Enam Tahun Setelah Kakakku Membiarkanku Menanggung Kesalahan yang Bukan Milikku,

Dimas meraih amplop itu, tetapi kutarik lebih dulu.

“Jangan,” kataku. “Dulu kalian mengambil hampir setahun hidupku. Kali ini, bahkan selembar kertas pun tidak boleh kalian ambil dari tanganku.”

Suara Keisha masih terdengar dari ponselnya.

“Mas? Siapa yang bicara?”

Aku menatap Dimas. “Jawab dia.”

Tangannya gemetar ketika mematikan pengeras suara. Namun, sebelum sambungan terputus, aku sempat mendengar Keisha memanggil nama Arga.

Anak perempuan di sebelah Tante Mira mendongak.

“Papa, Mama marah?”

Satu kata itu menjawab pertanyaan yang belum sempat kuajukan.

Aku memandang Arga, lalu anak kecil yang memegang cangkir cokelat dengan kedua tangannya.

Jadi, setelah meninggalkanku, dia menikahi Keisha.

Dadaku terasa nyeri, tetapi rasa itu segera berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.

“Rafi,” kataku lembut, “tolong temani Mbak Wulan di dapur. Nanti Bunda menyusul.”

Setelah anakku pergi, aku menunjuk ruang kecil di belakang kafe.

“Kita bicara di sana. Anak-anak tidak perlu mendengar.”

Tante Mira tetap di depan bersama cucunya. Dimas dan Arga mengikutiku tanpa suara.

Di dalam amplop terdapat laporan audit, salinan transaksi, dan surat dari pengacara perusahaan. Namun, tidak ada dokumen dari brankas yang disebut Keisha.

“Ini belum semuanya,” kataku.

Dimas duduk dengan bahu merosot.

“Papa meninggal lima bulan lalu. Setelah itu kami memeriksa arsip pribadinya.”

Aku menggenggam tepi meja. Kabar kematian Papa tetap menyakitkan, meskipun bertahun-tahun aku berhenti berharap dia akan mencariku.

“Lalu?”

“Transaksi yang dulu dituduhkan kepadamu masuk ke perusahaan pemasok fiktif. Pemilik sebenarnya Keisha.”

“Dan Papa tahu?”

Dimas tidak menjawab.

“Sejak kapan?”

“Dua minggu setelah kamu ditahan.”

Ruangan terasa kehilangan udara.

Dua minggu.

Aku mengingat kasur tipis, lampu yang tak pernah benar-benar padam, dan surat-suratku yang tidak pernah dibalas.

“Kenapa aku tetap di sana hampir setahun?”

Dimas menutup wajahnya.

“Papa takut pemeriksaan melebar. Keisha memakai rekening itu untuk menutupi pengeluaran perusahaan yang tidak tercatat. Kalau dibongkar, beberapa proyek besar bisa berhenti.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Kamu tahu juga?”

Ia mengangguk sangat pelan.

“Dimas memberitahuku sebelum persidangan terakhir.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Keluar.”

“Laras, dengarkan dulu—”

“Dulu aku memintamu mendengarkan. Kamu menyuruhku berhenti berbohong.”

Arga menunduk. Tidak ada pembelaan yang cukup berani keluar dari mulutnya.

Saat itulah pintu terbuka.

Suamiku, Bagas, berdiri di ambang pintu. Rafi rupanya meneleponnya dari dapur.

Bagas memperhatikan wajahku, lalu bertanya, “Kamu ingin mereka pergi?”

Pertanyaan sederhana itu hampir membuatku menangis.

Enam tahun lalu, semua orang menentukan apa yang harus kutanggung. Bagas justru menunggu keputusanku.

“Aku ingin pengacara mendampingi,” jawabku.

“Baik.”

Ia duduk di sebelahku.

Dimas mendorong kartu nama di atas meja.

“Pengacara keluarga bisa membantu.”

Aku mengembalikannya.

“Aku akan memilih sendiri.”

Tiga hari kemudian, kami bertemu lagi di kantor bantuan hukum tempat Bagas dahulu mengantarku mengurus dokumen pekerjaan. Bu Ratna, pengacara yang menanganiku, meminta seluruh arsip diperlihatkan.

Kali ini Dimas membawa kotak besi kecil.

Di dalamnya ada surat pernyataan Papa, bukti transfer, dan laporan pemeriksaan internal yang tidak pernah diserahkan dalam perkaraku.

Namun, lembar terakhir membuatku terdiam.

Itu surat dariku.

Surat yang kutulis dari tahanan, meminta Dimas memeriksa keberadaan kartu aksesku.

Di sudutnya terdapat tulisan tangan kakakku.

Sudah dibaca. Jangan ditindaklanjuti.

Aku mengangkat kepala.

“Kamu bilang suratku tidak pernah sampai.”

Dimas memucat.

“Aku takut, Ras.”

“Takut kehilangan apa?”

Ia menatap lantai.

“Jabatanku. Kepercayaan Papa.”

Aku mengangguk perlahan. Selama ini aku mengira mereka keliru menilaiku. Ternyata, setidaknya sebagian dari mereka sudah mengetahui kebenaran dan tetap memilih diam.

Bu Ratna merapikan dokumen.

“Kita simpan semuanya melalui prosedur yang benar. Mulai sekarang, komunikasi mengenai perkara ini melalui saya.”

Dimas mengeluarkan surat lain.

“Papa meninggalkan sebagian saham untukmu. Ada dana yang bisa langsung dicairkan.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Hak waris bisa dibahas nanti. Nama baikku harus dipulihkan lebih dulu.”

Malam itu Keisha menelepon.

Aku menjawab dengan Bagas di sampingku.

“Kak,” katanya sambil menangis, “aku tidak menyangka akan sejauh itu.”

“Kamu menyerahkan kartu aksesku kepada siapa?”

Hening.

“Tidak ada. Aku sendiri yang memakainya.”

“Lalu kamu melihatku dibawa pergi.”

“Aku panik.”

“Selama hampir setahun?”

Tangisnya berhenti sesaat.

Kemudian suaranya berubah.

“Kalau perkara ini dibuka, anakku bagaimana?”

Aku memejamkan mata.

“Tetap anak yang harus dilindungi. Tetapi dia tidak perlu dilindungi dengan membiarkan orang lain menanggung kesalahan ibunya.”

Setelah panggilan berakhir, aku menangis untuk pertama kalinya sejak mereka datang.

Bagas tidak menyuruhku melupakan. Ia hanya memelukku sampai napasku kembali teratur.

Proses berikutnya berlangsung berbulan-bulan. Ada pemeriksaan, penyerahan bukti, dan hari-hari ketika aku kembali terbangun oleh suara pintu dalam mimpi.

Dimas akhirnya memberikan keterangan lengkap, termasuk tentang surat yang sengaja diabaikannya. Arga menyerahkan percakapannya dengan Keisha. Mereka tidak lagi bisa menyebut semuanya sebagai kesalahpahaman.

Ketika putusan lama terhadapku akhirnya dibatalkan, aku membacanya tiga kali.

Bukan karena tidak mengerti.

Aku hanya ingin menikmati namaku tertulis tanpa tuduhan di belakangnya.

Dimas menunggu di luar bersama Arga.

“Boleh Kakak datang ke kafe lagi?” tanyanya.

Aku memandangnya cukup lama.

“Sebagai pelanggan, boleh. Sebagai kakak, aku belum siap.”

Matanya basah, tetapi kali ini dia tidak memintaku menghiburnya.

Arga menyerahkan sebuah foto lama kami. Aku tidak mengambilnya.

“Simpan saja. Hidupku tidak menunggu foto itu dikembalikan.”

Sore harinya, aku pulang membawa salinan putusan dalam map cokelat.

Rafi berlari menyambutku.

“Bunda menang?”

Aku berlutut di hadapannya.

“Bunda sudah tidak disalahkan lagi.”

Dia berpikir sebentar, lalu membuka ranselnya.

“Aku juga punya surat.”

Ternyata tugas sekolah tentang keluarganya.

Di bawah gambar kafe, dia menulis bahwa bundanya berani, ayahnya baik, dan rumah mereka selalu berbau roti.

Lalu kutemukan satu kalimat kecil di bagian akhir.

Kalau besar nanti, aku ingin menjadi orang yang percaya kepada Bunda.

Aku memeluknya erat.

Hari itu namaku dipulihkan oleh pengadilan. Namun, di rumah kecil kami, rupanya namaku tidak pernah perlu dibersihkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang