
“Dokumen rumah apa, Mas?” ulangku.
Dimas masih berdiri di dekat pintu, menggenggam amplop cokelat begitu erat sampai ujungnya terlipat. Untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan kami, lelaki yang biasanya selalu punya jawaban itu tampak benar-benar kehilangan kata-kata.
“Rani, kita bicarakan nanti. Jangan di depan orang lain.”
Aku menoleh kepada tiga petugas pindahan yang sedang menutup kardus di ruang tamu.
“Bapak-bapak, lanjutkan saja pekerjaannya. Saya sudah memberi tanda pada semua barang yang perlu dibawa.”
Setelah mereka kembali bekerja, aku mengulurkan tangan kepada Dimas.
“Boleh aku lihat suratnya?”
“Ini urusan pribadiku.”
“Kalau memang urusan pribadimu, kenapa Nadira mengatakan namaku dihapus dari dokumen kepemilikan rumah?”
Rahang Dimas mengeras.
“Kamu membaca pesan orang lain sekarang?”
Aku hampir tertawa.
“Pesannya muncul di layar tepat di depanku. Jangan mengalihkan pembicaraan.”
Dimas menghela napas, lalu membuka amplop tersebut. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan menyerahkannya dengan enggan.
Halaman pertama berisi rancangan perjanjian pengalihan hak atas sebuah rumah di kawasan Bintaro.
Aku mengenali alamatnya.
Itu rumah yang kami beli dua tahun lalu, setelah menabung sejak awal pernikahan.
Aku membayar sebagian besar uang mukanya menggunakan tabungan pribadi. Sisa pembelian dibiayai melalui pinjaman bank yang cicilannya kami bayar bersama.
Namun dokumen di tanganku bukan sertifikat rumah yang asli.
Itu rancangan perjanjian yang mencantumkan Dimas sebagai pihak yang akan mengalihkan hak, sementara penerimanya adalah seseorang bernama Nadira Putri.
Aku mengangkat wajah.
“Jadi kamu mau memberikan rumah kita kepada Nadira?”
“Bukan memberikan. Ini bagian dari rencana bisnis.”
“Bisnis apa?”
Dimas mengusap wajah.
“Aku sedang membangun usaha properti dengannya. Rumah itu akan digunakan sebagai aset awal perusahaan.”
Aku membaca halaman berikutnya.
Ada sebuah surat persetujuan yang mencantumkan namaku.
Di bagian bawahnya terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Tanganku mulai dingin.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Dimas terdiam.
“Mas, siapa yang membuat tanda tangan ini?”
“Itu hanya dokumen persiapan. Belum ada pengalihan resmi.”
“Jawab pertanyaanku.”
Dimas tiba-tiba meninggikan suara.
“Aku melakukan semuanya supaya kita punya masa depan yang lebih baik!”
Aku menatapnya.
“Masa depan siapa? Masa depan kita atau masa depanmu dengan Nadira?”
Ia tidak menjawab.
Aku mengembalikan dokumen itu ke meja, kemudian memotretnya.
Dimas langsung meraih lenganku.
“Rani, jangan membuat masalah!”
Aku menarik tanganku.
“Jangan sentuh aku.”
Salah seorang petugas pindahan menoleh dari ruang tamu. Dimas segera melepaskan tangannya.
Aku mengambil tas dan menelepon kakakku, Bagas, yang bekerja sebagai pengacara di Jakarta.
Setelah mendengar penjelasanku, Bagas hanya mengatakan satu hal.
“Jangan tanda tangan apa pun. Simpan bukti dokumen yang kamu lihat. Kakak datang sekarang.”
Satu jam kemudian, Bagas tiba.
Dimas yang biasanya bersikap ramah kepada kakakku mendadak terlihat tidak nyaman.
Bagas memeriksa salinan dokumen tersebut dengan teliti.
“Ini belum membuktikan rumah sudah berpindah tangan,” katanya kepadaku. “Kita harus memeriksa sertifikat, status jaminan bank, dan apakah pernah ada akta yang dibuat di hadapan pejabat berwenang.”
Aku mengangguk.
“Tapi tanda tangan itu bukan punyaku.”
“Itu juga harus diperiksa.”
Dimas menyela dengan kesal.
“Kalian memperlakukanku seperti penjahat.”
Bagas menatapnya tenang.
“Kalau memang tidak ada masalah, pemeriksaan ini justru bisa menjelaskannya.”
Dimas langsung terdiam.
Aku kemudian teringat satu hal.
Kunci laci pribadiku.
Gantungan berbentuk rumah yang diberikan Dimas kepada Nadira sebelumnya terpasang pada kunci laci tersebut.
Aku segera menuju kamar kerja.
Lacinya masih terkunci.
Namun ketika Bagas membantuku membukanya menggunakan kunci cadangan yang kusimpan terpisah, isi di dalamnya tidak lagi sama.
Map biru tempat kusimpan salinan dokumen pembelian rumah telah hilang.
Begitu pula fotokopi KTP dan beberapa dokumen pribadi yang dahulu kugunakan ketika mengurus pinjaman bank.
Aku menatap Dimas.
“Kamu mengambil semuanya?”
Ia tidak menjawab.
Bagas langsung mengeluarkan ponselnya.
“Rani, mulai sekarang semua komunikasi tentang rumah dilakukan secara tertulis. Kita juga perlu menghubungi bank dan kantor pertanahan melalui prosedur resmi.”
Dimas tertawa sinis.
“Hebat sekali. Adikmu langsung menganggap suaminya sendiri mau mencuri rumah.”
Aku menatap lelaki itu lama sekali.
“Aku belum mengatakan kamu mencuri rumah, Mas. Aku hanya ingin tahu kenapa dokumenku hilang dan tanda tanganku muncul tanpa izin.”
Sebelum Dimas menjawab, bel rumah kembali berbunyi.
Nadine datang dengan wajah pucat.
Begitu melihat Bagas, langkahnya terhenti.
“Maaf, aku tidak tahu ada tamu.”
Aku memandangnya.
“Kamu datang untuk mengambil map lagi?”
Nadine menggeleng cepat.
“Aku datang karena Dimas tidak membalas teleponku.”
Dimas langsung berdiri.
“Nadine, pulang dulu.”
Namun Nadine justru berkata sesuatu yang membuat semua orang membeku.
“Dim, agen properti bilang mereka menemukan masalah pada berkas yang kamu kirim.”
Wajah Dimas berubah.
Aku melangkah mendekat.
“Masalah apa?”
Nadine menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Mereka meminta persetujuan langsung dari pemilik yang namanya tercantum pada sertifikat.”
Aku mengerutkan kening.
“Bukankah Dimas juga tercatat sebagai pemilik?”
Nadine menggeleng.
“Menurut salinan sertifikat yang mereka terima, rumah itu atas nama Kak Rani.”
Aku menoleh kepada Dimas.
Kini aku memahami mengapa ia begitu membutuhkan dokumen dan tanda tanganku.
Rumah yang selama ini selalu disebutnya sebagai milik bersama ternyata secara administratif masih terdaftar atas namaku, meskipun hak dan kewajiban kami sebagai pasangan tetap harus ditentukan berdasarkan hukum serta sumber pembiayaannya.
Dimas tidak bisa begitu saja mengalihkannya kepada Nadine.
“Jadi selama ini kamu mencoba membuat surat persetujuan tanpa memberitahuku?” tanyaku.
Dimas menunduk.
“Aku hanya ingin mempercepat proses.”
“Dengan memalsukan tanda tanganku?”
“Aku tidak pernah berniat merugikanmu!”
Bagas berdiri.
“Dimas, sebaiknya kamu berhenti menjelaskan sebelum berkonsultasi dengan penasihat hukummu. Apa yang dilakukan terhadap dokumen itu harus diperiksa secara benar.”
Nadine tiba-tiba menangis.
“Aku nggak tahu semuanya akan jadi begini.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu rumah itu milik siapa?”
Dia terdiam.
“Nadine.”
“Aku tahu Kak Rani ikut membelinya.”
“Lalu kenapa kamu bersedia menerima pengalihan rumah tersebut?”
Nadine menutup wajah.
“Dimas bilang kalian sudah sepakat berpisah.”
Aku merasa sesuatu di dalam dadaku berhenti bergerak.
“Berpisah?”
Nadine mengangguk sambil menangis.
“Dia bilang pernikahan kalian sudah lama bermasalah. Katanya kalian hanya tinggal serumah sampai urusan aset selesai.”
Aku menatap Dimas.
“Kapan kamu mengatakan itu kepadanya?”
Dimas tidak menjawab.
Nadine melanjutkan dengan suara bergetar.
“Dia juga bilang setelah semuanya selesai, kami bisa menikah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tidak menangis.
Anehnya, setelah mendengar kalimat itu, aku justru merasa sangat tenang.
Selama tiga tahun, setiap kali barang milikku menghilang, aku selalu berusaha mendapatkannya kembali dengan meminta maaf.
Aku terus mengalah karena mengira menjaga pernikahan berarti menghindari pertengkaran.
Ternyata, sementara aku sibuk mempertahankan hubungan kami, Dimas sudah merencanakan kehidupan lain.
Aku menatap Nadine.
“Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya.”
Nadine menangis semakin keras.
“Kak Rani, aku benar-benar minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya kembali ke ruang tamu dan memastikan semua kardus milikku sudah siap diangkut.
Dimas mengejarku.
“Rani, kamu tidak mungkin percaya begitu saja kepada Nadine!”
Aku berbalik.
“Jadi dia berbohong?”
Dimas membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
“Hubungan kami tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku bahkan sudah tidak ingin memikirkannya.”
Dimas terlihat panik.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke apartemen yang sudah kusewa.”
“Sejak kapan?”
“Sejak minggu lalu.”
Ia membeku.
Aku melanjutkan, “Kamu pikir aku baru memutuskan pergi hari ini?”
Sebenarnya, setelah kejadian ketika kartu akses kantorku disembunyikan hingga aku terlambat menghadiri rapat penting, aku mulai berkonsultasi dengan seorang konselor.
Dari sanalah aku memahami bahwa kebiasaan Dimas bukan sekadar cara aneh untuk berdamai.
Menyembunyikan barang milikku agar aku meminta maaf adalah bentuk perilaku mengendalikan pasangan.
Aku mulai mencatat setiap kejadian dan menyiapkan tempat tinggal sementara.
Aku belum berani pergi.
Namun pagi ketika kotak perhiasanku kembali menghilang, aku akhirnya menyadari bahwa tidak ada perubahan yang benar-benar terjadi.
Keputusan memanggil jasa pindahan bukan tindakan spontan.
Itu adalah langkah yang sudah lama kutakuti.
Dimas duduk di sofa dengan wajah kosong.
“Jadi selama ini kamu diam-diam mempersiapkan semuanya?”
Aku memandangnya.
“Rasanya tidak menyenangkan ketika orang yang tinggal bersamamu menyembunyikan sesuatu, ya?”
Ia menunduk.
Untuk pertama kalinya, Dimas tidak memiliki jawaban.
Dua minggu setelah aku pindah, Bagas membantuku memeriksa status rumah melalui jalur resmi.
Hasilnya menunjukkan belum ada pengalihan hak yang tercatat.
Namun rancangan dokumen dengan tanda tangan yang tidak kuakui tetap menjadi masalah serius.
Aku membuat laporan mengenai dugaan penggunaan dokumen tanpa persetujuanku. Proses pemeriksaan dilakukan berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk keterangan pihak-pihak yang terlibat.
Sementara itu, Dimas berkali-kali mencoba menghubungiku.
Awalnya ia meminta maaf.
Kemudian ia menyalahkan Nadine.
Beberapa hari berikutnya, ia mengatakan bahwa semua tindakannya dilakukan karena tekanan pekerjaan.
Namun aku tidak lagi menerima alasan yang selalu berubah.
Kami berkomunikasi melalui pengacara mengenai penyelesaian perkawinan dan harta bersama.
Sebulan kemudian, Nadine mengirimkan pesan panjang kepadaku.
Ia mengaku telah mengakhiri hubungannya dengan Dimas setelah mengetahui bahwa lelaki itu tidak pernah benar-benar membicarakan perceraian denganku.
Aku membaca pesan tersebut tanpa membalas.
Aku tidak merasa perlu mengetahui apakah mereka masih bersama.
Yang terpenting, aku tidak lagi tinggal di rumah tempat barang-barangku bisa menghilang hanya karena seseorang sedang marah.
Tiga bulan kemudian, aku kembali ke rumah lama untuk mengambil beberapa buku yang tertinggal.
Bagas menemaniku.
Dimas membukakan pintu.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
Rumah itu hampir kosong.
Tidak ada tirai pilihanku, tidak ada rak buku di sudut ruang tamu, dan tidak ada tanaman yang biasanya kusiram setiap pagi.
“Rumah ini terasa berbeda,” katanya.
Aku mengangguk.
“Memang.”
Dimas membawaku ke kamar tidur.
Di atas tempat tidur terdapat sebuah kotak besar.
“Aku menemukan semua barang yang pernah kusembunyikan.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada kunci motor, buku resep nenekku, kartu akses kantor lama, sandal rumah, pengisi daya laptop, dan beberapa benda kecil lainnya.
Aku memandangi semuanya.
Dulu aku pernah menangis hanya karena tidak menemukan satu benda tersebut.
Sekarang, melihatnya terkumpul dalam satu kotak, aku justru merasa asing.
Dimas berdiri di sampingku.
“Aku baru sadar betapa seringnya aku melakukan itu.”
Aku menutup kotak perlahan.
“Kenapa kamu melakukannya, Mas?”
Ia terdiam cukup lama.
“Karena aku takut kamu tidak membutuhkanku.”
Aku menoleh.
“Setiap kali kamu melakukan sesuatu tanpa meminta pendapatku, aku merasa kehilangan kendali. Aku tahu itu salah.”
Matanya memerah.
“Aku pikir kalau kamu harus mencariku untuk mendapatkan barangmu kembali, berarti kamu masih membutuhkanku.”
Aku menatapnya dengan sedih.
“Mas, kamu tidak membuatku membutuhkanmu. Kamu membuatku takut kehilangan barangku sendiri.”
Air mata mengalir di pipinya.
“Aku sedang mengikuti konseling sekarang.”
“Itu bagus.”
“Apakah masih ada kesempatan untuk kita?”
Aku menggeleng perlahan.
“Aku berharap kamu benar-benar berubah. Tapi aku tidak ingin kembali.”
Dimas menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia menerima jawabanku tanpa membantah.
Aku membawa kotak tersebut keluar rumah.
Sebelum masuk mobil, aku berhenti dan menatap bangunan yang pernah kami impikan sebagai tempat membesarkan keluarga.
Aku tidak membencinya.
Aku hanya tidak ingin hidup di dalamnya lagi.
Enam bulan kemudian, proses perceraianku selesai.
Penyelesaian mengenai rumah dilakukan secara terpisah sesuai hasil pemeriksaan dokumen dan kesepakatan hukum yang dibuat dengan pendampingan masing-masing pihak.
Aku mulai menata kehidupan di apartemen kecilku.
Tidak ada perabot mewah.
Hanya sofa abu-abu, meja makan kayu, rak buku, dan beberapa tanaman di dekat jendela.
Namun ada satu hal yang membuat tempat itu terasa berbeda.
Aku bisa meletakkan barang di mana pun tanpa takut seseorang sengaja menyembunyikannya.
Suatu malam, ketika sedang membaca, aku menyadari kunci apartemenku tidak berada di tempat biasanya.
Jantungku langsung berdegup cepat.
Selama beberapa detik, aku kembali merasakan kepanikan yang dulu begitu kukenal.
Aku mencari di tas.
Tidak ada.
Di atas meja.
Tidak ada.
Kemudian aku menemukannya di saku jaket yang kupakai sore tadi.
Aku tertawa kecil.
Tidak ada yang menyembunyikannya.
Tidak ada hukuman.
Tidak ada permintaan maaf yang harus kuberikan untuk mendapatkannya kembali.
Aku hanya lupa meletakkannya.
Aku duduk di sofa sambil menggenggam kunci itu.
Air mataku tiba-tiba jatuh.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya aku memahami betapa besar ketenangan yang selama ini hilang dari hidupku.
Keesokan paginya, aku membeli sebuah gantungan kunci baru.
Bentuknya sederhana, berupa rumah kecil berwarna putih.
Aku memasangnya pada kunci apartemenku, lalu menggantungnya di dekat pintu.
Di bawahnya kutempelkan sebuah catatan kecil.
Rumah adalah tempat ketika aku tidak perlu takut menjadi diriku sendiri.
Aku tersenyum membaca kalimat itu.
Selama tiga tahun menikah, aku pernah mengira cinta berarti terus mengalah agar seseorang tidak marah.
Namun sekarang aku tahu, cinta yang sehat tidak membuat kita harus kehilangan sesuatu untuk mendapatkan kembali perhatian pasangan.
Dan hari ketika barang terakhir milikku menghilang ternyata bukan hari ketika hidupku hancur.
Itu adalah hari ketika aku akhirnya berhenti mencari benda-benda yang disembunyikan orang lain, lalu mulai menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.
Diriku sendiri.
