“Ma, Nenek eek lagi!”
Sepanjang perjalanan menuju rumah Puput, tanganku mencengkeram setang motor begitu erat sampai buku-buku jariku terasa kaku. Berkali-kali bayangan buruk muncul
Sepanjang perjalanan menuju rumah Puput, tanganku mencengkeram setang motor begitu erat sampai buku-buku jariku terasa kaku. Berkali-kali bayangan buruk muncul
Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang membuat napasku seketika tercekat. Di tengah kamar belakang, tepat di depan Danu, ada
Suara perut Arka terdengar begitu jelas sampai Shena yang sudah hampir mencapai pintu kamar langsung berhenti. Kruyuuukk. Untuk beberapa detik,
Namaku Laras. Dan malam itu, aku belajar bahwa seseorang bisa diusir dari sebuah rumah hanya karena satu gelas air. Bukan
Namaku Kirana. Selama sembilan tahun menikah dengan Raka, aku sudah terlalu sering mengucapkan kalimat yang sama. “Ini terakhir kali.” Pertama,
Namaku Amara, dan selama lebih dari sepuluh tahun aku hidup dengan satu keyakinan sederhana: segala sesuatu bisa dijelaskan dengan logika.
Dewi masih sempat tersenyum ketika membuka pintu kamar Pak Suryo pagi itu. Ia mengira akan menemukan Rara tertidur pulas di
Maya merasa seluruh tubuhnya membeku ketika mendengar kalimat itu. Selama dua belas tahun menikah, dia selalu mengira Hendra adalah pria
Namaku Bima. Lima tahun lalu, istriku menghilang. Bukan meninggal. Bukan bercerai. Ia lenyap begitu saja. Hari itu, Maya keluar rumah
Namaku Damar. Empat tahun lalu, istriku meninggal karena kanker. Sejak hari itu, hidupku seolah menyusut menjadi dua hal saja. Bekerja