Aku menatap angka yang tertera di halaman terakhir laporan itu sekali lagi. Dua puluh tiga miliar enam ratus juta rupiah. Jumlah yang bahkan lebih besar daripada seluruh transaksi mencurigakan yang melibatkan Bima dan Sella.
Namun, yang membuatku benar-benar terkejut bukanlah nominalnya.
Melainkan tanggal transaksi pertama.
Tiga bulan sebelum pernikahanku dengan Bima.
“Pak Reza, bisa jelaskan mengapa perusahaan milik Anda menerima pembayaran sebesar ini dari Santoso Logistik?” tanyaku.
Reza menyandarkan tubuh ke kursi. Wajahnya pucat, tetapi dia masih berusaha terlihat tenang.
“Itu pembayaran jasa pengadaan armada. Semua sudah sesuai prosedur.”

“Kalau begitu, armada yang mana?”
“Puluhan truk untuk ekspansi operasional.”
Aku membuka halaman berikutnya.
“Menarik. Karena berdasarkan data registrasi kendaraan dan laporan operasional, sebagian armada tersebut tidak pernah tercatat sebagai aset perusahaan.”
Bima langsung menoleh kepada kakaknya.
“Mas Reza, maksudnya apa?”
“Diam dulu, Bim. Kamu nggak mengerti urusan ini.”
Aku mengangkat tangan, meminta keduanya berhenti.
“Pak Surya, apakah tim sudah memverifikasi dokumen pendukungnya?”
“Sebagian. Ada indikasi tagihan ganda dan pembayaran untuk kendaraan yang tidak pernah diterima perusahaan. Namun, kesimpulan akhirnya harus menunggu audit forensik.”
Reza tiba-tiba berdiri.
“Saya tidak mau dituduh melakukan penggelapan tanpa bukti!”
“Tidak ada yang menjatuhkan vonis,” jawabku. “Justru karena itu kita membutuhkan pemeriksaan independen.”
Maya memegang lengan putra sulungnya.
“Reza, katakan ini cuma kesalahpahaman.”
Reza tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah perempuan yang selama ini begitu angkuh kepadaku.
Rapat akhirnya memutuskan untuk menunjuk auditor independen, membatasi sementara kewenangan persetujuan pembayaran Bima dan Reza sesuai ketentuan perusahaan, serta mengamankan seluruh dokumen transaksi.
Sella diminta menyerahkan dokumen vendor dan perangkat kerja milik perusahaan untuk diperiksa melalui prosedur resmi.
Ketika semua orang mulai meninggalkan ruangan, Bima menghampiriku.
“Kirana, aku mohon. Jangan pergi dulu.”
Aku memasukkan laptop ke dalam tas.
“Ada apa lagi?”
“Aku benar-benar nggak tahu soal transaksi Mas Reza.”
“Mungkin. Tapi kamu tahu soal Sella, bukan?”
Bima terdiam.
“Aku salah, Kirana. Aku akui. Tapi hubungan kami baru berjalan delapan bulan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Menurutmu delapan bulan itu sebentar?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Selama dua tahun kamu mengaku tidur di kantor. Jadi, sebelum Sella, sebenarnya kamu pergi ke mana?”
Pertanyaanku membuat Bima membeku.
Aku memperhatikan wajahnya.
“Mas, jawab.”
Dia mengusap kening.
“Aku punya masalah yang nggak bisa kuceritakan.”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Ternyata masih ada kebohongan lain.”
“Kirana, percaya sekali ini saja.”
“Dua tahun aku percaya. Lihat hasilnya.”
Aku meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
Sore harinya, ketika sedang memeriksa dokumen di apartemen, aku menerima telepon dari nomor tidak dikenal.
“Bu Kirana?” Suara seorang perempuan terdengar ragu.
“Iya, dengan siapa?”
“Saya Ningsih, mantan staf administrasi Santoso Logistik. Saya dengar perusahaan sedang diaudit.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
Perempuan itu terdiam beberapa detik.
“Sebenarnya, saya yang perlu membantu Ibu. Saya menyimpan sesuatu sejak tiga tahun lalu.”
Aku langsung duduk tegak.
“Apa itu?”
“Bukti bahwa Pak Reza menggunakan perusahaan untuk membayar utang bisnis pribadinya.”
“Kenapa baru sekarang Ibu menghubungi saya?”
“Karena dulu saya diancam akan dilaporkan ke polisi kalau membocorkan dokumen. Setelah mengundurkan diri, saya takut.”
Aku menahan napas.
“Lalu kenapa sekarang berani?”
“Karena saya baru tahu nama Ibu ada di salah satu dokumen itu.”
Jantungku berdegup kencang.
“Nama saya?”
“Iya, Bu. Ada surat persetujuan pencairan dana dengan tanda tangan atas nama Kirana Adelia.”
Tanganku mendadak dingin.
Aku tidak pernah menandatangani persetujuan transaksi untuk Santoso Logistik sebelum hari ini.
Kami sepakat bertemu keesokan paginya di sebuah kafe di kawasan Blok M.
Ningsih datang mengenakan kemeja biru sederhana. Wajahnya tampak gelisah. Dia berkali-kali menoleh ke arah pintu sebelum akhirnya duduk di hadapanku.
Dari dalam tas, dia mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Saya menyimpan salinan dokumen sebelum keluar dari perusahaan.”
Aku tidak langsung membukanya.
“Kenapa nama saya bisa ada di sana?”
Ningsih menatapku dengan serius.
“Karena mereka menggunakan identitas Ibu untuk membuat seolah-olah Arunika Capital mengetahui dan menyetujui pencairan dana tertentu.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
“Siapa yang membuat dokumen itu?”
“Saya tidak melihat langsung. Tapi perintah memasukkan dokumennya ke sistem datang dari Pak Reza.”
“Apakah Bima tahu?”
Ningsih menunduk.
“Pak Bima pernah mempertanyakannya. Setelah itu, mereka bertengkar hebat.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku menemukan kemungkinan penjelasan mengapa perilaku Bima mulai berubah dua tahun lalu.
Namun, aku tidak ingin buru-buru mengambil kesimpulan.
Aku segera menghubungi Pak Surya dan menyerahkan flashdisk tersebut kepada tim hukum untuk diperiksa keaslian serta riwayat dokumennya.
Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa tanda tanganku pada beberapa dokumen kemungkinan besar telah dipalsukan.
Lebih mengejutkan lagi, terdapat surat penjaminan yang menyatakan bahwa Arunika Capital bersedia menanggung kewajiban tertentu apabila Santoso Logistik gagal membayar utang.
Padahal, persetujuan tersebut tidak pernah diberikan oleh pihak yang berwenang.
Aku menatap Pak Surya.
“Apakah dokumen ini bisa digunakan untuk menuntut perusahaan kita?”
“Keabsahannya sangat meragukan. Kami sedang mengirim pemberitahuan resmi kepada pihak terkait dan menyiapkan langkah hukum.”
Aku mengangguk pelan.
“Berarti semuanya sudah direncanakan.”
“Sejauh ini, ada indikasi tindakan yang disengaja.”
Malam itu, Bima kembali menelepon.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Mas, aku mau tanya satu hal.”
“Apa?”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa tanda tanganku pernah dipalsukan?”
Keheningan panjang terdengar dari seberang.
“Kamu sudah tahu?”
“Jawab pertanyaanku.”
Bima menghela napas berat.
“Dua tahun lalu, aku menemukan berkas itu di ruang kerja Mas Reza. Aku langsung menuntut penjelasan.”
“Lalu?”
“Dia bilang semua hanya formalitas untuk mendapatkan fasilitas kredit. Aku nggak percaya. Kami bertengkar.”
“Kenapa kamu diam?”
“Karena Ibu memohon agar aku tidak membawa masalah itu keluar keluarga. Waktu itu kondisi perusahaan sedang buruk.”
Aku memejamkan mata.
“Jadi kamu memilih melindungi mereka?”
“Aku mencoba memperbaikinya diam-diam.”
“Selama dua tahun?”
Bima tidak menjawab.
“Dan di tengah semua itu, kamu masih sempat berselingkuh.”
“Aku nggak punya alasan untuk membenarkan kesalahanku.”
Untuk pertama kalinya, Bima tidak berusaha membela diri.
“Aku tahu kamu mungkin nggak akan memaafkanku,” katanya pelan. “Tapi aku akan memberikan semua dokumen yang kusimpan. Aku nggak mau kamu ikut menanggung perbuatan Mas Reza.”
Keesokan harinya, Bima menyerahkan salinan korespondensi internal dan dokumen transaksi kepada tim hukum.
Bukti tersebut membantu auditor menelusuri aliran dana menuju beberapa perusahaan yang dikendalikan Reza melalui pihak lain.
Setelah pemeriksaan berlangsung beberapa minggu, laporan audit mengungkap sejumlah transaksi tanpa dasar bisnis yang dapat diverifikasi, dokumen pengadaan yang dimanipulasi, serta indikasi pemalsuan dokumen.
Reza akhirnya diberhentikan dari jabatannya melalui keputusan perusahaan dan dilaporkan kepada pihak berwenang.
Penyelidikan hukum masih berjalan, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya sudah nyata.
Maya datang menemuiku di apartemen beberapa hari kemudian.
Kali ini dia tidak membawa kemewahan ataupun kesombongan yang biasa ditunjukkannya.
Dia hanya mengenakan blus sederhana dengan wajah terlihat jauh lebih tua.
“Kirana, Ibu ingin minta maaf.”
Aku mempersilakannya duduk.
“Untuk apa, Bu?”
“Untuk semua perkataan Ibu selama ini. Ibu selalu menganggap kamu tidak sepadan dengan Bima.”
Aku diam.
“Padahal, kamu justru membantu menyelamatkan perusahaan yang kami banggakan.”
Aku meletakkan secangkir teh di hadapannya.
“Bu, saya tidak pernah membutuhkan pengakuan keluarga Santoso. Saya hanya ingin diperlakukan dengan hormat.”
Air mata Maya mengalir.
“Ibu tahu. Dan Ibu terlambat menyadarinya.”
Beberapa bulan kemudian, Santoso Logistik mulai menjalani restrukturisasi manajemen. Sistem persetujuan transaksi diperketat, audit independen dilanjutkan, dan dana ekspansi hanya dicairkan kembali secara bertahap setelah persyaratan pengawasan dipenuhi.
Bima mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama.
Sella juga meninggalkan perusahaan setelah pemeriksaan internal menemukan sejumlah pelanggaran prosedur pengadaan dan konflik kepentingan.
Sementara itu, aku mengajukan gugatan perceraian.
Bima tidak mempersulit prosesnya.
Pada hari pertemuan terakhir kami bersama pengacara, dia menyerahkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat cincin pernikahan kami.
“Aku pernah berjanji akan menjagamu,” katanya dengan mata merah. “Ternyata aku justru menjadi orang yang paling menyakitimu.”
Aku memandangi cincin itu beberapa saat.
“Mas, aku pernah mencintaimu sepenuh hati. Tapi cinta tidak cukup kalau tidak ada kejujuran.”
Bima mengangguk.
“Aku tahu.”
Aku mendorong kotak itu kembali ke arahnya.
“Simpan saja. Aku tidak membutuhkan benda itu untuk mengingat pelajaran dari pernikahan kita.”
Setahun setelah malam di apartemen Sella, aku mendirikan sebuah lembaga pendampingan bisnis bagi perempuan yang ingin membangun kemandirian finansial.
Aku tidak lagi merasa perlu menyembunyikan pencapaianku agar orang lain merasa lebih besar.
Namun, kejutan terakhir datang pada suatu sore ketika Pak Surya menyerahkan sebuah surat peninggalan ibuku yang baru ditemukan di antara arsip pribadi keluarga.
Di dalamnya, Ibu menulis pesan singkat.
Kirana, jangan pernah menggunakan kekayaanmu untuk membuat orang lain merasa kecil. Tetapi jangan pula mengecilkan dirimu hanya supaya seseorang bersedia mencintaimu.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Dulu, aku mengira menjadi istri yang baik berarti selalu mengalah, selalu memahami, dan selalu memberi kesempatan.
Kini aku mengerti bahwa kesetiaan tidak seharusnya dibayar dengan penghinaan.
Malam ketika aku berdiri di depan apartemen Sella, aku mengira hidupku telah hancur.
Ternyata, malam itulah aku mulai menemukan diriku kembali.
Dan hal paling berharga yang kudapatkan bukanlah perusahaan, uang, atau kemenangan atas keluarga Santoso.
Melainkan keberanian untuk pergi dari tempat yang tidak lagi menghargai keberadaanku.
Karena terkadang, kehilangan seseorang yang kita cintai bukanlah akhir dari kebahagiaan.
Justru itulah awal ketika kita akhirnya belajar mencintai dan menghormati diri sendiri.
