Setelah Dua Tahun Suamiku Selalu Menginap di Kantor, Aku Mengirim Satu Foto ke Grup

“Jadi selama ini kamu sengaja menyembunyikannya dariku?”

Pertanyaan Bima terdengar ganjil di tengah ruang rapat yang membeku. Di layar masih terpampang pembayaran kepada Lentera Advisory, tetapi yang dipersoalkannya justru kuasa yang kupegang.

“Aku pernah mengajakmu datang ke rapat tahunan Arunika,” jawabku. “Kamu bilang urusan keluargaku membosankan.”

Reza menunduk. Maya menarik kursinya, lalu duduk perlahan.

Komisaris utama mengambil alih pembicaraan. Audit khusus disetujui. Bima diminta tidak ikut menentukan penunjukan pemeriksa maupun berkomunikasi dengan vendor terkait selama pemeriksaan berlangsung.

Sebelum rapat ditutup, Sella mengangkat tangan.

“Saya ingin memberikan keterangan.”

Bima langsung menoleh.

“Sella, sebaiknya kamu didampingi dulu.”

“Saya memang akan meminta pendampingan. Tapi ada dokumen yang harus segera diamankan.”

Ia mengeluarkan laptop.

Delapan bulan sebelumnya, Bima memintanya mendirikan vendor melalui nama adiknya. Alasannya, perusahaan membutuhkan konsultan yang bisa bergerak cepat tanpa proses pengadaan panjang. Sella mengurus tagihan, sedangkan Bima menyetujui pembayarannya.

“Awalnya ada pekerjaan komunikasi,” katanya. “Sesudah itu, tagihannya mulai berubah.”

“Berubah bagaimana?” tanya komisaris utama.

Sella membuka sebuah folder. Ada biaya apartemen, perabot, tiket penerbangan, dan belanja pribadi yang dimasukkan sebagai kebutuhan kegiatan perusahaan.

“Pak Bima yang menentukan keterangannya.”

“Kamu juga tinggal di sana,” kata Bima tajam.

“Saya tahu.”

Untuk pertama kalinya, Sella menatapku.

“Saya tidak akan berpura-pura tidak ikut menikmati uang itu.”

Aku merapatkan tangan di bawah meja. Pengakuannya tidak membuat dadaku lebih ringan. Namun, setidaknya aku tidak perlu mendengarkan seseorang menjelaskan bahwa apa yang kulihat semalam hanyalah kesalahpahaman.

Usai rapat, Maya menahanku di lorong.

“Kita bicara sebagai keluarga.”

“Silakan, Bu.”

“Bima salah. Ibu akan memarahinya. Tapi menahan dana ekspansi akan berdampak kepada banyak pegawai.”

“Saya setuju. Karena itu tim sedang memisahkan kebutuhan operasional dari pendanaan proyek yang diperiksa.”

“Kalau begitu, bantu suamimu.”

Aku menatap perempuan yang selama empat tahun selalu memintaku memahami putranya.

“Semalam saya membawa makanan karena dia bilang sedang sakit. Dia ada di apartemen perempuan lain, Bu.”

Maya terdiam sebentar.

“Laki-laki kadang khilaf.”

“Dua tahun terlalu lama untuk disebut sesaat.”

Aku melangkah pergi sebelum ia menemukan alasan berikutnya.

Di apartemen Kebayoran, sup iga yang kubawa semalam masih berada di meja. Lapisan lemak sudah membeku di permukaannya. Aku membuangnya, mencuci kotaknya, lalu menangis di depan wastafel.

Bukan saham atau pendanaan yang kupikirkan.

Aku teringat ulang tahunku yang dirayakan sendirian. Pesan pendek saat aku demam. Suara Bima yang selalu terdengar lelah setiap kali aku meminta waktu.

Aku pernah mengira menjadi istri yang pengertian berarti harus belajar membutuhkan lebih sedikit.

Sore itu, aku menelepon pengacara untuk membicarakan perpisahan.

Bima datang dua hari kemudian. Petugas keamanan menelepon lebih dahulu, dan aku memilih menemuinya di lobi.

Ia membawa bunga.

“Aku sudah mengakhiri semuanya dengan Sella.”

Aku tidak meraih buket itu.

“Sejak kapan?”

“Sejak kemarin.”

“Jadi kamu datang untuk meminta apa?”

Ia duduk di hadapanku.

“Kesempatan memperbaiki keadaan.”

“Rumah tangga atau perusahaan?”

Wajahnya menegang.

“Kenapa kamu selalu membuatku terdengar seperti orang jahat?”

Aku menatap bunga di pangkuannya. Bahkan permintaan maafnya masih menyisakan pekerjaan untukku: menenangkan perasaannya setelah ia menyakitiku.

“Kamu boleh memperbaiki apa yang kamu rusak, Bim. Aku tetap akan berpisah.”

Ia pulang membawa bunga yang sama.

Pemeriksaan berjalan selama beberapa minggu. Aku memberikan dokumen yang kumiliki, lalu membiarkan tim bekerja. Foto di pintu apartemen kusimpan untuk urusan pribadiku. Pemeriksa tidak membutuhkannya untuk menelusuri rekening.

Hasil awal menunjukkan pengeluaran tanpa dukungan pekerjaan yang memadai mencapai lebih dari dua miliar rupiah.

Namun, temuan berikutnya justru membuatku dipanggil kembali.

Ada pembayaran lain kepada Lentera Advisory yang dilakukan sebelum apartemen itu disewa. Nominalnya besar, dengan keterangan pelunasan jasa pengembangan usaha.

Persetujuannya bukan dari Bima.

Melainkan Reza.

Dalam pertemuan tertutup, Reza mula-mula menyebutnya pinjaman sementara. Setelah diminta menunjukkan perjanjian, ia diam.

Uang tersebut digunakan untuk menutup kerugian usaha pribadinya.

“Aku berniat mengembalikan,” katanya.

Pak Surya meletakkan salinan transaksi di meja.

“Niat itu tidak tercatat dalam pembukuan.”

Bima yang duduk di ujung meja tertawa pahit.

“Sekarang semua seolah salahku, padahal Mas yang pertama menyuruhku memakai vendor itu.”

Aku menoleh kepada Reza.

Ia memejamkan mata.

Mereka saling mengetahui. Satu orang memulai, yang lain merasa berhak mengikuti. Selama berbulan-bulan, nama kegiatan perusahaan dipakai untuk menutupi kebutuhan mereka sendiri.

Maya menangis ketika hasil pemeriksaan dibahas. Kali ini ia tidak memintaku menghapus pesan atau menghentikan rapat.

“Ayah kalian membangun perusahaan ini dengan satu truk,” katanya.

Tidak seorang pun menjawab.

Langkah pemulihan diputuskan melalui rapat resmi. Kewenangan Bima dan Reza dibatasi, manajemen sementara ditunjuk, dan penasihat hukum menindaklanjuti temuan pemeriksa. Dana untuk kegiatan yang sudah diverifikasi kembali disalurkan bertahap agar pegawai dan pemasok tetap dibayar.

Aku tidak merasa menang.

Ada terlalu banyak orang yang harus bekerja keras membereskan keputusan beberapa orang.

Beberapa bulan kemudian, setelah proses perpisahan kami selesai, aku datang ke rumah lama untuk mengambil barang terakhir. Bima menungguku di ruang makan.

Di depannya ada kotak makan yang dulu sering kubawa ke kantor.

“Aku masih menyimpannya,” katanya.

Aku mengangguk, lalu mengambil album foto ibuku dari lemari.

“Kalau waktu itu kamu tidak datang ke apartemen, mungkin kita masih baik-baik saja.”

Tanganku berhenti pada pegangan tas.

Aku menatapnya lama.

“Kamu benar-benar percaya itu?”

Ia tidak menjawab.

Di mobil, aku membuka album untuk memastikan tidak ada foto yang tertinggal. Sebuah kartu kecil jatuh dari sela halaman.

Tulisan ibuku, dibuat beberapa bulan sebelum ia meninggal.

Kirana, rumah yang baik adalah tempat kamu boleh lelah tanpa takut dianggap merepotkan.

Aku membacanya sampai pandanganku kabur.

Malam itu aku pulang ke Kebayoran. Ponselku berbunyi saat aku sedang memasak mi. Pesan dari Bu Wati, pegawai administrasi yang sudah dua puluh tahun bekerja di Santoso Logistik.

Foto puluhan kotak makan tersusun di kantin.

Di bawahnya tertulis, “Uang katering yang tertunggak akhirnya dibayar, Bu. Mulai hari ini sopir malam dapat makan lagi.”

Aku duduk perlahan.

Selama ini aku mengira hanya makan malamku yang telah dirampas oleh kebohongan Bima.

Ternyata, ada banyak meja lain yang ikut kosong.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang