Pagi itu, Niken terbangun karena suara pintu lemari dibuka dengan kasar. Ketika membuka mata, ia melihat Yosep sedang membongkar isi tas dan laci meja riasnya.
“Mas, kamu cari apa?”
Yosep tidak menjawab. Ia terus memeriksa satu per satu amplop yang tersimpan di dalam laci.
“Mas Yosep, aku tanya baik-baik. Kamu sedang mencari apa?”
Barulah suaminya menoleh.
“Nomor telepon laki-laki yang membantumu malam itu.”
Niken terdiam. Rupanya Yosep tidak mau membuang waktu untuk melaksanakan rencananya.
“Untuk apa?”
“Aku mau tahu siapa orang yang sampai membuat Bapak begitu percaya kepadamu.”
“Kalau kamu ingin tahu, seharusnya kamu bertanya langsung, bukan mengacak-acak barang pribadiku.”
Yosep mendengus.
“Jadi benar ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”
Niken bangkit dari tempat tidur, kemudian mengambil sebuah amplop putih dari dalam tas kerjanya.
“Ini nomor telepon dan alamat kantornya. Kamu boleh menemuinya.”
Yosep tampak terkejut karena istrinya begitu mudah memberikan informasi tersebut.
“Siapa namanya?”

“Adrian Mahendra.”
Mendengar nama itu, wajah Yosep sedikit berubah.
“Adrian Mahendra? Pengacara yang sering muncul di televisi itu?”
Niken mengangguk.
“Dia pengacara sekaligus sahabat lama Bapak.”
“Bagaimana kamu bisa mengenalnya?”
“Karena Bapak sendiri yang memperkenalkan kami.”
Yosep terdiam beberapa saat. Namun, bukannya merasa lega, kecurigaannya justru semakin besar.
“Kalau memang cuma sahabat Bapak, kenapa kamu tidak pernah menceritakannya?”
“Karena setiap kali aku ingin bercerita tentang keadaan Bapak, kamu selalu mengatakan sedang sibuk.”
Jawaban itu membuat Yosep kehilangan kata-kata.
Niken mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu, ia berhenti.
“Mas, satu lagi. Kalau kamu menemui Pak Adrian, jangan datang dengan niat mengancam. Dia menyimpan lebih banyak hal tentang Bapak daripada yang kamu bayangkan.”
Yosep menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan perasaan tidak nyaman.
Siang harinya, Yosep dan Irwan mendatangi kantor Adrian di kawasan Sudirman, Jakarta.
Mereka diterima di sebuah ruangan dengan dinding kaca dan rak buku yang memenuhi salah satu sisinya.
Adrian adalah pria berusia sekitar empat puluh lima tahun. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, tetapi sorot matanya tajam.
“Silakan duduk,” katanya.
Irwan langsung membuka pembicaraan.
“Kami ingin mengetahui hubungan Bapak dengan Niken.”
Adrian mengangkat alis.
“Hubungan dalam kapasitas apa?”
“Jangan pura-pura tidak mengerti,” sahut Yosep. “Kami tahu Anda yang membantu istri saya mencari donor darah untuk ayah kami.”
“Benar.”
“Kenapa Anda mau repot-repot membantu?”
Adrian menatap keduanya bergantian.
“Karena Pak Kasim meminta bantuan saya.”
Yosep mengerutkan kening.
“Bapak meminta bantuan Anda?”
“Ya. Bahkan jauh sebelum beliau masuk rumah sakit.”
Adrian membuka sebuah map hitam.
“Pak Kasim pernah menghubungi saya untuk membantu mengurus beberapa persoalan keluarga. Salah satunya adalah memastikan bahwa Niken memiliki perlindungan hukum jika sesuatu terjadi kepada beliau.”
Irwan tertawa sinis.
“Perlindungan hukum? Untuk apa seorang menantu membutuhkan perlindungan dari keluarga suaminya sendiri?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia justru mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Pak Irwan, apakah Anda masih ingat pinjaman sebesar dua miliar rupiah yang Anda ambil tiga tahun lalu?”
Senyum Irwan langsung menghilang.
“Pinjaman apa?”
“Pinjaman dengan jaminan sertifikat gudang milik perusahaan ayah Anda.”
Yosep menoleh kepada kakaknya.
“Mas, maksudnya apa?”
Irwan tampak gelisah.
“Itu urusan bisnis lama.”
Adrian melanjutkan dengan tenang.
“Pinjaman tersebut gagal dilunasi. Pak Kasim harus menggunakan tabungan pribadinya untuk menyelamatkan gudang itu agar tidak disita.”
Wajah Irwan memerah.
“Itu bukan urusan Anda!”
“Benar. Tetapi itu urusan ayah Anda. Dan beliau meminta saya mendokumentasikan seluruhnya.”
Adrian kemudian menoleh kepada Yosep.
“Sedangkan Anda, Pak Yosep, pernah menggunakan kartu kredit tambahan milik ayah Anda untuk membayar sejumlah utang pribadi.”
Yosep langsung menegakkan tubuh.
“Saya sudah menggantinya!”
“Sebagian,” jawab Adrian. “Sisanya dilunasi Pak Kasim enam bulan sebelum beliau meninggal.”
Ruangan mendadak sunyi.
Adrian menutup map tersebut.
“Jadi sebelum menuduh Niken memiliki hubungan yang tidak pantas dengan saya, sebaiknya kalian memahami terlebih dahulu mengapa ayah kalian sangat mempercayainya.”
Yosep mengepalkan tangan.
“Kalau begitu, apa sebenarnya yang dilakukan Niken sampai Bapak menyerahkan semua hartanya?”
Adrian memandangnya cukup lama.
“Dia menyelamatkan sesuatu yang bahkan kalian tidak tahu sedang terancam hilang.”
“Apa maksud Anda?”
“Silakan tanyakan kepada istri Anda. Kalau dia bersedia menceritakannya, saya tidak akan menghalangi.”
Yosep bangkit dengan marah.
“Anda sengaja menyembunyikan sesuatu!”
Adrian tetap duduk.
“Saya hanya menghormati permintaan terakhir seorang klien yang telah meninggal.”
Ketika kedua pria itu hendak meninggalkan ruangan, Adrian memanggil Yosep.
“Pak Yosep, satu hal yang perlu Anda ketahui. Malam ketika ayah Anda membutuhkan donor darah, Niken tidak hanya berusaha menyelamatkan nyawanya.”
Yosep berhenti.
“Dia juga hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.”
Namun, Adrian tidak menjelaskan lebih jauh.
Sementara itu, di rumah keluarga Kasim, Niken sedang membereskan pakaian Pak Kasim yang masih tersimpan di kamar.
Sejak pemakaman, ia belum sanggup menyentuh barang-barang peninggalan lelaki tua itu.
Ketika membuka laci paling bawah, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil.
Di atasnya terdapat secarik kertas bertuliskan namanya.
Niken, bukalah kotak ini setelah mereka mengetahui keberadaan Adrian.
Tangannya langsung gemetar.
Ia membuka kotak tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat sebuah buku tabungan lama, foto seorang perempuan muda, dan surat tulisan tangan Pak Kasim.
Niken mengenali perempuan dalam foto itu.
Wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang pernah dilihatnya di rumah sakit.
Perempuan yang datang membawa seorang anak kecil pada malam kritis tersebut.
Niken mulai membaca surat itu.
Niken, Bapak tahu kamu mungkin merasa bingung mengapa Bapak mempercayakan semuanya kepadamu. Ada satu kesalahan besar dalam hidup Bapak yang belum pernah Bapak ceritakan kepada anak-anak.
