Tukang Listrik Sederhana Ini Dituduh Menghindari Pekerjaan oleh Pemilik Rumah, sampai

“Pak, pria dalam foto ini pernah datang bersama siapa?”

Pertanyaan Pak Rudi membuat Arman berhenti menuangkan air. Di layar ponsel terlihat seorang pria berjaket abu-abu, berdiri di dapur apartemennya di Jakarta Selatan. Wajahnya tertangkap samar dalam pantulan pintu kulkas.

“Itu Dimas,” jawab Arman. “Yang mengurus renovasi dapur kami.”

Lestari, istrinya, mendekat. Ia memperbesar gambar itu, lalu mengerutkan kening.

“Tapi dia bilang tidak pernah menyentuh instalasi listrik.”

Pak Rudi meletakkan ponselnya di meja.

“Foto ini belum membuktikan apa pun. Saya perlu tahu pekerjaan yang dilakukan dan siapa yang mengerjakannya.”

Arman menghubungi Dimas. Panggilan pertama tidak dijawab. Pada panggilan kedua, terdengar suara ramah yang biasa membuat Arman percaya.

“Panelnya sudah diganti, Mas?”

“Belum. Ada teknisi yang sedang memeriksa.”

Suara di ujung telepon berubah.

“Jangan sembarang orang, Mas. Nanti malah tambah rusak.”

Pak Rudi tetap diam ketika Arman menatapnya.

“Aku cuma mau tahu, dulu ada pekerjaan listrik apa saja?”

“Paling merapikan sedikit. Sudah lama, saya lupa.”

Sambungan berakhir beberapa saat kemudian.

Pak Rudi meminta izin melakukan pemeriksaan lanjutan bersama teknisi lain yang biasa membantunya. Bagian instalasi terkait diamankan terlebih dahulu. Ia tidak membiarkan keluarga itu terus mencoba oven untuk memunculkan gangguan.

Arman menunggu di ruang makan. Bunyi peralatan dari dapur membuatnya semakin gelisah.

Selama ini ia mengira rumah yang aman adalah rumah dengan perangkat baru dan tagihan besar. Kini, justru teknisi dengan tas lusuh itu yang paling berhati-hati membuat kesimpulan.

Menjelang siang, Pak Rudi memanggil mereka.

Di balik kabinet yang dipasang saat renovasi, ditemukan sambungan tambahan. Sebagian bahan di sekitarnya menunjukkan bekas panas. Jalur menuju stopkontak oven ternyata tersambung ke rangkaian lama yang juga melayani beberapa peralatan dapur.

“Ini perlu ditangani,” katanya sambil menunjukkan foto. “Tetapi penyebab gangguan tidak bisa dibebankan pada satu bagian saja tanpa melihat hasil pemeriksaan keseluruhan. Ada sambungan bermasalah, ada perubahan penggunaan beban, dan ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan dokumen.”

“Dokumen apa?” tanya Lestari.

Pak Rudi menunjuk kuitansi renovasi yang tadi mereka serahkan.

Di sana tertulis pengadaan jalur khusus oven dari panel.

Arman merasakan tengkuknya dingin.

Mereka sudah membayar pekerjaan yang tidak pernah dibuat.

Lestari membuka surel lama, mencari penawaran renovasi. Ada lampiran laporan penyelesaian, lengkap dengan foto jalur baru sebelum kabinet ditutup.

Pak Rudi memperhatikan foto itu lama sekali.

“Dapurnya berbeda.”

“Tidak mungkin,” kata Arman.

Lestari lebih dahulu melihatnya. Ubin dalam foto berwarna krem, sedangkan ubin dapur mereka abu-abu. Di sudut gambar juga tampak jendela kecil. Dapur apartemen mereka tidak memiliki jendela.

Arman duduk perlahan.

Dua bulan sebelumnya, ia bahkan memberi Dimas ulasan bagus karena pekerjaan selesai lebih cepat dari jadwal.

Ponselnya berdering.

Dimas.

“Mas, kalau ada yang kurang rapi, saya kirim orang. Tidak usah dibesar-besarkan.”

“Kamu kirim foto dapur siapa?”

Tidak ada jawaban.

“Aku membayar jalur khusus. Mana jalurnya?”

“Mas Arman juga minta hemat waktu.”

“Aku minta selesai tepat waktu. Aku tidak pernah meminta laporan palsu.”

Dimas mulai bicara tentang kesalahpahaman, lalu menawarkan pengembalian sebagian biaya asalkan persoalan dianggap selesai.

Lestari mengambil ponsel dari tangan suaminya.

“Kirim penjelasan tertulis. Kami perlu menyimpan semua catatan pekerjaan.”

Malam itu, gangguan listrik di rumah mereka telah menemukan arah pemeriksaan yang jelas, tetapi Arman belum bisa tidur.

Ia teringat perkataannya kepada Pak Rudi.

Kalau begitu, jangan kaget kalau kami tidak pernah memanggil Anda lagi.

Pagi berikutnya ia turun ke pos pengelola gedung, membawa dokumen renovasi. Di sana, sebuah kejutan menunggunya.

Dua penghuni lain pernah mengadukan pekerjaan Dimas. Salah satunya mengeluhkan biaya perubahan instalasi yang tidak disertai laporan memadai. Pengelola belum menghubungkan keluhan-keluhan tersebut karena kontrak renovasi dibuat masing-masing penghuni.

Dengan persetujuan para pemilik, pengelola menjadwalkan pemeriksaan oleh pemeriksa independen. Dimas diminta menyerahkan catatan pekerjaannya. Perusahaan yang menawarkan penggantian besar juga diminta menjelaskan dasar penawarannya.

Saat nama perusahaan disebut, petugas pengelola mengangkat wajah.

“Yang merekomendasikan perusahaan itu siapa, Pak?”

Arman membuka percakapan grup penghuni.

Nomor pengirim rekomendasi ternyata milik Dimas.

Ruangan mendadak terasa sesak.

Namun, pemeriksaan berikutnya tidak menemukan bukti bahwa teknisi perusahaan itu terlibat dalam pemalsuan laporan renovasi. Penawarannya memang tidak cukup menjelaskan kebutuhan tiap pekerjaan, dan manajernya mengakui hal tersebut setelah menerima keberatan tertulis.

Dimas memiliki urusan berbeda. Ia akhirnya mengakui penggunaan foto dari proyek lain untuk melengkapi laporan. Pengembalian uang dan tanggung jawab atas pekerjaan bermasalah dibahas melalui pengelola, sementara para penghuni menyimpan bukti untuk langkah berikutnya.

Pak Rudi tidak menghadiri pertemuan itu.

Ia sedang bekerja di rumah pelanggan lain.

Ketika perbaikan apartemen selesai dan hasilnya diperiksa kembali, ia datang membawa rincian biaya. Ada pekerjaan mendesak yang sudah dilakukan, pemeriksaan yang telah diselesaikan, dan beberapa peningkatan yang dapat direncanakan kemudian.

Arman membaca setiap baris.

“Pak, saya minta maaf.”

Pak Rudi berhenti merapikan tas.

“Saya menuduh Bapak mencari keuntungan dari kerusakan rumah kami,” lanjut Arman. “Padahal saya bahkan tidak mau membaca catatan Bapak.”

Lestari ikut mendekat.

“Kami membuat Bapak harus membela kejujuran sendiri.”

Pak Rudi mengusap telapak tangannya dengan kain.

“Saya mengerti Bapak dan Ibu takut. Tapi waktu itu memang menyakitkan.”

Arman mengangguk. Ia tidak mencoba menjelaskan dirinya lagi.

Saat hendak membayar, ia menawarkan tambahan uang. Pak Rudi menolak jumlah yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya.

“Bayar sesuai rincian saja. Kalau ada yang belum jelas, tanyakan.”

Beberapa hari kemudian, Arman membuat ulasan baru di grup penghuni. Ia menyebut kesalahannya sendiri, melampirkan contoh laporan dengan data pribadi ditutup, dan menjelaskan mengapa ia merekomendasikan Pak Rudi.

Sebulan setelah itu, mereka bertemu di lobi.

Pak Rudi datang memeriksa unit tetangga. Seorang perempuan muda menemaninya sambil membawa map.

“Putri saya, Nisa,” katanya. “Baru diterima bekerja. Hari ini libur, jadi membantu merapikan laporan.”

Nisa tersenyum kepada Arman.

“Sekarang Ayah pulang selalu minta saya memeriksa tulisannya. Katanya pelanggan harus bisa mengerti apa yang mereka bayar.”

Arman membalas senyumnya, lalu melihat tas perkakas lusuh di tangan Pak Rudi.

Tasnya masih sama.

Yang berubah adalah cara Arman memandang orang yang membawanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang