BARU SEBULAN SELEPAS BERSALIN, AKU MENDAPATI SETIAP MALAM SUAMIKU DIAM-DIAM MENGAMBIL
Melalui celah pintu yang masih belum tertutup sepenuhnya, aku melihat sesuatu yang membuatkan seluruh tubuhku kaku. Di ruang tamu rumah
Melalui celah pintu yang masih belum tertutup sepenuhnya, aku melihat sesuatu yang membuatkan seluruh tubuhku kaku. Di ruang tamu rumah
Di sebalik pintu kaca pusat seni itu, Ardi melihat Sari berdiri di tengah-tengah sebuah dewan yang dipenuhi puluhan orang berpakaian
Pak Hendra mengelipkan matanya sekali. Maya terasa seluruh tubuhnya menjadi kaku. Dia menahan nafas, seolah-olah takut satu gerakan kecil akan
“Boleh semua bertenang sebentar?” Suara Profesor Ratna bergema di seluruh dewan. Ribuan tetamu yang beberapa saat tadi masih berbisik kini
Dokter itu tidak langsung menjelaskan apa yang tertulis di hasil pemeriksaan. Ia justru menatap Alya cukup lama, lalu menarik kursi
Wajah yang muncul di layar itu membuat seluruh tubuhku terasa dingin. Pak Hadi. Pelanggan lama Arif yang beberapa menit sebelumnya
Ketukan itu terdengar lagi. Tiga kali. Lebih keras daripada sebelumnya. Sari berdiri membeku di samping meja makan. Wajahnya yang tadi
“Tik… katanya polisi akan melakukan olah TKP.” Langkahku seketika berhenti. Aku menoleh dan melihat Pak Rahmat, tetangga yang rumahnya hanya
Nama yang tertulis di balik lipatan itu membuat napasku seolah berhenti. Alya Prameswari. Aku membacanya sekali lagi, berharap mataku keliru.
Pesan dari Raka membuat jari-jariku membeku di atas layar. “Alya, kalau Ibu memaksamu membubuhkan cap jempol hari ini, jangan tanda