Dulu, sebelum menikah dengan Helen, Bapak pernah bertunangan dengan seorang perempuan bernama Ratih. Hubungan kami berakhir karena Bapak memilih mengejar usaha dan meninggalkannya ketika dia sedang mengandung.
Niken menutup mulutnya.
Ia melanjutkan membaca.
Bapak baru mengetahui keberadaan anak itu dua puluh tahun kemudian. Namanya Adrian. Dia tidak pernah meminta pengakuan ataupun harta. Dia hanya meminta Bapak menjadi manusia yang lebih baik sebelum terlambat.
Air mata Niken mulai mengalir.
Jadi Adrian bukan sekadar sahabat lama Pak Kasim.
Dia adalah putra kandung yang selama puluhan tahun tidak pernah diakui secara terbuka.
Namun, masih ada satu bagian surat yang membuat Niken semakin terkejut.
Bapak tidak memberikan harta ini kepadamu karena kamu menantu yang paling patuh. Bapak memberikannya karena kamu satu-satunya orang yang berani menolak permintaan Bapak ketika permintaan itu salah.
Niken teringat percakapannya dengan Pak Kasim beberapa minggu sebelum lelaki itu meninggal.
Saat itu Pak Kasim memintanya memindahkan sejumlah dana perusahaan ke rekening pribadi agar tidak diketahui Irwan.
Niken menolak.
“Bapak, kalau uang ini milik perusahaan, kita harus menyelesaikan persoalannya secara terbuka. Saya tidak mau membantu Bapak menyembunyikan sesuatu yang bukan hak kita.”
Pak Kasim sempat marah.
Namun, dua hari kemudian, beliau justru meminta Niken membantunya memeriksa seluruh pembukuan perusahaan.
Dari situlah mereka menemukan transaksi mencurigakan yang berlangsung selama hampir empat tahun.
Ada dana perusahaan yang mengalir ke beberapa rekening pribadi.
Salah satunya milik seseorang bernama Haris.
Saat membaca nama tersebut, Niken merasakan dadanya berdebar.
Mas Haris.
Laki-laki yang mengirim pesan kepada Helen semalam.
Tiba-tiba terdengar suara Helen dari ambang pintu.
“Jadi akhirnya kamu menemukan surat itu.”
Niken tersentak.
Helen berdiri sambil memegang kusen pintu. Wajahnya pucat, tetapi tidak lagi terlihat marah.
“Ibu sudah tahu?”
Helen mengangguk perlahan.
“Bapakmu pernah memperlihatkannya kepada Ibu.”
“Kalau begitu, Ibu juga tahu soal Adrian?”
“Ibu tahu sejak lima tahun lalu.”
Niken terdiam.
Helen berjalan mendekati tempat tidur.
“Ada satu hal yang perlu kamu dengar, Niken. Ibu memang melakukan kesalahan besar karena menjalin hubungan dengan Haris. Tapi hubungan itu bukan bermula dari perselingkuhan.”
Niken menatapnya.
“Maksud Ibu?”
“Haris awalnya konsultan keuangan yang membantu Irwan mengurus utang perusahaannya. Lama-kelamaan dia mendekati Ibu. Dia mengatakan bahwa Bapak sudah punya keluarga lain dan suatu hari semua harta akan diberikan kepada Adrian.”
Helen menangis pelan.
“Ibu percaya. Ibu takut kehilangan semuanya.”
“Jadi Ibu memberikan uang kepada Haris?”
Helen mengangguk.
“Dia bilang uang itu untuk investasi. Tapi belakangan Ibu tahu sebagian besar dana tersebut berasal dari rekening perusahaan yang dipalsukan.”
Niken merasa perutnya mual.
“Bu, kenapa tidak melapor?”
“Karena Haris mengancam akan menyebarkan hubungan kami. Ibu takut anak-anak membenci Ibu.”
Niken memandang ibu mertuanya dengan perasaan campur aduk.
Ia tidak bisa membenarkan kesalahan Helen, tetapi untuk pertama kalinya ia melihat perempuan itu bukan sebagai sosok angkuh yang selalu merendahkannya, melainkan manusia yang telah terperangkap dalam kebohongannya sendiri.
“Bu, kalau ingin memperbaiki semuanya, Ibu harus mengatakan yang sebenarnya kepada polisi.”
Helen mengangguk sambil menangis.
Sore harinya, Yosep dan Irwan pulang dengan wajah muram.
Mereka menemukan Niken duduk bersama Helen dan Adrian di ruang tamu.
Di atas meja terdapat beberapa map dan salinan laporan keuangan.
“Apa-apaan ini?” tanya Irwan.
Adrian berdiri.
“Pak Irwan, kami sudah menemukan bukti aliran dana perusahaan ke rekening Haris. Beberapa transaksi menggunakan dokumen yang Anda tanda tangani.”
Irwan langsung pucat.
“Saya tidak tahu apa-apa!”
“Kalau begitu, Anda bisa menjelaskannya kepada penyidik.”
Yosep menoleh kepada Niken.
“Kamu sengaja menjebak keluarga ini?”
Niken menggeleng.
“Mas, aku justru berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.”
“Selamatkan dengan cara mengambil semua harta Bapak?”
Niken akhirnya berdiri.
“Mas, kamu tahu kenapa malam itu aku bisa mendapatkan donor darah?”
Yosep terdiam.
“Karena Pak Adrian menghubungi beberapa rumah sakit. Tapi ketika darah yang sesuai akhirnya tersedia, aku mendapat telepon dari dokter kandunganku.”
Wajah Niken berubah pucat saat mengingat kejadian itu.
“Dokter mengatakan kehamilanku bermasalah. Aku harus segera menjalani pemeriksaan dan kemungkinan dirawat.”
Yosep membeku.
“Kehamilan?”
Air mata mengalir di wajah Niken.
“Iya, Mas. Waktu itu aku sedang hamil delapan minggu.”
Yosep mundur selangkah.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Aku ingin memberitahumu setelah keadaan Bapak membaik. Tapi malam itu aku mengalami perdarahan.”
Suara Niken mulai bergetar.
“Dokter tidak berhasil menyelamatkan kandunganku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Helen menutup mulutnya, sedangkan Adrian menundukkan kepala.
Yosep berdiri seperti kehilangan pijakan.
“Ken…”
“Aku pulang dari rumah sakit dua hari kemudian. Kamu bahkan tidak sadar karena sibuk mengurus pekerjaan dan masalah warisan.”
Yosep teringat hari ketika Niken pulang dengan wajah pucat. Saat itu ia justru memarahinya karena tidak menyiapkan sarapan.
Niken mengusap air matanya.
“Pak Adrian yang mengantarku ke rumah sakit. Dia yang membantu mengurus administrasi ketika aku tidak bisa menghubungimu.”
Yosep terduduk.
Segala tuduhannya tentang perselingkuhan kini terasa begitu kejam.
Namun, Niken belum selesai berbicara.
“Mas, aku tidak menceritakan ini untuk membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa selama ini aku juga punya rasa sakit yang tidak pernah kamu lihat.”
Yosep menangis.
“Maafkan aku, Ken.”
Niken memandangnya lama.
“Dulu aku selalu menunggu kamu mengucapkan itu. Tapi sekarang aku tidak tahu apakah permintaan maaf saja cukup.”
Malam itu, setelah Adrian dan Helen pergi memberikan keterangan kepada penyidik, Niken meminta Yosep menemaninya membuka amplop terakhir peninggalan Pak Kasim.
Di dalamnya terdapat salinan akta pendirian sebuah yayasan sosial dan surat pernyataan yang telah ditandatangani Pak Kasim.
Ternyata harta yang diwariskan kepada Niken bukan dimaksudkan untuk dinikmatinya sendiri.
Pak Kasim telah meminta Niken menggunakan sebagian besar aset tersebut untuk membangun rumah singgah bagi pasien kurang mampu dan keluarga mereka.
Rumah singgah itu akan diberi nama Ratih, sebagai bentuk penyesalan atas perempuan yang pernah ditinggalkannya.
Niken menangis ketika membaca kalimat terakhir.
Bapak pernah gagal menjadi ayah yang baik. Bapak tidak ingin kegagalan itu diwariskan kepada generasi berikutnya. Jika suatu hari anak-anak Bapak berubah, jangan tutup pintu bagi mereka. Tetapi jangan pula mengorbankan hidupmu hanya untuk menyelamatkan orang yang tidak mau memperbaiki dirinya.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan terhadap penyalahgunaan dana perusahaan memasuki tahap persidangan.
Haris ditangkap setelah bukti penipuan dan penggelapan dana ditemukan. Irwan harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam sejumlah transaksi yang merugikan perusahaan.
Helen memilih bekerja sama dengan penyidik dan mulai menjalani konseling untuk memperbaiki kehidupannya.
Sementara itu, Yosep berulang kali meminta Niken memberinya kesempatan kedua.
Namun, Niken akhirnya mengajukan gugatan cerai.
Bukan karena ia membencinya, melainkan karena ia menyadari bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harga diri.
Setahun kemudian, sebuah rumah singgah berdiri di pinggiran Jakarta.
Di halaman depannya terdapat papan bertuliskan Rumah Singgah Ratih Kasim.
Pada hari peresmian, Niken berdiri di depan puluhan keluarga pasien yang datang dari berbagai daerah.
Di antara mereka ada seorang ibu muda yang menggendong bayi sambil menangis bahagia karena akhirnya memiliki tempat beristirahat selama anaknya menjalani pengobatan.
Niken menghampirinya dan memberikan kunci kamar.
“Ibu tidak perlu membayar apa-apa. Fokus saja mendampingi anak Ibu sampai sembuh.”
Perempuan itu menggenggam tangannya.
“Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu dengan apa.”
Niken tersenyum.
“Doakan saja agar tempat ini bisa terus membantu banyak orang.”
Dari kejauhan, Adrian memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca.
Ketika acara selesai, ia menghampiri Niken dan menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Ini surat terakhir dari Bapak. Beliau meminta saya memberikannya ketika rumah singgah ini sudah berdiri.”
Niken membukanya perlahan.
Hanya ada beberapa kalimat tulisan tangan.
Niken, Bapak tidak pernah menganggapmu sekadar menantu. Kamu adalah anak yang mengajarkan Bapak bahwa keluarga bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap berbuat benar ketika semua orang memilih jalan yang mudah.
Niken menangis dalam diam.
Selama bertahun-tahun ia merasa tidak pernah dianggap sebagai bagian dari keluarga Kasim.
Namun, ternyata orang yang paling memahami hatinya justru lelaki tua yang sudah tiada.
Ketika hendak melipat surat tersebut, selembar foto kecil terjatuh dari dalam amplop.
Foto itu memperlihatkan Pak Kasim sedang tersenyum di ranjang rumah sakit, sementara Niken tertidur di kursi sampingnya dengan kepala bersandar pada tepi tempat tidur.
Di belakang foto terdapat tulisan singkat.
Terima kasih sudah menemaniku ketika semua orang merasa tidak punya waktu.
Niken memeluk foto itu erat-erat.
Ia akhirnya memahami bahwa warisan terbesar yang diberikan Pak Kasim bukanlah rumah megah, perusahaan, ataupun rekening bernilai miliaran rupiah.
Warisan itu adalah kesempatan untuk membangun kehidupan yang tidak lagi dikuasai ketakutan dan penghinaan.
Dan di tempat yang dahulu hanya menjadi impian seorang lelaki tua penuh penyesalan, Niken menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah diberikan keluarga suaminya.
Rasa dihargai.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar pulang.
