Setelah Ujian Terakhir, Sahabat Masa Kecilku Pergi Bersama Gadis Baru—Malam Itu Aku

Aku tidak langsung membalas Keisya. Di layar laptop, tombol Simpan Perubahan masih menunggu. Di layar ponsel, kotak biru itu tampak seperti sesuatu yang tersesat jauh dari tempatnya.

Akhirnya kuketik satu kalimat.

“Ada surat pribadi di bawah pembungkusnya. Tolong jangan dibaca.”

Balasan Keisya datang hampir seketika.

“Aku sudah telanjur melihat namamu. Maaf. Aku berhenti baca setelah kalimat pertama.”

Aku memejamkan mata. Ada rasa malu yang begitu panas sampai aku ingin mematikan semua lampu.

“Arga bilang itu kotak berisi kenang-kenangan sekolah,” tulisnya lagi. “Dia minta aku carikan gantungan kunci di dalamnya. Aku tidak tahu ada surat.”

Kutatap pesan itu lama sebelum menjawab.

“Tolong simpan suratnya. Nanti aku ambil.”

Setelah itu, kutekan tombol di laptop.

Perubahan pilihan berhasil disimpan.

Tidak ada suara dramatis, tidak ada sesuatu yang pecah. Hanya kipas laptop yang terus berdengung dan Ibu yang mengetuk pintu, menanyakan apakah aku ingin makan.

“Iya, Bu,” jawabku.

Ternyata, pada malam ketika hatiku terasa paling berantakan, aku masih bisa merasa lapar.

Arga menelepon keesokan paginya. Aku membiarkannya berdering sekali, lalu mengangkat.

“Kenapa kamu menyuruh Keisya menyimpan surat?”

“Karena itu suratku.”

“Untukku, kan?”

“Dulu.”

Ia terdiam.

“Aku belum membacanya, Nad.”

“Aku tahu.”

“Kenapa tidak bilang dari awal ada surat?”

Aku memandang kalender di dinding. Tanggal ulang tahunnya tahun lalu masih ditandai lingkaran kecil yang tidak pernah kuhapus.

“Waktu kuberikan, aku bilang jangan cuma lihat hadiahnya. Baca juga yang ada di dalam.”

“Aku pikir kartu ucapan biasa.”

“Memang ada kartu ucapan. Suratnya di bawah. Kamu tidak mencarinya.”

Arga mengembuskan napas.

“Ya sudah, nanti kubaca. Jangan dibikin rumit.”

“Tidak perlu. Aku ingin mengambilnya kembali.”

“Nadia, kamu marah karena perjalanan itu atau karena Keisya?”

Aku menggenggam ujung selimut.

“Karena kamu membiarkanku menunggu tanpa kabar.”

“Aku sudah minta maaf.”

“Kamu bilang sedang buru-buru. Itu penjelasan, bukan permintaan maaf.”

Suara di seberang menghilang beberapa detik.

“Maaf,” katanya akhirnya.

Aku menerima kata itu. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru membuatnya merasa lebih baik.

Hari Minggu sore, Arga datang ke rumah membawa kotak biru. Aku menemuinya di teras. Wajahnya tampak lelah, rambutnya masih berantakan setelah perjalanan.

“Suratnya ada di dalam,” katanya.

Aku membuka kotak itu. Gantungan kunci pesawat yang kubeli dari uang tabunganku tergeletak di atas lipatan kertas.

“Kamu baca?”

Ia mengangguk.

Rasanya seperti berdiri tanpa perlindungan di bawah hujan.

“Aku tidak tahu kamu merasa begitu.”

“Kamu tidak wajib membalasnya.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Arga duduk di kursi rotan. Ia menggosok kedua telapak tangannya, kebiasaan yang selalu muncul ketika ia kebingungan.

“Aku selalu berpikir kita akan tetap dekat. Sekolah bareng, kuliah di Bandung, lalu lihat nanti.”

“Lihat apa?”

“Hubungan kita.”

Aku duduk di hadapannya.

“Jadi selama ini aku harus menunggu sampai kamu memutuskan?”

“Aku tidak pernah menyuruhmu menunggu.”

Kalimat itu menyakitkan justru karena benar.

Aku mengangguk pelan.

“Iya. Aku yang menganggap semua rencana kita berarti sesuatu yang sama.”

Arga menatapku, lalu melihat laptop yang terbuka di balik jendela.

“Kamu sudah menyelesaikan pendaftaran?”

“Sudah.”

“Pilihan Bandung masih pertama?”

“Yogyakarta sekarang.”

Ia berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Karena aku?”

“Karena jurusannya lebih cocok untukku.”

“Tapi kita sudah sepakat.”

Aku menatapnya. “Kita juga sudah sepakat pergi Jumat sore.”

Arga kehilangan kata-kata.

Aku tidak merasa menang. Hanya lelah melihat betapa mudahnya sebuah kesepakatan dianggap lentur ketika aku yang harus menerimanya.

“Aku tidak pindah kota untuk menghukummu,” kataku. “Aku cuma berhenti menjadikan rencanamu sebagai patokan semua pilihanku.”

Ia pulang tanpa menyentuh teh yang dibuatkan Ibu.

Seminggu kemudian, aku bertemu Keisya di sekolah untuk mengurus berkas kelulusan. Ia menghampiriku di dekat perpustakaan.

“Aku baru tahu kalian sudah punya rencana perjalanan,” katanya.

Aku mengangguk.

“Waktu aku mengajak, Arga bilang akhir pekannya kosong. Masalah di rumahku memang ada, tapi bukan keadaan darurat. Aku juga tidak tahu teman lain katanya batal. Dari awal aku cuma mengajak dia.”

Ada sesuatu yang dingin bergerak di dadaku. Bahkan alasan yang diberikan Arga ternyata disusun agar keputusannya terdengar terpaksa.

“Terima kasih sudah bilang,” jawabku.

Keisya menggigit bibir.

“Kamu benci aku?”

“Aku kecewa kepada orang yang berjanji kepadaku.”

Bahunya turun sedikit. Kami tidak mendadak menjadi sahabat. Namun, aku lega karena tidak perlu menciptakan musuh untuk menjelaskan lukaku.

Bulan berikutnya kuhabiskan menyiapkan portofolio, melengkapi berkas, dan membantu Ibu di toko. Sesekali Arga mengirim pesan. Aku membalas seperlunya. Ada hari ketika aku merindukannya begitu kuat sampai hampir mengetik cerita panjang tentang hal sepele.

Biasanya pesan itu kuhapus, lalu kutelepon sepupuku atau kutulis di buku.

Ketika pengumuman penerimaan keluar, aku diterima di Yogyakarta.

Ibu memelukku di depan laptop. Aku menangis di bahunya, bukan karena Arga, melainkan karena akhirnya ada sesuatu yang kupilih sendiri dan berhasil kuperjuangkan.

Arga datang dua hari sebelum keberangkatanku.

“Aku diterima di Bandung,” katanya.

“Selamat.”

“Kamu juga.”

Kami berdiri di gang kecil yang sejak dulu memisahkan rumah kami.

“Aku kangen cerita sama kamu,” ujarnya.

“Aku juga.”

Matanya terangkat, seolah menemukan pintu terbuka.

“Tapi aku belum ingin kembali seperti dulu,” lanjutku.

Ia mengangguk. Kali ini ia tidak menyebutku sensitif.

Pada hari keberangkatan, Ayah Arga mengantarku dan Ibu ke stasiun. Menjelang naik kereta, beliau menyerahkan sebuah amplop.

“Titipan Arga.”

Kubuka setelah duduk. Di dalamnya ada uang pengganti tiket serta biaya penginapan yang hangus, disertai catatan singkat.

Aku tahu ini tidak mengganti waktumu. Seharusnya aku memberi kabar. Semoga kamu betah di kota pilihanmu.

Tidak ada permintaan agar aku menunggunya.

Aku menyimpan catatan itu, lalu mengeluarkan surat lamaku dari kotak biru. Pada bagian terakhir, setelah pengakuan cinta, ternyata ada satu kalimat yang hampir kulupakan.

Suatu hari aku ingin menulis cerita dari kota yang belum pernah kita datangi.

Aku tersenyum sambil memandang peron yang mulai bergerak menjauh.

Beberapa bulan kemudian, kalimat itu menjadi pembuka tulisanku yang pertama dimuat di majalah kampus.

Untuk pertama kalinya, sebuah cerita yang kutulis tentang masa depan tidak dimulai dengan nama Arga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang