GARA-GARA MENYENTUH BEDAKNYA, IBU MEMUKULKU MEMBABI BUTA. AKU TIDAK

Di dalam kotak bedak merah itu terdapat sebuah foto kecil yang sudah menguning, selembar kertas terlipat, dan gelang bayi berwarna merah muda.

Aku memandangi benda-benda tersebut dengan jantung berdebar. Mengapa Ibu menyimpan barang seperti ini di dalam kotak bedak?

Perlahan, kuambil foto yang terselip di bawah lapisan busa.

Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda sedang menggendong bayi. Perempuan tersebut mengenakan seragam perawat berwarna putih. Wajahnya sangat cantik, dengan rambut panjang yang diikat sederhana.

Namun, bukan wajah perempuan itu yang membuatku terkejut.

Melainkan tulisan di belakang foto.

Untuk putriku, Maharani. Semoga suatu hari kita bisa bertemu kembali.

Tanganku langsung gemetar.

Maharani.

Itu nama lengkapku.

Aku membalik foto tersebut dan memperhatikan wajah perempuan itu sekali lagi. Ada sesuatu yang terasa familier dari bentuk matanya.

Aku bergegas mengambil cermin kecil di meja rias Ibu.

Ketika membandingkan wajahku dengan perempuan dalam foto, dadaku terasa semakin sesak.

Mata kami sama.

Bentuk hidung kami juga hampir serupa.

“Siapa sebenarnya perempuan ini?” bisikku.

Aku kemudian mengambil kertas terlipat yang berada di dasar kotak.

Ternyata itu salinan surat penyerahan pengasuhan anak dari sebuah rumah bersalin di Semarang, bertanggal dua puluh empat tahun lalu.

Nama bayi yang tercantum adalah Maharani.

Nama ibu kandungnya adalah Ratna Puspitasari.

Sedangkan nama penerima pengasuhan adalah Sulastri.

Nama ibuku.

Aku membaca dokumen tersebut berulang kali. Rasanya seperti seluruh dunia tiba-tiba runtuh.

Jadi, aku bukan anak kandung Ibu?

Air mataku langsung mengalir.

Selama ini aku selalu bertanya mengapa Ibu memperlakukanku berbeda dari saudara-saudaraku. Sekarang, sebuah kemungkinan yang menyakitkan mulai terlihat di hadapanku.

Mungkin karena aku memang bukan darah dagingnya.

Namun, ada sesuatu yang lebih mengganggu.

Di bagian bawah surat terdapat tulisan tangan yang membuatku membeku.

Anak diserahkan sementara. Ibu kandung berhak mengambil kembali setelah keadaan memungkinkan.

Sementara?

Berarti perempuan bernama Ratna itu tidak pernah berniat menyerahkanku selamanya?

Aku mengambil gelang bayi tersebut. Di bagian dalamnya terdapat ukiran kecil bertuliskan Rani.

Tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka.

Aku tersentak.

Ibu pulang!

Dengan panik, aku memasukkan semua benda kembali ke dalam kotak. Namun, ketika hendak menutupnya, gelang bayi terjatuh ke lantai.

Aku buru-buru mengambilnya.

Terlambat.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Suara Ibu terdengar dari ambang pintu.

Aku membeku.

Beliau berdiri sambil membawa kantong belanja. Matanya langsung tertuju pada kotak bedak di tanganku.

Wajahnya berubah pucat.

“Maharani! Siapa yang mengizinkanmu mengambil itu?”

Aku mundur selangkah.

“Bu, aku cuma ingin tahu…”

Belum selesai aku berbicara, Ibu langsung menghampiriku dan merampas kotak tersebut.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipiku.

Aku terhuyung.

“Sudah Ibu bilang jangan pernah menyentuhnya!”

“Bu, sakit!”

Namun, Ibu seperti tidak mendengar.

Beliau memukul bahuku berkali-kali sambil menangis dan berteriak.

“Kenapa kamu selalu membuat masalah? Kenapa kamu tidak pernah bisa menuruti perkataan Ibu?”

Aku mencoba melindungi kepala dengan kedua tangan.

“Tolong berhenti, Bu!”

Akhirnya, Ibu menghentikan pukulannya.

Napasnya memburu. Wajahnya basah oleh air mata.

Aku menatapnya dengan perasaan hancur.

“Siapa Ratna Puspitasari, Bu?”

Ibu langsung terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Kenapa namaku ada dalam surat penyerahan anak? Kenapa perempuan di foto itu mirip sekali denganku?”

Ibu menatapku seolah baru saja melihat hantu.

“Kamu sudah membaca semuanya?”

Aku mengangguk.

“Jawab aku, Bu. Aku ini anak siapa?”

Ibu terduduk di tepi tempat tidur.

Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan yang selama ini begitu keras kepadaku terlihat benar-benar ketakutan.

“Seharusnya kamu tidak menemukan surat itu,” bisiknya.

“Kenapa?”

“Karena ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.”

Aku menggeleng sambil menangis.

“Tidak, Bu. Aku berhak tahu siapa diriku!”

Ibu menutup wajah dengan kedua tangan.

“Ratna adalah ibu kandungmu.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan tadi.

Aku mundur sampai punggungku menyentuh lemari.

“Jadi benar… selama ini Ibu bukan ibu kandungku?”

Beliau mengangguk perlahan.

Aku menangis semakin keras.

“Lalu kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena Ibu takut kehilanganmu.”

Aku tertawa getir.

“Takut kehilangan aku? Tapi selama ini Ibu memperlakukanku seperti pembantu!”

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara meninggi.

“Liana boleh kuliah, sedangkan aku berhenti sekolah setelah SMP. Kalau aku meminta uang untuk kebutuhan sendiri, Ibu selalu bilang tidak punya. Tapi untuk Liana, Ibu selalu ada uang!”

Air mataku mengalir tanpa henti.

“Kalau Ibu memang takut kehilangan aku, kenapa Ibu membuatku merasa tidak pernah diinginkan?”

Ibu menangis.

Namun, kali ini aku tidak sanggup menghiburnya.

Aku mengambil gelang bayi yang masih berada di tanganku, lalu keluar dari kamar.

Malam itu aku mengunci diri di kamar dan tidak keluar meskipun Ibu berkali-kali mengetuk pintu.

Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sahabat lamaku, Nisa.

Setelah mendengar ceritaku, Nisa langsung memelukku.

“Kamu harus mencari tahu keadaan ibu kandungmu, Ran.”

“Tapi aku bahkan tidak tahu dia masih hidup atau tidak.”

Nisa berpikir sejenak.

“Di surat itu ada nama rumah bersalin, kan? Kita bisa mencoba menghubunginya.”

Aku mengangguk.

Kami kemudian mencari informasi mengenai rumah bersalin tersebut melalui internet.

Ternyata bangunannya sudah tidak digunakan lagi. Namun, seorang mantan pegawai bernama Bu Yuni masih tinggal di Semarang.

Setelah beberapa kali menghubungi orang yang pernah bekerja di sana, akhirnya kami mendapatkan nomor teleponnya.

Aku menelepon dengan tangan gemetar.

“Bu, maaf mengganggu. Saya ingin bertanya tentang seorang perempuan bernama Ratna Puspitasari.”

Di seberang telepon terdengar keheningan panjang.

“Ratna?” ulang perempuan itu.

“Iya, Bu. Katanya beliau pernah melahirkan di rumah bersalin tempat Ibu bekerja.”

“Siapa namamu, Nak?”

“Maharani.”

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.

Kemudian Bu Yuni berbicara dengan suara bergetar.

“Ya Allah… Maharani?”

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Ibu mengenal saya?”

“Ratna mencari kamu selama bertahun-tahun, Nak.”

Dadaku terasa sesak.

“Apa?”

“Dia tidak pernah berhenti mencarimu.”

Aku menangis.

Bu Yuni kemudian menceritakan bahwa Ratna dahulu merupakan perawat muda yang bekerja di rumah bersalin tersebut.

Ketika masih berusia dua puluh tahun, Ratna hamil setelah kekasihnya meninggalkannya.

Keluarganya menolak menerima keadaan tersebut. Ratna akhirnya bekerja sambil mengandung dan berusaha mengumpulkan uang untuk membesarkan bayinya.

Namun, setelah melahirkan, Ratna mengalami komplikasi dan harus menjalani perawatan cukup lama.

Saat itulah Sulastri, yang merupakan kenalannya, menawarkan bantuan untuk mengasuh bayi sementara.

“Ratna sangat percaya kepada Sulastri,” ujar Bu Yuni.

“Tapi setelah sembuh, ketika Ratna ingin mengambilmu kembali, Sulastri sudah pindah rumah.”

Aku menutup mulut.

“Jadi Ibu membawaku pergi?”

“Ratna berusaha melacak alamatnya, tetapi selalu gagal. Waktu itu belum mudah mencari seseorang seperti sekarang.”

Air mataku semakin deras.

“Bu, Ratna sekarang di mana?”

Bu Yuni terdiam sebentar.

“Dia masih hidup, Nak. Sekarang tinggal di Solo.”

Aku hampir tidak percaya.

Ibu kandungku masih hidup.

Dan selama ini dia mencariku.

Dua hari kemudian, aku berangkat ke Solo bersama Nisa.

Sepanjang perjalanan, tanganku tidak berhenti menggenggam gelang bayi berwarna merah muda itu.

Aku membayangkan berbagai kemungkinan.

Apakah Ratna akan mengenaliku?

Apakah dia masih ingin bertemu denganku?

Bagaimana jika ternyata dia sudah memiliki keluarga baru dan tidak membutuhkanku lagi?

Namun, semua ketakutanku lenyap ketika kami tiba di sebuah rumah sederhana bercat hijau muda.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun sedang menyiram tanaman di halaman.

Rambutnya mulai beruban, tetapi wajahnya masih sangat mirip dengan perempuan dalam foto.

Aku berdiri mematung di depan pagar.

Perempuan itu menoleh.

“Cari siapa, Nak?”

Aku tidak mampu menjawab.

Dengan tangan gemetar, kuangkat gelang bayi yang kubawa.

“Bu… apakah Ibu mengenali gelang ini?”

Perempuan tersebut langsung menjatuhkan selang air.

Matanya membelalak.

Dia berjalan mendekat perlahan.

“Dari mana kamu mendapatkan itu?”

Aku menangis.

“Namaku Maharani.”

Perempuan itu langsung menutup mulut.

“Maharani?”

Aku mengangguk.

“Iya, Bu.”

Tubuhnya gemetar hebat.

Kemudian dia memelukku sambil menangis tersedu-sedu.

“Anakku… Ya Allah, anakku!”

Aku membalas pelukannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan pelukan seorang ibu yang tidak disertai tuntutan, bentakan, ataupun rasa takut.

Ratna membawaku masuk ke rumah.

Di ruang tamunya terdapat sebuah lemari kaca berisi foto-foto lama.

Salah satunya adalah foto bayi.

Aku.

Di samping foto tersebut terdapat sebuah buku kecil.

Ratna membukanya dan memperlihatkan puluhan catatan bertanggal.

Ternyata selama bertahun-tahun dia mencatat setiap usaha pencarian yang dilakukannya.

Alamat yang didatangi.

Nomor telepon yang dihubungi.

Bahkan nama orang-orang yang pernah mengenal Sulastri.

“Aku tidak pernah menyerah mencarimu, Nak,” katanya sambil menangis.

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa Ibu tidak menikah lagi?”

Ratna tersenyum sedih.

“Bukan karena menunggumu sampai melupakan hidupku. Ibu pernah mencoba membangun hubungan baru, tetapi belum menemukan orang yang tepat. Ibu juga tidak pernah berhenti berharap suatu hari kamu pulang.”

Aku menunduk.

Selama ini aku tumbuh dengan keyakinan bahwa diriku tidak cukup berharga untuk dicintai.

Ternyata ada seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencariku.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Sore harinya, ponselku berdering.

Liana menelepon sambil menangis.

“Kak, cepat pulang!”

“Ada apa, Ana?”

“Ibu masuk rumah sakit!”

Aku langsung berdiri.

“Kenapa?”

“Setelah Kakak pergi, Ibu terus menangis. Tadi pagi Ibu pingsan di dapur.”

Aku menatap Ratna.

Perempuan itu mengangguk pelan.

“Pergilah, Nak. Bagaimanapun, dia yang membesarkanmu.”

Malam itu aku kembali ke kampung.

Ketika tiba di rumah sakit, kulihat Ibu terbaring lemah di ranjang.

Liana dan Sadewo duduk di sampingnya.

Begitu melihatku, mata Ibu langsung berkaca-kaca.

“Rani…”

Aku mendekat.

“Ibu sudah merasa lebih baik?”

Beliau mengangguk lemah.

Kemudian tangannya meraih jemariku.

“Kamu sudah bertemu Ratna?”

Aku terdiam.

“Iya, Bu.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Dia masih hidup?”

“Iya.”

Ibu menutup mata.

Beberapa saat kemudian, beliau berbisik.

“Syukurlah.”

Aku menatapnya bingung.

“Bu, kenapa Ibu dulu membawaku pergi?”

Beliau menangis.

Awalnya aku mengira Ibu akan kembali membuat alasan.

Namun, jawaban berikutnya justru membuatku membeku.

“Karena waktu itu Ibu kehilangan bayi perempuan yang baru dilahirkan.”

Aku terdiam.

Ibu kemudian bercerita bahwa sebelum mengasuhku, dia pernah melahirkan bayi perempuan yang meninggal beberapa jam setelah lahir.

Kesedihan membuatnya mengalami masa yang sangat sulit.

Ketika Ratna meminta bantuan menjaga bayi sementara, Ibu merasa mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang.

“Awalnya Ibu benar-benar berniat mengembalikanmu,” katanya.

“Tapi semakin lama Ibu merawatmu, semakin takut Ibu kehilanganmu.”

Air mataku menggenang.

“Jadi Ibu sengaja pindah rumah?”

Beliau mengangguk.

“Ibu salah, Rani. Ibu tahu.”

Aku menunduk.

“Kalau Ibu begitu takut kehilangan aku, kenapa Ibu memperlakukanku berbeda dari anak-anak Ibu yang lain?”

Ibu menangis semakin keras.

“Karena setiap melihat wajahmu, Ibu teringat bahwa suatu hari kamu mungkin mengetahui semuanya dan meninggalkan Ibu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi Ibu menghukumku karena ketakutan Ibu sendiri?”

Beliau tidak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aku menarik napas panjang.

“Bu, aku bisa memahami bahwa Ibu pernah terluka. Tapi itu tidak membenarkan semua yang Ibu lakukan kepadaku.”

Ibu mengangguk sambil menangis.

“Maafkan Ibu, Rani.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku belum tahu apakah bisa memaafkan semuanya sekarang. Tapi aku tidak ingin terus hidup dengan kebencian.”

Beberapa hari kemudian, Ibu diperbolehkan pulang.

Aku memutuskan tinggal sementara bersama Ratna di Solo.

Di sana, aku mulai mengikuti program pendidikan kesetaraan agar bisa melanjutkan sekolah yang dulu terputus.

Ratna membantuku mencari informasi pendaftaran, tetapi dia tidak pernah memaksakan keputusan apa pun.

Untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki kebebasan menentukan masa depanku sendiri.

Suatu sore, ketika sedang belajar, aku menerima sebuah paket dari kampung.

Pengirimnya adalah Ibu Sulastri.

Di dalamnya terdapat kotak bedak merah yang selama ini begitu dijaganya.

Namun, kali ini isinya berbeda.

Tidak ada lagi foto ataupun surat rahasia.

Hanya sebuah amplop berisi uang tabungan dan sepucuk surat.

Aku membukanya perlahan.

“Rani, Ibu mengembalikan uang yang selama ini seharusnya bisa digunakan untuk pendidikanmu. Jumlahnya mungkin tidak sebanding dengan kesempatan yang telah Ibu renggut. Ibu tidak meminta kamu segera memaafkan Ibu. Ibu hanya berharap kamu tidak lagi menganggap dirimu tidak berharga. Kesalahan terbesar Ibu bukan karena takut kehilanganmu, tetapi karena membiarkan ketakutan itu berubah menjadi perlakuan yang menyakitimu.”

Air mataku menetes ke atas kertas.

Di bagian terakhir surat, tertulis sebuah kalimat sederhana.

“Sekarang Ibu mengerti, anak bukanlah milik orang tua. Anak adalah manusia yang berhak dicintai tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.”

Aku melipat surat tersebut.

Kemudian aku meletakkan kotak bedak merah di atas meja.

Dulu, benda itu membuatku takut karena menyimpan rahasia yang menghancurkan hidupku.

Sekarang, benda yang sama justru menjadi pengingat bahwa aku berhak mencari kebenaran dan menentukan jalan hidupku sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku dinyatakan lulus ujian kesetaraan.

Ratna menangis bahagia ketika melihat hasilnya.

Sementara itu, Ibu Sulastri menelepon dan mengucapkan selamat dengan suara bergetar.

Hubungan kami belum sepenuhnya pulih, tetapi perlahan mulai berubah. Ibu tidak lagi memaksaku pulang atau menuntut agar aku melupakan masa lalu.

Aku juga mulai memahami bahwa memaafkan tidak harus berarti kembali menerima perlakuan yang sama.

Suatu malam, Ratna duduk di sampingku sambil memperhatikan formulir pendaftaran kuliah.

“Kamu mau mengambil jurusan apa, Nak?”

Aku tersenyum.

“Keperawatan, Bu.”

Ratna menatapku terkejut.

“Kenapa?”

Aku menggenggam tangannya.

“Karena aku ingin membantu orang-orang yang merasa sendirian ketika sedang sakit. Aku ingin mereka tahu bahwa ada seseorang yang peduli.”

Ratna memelukku.

Aku membalas pelukannya sambil tersenyum.

Dua puluh empat tahun aku hidup dengan pertanyaan mengapa seorang ibu tidak bisa mencintaiku seperti anak-anaknya yang lain.

Kini aku menemukan jawabannya.

Bukan karena aku kurang cantik.

Bukan karena aku tidak cukup pintar.

Dan bukan pula karena aku tidak pantas dicintai.

Aku hanya tumbuh di tengah luka seseorang yang tidak pernah disembuhkan dengan cara yang benar.

Namun, luka itu tidak harus menentukan seluruh hidupku.

Aku boleh memiliki masa depan yang berbeda.

Aku boleh bermimpi.

Dan yang terpenting, aku tidak perlu lagi membuktikan nilai diriku melalui pengorbanan yang tidak pernah dihargai.

Kotak bedak merah itu tetap kusimpan.

Bukan untuk mengenang rasa sakit akibat pukulan Ibu.

Melainkan untuk mengingat hari ketika sebuah rahasia akhirnya membuka pintu menuju kehidupan yang selama ini tidak pernah berani kubayangkan.

Kehidupan tempat aku tidak lagi hanya dikenal sebagai anak yang harus selalu mengalah.

Melainkan sebagai Maharani, seorang perempuan yang akhirnya menemukan keluarga, keberanian, dan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang