeriksaan resmi terhadap arsip Samudra Medika masih membutuhkan waktu.

Namun, setidaknya aku akhirnya mengetahui identitas ibu kandungku.

Suatu sore, aku kembali ke Terminal Arjosari.

Bukan untuk mencari hantu.

Bukan pula untuk membuktikan cerita menyeramkan tentang loket yang terbakar.

Aku hanya ingin melihat tempat ketika hidupku berubah.

Aku berdiri di depan koridor yang masih ditutup seng.

Kemudian mengeluarkan pelat logam A-317 dari saku.

Dulu aku mengira angka dua puluh tujuh merupakan pertanda buruk.

Angka yang membuat Ratih ketakutan.

Angka yang selalu dilarang disebut di rumah.

Namun, sekarang aku tahu bahwa angka itu sebenarnya merujuk kepada tanggal kelahiranku dan arsip yang selama puluhan tahun menyimpan identitasku.

Aku menggenggam pelat tersebut.

Kemudian ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari Maya.

Naya, besok aku mau membuatkan masakan yang dulu sering kusukai ketika hamil. Kalau kamu sempat, datanglah makan siang.

Aku tersenyum kecil.

Kemudian membalas.

Aku datang. Tapi jangan masak terlalu banyak, ya.

Beberapa detik kemudian, Maya membalas dengan gambar hati.

Aku menatap layar cukup lama.

Selama dua puluh empat tahun, aku mengira hidupku hanya memiliki satu cerita.

Ayah bernama Arman.

Ibu bernama Ratih.

Dan masa kecil yang sederhana di Surabaya.

Namun, ternyata ada bagian lain yang selama ini tersembunyi.

Seorang perempuan bernama Maya yang melahirkanku.

Seorang ayah yang menyimpan dokumen agar suatu hari aku bisa mengetahui kebenaran.

Dan seorang ibu yang membesarkanku, tetapi membiarkan ketakutannya merampas hakku mengenal asal-usul sendiri.

Aku tidak bisa mengubah masa lalu.

Aku juga tidak bisa mengembalikan tahun-tahun yang hilang.

Namun, aku masih bisa menentukan bagaimana hidupku berjalan setelah mengetahui semuanya.

Aku kembali menatap pelat A-317.

Lalu perlahan memasukkannya ke dalam tas.

Koper hitam yang diberikan Maya di terminal kini kusimpan di rumah.

Bukan sebagai benda misterius.

Melainkan sebagai pengingat bahwa kebenaran terkadang datang melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Dan malam ketika seorang perempuan asing memberiku koper milik ayahku yang sudah meninggal, aku mengira sedang menerima warisan berupa rahasia yang mengerikan.

Ternyata aku sedang menerima sesuatu yang jauh lebih penting.

Kesempatan untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya.

Aku tersenyum sambil menghapus air mata.

Karena pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang siapa yang melahirkan atau siapa yang membesarkan kita.

Keluarga juga tentang keberanian untuk mengatakan kebenaran, meskipun kebenaran itu bisa mengubah segalanya.

Dan setelah bertahun-tahun hidup di antara rahasia orang dewasa, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk memilih sendiri hubungan seperti apa yang ingin kubangun dengan kedua perempuan yang sama-sama menjadi bagian dari hidupku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang