“Surat apa yang harus kutandatangani?”
Raka meraih ponselnya, tetapi aku sudah membaca nama pengirimnya. Pak Hendra, agen properti yang pernah membantu kami mencari rumah.
“Bukan apa-apa. Urusan administrasi.”

“Administrasi rumah?”
Nadine menarik kopernya sedikit ke belakang.
“Kalian sebaiknya bicara dulu. Aku bisa menunggu.”
“Tidak perlu,” kataku. “Kamu datang membawa koper dan kunci rumahku. Kurasa kamu tahu lebih banyak daripada aku.”
Raka berdiri di antara kami.
“Jangan menyudutkan dia. Aku yang mengatur semuanya.”
“Bagus. Jadi jelaskan.”
Ia menatapku beberapa detik, lalu mengembuskan napas.
“Aku ingin menjual rumah ini.”
Kalimat itu akhirnya keluar. Ringan sekali, seolah ia sedang membicarakan kursi rusak di teras.
“Tanpa memberitahuku?”
“Aku baru mencari pembeli. Belum ada yang ditandatangani.”
“Lalu surat untukku?”
“Persetujuan penjualan.”
Aku teringat map yang diletakkannya di meja tiga hari lalu. Katanya, ada pembaruan data bank yang perlu kami lengkapi. Aku belum membukanya karena sedang mengejar tenggat pekerjaan.
“Rumah ini masih dicicil,” kataku.
“Bisa diselesaikan dari hasil penjualan. Sisanya dibagi.”
“Dibagi bagaimana?”
Raka tidak menjawab.
Aku berjalan ke meja, mengambil map tersebut, lalu membuka halaman pertama. Bukan pembaruan data bank. Di dalamnya ada rancangan kesepakatan pembagian hasil penjualan, lengkap dengan kolom tanda tangan kami.
Jumlah yang dicantumkan untukku bahkan lebih kecil daripada uang muka yang kubayar.
Tanganku mulai gemetar.
“Siapa yang menghitung ini?”
“Itu baru rancangan.”
“Tapi kamu menyuruhku menandatanganinya sebagai berkas bank.”
Nadine mengangkat wajah.
“Raka, kamu bilang Kirana sudah setuju menjual.”
Aku memandangnya. Untuk pertama kalinya, raut cemasnya tidak lagi terlihat dibuat-buat.
“Kamu juga bilang kalian sudah sepakat berpisah,” lanjutnya.
“Kami memang sedang bermasalah,” jawab Raka.
“Bermasalah bukan berarti sepakat,” kataku.
Bel rumah kembali berbunyi.
Raka memejamkan mata, tampak kesal. Kali ini aku yang membukakan pintu.
Ibu berdiri bersama kakakku, Damar.
“Kamu tidak membalas pesan,” kata Ibu pelan.
Begitu melihat koper Nadine, beliau berhenti. Matanya berpindah kepada Raka, lalu kembali kepadaku.
Aku tiba-tiba ingin menangis. Sejak pagi aku mampu menghadapi video, komentar, dan penjelasan suamiku. Namun, melihat wajah Ibu membuat semua tenaga yang kupaksakan terasa habis.
“Aku mau pulang, Bu.”
Ibu langsung meraih tanganku.
“Ambil yang kamu butuhkan. Mas Damar bantu.”
Raka mengikuti kami menuju kamar.
“Kirana, jangan membuat keputusan dalam keadaan emosi.”
Aku membuka lemari.
“Aku sudah membuat keputusan sebelum kamu pulang.”
Ia menatapku.
“Aku akan mengakhiri pernikahan ini. Urusan rumah dibicarakan setelah semua bukti pembayaran diperiksa.”
“Kamu mau membuang empat tahun begitu saja?”
Tanganku berhenti di atas tumpukan baju.
“Aku tidak membuangnya. Aku berhenti menambah tahun berikutnya.”
Malam itu aku pergi membawa dokumen pribadi, laptop, pakaian, dan map yang hampir kutandatangani. Damar memotret halaman-halamannya sebelum kami meninggalkan rumah.
Nadine masih berdiri di dekat pintu. Cincin lamaran itu tetap melingkar di jarinya.
“Aku tidak tahu tentang suratnya,” katanya lirih.
“Tapi kamu tahu dia punya istri.”
Ia menunduk.
Aku tidak menunggu jawaban.
Keesokan harinya, kami menghubungi pendamping hukum. Bukti transfer uang muka, cicilan, dan renovasi kukumpulkan dari rekeningku. Pak Hendra kemudian mengonfirmasi bahwa Raka memang meminta penilaian harga rumah, tetapi proses penjualan belum berjalan.
Agen itu mengira aku sudah mengetahui rencananya.
Rupanya, banyak orang merasa aman percaya kepada Raka karena menganggap seorang suami pasti sudah berbicara dengan istrinya.
Sementara itu, video lamaran terus menyebar. Akun-akun hiburan mulai mencari identitas mereka. Seseorang menemukan foto pernikahan kami dari unggahan lama kerabat.
Ponselku dipenuhi permintaan wawancara.
Aku hanya membuat satu pernyataan singkat di akun pribadi. Saat video direkam, aku masih istri Raka. Aku sedang mengurus perpisahan dan meminta orang lain tidak menghubungi keluargaku.
Tidak ada foto Nadine. Tidak ada alamat rumah. Aku ingin keluar dari kekacauan itu, bukan menjadikannya tontonan baru.
Raka menelepon malamnya.
“Kenapa harus mengumumkan status kita?”
“Karena orang-orang menghubungi kantorku dan bertanya apakah aku menghalangi hubungan kalian.”
“Sekarang Nadine dihujat.”
“Aku tidak menyuruh siapa pun menghujatnya.”
“Kamu bisa bilang ini salah paham.”
Aku memejamkan mata.
Untuk terakhir kalinya, ia memintaku menjaga cerita yang membuatnya terlihat baik.
“Tidak, Raka.”
Seminggu kemudian, ia datang ke rumah Ibu sendirian. Katanya, Nadine kembali ke rumah kakaknya. Mereka bertengkar setelah Nadine mengetahui rumah yang dijanjikan sebagai tempat memulai hidup baru masih memiliki kewajiban cicilan dan hakku di dalamnya.
“Aku kehilangan kendali,” katanya.
Aku duduk di seberangnya.
“Kamu menyusun rencana, membeli cincin, lalu berlutut di depan orang banyak. Itu bukan satu detik ketika kamu kehilangan kendali.”
Ia menangis. Aku tidak menikmatinya. Melihatnya hancur ternyata tidak membuat lukaku pulih.
Namun, aku tetap tidak kembali.
Proses perpisahan memakan waktu berbulan-bulan. Rumah akhirnya dijual melalui kesepakatan yang kami periksa bersama pendamping masing-masing. Kewajiban yang tersisa diselesaikan, lalu pembagiannya dituangkan secara tertulis.
Aku menyewa rumah kecil dekat tempat kerja. Untuk pertama kalinya, aku memilih warna gorden tanpa bertanya apakah Raka akan menyukainya.
Beberapa bulan setelah semuanya resmi selesai, Ibu menyebut Ardi lagi.
“Kali ini tidak usah menjawab sekarang,” katanya.
Aku tersenyum.
“Aku mau bertemu. Tapi cuma makan siang dulu.”
Ardi datang ke warung pilihan kami dengan kemeja sederhana. Ia tidak membawa bunga atau bertanya kapan aku siap menikah. Ia lebih banyak mendengarkan ketika aku bercerita tentang pekerjaan.
Menjelang pulang, hujan turun deras.
Aku terpaku melihat air mengalir di kaca.
Ardi memperhatikanku, lalu meletakkan kunci mobilnya kembali di meja.
“Kita tunggu saja sampai reda. Kamu mau teh hangat?”
Aku mengangguk.
Dulu, ribuan orang bertepuk tangan melihat seorang lelaki menerobos hujan demi perempuan lain.
Sore itu tidak ada kamera dan tidak ada tepuk tangan. Hanya seseorang yang bersedia duduk bersamaku, tanpa meminta aku bergegas menjadi bagian dari rencananya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang menunggu orang yang salah.
