Mobil berhenti mendadak di jalur perbukitan. Sabuk pengaman menekan tubuhku, dan kedua tanganku refleks melindungi perut yang memasuki bulan kelima.
“Turun sebentar, Rani. Aku harus menjemput Nadira.”
Aku menatap suamiku, mengira salah mendengar.

Kami sedang menuju pemeriksaan kehamilan. Sejak pagi pinggangku terasa nyeri, alasan dokter meminta kami datang lebih awal.
“Mobilnya mogok,” lanjut Arga. “Kalau terlambat seleksi, kesempatan promosinya hilang.”
“Perutku sakit, Ga.”
Ia melirikku, lalu kembali melihat ponsel.
“Kemarin dokter bilang stabil. Jangan memperburuk keadaan karena kamu kesal.”
Di luar, jalan sepi. Tidak ada halte, hanya kebun dan tikungan yang menghilang di balik pepohonan.
“Kamu benar-benar mau meninggalkanku di sini?”
“Aku menyusul setelah mengantarnya.”
Selama sembilan tahun, aku mengenalnya sebagai orang yang bangga tidak memberi perlakuan istimewa kepada keluarga. Namun, setiap Nadira membutuhkan bantuan, selalu tersedia pengecualian.
Aku turun dengan tas pemeriksaan di tangan.
Mobil itu pergi sebelum aku sempat menemukan tempat duduk.
Nyeri semakin kuat. Panggilan daruratku gagal tersambung. Aku berjalan mencari sinyal, berhenti setiap beberapa langkah, sampai sebuah mobil bak terbuka melambat.
Pengemudinya melihat wajahku dan segera turun.
“Bu, saya antar ke puskesmas.”
Setelah itu, ingatanku terpotong-potong. Suara perawat. Panggilan ambulans. Lampu rumah sakit bergerak di atas kepala.
Ketika sadar, hari sudah gelap.
Dokter menjelaskan bahwa terjadi komplikasi berat disertai perdarahan. Bayiku tidak dapat diselamatkan. Operasi darurat dilakukan untuk menghentikan perdarahan dan menyelamatkanku.
“Apakah saya bisa hamil lagi?”
Dokter menggenggam jemarinya sendiri sebelum menjawab.
“Rahim Ibu mengalami kerusakan berat. Peluangnya sangat kecil. Nanti kami jelaskan lebih rinci setelah kondisi Ibu lebih kuat.”
Aku memandangi selimut yang menutupi perutku.
Pagi tadi, aku masih membayangkan mendengar detak jantung anak kami.
Ponselku dikembalikan perawat. Tidak ada pesan Arga yang menanyakan apakah aku sudah tiba.
Di grup keluarga satuan, Nadira tersenyum memegang penghargaan. Arga berdiri di sampingnya.
Teleponnya masuk beberapa menit kemudian.
“Rani, ada video kamu berjalan sendirian. Sekarang orang mempertanyakan aku.”
“Aku di rumah sakit.”
Ia terdiam.
“Anak kita meninggal, Ga.”
Terdengar sesuatu jatuh.
Dari kejauhan, suara Nadira memanggilnya untuk berfoto.
“Aku ke sana setelah acara selesai,” katanya akhirnya.
Aku memejamkan mata.
Malam itu, seorang staf datang membawa pernyataan. Isinya menyebut aku meminta turun setelah bertengkar, sementara Arga telah berusaha membujukku tetap di mobil.
“Aku tidak akan menandatangani kebohongan ini.”
Staf itu pergi dengan wajah tidak nyaman.
Setengah jam kemudian, pernyataan serupa beredar dengan namaku tercantum sebagai pihak yang memberikan penjelasan.
Kusimpan semuanya, lalu menghubungi Maya.
“Tolong datang. Aku tidak sanggup sendirian.”
Maya tiba sebelum tengah malam. Ia tidak menyuruhku tenang. Ia duduk di samping ranjang sampai aku akhirnya bisa menangis.
Pagi berikutnya, sebuah formulir dalam berkas administrasi membuatku berhenti membaca.
Nama Arga tercatat pada persetujuan penanganan ketika aku tidak sadar. Di bawahnya ada catatan tentang penundaan penyampaian informasi lanjutan atas permintaan keluarga.
Aku meminta dokter datang.
Sebelum dokter tiba, Arga masuk membawa termos bubur.
“Tidak pakai daun bawang,” katanya.
Aku mengangkat formulir itu.
“Apa yang kamu minta mereka sembunyikan?”
Ia belum menjawab ketika Nadira muncul di pintu, berjalan pincang dengan pergelangan kaki dibalut.
“Kak Rani, ada yang harus Kakak tahu.”
Arga langsung menoleh.
“Jangan sekarang.”
Namun Nadira tetap bicara.
“Waktu dokter menelepon, Mas Arga sudah tahu kondisi Kakak kritis. Teleponnya memakai pengeras suara. Aku mendengarnya.”
Tanganku mengencang pada kertas.
“Jam berapa?”
Nadira menyebutkan waktunya.
Hampir tiga jam sebelum aku memberi tahu Arga bahwa bayi kami tidak selamat.
Aku menatap suamiku.
“Kamu sudah tahu saat menelepon tentang video itu?”
Arga meletakkan termos perlahan.
“Aku bingung. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
Dokter datang bersama perawat dan meminta percakapan dihentikan sementara agar penjelasan medis dapat diberikan dengan tenang.
Operasi darurat itu memang diperlukan. Persetujuan Arga berkaitan dengan upaya menghentikan perdarahan, bukan keputusan tentang tindakan pilihan yang bisa ditunda. Namun, Arga meminta pembahasan lengkap mengenai dampaknya ditangguhkan sampai ia hadir.
“Setelah Ibu sadar dan mampu menerima penjelasan, informasi tetap menjadi hak Ibu,” kata dokter. “Kami mohon maaf pembahasan lanjutannya belum terlaksana tadi malam.”
Aku meminta salinan catatan medis dan waktu komunikasi.
Lalu kupandang Arga.
“Kamu meminta aku menandatangani pernyataan palsu sebelum datang menjelaskan semua ini?”
“Aku takut kehilangan pekerjaan juga.”
Kata juga menggantung di antara kami.
Ia telah kehilangan anaknya. Namun, ketakutan yang menggerakkannya justru kemungkinan kehilangan jabatan.
Nadira duduk dekat pintu.
“Aku juga salah,” katanya. “Aku melihat panggilan rumah sakit. Setelah seleksi selesai, aku tetap meminta dia tinggal untuk pengumuman.”
“Kenapa sekarang kamu bicara?”
Ia menangis.
“Karena tadi pagi dia memintaku mengatakan aku tidak tahu Kakak ditinggalkan.”
Aku meminta mereka keluar.
Untuk pertama kalinya, Arga menurut tanpa berdebat.
Hari-hari berikutnya kujalani di rumah Maya. Aku belajar bangun dari tempat tidur tanpa menarik luka operasi, makan beberapa suap, dan tidur meskipun terkadang terbangun mencari gerakan di perutku.
Pengacara membantuku mengajukan perceraian. Aku juga menyerahkan kronologi kepada pihak yang memeriksa tindakan Arga serta penyebaran pernyataan atas namaku.
Aku tidak menyatakan bahwa keputusan Arga pasti menyebabkan kehilangan bayiku. Dokter tidak pernah mengatakan sesederhana itu.
Namun, ia meninggalkanku ketika aku meminta pertolongan, mengabaikan kabar kondisi kritisku, lalu menggunakan namaku untuk menyelamatkan dirinya.
Itu cukup untuk menentukan batas yang tak bisa kulewati lagi.
Beberapa bulan kemudian, Arga meminta bertemu. Ia datang tanpa seragam.
“Aku mulai konseling,” katanya. “Aku ingin memperbaiki diri.”
“Lanjutkan.”
“Masih ada kesempatan untuk kita?”
Aku menggeleng.
Ia menangis, dan kali ini aku tidak merasa harus menghapus air matanya.
Pada hari perceraian kami selesai, sebuah paket kecil menunggu di rumah Maya.
Pengirimnya Pak Joko, lelaki yang menolongku di jalan. Rupanya tas kain pemeriksaanku tertinggal di mobilnya dan baru ditemukan setelah lama terselip di belakang kursi.
Di dalamnya ada kaus kaki bayi yang kubeli pagi itu.
Aku mendekap benda kecil tersebut, lalu menangis di teras.
Setelah tangisku reda, aku menelepon Pak Joko untuk berterima kasih.
“Tidak perlu, Bu,” jawabnya. “Waktu itu Ibu bilang sakit. Ya saya berhenti.”
Sesederhana itu.
Aku menyimpan kaus kaki tersebut dalam kotak kenangan. Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa meminta didengarkan saat kesakitan bukanlah meminta perlakuan istimewa.
